LOGINAlena menginap tiga malam di rumah sakit. Selama itu, Alres tidak pernah menemuinya atau bahkan menghubunginya.
Di hari keempat, dokter mengizinkannya pulang setelah memastikan kondisinya mulai stabil. Tapi, Alres masih belum muncul.
"Jangan terlalu banyak beraktivitas dulu, Bu Alena," pesan dokter sebelum meninggalkan ruang perawatan. "Yang paling penting sekarang adalah memulihkan kondisi fisik dan menghindari stres."
Alena hanya mengangguk pelan. Entah bagaimana bisa menghindari stres. Seandainya rasa sakit di dalam hatinya bisa diobati semudah meminum obat.
Bella datang menjemputnya. Setelah beberapa saat di perjalanan, mobil Bella akhirnya berhenti di halaman rumah Alena tepat menjelang siang.
Beberapa asisten rumah tangga segera menyambut kedatangan mereka. Wajah mereka tampak terkejut melihat kondisi majikan mudanya yang masih pucat.
"Aku tidak apa-apa," jawab Alena sambil tersenyum tipis. "Hanya sedikit kurang enak badan."
Bella membantu Alena masuk hingga ke ruang tamu. "Lena, aku temani sampai Alres datang, ya."
Alena menggeleng. "Kamu sudah menemaniku semalaman. Ada pembantu, aku tidak apa-apa."
"Tapi ..." Bella hendak protes.
"Aku baik-baik saja."
Bella jelas tidak percaya. Namun, melihat tatapan Alena yang tenang, ia akhirnya menghela napas panjang. Lagipula, ia tahu Alena terkadang butuh waktu sendirian saat sedang bersedih.
"Kalau ada apa-apa, telepon aku."
"Pasti."
Bella memeluk sahabatnya erat sebelum akhirnya pergi. Suara pintu yang menutup membuat rumah itu kembali tenggelam dalam kesunyian.
Alena melangkah perlahan menuju kamar utama. Kamar yang selama lima tahun terakhir ia tempati bersama Alres.
Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung jatuh pada ranjang berukuran king size di tengah ruangan. Melihatnya membuat Alena teringat lagi dengan janinnya yang sudah tiada, jadi ia segera mengalihkan pandangannya.
Saat itulah matanya terpaku dengan tas tangan di meja. Tas tangan yang dibawanya saat ke kantor Alres beberapa hari lalu. Pasti asisten rumah tangganya yang menaruhnya di sana.
Alena mendekat ke meja. Ia merogoh tasnya, tersenyum miris melihat bekal Alres sudah basi, kemudian mengeluarkan amplop dari sana. Alena membuka amplopnya.
Di dalam sana, masih tersusun rapih foto USG anaknya dan sebuah kertas kecil bertuliskan: ‘Selamat Alres, hari ini kamu menjadi seorang ayah! Semoga mulai hari ini, kita benar-benar menjadi keluarga.’
Alena menggigit bibirnya. Kembali merasakan pedih dan kosong di hatinya. Ia buru-buru menaruh amplop itu ke laci dan menguncinya rapat-rapat.
Alres tidak perlu mengetahuinya lagi sekarang. Semua itu sudah berlalu.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuat Alena sedikit terkejut. Pak Adrian Wijaksana, S.H. Pengacara pribadi mendiang ayahnya.
Alena segera mengangkat panggilan itu. "Selamat siang, Pak Adrian."
"Selamat siang, Nona Alena. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda,” ucap suara di seberang sana. "Saya hanya ingin memberi kabar bahwa seluruh dokumen penyatuan Hartawan Corporation dan Arta Group sudah selesai. Sesuai amanat almarhum Pak Edward, penandatanganan bisa dilakukan kapan saja minggu ini."
Alena terdiam. Tangannya perlahan mengepal. Dokumen itu ... ayahnya memang pernah membicarakannya dulu, beberapa bulan sebelum ia meninggal.
Dulu, sebelum ayah Alena meninggal, ia berencana untuk menggabungkan Hartawan Corporation dan Arta Group menjadi satu grup perusahaan. Ia mengurus semua persiapannya dibantu Adrian dan setelah meninggal, Alena yang ganti mengurusnya.
