Share

Tolong

Penulis: Aqilazahra
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-31 09:08:22

Hujan turun perlahan, menetes di antara rambut dan wajah Irisha yang sudah basah. Tangannya gemetar saat mendorong kursi roda ibunya menjauh dari halaman rumah sakit, tempat yang baru saja menolak mereka tanpa belas kasihan.

“Ibu …” suaranya serak, tertelan derasnya hujan. “Kita sudah keluar dari rumah sakit ini, gak apa-apa ya? Risha janji bakal cariin rumah sakit lain.”

Namun, tubuh sang ibu tetap diam, matanya terpejam, wajahnya pucat dan dingin.

Irisha menggigit bibir, menahan tangis yang sudah menggenang. Ia menoleh kanan-kiri, mencari tempat berteduh, sampai akhirnya menemukan sebuah toko tua yang sudah tutup di pinggir jalan. Dengan susah payah ia mendorong kursi roda ke bawah atap toko itu.

“Bu … maaf ya, Risha nggak bisa jaga Ibu dengan baik…” Ia berlutut di hadapan ibunya, menggenggam tangan yang mulai kaku itu dan menempelkannya ke pipinya.

Hujan semakin deras, tapi Irisha tak peduli. Air mata bercampur air hujan, mengalir tanpa henti di wajahnya.

“Ibu, tolong … jangan tinggalkan Risha sendirian. Bertahan ya, Bu?” Suaranya pecah, menggigil di antara udara dingin dan keputusasaan.

Ia memeluk tubuh ibunya erat, berharap hangat tubuhnya bisa menular, berharap kehidupan masih tersisa di sana.

Namun, hanya hening yang menjawab. Dan di tengah hujan yang mengguyur, Irisha sadar, dunia ini terlalu kejam untuknya.

“Bu … kenapa orang-orang jahat sama kita, Bu?” suara Irisha bergetar, tenggelam dalam suara hujan yang semakin deras.

Ia memeluk tubuh ibunya erat. “Ibu tahu kan, Reino … pria yang ibu anggap baik itu, dia jahat, Bu. Jahat banget sama Risha …” Suaranya makin serak. “Dan ayahnya—ayahnya lebih jahat lagi. Dia yang ngusir kita dari rumah sakit, Bu. Padahal Ibu lagi butuh pertolongan.”

Ia menarik napas tersengal, lalu menunduk, meletakkan kepala di pangkuan ibunya. “Risha harus gimana, Bu? Tolong bilang ke Risha …”

Namun, sebelum sempat menenangkan diri, tubuh sang ibu tiba-tiba terguncang hebat mengalami kejang.

“Ibu?” panggil Irisha kaget. “Bu! Ada apa, Bu!?”

Tubuh ibunya semakin kejang, wajahnya pucat, matanya sedikit terbuka tapi pandangannya kosong.

“Ibu!” teriak Irisha panik, mengguncang bahu wanita itu. “Bu, bertahan, ya? Risha mohon, jangan tinggalin Risha!”

Ia segera berdiri, berlari ke tengah jalan yang tergenang air, tanpa memedulikan mobil yang melaju dari kedua arah.

“Tolooong! Ada yang bisa bantu! Tolong ibu saya!!”

Mobil pertama hampir menabraknya, klakson meraung panjang. Tapi Irisha tak bergeming, ia terus berlari ke arah kendaraan lain sambil melambaikan tangan, suaranya parau karena tangis dan hujan.

“Ibu saya sekarat! Tolong berhenti!”

Namun, tak satu pun berhenti. Hanya lampu-lampu mobil yang lewat cepat, membiarkan gadis muda itu berdiri sendirian di tengah hujan, berjuang antara harapan dan kehilangan.

Irisha menatap ibunya yang masih kejang di kursi roda, tubuhnya menggigil hebat, busa keluar dari sudut bibir, dan matanya melotot menahan sakit. Ia pun kembali menghampiri sang ibu.

“Ibu?! Bu, tolong jangan begini ...!” teriaknya histeris, tangannya gemetar memegangi bahu sang ibu yang semakin lemas.

Dalam kepanikan, Irisha kembali berlari ke tengah jalan yang masih diguyur hujan. Mobil-mobil di jalan seakan menghilang begitu saja.

“Tuhan, aku mohon bantulah aku!” jeritnya berulang-ulang.

Sampai akhirnya— ia melihat mobil meluncur dari kejauhan dengan cepat, dan ia pun berlari ke arahnya.

Brak!

Tubuh Irisha terpental keras ke aspal. Mobil yang menabraknya berhenti mendadak, ban berdecit. Sakit menjalar di seluruh tubuhnya, tapi Irisha tak sempat mengaduh. Ia langsung bangkit dengan darah mengucur dari dahinya, menyeret langkahnya menuju mobil itu.

Ia mengetuk kaca jendela dengan tangan gemetar. “Tuan ... tolong, ibu saya ... dia—”

Kaca mobil perlahan turun. Dari dalam, suara berat dan dingin terdengar. “Brengsek! Apa kau sudah bosan hidup!” bentak pria itu, wajahnya masam.

