Share

Bab 174

Author: Ayyliana
last update publish date: 2026-10-24 17:30:20

Suasana ruang rapat di lantai lima gedung Bramantyo Group terasa mencekam. Waktu tepat menunjukkan pukul tiga sore ketika Alena melangkah masuk. Tanpa didampingi Regan secara langsung demi menjaga taktik mereka, Alena hanya didampingi oleh Pak Adrian dan tim hukum independen yang membawa map tebal berisi draft perjanjian investasi khusus.

Rafael sudah menunggu di ujung meja. Wajah pria itu tampak letih, dengan kantung mata menghitam akibat tekanan finansial yang menghimpit perusahaanny

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 175

    Alunan musik klasik bernada lembut bergema di dalam ruangan bersinding cermin besar. Bella sedang berada di studio latihan balet bersama beberapa penari lainnya. Tubuhnya yang lentur bergerak elok menyusuri lantai kayu, melakukan gerakan-gerakan balet yang presisi dan anggun.Usai sesi latihan pertama, Bella melangkah ke pinggir lapangan untuk mengambil handuk kecil dan botol minumannya. Di saat yang sama, ponselnya yang tergeletak di atas tas mendadak bergetar.Nama Mama tertera di layar.Bella mendesah pendek sebelum menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. "Iya, Ma?""Bella ...." suara Mamanya terdengar jauh lebih lembut dan berhati-hati dibanding kemarin. "Mama sudah bicara langsung dengan orang tuanya kemarin malam. Ternyata ada kesalahpahaman, Sayang."Bella mengernyit seraya menyapu keringat di lehernya. "Kesalahpahaman apa lagi, Ma? Dia kan memang sengaja membiarkan Bella menunggu.""B

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 174

    Suasana ruang rapat di lantai lima gedung Bramantyo Group terasa mencekam. Waktu tepat menunjukkan pukul tiga sore ketika Alena melangkah masuk. Tanpa didampingi Regan secara langsung demi menjaga taktik mereka, Alena hanya didampingi oleh Pak Adrian dan tim hukum independen yang membawa map tebal berisi draft perjanjian investasi khusus.Rafael sudah menunggu di ujung meja. Wajah pria itu tampak letih, dengan kantung mata menghitam akibat tekanan finansial yang menghimpit perusahaannya. Namun, binar matanya langsung menyala begitu mendapati Alena benar-benar datang memenuhi janji."Kamu tepat waktu, Alena," sapa Rafael dengan suara agak parau.Alena tidak membalas sapaan itu dengan kehangatan masa lalu. Ia duduk di seberang Rafael, mengisyaratkan Pak Adrian untuk menyerahkan berkas perjanjian yang telah disusun rapi oleh tim hukum Regantara dan Hartawan Corporation."Ini adalah proposal kerja sama investasi resmi dari Hartawan Corporation," ujar Alena di

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 173

    Sebuah restoran mewah bernuansa fine dining di pusat kota Hilstown menjadi saksi bisu kejengkelan Bella yang sudah membumbung tinggi. Sudah hampir satu jam ia duduk sendirian di meja sudut yang telah dipesan, membolak-balik menu yang sama berulang kali sambil terus memantau layar ponselnya.Tidak ada pesan, tidak ada panggilan masuk, apalagi permintaan maaf. Pria kencan buta yang katanya anak tunggal pemilik Samudra Group itu sama sekali tidak memunculkan batang hidungnya."Dasar tidak bersopan santun! Kalau tahu begini, lebih baik aku latihan di studio dari pagi," gumam Bella kesal.Dengan perasaan gusar, Bella meraih tas tangannya dan hendak berdiri untuk melangkah pergi. Namun, baru saja ia menegakkan tubuhnya, sebuah suara bariton yang tak asing menyapa tepat di samping mejanya."Bella? Lho, kebetulan sekali ketemu di sini."Bella menoleh kaget. Matanya membelalak mendapati sosok Dion berdiri rapi dengan kemeja kasual yang digulung rapi hingga siku. Bagi Bella, siapa pun yang bera

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 172

    Regan tersenyum tipis. Pria itu menyatukan jemari mereka, menuntun Alena melangkah melewati meja kerjanya menuju sebuah pintu tersembunyi di sudut kantor. Di balik pintu itu, terdapat ruangan privat khusus CEO—sebuah ruangan santai berdesain modern dengan sofa empuk yang tenang dan jauh dari jangkauan siapa pun."Duduklah dulu," bisik Regan lembut.Sebelum memulai pembicaraan, Regan melangkah ke sudut meja kecil, menuangkan segelas air hangat, lalu menyodorkannya ke tangan Alena. Ia duduk tepat di samping wanita itu, menatap Alena lurus-lurus dengan binar mata yang sabar."Sekarang, ceritakan padaku. Apa yang terjadi?"Alena menyesap air hangat itu perlahan untuk menenangkan debar dadanya. Ia menghela napas panjang, lalu mulai membuka suara. Tanpa ada yang ditutupi, Alena menceritakan semuanya dari awal—mulai dari bayang-bayang luka kecelakaan maut kedua orang tuanya, pertemuannya dengan Rafael di kantor Bramantyo Group, lembaran dokumen investigasi yang disimpan pria itu, hingga tudu

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 171

    "Halo, Non Alena...?" suara Pak Adrian di seberang telepon terdengar berat dan dipenuhi kecemasan yang amat mendalam."Iya, Pak Adrian. Bagaimana hasilnya?" tanya Alena cepat, suaranya parau menahan debar di dada. Bella yang duduk di sampingnya seketika ikut terdiam, merasakan perubahan atmosfer yang mendadak tegang.Pak Adrian menghela napas panjang sebelum memulai penjelasannya. "Laporan investigasi rahasia baru saja selesai dihitung oleh tim audit kita, Non. Kondisi Bramantyo Group saat ini ... jauh lebih parah dan berbahaya dari sekadar krisis keuangan biasa."Alena mengepalkan tangannya di balik meja. "Maksud Pak Adrian?""Tiga bulan lalu, Bramantyo Group secara ugal-ugalan mengalihkan porsi terbesar dana investasi mereka ke proyek pelabuhan bayangan di wilayah pesisir selatan," tutur Pak Adrian dengan intonasi rendah dan penuh kehati-hatian. "Mereka tergiur keuntungan konsorsium bernilai triliunan rupiah. Namun, proyek itu ternyata merupakan kedok d

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 170

    “Alena, aku ...!”Suara nyaring itu terhenti seketika di ambang pintu dapur. Bella mematung dengan mata membelalak lebar, mendapati pemandangan yang sama sekali tak ia duga: Regan sedang merengkuh tubuh Alena dalam dekapan hangat.Suasana seketika berubah canggung. Alena refleks merenggangkan pelukannya, sementara Regan mengurai dekapannya dengan tenang tanpa rasa canggung sedikit pun. Bella yang menyadari dirinya telah mengganggu momen intim tersebut menyunggingkan senyum ringis yang serba salah."A-aduh ... maaf! Aku tidak tahu kalau ada Pak Regan di sini," ujar Bella gagap seraya berbalik badan. "Aku keluar dulu deh, nanti aku balik lagi—""Bella, tunggu!" cegah Alena cepat. "Tidak perlu pergi, masuk saja."Regan melirik jam tangannya sejenak, lalu pandangannya beralih menatap Bella yang berdiri agak canggung di sudut ruangan. Sorot mata pria itu mendadak meredup, menyisa kilat keheranan yang diwarnai rasa cemburu tipis yang ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status