Share

Bab 2

Author: Ayyliana
last update publish date: 2026-07-02 16:30:43

Langit kota Hilstown mulai gelap ketika mobil Alena memasuki halaman rumah. Rumah besar itu seperti biasa terlihat sepi. Apalagi sejak kedua orang tuanya meninggal setahun lalu.

Para asisten rumah tangga sudah pulang sejak pukul tujuh malam. Sesuai permintaan Alres yang menginginkan ketenangan saat malam hari. Kini hanya tersisa dirinya dan kesunyian.

Alena meletakkan tasnya di atas sofa. Matanya bengkak karena menangis sedari tadi. Ia tidak hanya menangis di lift, tapi juga sepanjang perjalanan pulang barusan.

‘Begitu Keira pulang malam ini, aku akan mengurus perceraian dengan Alena.’ Suara Alres kembali muncul di benaknya.

Alres sedang menjemput Keira sekarang. Kalau ucapannya sungguhan, berarti ia akan membicarakan perceraian mereka saat pulang nanti, kan?

Miris sekali. Setelah beberapa hari tidak pulang, pria itu justru kembali demi menceraikannya. Alena merasa dadanya kembali sesak.

Tidak ingin meratapi dirinya lagi, Alena berjalan menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya. Ia mengganti bajunya lebih dulu ke gaun tidur longgar yang mengekspos kulit tubuhnya.

Alena memang akhir-akhir ini gampang kegerahan. Menurut dokter, hal itu karena hormon kehamilannya. Makanya ia memilih gaun tidur tersebut.

Ketika baru ingin merebahkan badan, Alena teringat dengan tasnya yang masih berada di sofa. Di sana masih ada foto USG-nya, ia harus mengamankannya sebelum Alres datang dan menemukannya.

Alena bergegas menuju ruang tamu. Bertepatan ia sampai di sana, pintu rumahnya tiba-tiba terbuka. Alena tersentak, matanya melebar melihat Alres memasuki rumahnya.

Ia sama sekali tidak mendengar suara mobil Alres tadi!

Tubuh Alena seketika kaku ketika bertatapan dengan Alres. Wajah Alres terlihat menggelap dan datar. Ekspresi yang muncul tiap mood Alres tidak bagus.

Dulu, tiap melihatnya seperti itu, Alena akan langsung bertanya padanya. Menenangkannya, bahkan sampai rela menyerahkan tubuhnya di ranjang sebagai pelampiasan emosinya. Semata-mata agar Alres merasa lebih baik.

Tapi, sekarang ia merasa enggan melakukannya. Jadi, dia segera mengalihkan pandangannya, mengambil tasnya di sofa, dan berkata datar, “Ternyata kamu sudah pulang.”

Alres sontak menaikkan alisnya. Matanya menatap lekat Alena.

“Tumben kamu belum tidur,” ucap Alres singkat.

“Sebentar lagi aku tidur,” ucap Alena tetap datar. Ia beranjak dari sofa, hendak membawa tas tangannya kembali ke kamar.

Tapi, Alres tiba-tiba menggenggam lengannya. Alena tersentak. Ia menoleh, hendak menyuruh Alres melepasnya, tapi pria itu lebih dulu berkata.

“Temani aku sebentar,” ucap Alres sambil melonggarkan dasinya di leher, “Kamu mengerti maksudku, kan?”

 Alena menggigit bibir. Tentu saja ia mengerti maksud Alres.

Selama lima tahun ini, Alena selalu pasrah menyerahkan dirinya tiap pria itu meminta. Tidak peduli saat Alena sedang kelelahan sekali pun karena mengurus rumah.

Tapi, mendengar permintaan pria itu sekarang membuatnya muak.

Melihat Alena hanya bergeming, Alresnya menariknya ke dalam dekapan. Pria itu lalu menyusuri leher Alena dengan bibirnya.

“Sudah seharusnya kamu patuh saat suami menginginkannya, kan?” bisiknya.

Tanpa menunggu jawaban Alena, Alres segera membawanya ke kamar. Ia melucuti Alena dengan cepat dan segera menyetubuhinya dengan gerakan yang cepat dan kuat.

Alres memang selalu berhubungan lebih kasar tiap dia sedang tidak dalam mood yang bagus, dan Alena biasanya selalu pasrah menerimanya. Tapi, mengingat kandungannya yang masih sangat kecil dan rapuh, ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya.

Apalagi, Alres menyentuhnya jauh lebih bersemangat kali ini. Stamina pria ini selalu membuat Alena sedikit kewalahan, bahkan merasakan perih di bagian bawah perutnya.  Ia segera menepuk-nepuk bahu pria itu.

“Alres ... pelan-pelan. Perutku sakit,” ringisnya.

Akan tetapi, seolah tidak menganggap protes Alena serius, pria itu justru tersenyum miring, membungkam bibir Alena dalam ciuman yang dalam, lalu semakin mempercepat gerakannya. Menghujam terus-menerus ke bagian terdalamnya hingga perut bawahnya semakin terasa sakit.