Irisha menatap lekat, napasnya tercekat. Dunia seolah berhenti berputar saat ia menyadari siapa pria itu.

“Om Re ... Revan...,” bisiknya tak percaya.

Tatapan Revan membulat, matanya tak lepas dari wajah gadis itu yang penuh luka dan darah. “Risha ...?”

Irisha menunduk pelan, langkah kakinya mundur perlahan, harapan terakhirnya runtuh seketika.

Ia menoleh ke arah ibunya dan menyerah. “Maafkan Risha, Bu ...,” bisiknya getir, sebelum lututnya goyah dan tubuhnya jatuh di sisi jalan, di bawah guyuran hujan yang semakin deras.

Revan sempat menatap tubuh Irisha yang tergeletak di bawah hujan. Ada jeda ragu di hatinya, namun genggaman tangannya di setir semakin kuat. Ia mendengus pelan, memilih untuk tak terlibat.

“Bukan urusanku,” gumamnya, mencoba meyakinkan diri.

Ia menyalakan mobil, hendak tancap gas meninggalkan tempat itu. Tapi di kaca spion, pandangannya tertahan saat melihat Irisha yang perlahan berdiri, terpincang-pincang kembali ke arah ibunya yang sudah tak bergerak di kursi roda.

Langkah gadis itu lambat, lemah, tapi penuh tekad. Hujan mengguyur tubuhnya tanpa ampun, membasahi rambut dan dahinya yang penuh darah.

Revan tak sadar tangannya berhenti di tuas persneling. Ada sesuatu di wajah Irisha yang membuat dadanya mengeras, bukan sekadar kesedihan, tapi keikhlasan yang dalam.

Irisha berlutut di depan ibunya, memeluk tubuh yang mulai dingin itu dengan lembut.

“Bu ...” suaranya parau, tenggelam dalam suara hujan. “Kalau Ibu mau pergi ... Risha sudah ikhlas. Pulanglah dengan tenang, ya, Bu? Tunggu Risha di atas sana ....”

Ia mengecup tangan ibunya yang dingin, memeluk tubuh itu erat seakan ingin menahan kepergian yang tak bisa dicegah.

Hujan turun makin deras. Petir sesekali menyambar, menerangi wajah Irisha yang pucat dan pasrah.

Revan menatapnya dari balik kaca. Ada perasaan asing yang merayap dalam dadanya, campuran antara logika kemanusiaannya, rasa iba, dan entah apa lagi. Ia menunduk, menggenggam kuat kemudi mobilnya.

Namun, suara tangis lirih dari Irisha yang memanggil ibunya dalam kepasrahan memecah pertahanannya.

“Sial?!” pekiknya, ia membuka pintu mobil dan setengah berlari ke arah mereka berdua.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Rencana lain

    Panggilan itu terputus. Tanpa jeda, Revan langsung membuka aplikasi pesan dan mengetik cepat pada seseorang. Ekspresinya berubah serius, dingin, penuh perhitungan. Irisha yang sedari tadi memperhatikannya tak bisa menahan rasa penasaran. “Om?” Revan mengangkat wajahnya. “Iya, Sayang. Ada apa?” “Sekarang Mbak Reni sudah tahu semuanya,” lanjut Irisha. “Lalu … rencanamu ke depan bagaimana?” Revan meletakkan ponselnya, menatap Irisha dalam-dalam. “Menurut kamu, om harus apa?” Irisha menyilangkan tangan di dada, senyumnya mengembang penuh makna. “Beri pasangan mesum itu pelajaran. Yang pantas.” Revan mengangguk pelan. “Tentu. Tapi kita tidak bisa gegabah. Kita harus susun strategi dulu. Kamu tahu sendiri … Dita masih belum mengakui kalau Rieno bukan anakku.” Tatapan Irisha menggelap, senyum di bibirnya perlahan memudar. “Iya juga,” Irisha mengangguk pelan. “Mereka pasti akan mengelak.” “Betul,” sahut Revan tenang. “Kita tunggu saja hasil tes DNA Reino dan Yuda. Semoga …

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Membongkar Kebusukan Yuda dan Dita

    Setibanya di kediaman, Reni, wanita itu duduk dengan lesu di tepi sofa. Tatapannya menyapu foto pernikahannya dengan Yuda, pria yang selama dua puluh enam tahun menemani hidupnya, meski tak pernah ada satu pun anak yang lahir dari pernikahan itu. Bingkai foto itu terasa begitu berat untuk dipandang. Senyum mereka terpajang rapi, seolah menyimpan janji yang dulu diucapkan dengan keyakinan penuh. Reni menelan ludah, dadanya terasa sesak. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel lalu menekan nama Yuda. Nada sambung terdengar panjang, namun tak kunjung ada jawaban. Sekali. Dua kali. Hingga akhirnya panggilan itu terputus dengan sendirinya. Reni menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa. Pandangannya kosong, pikirannya penuh oleh potongan-potongan kenangan yang kini terasa mencurigakan. “Apa benar Mas Yuda dan Mbak Dita …,” ucapnya bergetar, “… mereka selama ini mengkhianatiku?” Pertanyaan itu tak ada yang menjawab, namun perihnya terasa nyata. “Mas, angkat teleponnya jangan memb

