LOGINLangit kota Hilstown mulai gelap ketika mobil Alena memasuki halaman rumah. Rumah besar itu seperti biasa terlihat sepi. Apalagi sejak kedua orang tuanya meninggal setahun lalu.
Para asisten rumah tangga sudah pulang sejak pukul tujuh malam. Sesuai permintaan Alres yang menginginkan ketenangan saat malam hari. Kini hanya tersisa dirinya dan kesunyian.
Alena meletakkan tasnya di atas sofa. Matanya bengkak karena menangis sedari tadi. Ia tidak hanya menangis di lift, tapi juga sepanjang perjalanan pulang barusan.
‘Begitu Keira pulang malam ini, aku akan mengurus perceraian dengan Alena.’ Suara Alres kembali muncul di benaknya.
Alres sedang menjemput Keira sekarang. Kalau ucapannya sungguhan, berarti ia akan membicarakan perceraian mereka saat pulang nanti, kan?
Miris sekali. Setelah beberapa hari tidak pulang, pria itu justru kembali demi menceraikannya. Alena merasa dadanya kembali sesak.
Tidak ingin meratapi dirinya lagi, Alena berjalan menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya. Ia mengganti bajunya lebih dulu ke gaun tidur longgar yang mengekspos kulit tubuhnya.
Alena memang akhir-akhir ini gampang kegerahan. Menurut dokter, hal itu karena hormon kehamilannya. Makanya ia memilih gaun tidur tersebut.
Ketika baru ingin merebahkan badan, Alena teringat dengan tasnya yang masih berada di sofa. Di sana masih ada foto USG-nya, ia harus mengamankannya sebelum Alres datang dan menemukannya.
Alena bergegas menuju ruang tamu. Bertepatan ia sampai di sana, pintu rumahnya tiba-tiba terbuka. Alena tersentak, matanya melebar melihat Alres memasuki rumahnya.
Ia sama sekali tidak mendengar suara mobil Alres tadi!
Tubuh Alena seketika kaku ketika bertatapan dengan Alres. Wajah Alres terlihat menggelap dan datar. Ekspresi yang muncul tiap mood Alres tidak bagus.
Dulu, tiap melihatnya seperti itu, Alena akan langsung bertanya padanya. Menenangkannya, bahkan sampai rela menyerahkan tubuhnya di ranjang sebagai pelampiasan emosinya. Semata-mata agar Alres merasa lebih baik.
Tapi, sekarang ia merasa enggan melakukannya. Jadi, dia segera mengalihkan pandangannya, mengambil tasnya di sofa, dan berkata datar, “Ternyata kamu sudah pulang.”
Alres sontak menaikkan alisnya. Matanya menatap lekat Alena.
“Tumben kamu belum tidur,” ucap Alres singkat.
“Sebentar lagi aku tidur,” ucap Alena tetap datar. Ia beranjak dari sofa, hendak membawa tas tangannya kembali ke kamar.
Tapi, Alres tiba-tiba menggenggam lengannya. Alena tersentak. Ia menoleh, hendak menyuruh Alres melepasnya, tapi pria itu lebih dulu berkata.
“Temani aku sebentar,” ucap Alres sambil melonggarkan dasinya di leher, “Kamu mengerti maksudku, kan?”
Alena menggigit bibir. Tentu saja ia mengerti maksud Alres.
Selama lima tahun ini, Alena selalu pasrah menyerahkan dirinya tiap pria itu meminta. Tidak peduli saat Alena sedang kelelahan sekali pun karena mengurus rumah.
Tapi, mendengar permintaan pria itu sekarang membuatnya muak.
Melihat Alena hanya bergeming, Alresnya menariknya ke dalam dekapan. Pria itu lalu menyusuri leher Alena dengan bibirnya.
“Sudah seharusnya kamu patuh saat suami menginginkannya, kan?” bisiknya.
Tanpa menunggu jawaban Alena, Alres segera membawanya ke kamar. Ia melucuti Alena dengan cepat dan segera menyetubuhinya dengan gerakan yang cepat dan kuat.
Alres memang selalu berhubungan lebih kasar tiap dia sedang tidak dalam mood yang bagus, dan Alena biasanya selalu pasrah menerimanya. Tapi, mengingat kandungannya yang masih sangat kecil dan rapuh, ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya.
Apalagi, Alres menyentuhnya jauh lebih bersemangat kali ini. Stamina pria ini selalu membuat Alena sedikit kewalahan, bahkan merasakan perih di bagian bawah perutnya. Ia segera menepuk-nepuk bahu pria itu.
“Alres ... pelan-pelan. Perutku sakit,” ringisnya.
Akan tetapi, seolah tidak menganggap protes Alena serius, pria itu justru tersenyum miring, membungkam bibir Alena dalam ciuman yang dalam, lalu semakin mempercepat gerakannya. Menghujam terus-menerus ke bagian terdalamnya hingga perut bawahnya semakin terasa sakit.
