Share

Bab 3

Author: Ayyliana
last update publish date: 2026-07-02 16:31:31

Kelopak mata Alena perlahan terbuka, pandangannya disambut langit-langit putih dengan lampu yang menyilaukan. Aroma antiseptik yang khas segera memenuhi indra penciumannya, membuat kepalanya terasa berat.

"Alena ... kamu sudah sadar?" Suara itu terdengar begitu dekat.

Alena menoleh perlahan. Di sisi ranjang, Bella duduk dengan mata sembap dan wajah penuh kecemasan. Jemarinya masih menggenggam erat tangan Alena, seolah takut sahabatnya itu kembali kehilangan kesadaran.

Alena mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Lalu, ingatannya kembali pada rasa nyeri yang luar biasa di rumah.

Seketika kedua tangannya bergerak menuju perutnya. "Anakku ... bagaimana anakku?" tanyanya dengan suara serak.

Tangannya meraba perut yang kini terasa begitu kosong. Napasnya mulai memburu.

"Bel ... bayiku baik-baik saja, kan?"

 Bella menggigit bibir bawahnya. Terlihat kesulitan untuk menjawab.

Bertepatan dengan itu, pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter bersama dua perawat masuk sambil membawa map berisi hasil pemeriksaan.

Alena buru-buru bangkit duduk, “Do-dokter ... A-anak saya .... Anak saya masih selamat, kan?” tanyanya gemetar.

Dokter menghampiri ranjang dengan raut wajah penuh penyesalan. Ia menarik napas sejenak sebelum berkata pelan, "Bu Alena, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kehamilan Ibu."

"Tetapi saat Ibu tiba di rumah sakit, kondisi janin sudah tidak dapat diselamatkan. Janin dalam kandungan Ibu sudah meninggal."

Kalimat itu membuat jantung Alena seakan berhenti berdetak. Tubuhnya membeku. Ia menggeleng pelan, berulang kali.

"Tidak ... tidak mungkin ...." ucapnya serak, “Itu bohong kan, Dok?”

Tapi, melihat raut dokter itu bertambah mendung, ia tahu ucapan itu bukan kebohongan.

Alena kembali memeluk perutnya, berharap masih bisa merasakan kehidupan kecil yang beberapa jam lalu masih tumbuh di dalam rahimnya. Namun, yang ia rasakan kini hanyalah kehampaan. Kehampaan yang seolah ikut merenggut seluruh harapan yang selama ini ia genggam.

Perlahan, air mata terjatuh ke pipinya.

Setelah menjelaskan kondisi Alena, dokter dan kedua para perawat akhirnya pergi. Ruangan kembali sunyi setelah kepergian mereka. Hanya terdengar bunyi monitor yang berdetak pelan, seolah mengingatkan bahwa Alena masih hidup.

Bella menggenggam tangan sahabatnya. Sejak kepergian dokter, wanita itu hanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar perawatan. Dan hal itu membuat Bella sesak melihatnya.

Ia mengenal Alena lebih dari lima belas tahun. Tidak ada yang lebih diinginkan sahabatnya selain memiliki keluarga yang utuh bersama Alres. Dan meski Alres selalu membuang semua usahanya, Alena tidak pernah mengeluh bahkan tetap berusaha untuk menjadi istri yang baik bagi Alres.

Jadi, melihat Alena seperti ini, tentu saja menghancurkan dirinya.

Bella menarik napas panjang. "Apa Alres tahu kamu di rumah sakit?"

Alena tidak menggeleng maupun mengangguk. Tapi, Bella sudah tahu jawabannya.

Bella spontan mengambil ponselnya. "Kalau begitu biar aku yang telepon."

Jemari Alena segera meraih pergelangan tangan Bella. Ia menggeleng. "Tidak perlu. Dia juga tidak tahu kalau aku hamil."

Bella tercengang. Tidak menduga hal itu. Ia buru-buru berkata lagi, "Tapi Lena, kalian kehilangan anak. Siapa tahu Alres akan---"

"Tidak,” Alena menarik napasnya gemetar, “Alres tidak akan melakukan apa pun. Bukankah kamu yang paling tahu soal itu?”

Bella seketika terdiam. Perlahan, genggamannya di ponsel terlepas. Ia menghela napas.

“Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanyanya pelan.

Alena tidak segera menjawab. Lebih tepatnya, ia memang tidak memiliki jawabannya. Tiba-tiba,  televisi yang menempel di dinding kamar menampilkan siaran berita hiburan. Perhatian Alena segera teralih ke sana.