Bertepatan dengan Alres mencapai pelepasan, ponselnya mendadak berdering. Nama Keira muncul di layar.

Alres segera menjauhkan dirinya dari Alena. Ia mengambil ponselnya di saku celana, mengangkat panggilan itu, lalu berkata, "Aku ke sana sekarang."

Ia bangkit, mengenakan kembali kemejanya, lalu mengambil jas yang tergeletak di lantai.

“Aku harus menjemput kolegaku di bandara. Pesawatnya baru sampai setelah tadi delay,” ucapnya sebelum beranjak dari kamar.

Ternyata itu yang membuat moodnya buruk tadi. Karena pesawat Keira datang terlambat.

Alena menghela napas pelan. Ia pelan-pelan mengubah posisinya menjadi meringkuk, berusaha meredakan nyeri perutnya, yang justru semakin memperburuk rasa sakit itu.

Merasa rasa sakit ini tidak wajar, Alena akhirnya mengambil ponselnya di atas nakas dengan susah payah. Nama pertama yang muncul di layar adalah kontak Alres.

Pria itu pasti tidak akan menggubrisnya karena ia tengah bertemu Keira sekarang. Jadi, ia membuka daftar kontak lain.

Jarinya berhenti pada nama Bella. Sahabatnya yang selalu ada sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Tanpa berpikir panjang, Alena menekan tombol panggil.

Baru satu kali nada sambung, Bella langsung mengangkatnya.

"Halo, Al? Ada apa?" tanya Bella di seberang sana.

“Bella, tolong antar aku ke rumah sakit sekarang. Aku tidak bisa bangun karena perutku sakit,“ ucap Alena cepat. Keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya.

“Oke, Al. Aku akan segera ke sana. Bertahanlah sebentar lagi.”

Telepon dimatikan bersamaan dengan rasa sakit di perutnya yang tiba-tiba menghujam tajam. Alena mengerang kesakitan, memeluk perutnya lebih erat. Napasnya mulai memburu.

Ketika Alena hendak mengubah posisi, ia tiba-tiba merasakan sesuatu yang hangat perlahan mengalir di antara kedua kakinya.

Alena seketika membeku. Matanya bergerak perlahan ke arah bawah dan ia seketika pias melihat noda merah membasahi seprai.

“Anakku ... tidak ..!” seru Alena gemetar ketakutan. Berharap bisa melakukan sesuatu, tapi rasa sakit memaksanya untuk tetap di tempatnya.

Pada akhirnya, kesadaran Alena mulai terengut. Hal terakhir yang ia lihat sebelum hilang kesadaran adalah Bella yang berlari panik ke arahnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
harusnya Alena kasih alasan logis kalau dia sedang menstruasi...
goodnovel comment avatar
Ros
Lagian kok mau aja diajak hub intim? Kan tau lg hamil muda dan kasar suami nya. Apa ga bs tolak dan bilang lg sakit. Utk kali itu aja. Dan besok kamu bs bikin gugatan cerai. Pergi jauuh. Masa km ga punya peninggalan dr ortu yg kaya sih. ??? Ga punya simpanan uang.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 151

    "Angel ...." gumam Alena pelan saat matanya mengunci sosok gadis yang berdiri di belakangnya dengan raut wajah penuh tuntutan.Alena memiringkan kepalanya sedikit, lalu terkekeh halus. Sebuah senyum miring yang terkesan remeh terukir manis di bibirnya, memancarkan ironi yang begitu kental atas ucapan bernada manipulatif dari Angel barusan."Sok polos dan bertingkah seolah menjadi korban ...." desis Alena dengan suara tenang namun menusuk tajam. "Justru karena kelakuan sok polos dan tipu dayanya itulah, hidupku hancur dan aku harus menderita selama lima tahun dalam pernikahan beracun. Jika dia memang merasa 'merelakan' Alres untukku, kenapa dia tidak mencoba merebutnya secara terang-terangan di awal sebelum aku dan Alres menikah?"Alena menatap Angel yang kini pucat pasi. "Kenapa dia harus menunggu aku menjadi istrinya dulu, lalu perlahan merusak rumah tanggaku dari dalam dengan pura-pura menjadi wanita paling malang di dunia?"Alres yang berdiri tak jauh dari sana seketika tertegun he

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 150

    Pintu kamar rawat VIP kembali terbuka. Dokter Peter keluar dengan raut wajah sangat serius dan penuh keprihatinan yang tertata rapi. Di luar, Alres, dua petugas kepolisian, serta Dion, Rafael, Kevin, dan Angel masih menunggu dengan cemas."Dokter, bagaimana kondisi Keira?" tanya Alres cepat dengan suara parau.Dokter Peter menarik napas panjang, menyesuaikan kacamata di pangkal hidungnya sebelum berbicara dengan nada klinis yang meyakinkan dan penuh wibawa."Tuan Alres, Pak Polisi, berdasarkan hasil pemeriksaan awal, Nona Keira mengalami Disosiatif Stupor yang dipicu oleh Sinkop Vaskular berat pasca-kejadian tenggelam tadi malam dan sebelumnya," terang Dokter Peter seraya menunjukkan berkas rekam medis resmi di tangannya."Tekanan emosional dan trauma yang ekstrem membuat respons saraf otaknya menurun drastis hingga ia kehilangan kesadaran secara berkala," lanjut Dokter Peter. "Untuk penanganan medis dasar, rumah sakit kami tentu sanggup. Namun, untuk pemulihan trauma sarafnya secara