Bertepatan dengan Alres mencapai pelepasan, ponselnya mendadak berdering. Nama Keira muncul di layar.
Alres segera menjauhkan dirinya dari Alena. Ia mengambil ponselnya di saku celana, mengangkat panggilan itu, lalu berkata, "Aku ke sana sekarang."
Ia bangkit, mengenakan kembali kemejanya, lalu mengambil jas yang tergeletak di lantai.
“Aku harus menjemput kolegaku di bandara. Pesawatnya baru sampai setelah tadi delay,” ucapnya sebelum beranjak dari kamar.
Ternyata itu yang membuat moodnya buruk tadi. Karena pesawat Keira datang terlambat.
Alena menghela napas pelan. Ia pelan-pelan mengubah posisinya menjadi meringkuk, berusaha meredakan nyeri perutnya, yang justru semakin memperburuk rasa sakit itu.
Merasa rasa sakit ini tidak wajar, Alena akhirnya mengambil ponselnya di atas nakas dengan susah payah. Nama pertama yang muncul di layar adalah kontak Alres.
Pria itu pasti tidak akan menggubrisnya karena ia tengah bertemu Keira sekarang. Jadi, ia membuka daftar kontak lain.
Jarinya berhenti pada nama Bella. Sahabatnya yang selalu ada sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Tanpa berpikir panjang, Alena menekan tombol panggil.
Baru satu kali nada sambung, Bella langsung mengangkatnya.
"Halo, Al? Ada apa?" tanya Bella di seberang sana.
“Bella, tolong antar aku ke rumah sakit sekarang. Aku tidak bisa bangun karena perutku sakit,“ ucap Alena cepat. Keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya.
“Oke, Al. Aku akan segera ke sana. Bertahanlah sebentar lagi.”
Telepon dimatikan bersamaan dengan rasa sakit di perutnya yang tiba-tiba menghujam tajam. Alena mengerang kesakitan, memeluk perutnya lebih erat. Napasnya mulai memburu.
Ketika Alena hendak mengubah posisi, ia tiba-tiba merasakan sesuatu yang hangat perlahan mengalir di antara kedua kakinya.
Alena seketika membeku. Matanya bergerak perlahan ke arah bawah dan ia seketika pias melihat noda merah membasahi seprai.
“Anakku ... tidak ..!” seru Alena gemetar ketakutan. Berharap bisa melakukan sesuatu, tapi rasa sakit memaksanya untuk tetap di tempatnya.
Pada akhirnya, kesadaran Alena mulai terengut. Hal terakhir yang ia lihat sebelum hilang kesadaran adalah Bella yang berlari panik ke arahnya.
Alena meninggalkan Hartawan Corporation tepat pukul tiga sore. Hari itu pekerjaannya tidak terlalu banyak. Setelah hampir beberapa hari mempelajari laporan perusahaan, ia mulai memahami kondisi Hartawan Corporation dan beberapa anak perusahaan di bawahnya.Akan tetapi, sebelum pulang, ia sudah berjanji bertemu Bella di sebuah kafe. Alena memilih duduk di meja dekat jendela sambil menunggu sahabatnya itu datang. Ia baru saja membuka menu ketika sebuah suara terdengar dari belakang.“Alena?”Alena menoleh. Keira berdiri beberapa langkah darinya bersama seorang perempuan yang belum pernah ia temui.“Kak Keira,” gumam Alena, dalam hatinya berkata kenapa Keira ada dimana-mana.Keira tersenyum. “Kamu sendirian?”“Sedang menunggu Bella.”“Oh.”Keira kemudian memperkenalkan perempuan di sampingnya. “Ini Angel, sahabatku.”Angel mengangguk singkat. Matanya memperhatikan Alena dari atas sampai bawah. “Oh ... jadi ini yang namanya Alena.”Alena sedikit mengernyit. Ada sesuatu dalam cara Angel me
Alena tiba di rumah menjelang sore. Begitu memasuki ruang utama, langkahnya sempat terhenti. Alres dan Keira sudah berada di sofa.Keduanya duduk begitu dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan. Keira bahkan masih memegang lengan Alres sambil bercerita tentang kejadian di pusat perbelanjaan tadi.Alena hanya melirik sekilas. Tidak ada perasaan terkejut lagi. Ia sudah terlalu sering melihat pemandangan semacam itu. Alena memilih melewati mereka tanpa berkata apa-apa.“Alena.”Langkahnya terhenti mendengar suara bariton Alres, pria itu menoleh kepadanya. “Kamu baru pulang?”Alena berbalik. “Ya.”“Dari mana saja, kenapa tidak langsung pulang?”“Masih ada urusan.” Jawaban singkat itu membuat Alres mengernyit.Ia dan Keira sebenarnya sudah pulang sejak kejadian di restoran tadi. Setelah memastikan Keira tidak mengalami apa-apa, Alres langsung membawanya kembali ke rumah.Sementara Alena ... Ia bahkan tidak tahu apakah wanita itu terluka atau tidak. Alres sempat sedikit khawatir. Namun,
