Masuk"Halo, Non Alena...?" suara Pak Adrian di seberang telepon terdengar berat dan dipenuhi kecemasan yang amat mendalam."Iya, Pak Adrian. Bagaimana hasilnya?" tanya Alena cepat, suaranya parau menahan debar di dada. Bella yang duduk di sampingnya seketika ikut terdiam, merasakan perubahan atmosfer yang mendadak tegang.Pak Adrian menghela napas panjang sebelum memulai penjelasannya. "Laporan investigasi rahasia baru saja selesai dihitung oleh tim audit kita, Non. Kondisi Bramantyo Group saat ini ... jauh lebih parah dan berbahaya dari sekadar krisis keuangan biasa."Alena mengepalkan tangannya di balik meja. "Maksud Pak Adrian?""Tiga bulan lalu, Bramantyo Group secara ugal-ugalan mengalihkan porsi terbesar dana investasi mereka ke proyek pelabuhan bayangan di wilayah pesisir selatan," tutur Pak Adrian dengan intonasi rendah dan penuh kehati-hatian. "Mereka tergiur keuntungan konsorsium bernilai triliunan rupiah. Namun, proyek itu ternyata merupakan kedok d
“Alena, aku ...!”Suara nyaring itu terhenti seketika di ambang pintu dapur. Bella mematung dengan mata membelalak lebar, mendapati pemandangan yang sama sekali tak ia duga: Regan sedang merengkuh tubuh Alena dalam dekapan hangat.Suasana seketika berubah canggung. Alena refleks merenggangkan pelukannya, sementara Regan mengurai dekapannya dengan tenang tanpa rasa canggung sedikit pun. Bella yang menyadari dirinya telah mengganggu momen intim tersebut menyunggingkan senyum ringis yang serba salah."A-aduh ... maaf! Aku tidak tahu kalau ada Pak Regan di sini," ujar Bella gagap seraya berbalik badan. "Aku keluar dulu deh, nanti aku balik lagi—""Bella, tunggu!" cegah Alena cepat. "Tidak perlu pergi, masuk saja."Regan melirik jam tangannya sejenak, lalu pandangannya beralih menatap Bella yang berdiri agak canggung di sudut ruangan. Sorot mata pria itu mendadak meredup, menyisa kilat keheranan yang diwarnai rasa cemburu tipis yang ta
"Aku tahu kamu butuh waktu untuk mencerna semuanya, Alena. Tapi perusahaanku tidak punya banyak waktu.Aku menawarkan proposal kerja sama investasi antara Hartawan Corp dan Bramantyo Group. Ini adalah transaksi yang adil. Kemarin di kantor, aku hanya menunjukkan sebagian kecil dari dokumen itu sebagai bukti.Aku memegang seluruh berkas lengkap beserta bukti otentik keterlibatan keluarga besar Regantara dalam tragedi satu tahun lalu. Tandatangani kerja sama ini besok sore, dan seluruh berkas utuh itu akan menjadi milikmu sepenuhnya. Aku tunggu jawabanmu sebelum jam 3 sore." Penawaran Rafael begitu halus namun sangat menyudutkannya. Rafael dengan sengaja memegang kartu as—fakta bahwa ia masih menyimpan sisa dokumen lengkap yang belum ditunjukkannya. Alena kini benar-benar dijepit oleh dilema besar: menyetujui kerja sama yang akan menyelamatkan perusahaan keluarga Rafael demi mendapatkan sisa bukti itu, atau menolaknya dan berisiko kehilangan jejak selamanya. Alen
Panggilan telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara berat dan serak khas pria paruh baya di seberang sana."Halo, Non Alena?" sapa Pak Adrian dengan nada terkejut sekaligus hangat. "Ada apa menelepon larut malam begini, Non? Apakah ada masalah penting di kantor atau ada sesuatu yang terjadi?"Alena memusatkan seluruh fokusnya. Ia mencoba merapikan intonasi suaranya agar tidak terdengar panik atau penuh prasangka."Maaf mengganggu waktu istirahat Pak Adrian," tutur Alena pelan dan penuh hormat. "Saya ... sebenarnya ada satu hal yang tiba-tiba mengusik pikiran saya, Pak.""Sampaikan saja, Non. Apa yang bisa saya bantu?" sahut Pak Adrian ramah.Alena mengambil napas pendek, lalu bertanya dengan nada hati-hati. "Ini tentang Regan, Pak Adrian. Saya tiba-tiba terpikir ... bagaimana alur sejarahnya sampai Regan akhirnya bisa bertemu kembali dengan keluarga kandungnya—keluarga besar Regantara? Bisakah Pak Adrian menceritakannya sedikit pada saya?"Di seberang telepon, P
Alena memundurkan langkahnya satu tapak, meremas jemarinya sendiri yang mendadak dingin bagai es. Wajahnya pucat pasi, matanya memancarkan rasa sakit dan kebingungan yang teramat sangat. Ia begitu sulit untuk menerima bahwa pria yang baru saja ia beri kesempatan untuk masuk ke dalam hatinya, mungkin memiliki keterikatan darah dengan tragedi terbesar dalam hidupnya."Aku ... aku tidak bisa mempercayai ini begitu saja hanya dari selembar kertas milikmu, Rafael," bisik Alena parau, tenggorokannya terasa begitu kering.Rafael menyunggingkan senyum tipis yang amat samar—senyuman dari seorang pria yang berhasil menanamkan benih keraguan mematikan di hati wanita yang diinginkannya. Malam makin larut tatkala mobil Regan berhenti di pelataran vila pribadi milik Alena. Lampu depan kendaraan memancarkan pendar hangat, menembus selimut kegelapan malam yang tenang.Begitu melangkah keluar dari mobil, mata tajam Regan seketika menangkap sosok Alena. Wanita itu berdiri mematung di depan
Alena masih mematung di area balkon luar hotel, menggenggam ponselnya yang bersuhu dingin dengan telapak tangan bergetar. Gema ancaman Rafael membakar seluruh pikirannya. Kebenaran di balik kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orang tuanya belasan tahun lalu adalah luka terbesar dalam hidupnya—sesuatu yang selalu ingin ia tuntaskan.Mengambil napas panjang untuk menetralkan kepanikannya, Alena merapikan gaun sutranya lalu melangkah kembali ke dalam Grand Ballroom.Di sana, Regan tampak sedang berbincang dengan beberapa pengusaha elit. Namun begitu menyadari kehadiran Alena, mata tegas Regan langsung tertuju padanya. Pria itu pamit sejenak dari lawan bicaranya dan melangkah mendekat."Ada apa, Lovely? Wajahmu tampak pucat," tanya Regan peka, tangannya terulur mengelus jemari Alena yang dingin.Alena mencoba menyunggingkan senyum setenang mungkin, meski dadanya bergemuruh hebat. Ia tidak ingin menyeret Regan ke dalam ancaman Rafael sebelum melihat sendiri kebenaran dokumen itu."R







