LOGIN"Wah, Nona Alena Hartawan ... Kamu luar biasa," suara Rafael mengalir dengan nada sinis. "Bisa-bisanaya kamu memblokir sistem pencairan dana dan rekening secara sepihak pagi ini? Apa karena kamu ingin mengingkari janjimu?"
Alena mengepalkan tangannya di atas meja, menahan gejolak amarah yang mendesak dadanya. "Jangan pura-pura bodoh, Rafael! Aku memblokir dana itu karena aku tahu persis dokumen pengajuan dan laporan keuangan yang kamu berikan untuk meyakinkanku tentan
"Wah, Nona Alena Hartawan ... Kamu luar biasa," suara Rafael mengalir dengan nada sinis. "Bisa-bisanaya kamu memblokir sistem pencairan dana dan rekening secara sepihak pagi ini? Apa karena kamu ingin mengingkari janjimu?"Alena mengepalkan tangannya di atas meja, menahan gejolak amarah yang mendesak dadanya. "Jangan pura-pura bodoh, Rafael! Aku memblokir dana itu karena aku tahu persis dokumen pengajuan dan laporan keuangan yang kamu berikan untuk meyakinkanku tentang kematian kedua orang tuaku adalah palsu! Kamu pikir aku akan membiarkanmu menjarah uang perusahaanku demi menutupi kejahatanmu?"Alih-alih terkejut, panik, atau marah karena kedoknya terbongkar, Rafael justru tertawa semakin kencang. Suara tawa itu menggema di telinga Alena, menyulut kecurigaan yang tajam. Rafael sudah tidak peduli dengan imagenya di depan Alena."Dokumen itu palsu? Ya, mungkin saja," jawab Rafael santai, tanpa beban sedikit pun. "Tapi omong-omong so
Layar ponsel Alena menyala terang, menampilkan nama yang paling ia nantikan di tengah pekatnya malam: Regan.Alena langsung meraih ponsel tersebut dan menggeser tombol hijau."Regan ...?" sapa Alena cepat, ada nada lega bercampur tanya yang terselip di balik suaranya.Di ujung sambungan sana, suara helaan napas berat terdengar jelas sebelum Regan akhirnya bersuara. Suara pria itu terdengar sedikit lelah, namun jauh lebih tenang dari sebelumnya. "Maaf mengganggumu larut malam begini, Lovely ... Apa aku membangunkanmu?"Alena mengubah posisinya menjadi bersandar di kepala ranjang, menarik selimut tipis untuk menutupi bahunya. "Tidak, aku belum tidur. Aku baru saja mau berbaring." Alena terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada lembut, "Bagaimana urusanmu di rumah keluargamu? Semuanya baik-baik saja?"Terdengar tawa kecil yang sarat akan ironi di seberang sana. "Ya ... bisa dibilang begitu. Rumah itu selalu sama, penuh dengan drama dan k
Suasana meja makan yang tadinya riuh oleh omelan Mami Miranti mendadak berubah senyap. Tiba-tiba saja, seseorang datang dari arah belakang dan merangkul bahu Regan dengan begitu sok akrab."Wahhh... siapa ini? Tamu agung kita, CEO Regantara Group yang terkenal dingin, akhirnya sudi menginjakkan kaki lagi di sini?"Sosok itu adalah Antoni, putra kandung Om Haris.Tanpa ragu sedikit pun, Regan langsung mengangkat bahunya dan menepis kasar tangan Antoni yang masih bertengger di pundaknya. Mereka sama sekali tidak pernah sedekat itu. Di dalam ingatan Regan, luka masa kecilnya masih terekam jelas—Antoni adalah orang pertama yang selalu merundung, menindas, dan membuatnya merasa tersingkirkan saat pertama kali ia dibawa masuk ke Kediaman Regantara. Itulah salah satu alasan terbesar mengapa Regan lebih memilih tumbuh mandiri dan tinggal di luar negeri sejak usia muda.Antoni mendengus pelan, mengangkat kedua tangannya ke udara dengan gestur mengejek. "Sant
Malam mulai merayap turun, menyelimuti kemegahan Kediaman Regantara—sebuah mansion klasik berarsitektur Eropa yang berdiri kokoh di atas lahan luas. Mobil mewah Regan meluncur mulus melewati gerbang besi tinggi, lalu berhenti tepat di pelataran utama.Begitu melangkah masuk ke dalam rumah melalui pintu ganda berukir kayu jati, aroma masakan malam langsung menyambut. Di ruang makan utama yang luas, keluarga besar Regantara telah berkumpul mengelilingi meja panjang berbalut taplak putih bersih.Rumah ini tidak pernah benar-benar sepi. Selain Oma dan Mami Regan, tinggal pula Shanon—sepupu jauh yang diangkat anak oleh keluarga besar sejak lama—serta keluarga Om Haris adik kandung almarhum ayah Regan bersama istri dan anak-anaknya. Tak ketinggalan, Tante Gisela, adik perempuan almarhum ayah Regan yang belum menikah, juga masih menempati salah satu sayap kamar di mansion tersebut.Kedatangan Regan sontak memecah keheningan malam.
Melihat keterdiaman Regan yang tidak biasa, kerutan halus muncul di dahi Alena. Sorot mata wanita itu berubah menjadi penuh tanya, menatap curiga pada perubahan drastis di wajah pria di hadapannya."Regan ...?" panggil Alena pelan, suaranya terdengar ragu. "Ada apa? Dokumen itu ... apa ada masalah?"Bella yang turut menyimak dari samping ikut merasa ada yang tidak beres. Ia menatap bergantian antara Alena dan Regan yang kini diselimuti oleh keheningan yang menyesakkan.Regan mengangkat wajahnya, menatap manik mata Alena yang jernih—mata yang selama ini menaruh kepercayaan penuh padanya. Tenggorokannya terasa kering. Dilema yang sempat menghantamnya di ruang kerja tadi kini kembali menyerang dengan kekuatan penuh, jauh lebih mematikan dari sebelumnya.Keheningan yang menggantung di antara mereka terasa kian menyesakkan. Regan mengerjap, menarik napas dalam-dalam untuk menata kembali detak jantungnya yang sempat terpacu hebat.Ia mengambil keputusan tersulit dalam hidupnya. Untuk saat i
Di balik pintu ruang kerjanya yang tertutup rapat, Regan berdiri mematung. Ponsel di genggamannya masih menyala, tetapi ia belum juga menekan tombol panggilan untuk menghubungi Alena.Dilema besar tengah menghantam batin pria itu dengan hebat. Di satu sisi, sebagai pria yang mencintai Alena, ia tahu betul bahwa kejujuran adalah fondasi mutlak. Alena berhak tahu siapa pembunuh orang tuanya yang sebenarnya—bahwa dalang di balik tragedi itu adalah keluarga Bramantyo.Alena juga berhak tahu bahwa di masa lalu, keluarganya sempat melakukan kesalahan besar berupa pembiaran dan pengkhianatan dari dalam. Regan tidak ingin ada rahasia di antara mereka. Namun, di sisi lain, ketakutan yang luar biasa merayap di dadanya.Regan sangat dilema. Ia takut jika ia menceritakan semuanya sekarang—terutama fakta bahwa ada celah keterlibatan darah Regantara di masa lalu—Alena akan terpukul hebat, salah paham, atau bahkan tidak bisa menerimanya. Alena baru saja mulai membuka hatinya, baru saja belajar mempe