Alena masih berdiri di depan meja yang menampilkan berbagai perlengkapan desain perhiasan. Jarinya menyentuh ujung salah satu pensil yang disediakan untuk pengunjung.Entah mengapa, melihat kertas kosong dan alat gambar itu membuat dadanya terasa hangat. Dulu, ia bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk menggambar sebuah desain.Sekarang, bahkan memegang pensil pun terasa seperti bertemu kembali dengan bagian dirinya yang telah lama hilang.“Alena.” Suara Alres membuat tangannya berhenti.Ia menoleh.Alres dan Keira ternyata masih berada beberapa langkah di belakangnya.“Ayo makan bersama,” ujar Alres. “Bukankah kamu datang ke sini untuk makan?”Alena terdiam. Ia sebenarnya ingin menolak. Namun jika terus menolak, bukan tidak mungkin Alres mulai bertanya-tanya.“Baiklah,” ujarnya, kebetulan juga Alena memang lapar.Mereka akhirnya meninggalkan area pameran dan menuju sebuah restoran di lantai yang sama.Alena duduk berseberangan dengan Alres dan Keira. Awalnya suasana cukup tenang. Na
Pak Adrian mulai meletakkan beberapa map di atas meja. Yang sudah ia minta siapkan dari setiap department.“Ini laporan keuangan, perkembangan investasi, proyek berjalan, dan beberapa proposal yang sedang menunggu persetujuan.”Alena mengangguk. Ia tidak langsung bertanya. Hanya membuka satu per satu dokumen tersebut dan membacanya dengan teliti.Sebenarnya Alena belum benar-benar serius menginjakkan diri di dunia perusahaan. Namun, beberapa hal yang dulu diajarkan ayahnya ternyata masih melekat kuat di kepalanya.Hampir satu jam berlalu ketika Alena berhenti pada sebuah proposal.“Pak Adrian.” Panggil Alena sambil mengamati satu map yang masih di bacanya.“Ya?”“Proyek ini belum disetujui, kan?”Adrian melihat dokumen yang ditunjuk Alena. “Belum. Direksi tinggal memberikan persetujuan akhir.”Alena membaca beberapa halaman berikutnya. “Batalkan proyek ini.”Adrian sedikit terdiam. “Maaf?”“Proyek ini jangan dilanjutkan.”Beberapa direktur yang sejak tadi berada di ruangan itu langsun
Suasana ruang kerja Direktur Utama Arta Group terasa sedikit berbeda pagi itu. Bukan karena hari pertama Keira mulai bekerja. Justru karena sejak datang, Alres terlihat tidak seperti biasanya.Pria itu duduk di belakang meja kerjanya dengan wajah muram. Beberapa berkas di hadapannya bahkan belum disentuh sejak tadi.Dion yang duduk di sofa bersama Kevin dan Rafael akhirnya tidak tahan melihatnya. “Kamu kenapa?”Alres tidak menjawab.Kevin melirik Dion, kemudian tertawa kecil. “Mungkin dia sedang pusing menghadapi Alena yang pastinya sedang merajuk tidak ingin diceraikan?”“Itu paling masuk akal,” sahut Rafael.Alres mengangkat wajah. Tatapannya membuat ketiganya langsung terdiam. “Jangan berbicara omong kosong.”“Lalu, di wajahmu seperti ada tulisan sedang kesal,” kata Dion santai.Alres kembali menatap berkas di depannya.Dion tidak menyerah. “Bukannya hari ini hari pertama Keira masuk? Harusnya kamu senang.”“Aku senang,” sahut Alres.“Terus kenapa mukamu seperti mau memecat satu ge
Pagi itu, Alena sudah bersiap sejak pukul tujuh. Ia mengenakan blazer krem dengan rok panjang senada. Rambutnya diikat sederhana, sementara sebuah tas kerja menggantung di lengannya.Hari ini ia akan mengunjungi Hartawan Corporation. Alena ingin melihat sendiri bagaimana perusahaan peninggalan ayahnya berjalan selama satu tahun terakhir.Setelah Edward Hartawan meninggal, perusahaan itu memang tidak langsung jatuh ke tangan Alena. Ayahnya telah mempercayakan pengelolaannya kepada orang-orang yang selama puluhan tahun bekerja bersamanya. Salah satunya adalah orang yang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh keluarga Hartawan.Selama ini Alena tidak pernah benar-benar ikut campur. Namun, sekarang semuanya berbeda. Ia ingin mengetahui kondisi perusahaan sebelum mengambil keputusan lebih jauh.Alena turun ke lantai bawah. Langkahnya terhenti ketika melihat Alres dan Keira sudah berada di meja makan. Keduanya tampak siap berangkat bekerja.Alres mengenakan setelan jas abu-abu gelap. Keir