"Setelah lima tahun berkarier di Landen, desainer muda, Keira Adnan, akhirnya kembali ke Tanah Air."

Di dalam televisi, seorang perempuan berambut panjang melangkah anggun keluar dari pintu kedatangan internasional. Setelan putih sederhana yang dikenakannya tampak elegan tanpa berlebihan. Kilatan kamera menyambut setiap langkah percaya dirinya.

"Keira Adnan merupakan pendiri rumah mode Atelier yang telah beberapa kali berpartisipasi dalam Landen Fashion Week. Kepulangannya kali ini dikabarkan untuk membuka butik pertamanya di kota Hilstown. Direktur Arta Group, Alres Pradipta, juga tampak hadir menjemput sahabat lamanya itu."

Kamera kemudian menyorot pria yang berjalan di samping Keira. Itu Alres. Meski hanya beberapa detik, Alena dapat melihat senyum tipis di wajah pria yang menjadi suaminya itu.

Senyum yang tak pernah ia lihat selama lima tahun terakhir.

Alena tersenyum kecut, sungguh ironi kehidupannya ini. Dirinya sedang terbaring kesakitan sekarang, tapi sang suami malah mendampingi wanita lain.

Bella yang juga melihat televisi, menggeram pelan. “Dasar pria brengsek! Bukannya menghubungimu, malah sibuk dengan wanita lain,” umpatnya.

Alena tidak menjawab, ia menekan tombol power pada remote televisi untuk mematikannya, lalu menarik selimut. Berusaha menghapus rasa hampa dan sakit yang bersemayam di hatinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 102

    Setelah memastikan persiapan pameran selesai, Sore harinya Alena bertemu dengan Bu Ratih di sebuah kafe yang cukup tenang. Perempuan paruh baya itu sudah datang lebih dulu ketika Alena tiba. Ia duduk di sudut ruangan dengan sebuah tas kecil di sampingnya. Sesekali pandangannya mengarah ke pintu, seolah masih memastikan bahwa keputusan datang ke tempat itu memang benar.Alena menghampiri meja tersebut. “Bu Ratih?”Perempuan itu segera menoleh. “Alena?”Alena tersenyum dan mengulurkan tangan. “Iya. Maaf membuat Ibu menunggu.”“Tidak apa-apa. Saya juga baru datang.”Alena duduk di hadapannya.Untuk beberapa saat, mereka hanya berbasa-basi. Alena memesan minuman, sementara Bu Ratih sesekali memperhatikan wajahnya.Sebenarnya, sejak awal Bu Ratih sempat keberatan ketika Mira menghubunginya. Ia tidak mengenal Alena secara pribadi. Terlebih lagi, Mira mengatakan ingin bertemu hanya karena sebuah perhiasan yang selama ini disimpannya.Namun, semuanya berubah ketika Mira menyebut nama Edward H

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 101

    Keesokan harinya, Mira datang ke ruangan Alena sebelum jam makan siang. "Bu Alena."Alena yang sedang membaca beberapa dokumen langsung mengangkat wajah. "Bagaimana?""Saya sudah menghubungi Bu Ratih."Alena segera meletakkan dokumen di tangannya."Beliau masih menyimpan perhiasan itu?""Katanya masih."Untuk sesaat, Alena hanya diam. "Apa beliau bersedia ditemui?"Mira mengangguk. "Beliau bersedia. Saya sudah menyampaikan kalau Ibu ingin bertemu langsung. Beliau juga mengatakan tidak keberatan membawa perhiasan itu saat bertemu dengan Ibu."Alena menarik napas lega. "Baik. Kalau begitu aku akan menemuinya.""Saya bisa mengatur waktunya.""Tidak perlu. Setelah jadwal hari ini selesai, aku akan menghubungi beliau sendiri."Mira mengangguk. "Baik, Bu."Alena menutup map di hadapannya.Setidaknya sekarang dia memiliki satu jalan.Dia belum tahu apakah perhiasan itu benar-benar bisa menjadi bukti yang kuat. Namun, melihat langsung benda yang dibuatnya bertahun-tahun lalu mungkin akan memb