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Kebusukan kakak kandung

    Reni terbelalak. Tubuhnya seolah kehilangan tumpuan. “Apa … apa maksudnya, Mas?” ucapnya bergetar, “Mas Revan bercanda, kan?” Revan menggeleng pelan. Rahangnya mengeras, sorot matanya tetap dingin, seolah fakta itu sudah lama ia telan sendirian. “Saya berharap ini hanya bercanda. Tapi tidak, Ren.” Reni memundurkan tubuhnya. Tangannya refleks mencengkeram ujung meja agar tidak jatuh. “Tidak mungkin … Reino itu anak Mas Revan dan Mbak Dita. Semua orang bahkan tahu—” “Semua orang tahu dari cerita yang dibangun,” potong Revan tenang, tapi nadanya menyimpan luka yang dalam. “Tes DNA tidak pernah berbohong.” Hening menggantung, berat dan mencekik. “Lalu … apa hubungannya dengan Mas Yuda?” bisik Reni, matanya berkaca-kaca. Ia takut pada jawaban yang bahkan belum terucap. Revan menarik napas panjang. “Saya tidak ingin menuduh sembarangan. Tapi waktunya, sikap mereka, dan hasil tes itu … semuanya saling mengikat.” Reni menggeleng cepat, air mata mulai luruh. “Tidak … Mbak Dit

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Menemui Reni

    Revan hanya menggeleng pelan. Sudut bibirnya terangkat, senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan. Ada rasa lega yang perlahan merayap di dadanya. Ia sama sekali tak berniat bertemu dengan Reino. Ia memilih jalur yang paling dingin dan rapi, mengutus pengacaranya untuk datang langsung ke penjara dan menarik tuntutan itu atas namanya. Sementara itu, Dita sudah tiba di penjara. Tangannya saling meremas, jemarinya gemetar menahan cemas. Matanya terus menatap lurus ke depan, menunggu satu sosok yang sejak tadi membuat dadanya sesak. “Revan … Irisha …,” gumamnya penuh dendam. “Kalian boleh merasa menang sekarang. Tapi percayalah, aku akan membuat kalian membayar semua ini.” Langkah kaki terdengar mendekat. Reino muncul dari balik pintu besi, berjalan tertatih. Kakinya pincang, wajahnya babak belur, lebam ungu menghiasi pelipis dan rahangnya. Seketika, Dita menjerit histeris. “Reino!” Ia berlari menghampiri. “Astaga … apa yang mereka lakukan padamu, Nak?” Reino duduk perlahan

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Surat perjanjian

    Keesokan harinya, Irisha selesai menyiapkan sarapan dengan bantuan Bi Inah. Pagi itu hatinya terasa sedikit lebih ringan, bahkan ada rasa puas yang sulit ia sembunyikan. Terlebih setelah kabar yang ia terima semalam, keberadaan Reino akhirnya ditemukan. Pria itu kini mendekam di penjara. Irisha melangkah ke meja makan dengan senyum tipis di bibirnya. “Pagi, Sayang,” sapanya lembut. Revan sudah duduk di sana. Wajahnya tampak lebih segar dari biasanya, sorot matanya pun tidak lagi setegang kemarin. “Pagi juga,” balasnya, suaranya hangat. Irisha menyodorkan segelas susu dan sepiring sandwich ke hadapan Revan. Tangannya bergerak tenang, seolah beban yang selama ini mengimpit dadanya sedikit demi sedikit terangkat. Revan menatapnya sekilas, lalu tersenyum samar, menangkap perubahan kecil pada raut wajah istrinya pagi itu. “Oh iya, Om? Apa kau akan mengunjungi Reino di penjara?” tanya Irisha, suaranya terdengar ragu. Revan mengangkat wajahnya. “Menurut kamu, aku pergi atau—”

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Kebohongan demi Kebohongan akhirnya terkuak

    Irisha meraih kerah baju suaminya, menariknya sedikit agar Revan menatapnya lurus. “Kenapa diam? Apa Om sekarang sadar kalau mereka memang mirip?” sindirnya halus. “Risha, jangan bercanda!” Revan menggeleng cepat. “Dokter Yuda itu adik iparnya Dita. Mana mungkin mereka punya hubungan gelap?” Irisha mendengus kecil, senyum mengejek terbit di bibirnya. “Suamiku ini … ternyata polosnya kebangetan,” ledeknya ringan, namun sarat makna. Baik, aku lanjutkan dengan fokus pada Revan yang masih berpikir, ragu, dan mulai terusik—tanpa mengubah alur. Revan terdiam. Ucapan Irisha berputar-putar di kepalanya, menimbulkan kegelisahan yang perlahan merambat. Ia mengalihkan pandangan, rahangnya mengeras, seolah sedang menimbang sesuatu yang selama ini tak pernah ia sentuh. “Benar, mereka hampir mirip,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Ia mencoba mengingat wajah Dokter Yuda, sorot mata itu, garis rahang yang tegas, cara pria itu menatap orang lain dengan dingin namun terukur. Lalu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status