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 149

    Langkah kaki yang tergesa-gesa menggema riuh di lorong Rumah Sakit Internasional Hilstown. Dion, Rafael, Kevin, dan Angel berjalan cepat dengan raut wajah panik dan tidak percaya. Kabar penangkapan Keira atas tuduhan pencemaran nama baik hingga percobaan pembunuhan yang disampaikan Alres via telepon benar-benar menghantam mereka bagai petir di siang bolong.Setibanya di depan kamar rawat VIP, langkah mereka terhenti sejenak. Dua petugas kepolisian berseragam lengkap berdiri tegap bersama beberapa pria berjas hitam dengan postur tubuh tinggi tegap, menjaga pintu kamar tersebut dengan ketat dan mengintimidasi. Beruntung, setelah dokter pribadi Keira keluar dan memberikan izin, mereka dipersilakan masuk satu per satu.Di dalam kamar, Keira masih terbaring kaku tak sadarkan diri di atas bangsal dengan selang infus menancap di tangannya. Sementara Alres terduduk di sofa ujung ruangan, memijat pelipisnya dengan raut wajah yang amat gelisah dan lesu."Alres! Ini beneran?!" Kevin membuka suar

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 148

    Langkah kaki Regan terhenti di anak tangga pertama. Dahinya berkerut dalam, menatap ke arah pintu utama yang berukir megah. Jam dinding raksasa di sudut ruang tengah menunjukkan hampir pukul satu malam. Siapa yang bertamu di jam yang teramat tak lazim ini?Dengan langkah tenang namun waspada, Regan memutar arah jalannya menuju ruang tamu. Ia menarik napas panjang sebelum memutar gagang pintu dan membukanya lebar-lebar.Rasa terkejut seketika menghantam Regan saat sosok wanita paruh baya bertubuh anggun, dibalut gaun malam mahal dan mantel bulu elegan, berdiri di balik pintu. Senyum tipis yang sarat akan dominasi terukir di bibirnya yang terpoles lipstik merah ceri."Mami ...?" gumam Regan, matanya membelalak pelan. "Kapan Mami pulang dari Bristown? Kenapa langsung ke sini dan bukannya ke kediaman utama?"Miranti, ibunda Regan, melangkah masuk tanpa menunggu diundang. Suara ketukan high heels-nya menggelegar ritmis di atas lantai marmer, menebarkan aroma parfum mawar Prancis yang kuat

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 147

    Di dalam kabin mobil mewah yang melaju tenang membelah keheningan malam kota, aroma leather berpadu dengan wangi parfum maskulin milik Regan.Regan melirik sekilas ke arah kursi penumpang di sampingnya, tempat Alena duduk termenung menatap keluar. Jemari wanita itu saling bertautan di pangkuannya, menyiratkan sisa-sisa ketegangan dari apa yang baru saja terjadi di rumah sakit dan aula pesta."Alena," panggil Regan lembut, memecah kesunyian yang sempat mendominasi. "Kamu tampak begitu tenang, tapi aku tahu pikiranmu sedang melayang ke mana-mana. Apa kamu benar-benar yakin tidak ingin menuntut semua kasus Keira secara bersamaan? Termasuk menyeret Angel yang selama ini menjadi kaki tangannya?"Alena menoleh perlahan. Ia menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Dua dakwaan itu—pencemaran nama baik dan percobaan pembunuhan di eskalator—sudah lebih dari cukup untuk membuat Keira mendekam sangat lama di balik jeruji besi, Regan. Hukum akan bekerja setimpal padanya."Alena

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 146

    "Apa maksud kalian?!" Alres membentak, matanya menatap tajam para pria berjas yang ternyata didampingi oleh dua orang petugas kepolisian berseragam lengkap.Petugas polisi melangkah maju seraya mengacungkan sebuah amplop dokumen resmi. "Kami membawa surat perintah penangkapan atas nama Nona Keira. Beliau resmi dilaporkan atas kasus pencemaran nama baik serta penyebaran berita bohong terhadap Nona Alena. Selain itu, berdasarkan bukti baru yang diserahkan, Nona Keira juga dijerat pasal percobaan pembunuhan atas insiden di mal, di mana beliau terbukti sengaja mendorong Nona Alena dari atas eskalator.""Apa?!" Alres terperanjat hebat, kaget setengah mati. Wajahnya pucat seketika. "Apakah Anda tidak salah tuduhan?! Keira tidak mungkin melakukan hal sekeji itu!"Polisi menyerahkan surat perintah penangkapan beserta berkas salinan bukti kepada Alres. Dengan tangan yang gemetar hebat, Alres membaca setiap lembar dokumen tersebut. Di dalamnya terlampir rekaman CCTV mal yang memperlihatkan gera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status