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 100

    Rapat belum berakhir ketika Mira mengangkat tangannya. “Sebenarnya ucapan Bu Alena benar, aku juga penasaran apa alasan Bu Keira menyembunyikan identitasnya sebagai Lovely?”Suasana ruang rapat yang sebelumnya riuh mendadak sedikit mereda. Keira menoleh kepada Mira. Untuk sesaat, perempuan itu tampak tidak menyangka pertanyaan tersebut datang dari orang lain, bukan dari Alena.Mira duduk tidak jauh dari Alena. Sejak Pak Adrian menugaskannya untuk membantu Alena di Arta Group, perempuan itu memang lebih sering berada di sisi Alena ketika berhubungan dengan pekerjaan. Tidak banyak bicara, tetapi cukup peka untuk menangkap hal-hal yang terlewat oleh orang lain.Keira tersenyum tipis. “Aku tidak merasa perlu menjelaskan semua hal tentang diriku kepada orang lain.”“Bukan begitu maksudku,” jawab Mira. “Kalau kamu memang Lovely, bukankah seharusnya ada orang-orang di perusahaan yang mengetahui identitasmu sejak dulu?”Keira terdiam. Mira adalah orang Hartawan corporation, ia harus berhati-h

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 99

    Regan menatap Alena yang diam dengan tatapan kosong. “Alena, setiap designer pasti memiliki keunikan, dan terkadang mereka sering meninggalkan tanda pada karyanya, apakah kamu juga memiliki kebiasaan tersebut?” Mata Alena membola, “Kamu benar, aku memang selalu memiliki kebiasaan unik pada setiap karyaku, tetapi apakah itu bisa membuktikan jika aku ini Lovely?” Alena belum yakin.Regan berkata pelan, “Harusnya, jika ciri tersebut tidak ada yang mengetahui kecuali kamu, tetapi jika semua orang mengetahui, kamu harus menemukan bukti yang tidak bisa mereka bantah.”Alena tersenyum tipis. “Aku tak yakin ada yang sadar atau tidak. Yang jelas jika aku tahu buktinya ada di mana, sejak tadi aku sudah mencarinya.”Regan ikut tersenyum kecil. “Berarti kita harus mencari tahu.”Alena menatapnya. Ia terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk. “Benar.”Suasana kembali hening. Namun, kali ini pikiran Alena sedikit lebih tenang. Setidaknya ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 98

    Malam itu, Alena masih memikirkan semua kejadian yang berlangsung sejak pagi. Alena duduk di meja makan Villa Amarilis sambil menatap piring di hadapannya.Alena tidak menyangka Keira akan mengaku sebagai Lovely. Alena tidak mungkin hanya diam. Ia harus membicarakan masalah ini dengan Regan.Alena segera menghubungi Regantara, saat panggilan tersambung, Alena sedikit ragu karena masalah video lamanya yang belum mendapat penjelasan Regantara.Juga tentang kalimat yang terus terngiang di kepalanya sejak malam sebelumnya. Kamu benar-benar tidak mengingatku, Alena?Namun, setiap kali hendak membuka pembicaraan itu, Alena selalu mengurungkan niatnya. Ia belum siap mendengar jawabannya.Untuk saat ini, ada masalah lain yang jauh lebih mendesak. “Regan, ada yang ingin aku bicarakan.”“Boleh, kamu bisa datang ke rumahku.”Alena mengangguk meski tidak bisa dilihat Regan. “Baiklah, aku tidak mengganggumu, kan?” “Tidak Alena, aku tunggu kedatanganmu.” Alena menarik napasn

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 97

    Alena kembali menatap layar komputer di hadapannya. Data yang baru saja diberikan oleh bagian IT masih terbuka. Waktu akses ke situs My Lovely tercatat pukul 21.47, sama seperti yang ditemukan Regan sebelumnya.Namun, semakin lama Alena memperhatikan data tersebut, semakin ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. “Jam segini ada yang masuk ke divisi desain?” tanya Alena.Mira asisten baru yang di kirim Pak Adrian untuk mendampinginya berdiri tak jauh di seberang meja mengangguk. “Kalau berdasarkan catatan akses, iya. Setelah saya cek, malam itu ada rapat sampai cukup larut. Beberapa orang dari divisi lain memang sempat keluar-masuk.”Alena mengerutkan kening. “Rapat?”“Informasi yang kudapat, ada pembahasan proyek baru. Beberapa kepala divisi dan tim mereka ikut hadir.”Alena menyandarkan tubuhnya ke kursi. Berarti, catatan kartu akses pada pukul 21.47 tidak bisa dijadikan bukti untuk menentukan siapa yang menggunakan komputer Angel. Terlalu banyak orang yang keluar-masuk divisi desain

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status