Rencana penggabungan itu merupakan hadiah untuk Alres. Sekaligus bukti bahwa Alres telah resmi menjadi putranya.
Tapi, setelah semuanya hancur, bukti itu tidak diperlukan lagi, kan? Apalagi keluarga yang diinginkah Ayahnya tak pernah benar-benar ada.
Alena menarik napas panjang. "Pak Adrian ... apakah sore ini Bapak ada waktu? Saya ingin bertemu."
Sore harinya. Di ruang kerja Adrian, pria itu meletakkan setumpuk map berwarna hitam di atas meja.
"Ini seluruh dokumen yang sudah kami siapkan."
Alena memandang map itu cukup lama. Andai semua berjalan sesuai harapan, hari ini mungkin menjadi awal baru bagi dirinya dan Alres. Namun, kenyataannya mereka justru sedang menunggu akhir.
Alena perlahan mendorong kembali map itu ke arah Adrian. "Saya ingin membatalkan proses penyatuan kedua perusahaan."
Adrian tampak terkejut. "Membatalkan?"
"Ya."
"Tapi, ini amanat terakhir almarhum Pak Edward."
Alena tersenyum tipis. "Justru karena itu saya tidak ingin amanat beliau berubah menjadi beban."
Adrian mengernyit. Terlihat bingung dengan perkataan Alena. “Kalau begitu, Anda ingin kedua perusahaan itu tetap berdiri sendiri?”
Alena mengangguk, "Lagipula, Arta Group adalah hasil kerja keras Alres. Biarkan perusahaan itu tetap menjadi miliknya. Aku akan mengurus Hartawan Corporation sendiri,"
Adrian terdiam beberapa saat sebelum bertanya pelan, "Apakah ini ada hubungannya dengan rumah tangga Anda?"
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan itu dimulai, senyum Alena benar-benar menghilang. Ia tidak menjawab.
Akan tetapi, karena sudah sampai sejauh ini, Alena merasa tidak ada lagi yang perlu disembunyikan dari pria yang telah puluhan tahun menjadi orang kepercayaan mendiang ayahnya.
Ia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang selama ini tak pernah berani ia pikirkan.
"Pak Adrian, bisakah Bapak membantu mengurus perceraian saya dengan Alres?"
Regan menatap Alena yang diam dengan tatapan kosong. “Alena, setiap designer pasti memiliki keunikan, dan terkadang mereka sering meninggalkan tanda pada karyanya, apakah kamu juga memiliki kebiasaan tersebut?” Mata Alena membola, “Kamu benar, aku memang selalu memiliki kebiasaan unik pada setiap karyaku, tetapi apakah itu bisa membuktikan jika aku ini Lovely?” Alena belum yakin.Regan berkata pelan, “Harusnya, jika ciri tersebut tidak ada yang mengetahui kecuali kamu, tetapi jika semua orang mengetahui, kamu harus menemukan bukti yang tidak bisa mereka bantah.”Alena tersenyum tipis. “Aku tak yakin ada yang sadar atau tidak. Yang jelas jika aku tahu buktinya ada di mana, sejak tadi aku sudah mencarinya.”Regan ikut tersenyum kecil. “Berarti kita harus mencari tahu.”Alena menatapnya. Ia terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk. “Benar.”Suasana kembali hening. Namun, kali ini pikiran Alena sedikit lebih tenang. Setidaknya ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Malam itu, Alena masih memikirkan semua kejadian yang berlangsung sejak pagi. Alena duduk di meja makan Villa Amarilis sambil menatap piring di hadapannya.Alena tidak menyangka Keira akan mengaku sebagai Lovely. Alena tidak mungkin hanya diam. Ia harus membicarakan masalah ini dengan Regan.Alena segera menghubungi Regantara, saat panggilan tersambung, Alena sedikit ragu karena masalah video lamanya yang belum mendapat penjelasan Regantara.Juga tentang kalimat yang terus terngiang di kepalanya sejak malam sebelumnya. Kamu benar-benar tidak mengingatku, Alena?Namun, setiap kali hendak membuka pembicaraan itu, Alena selalu mengurungkan niatnya. Ia belum siap mendengar jawabannya.Untuk saat ini, ada masalah lain yang jauh lebih mendesak. “Regan, ada yang ingin aku bicarakan.”“Boleh, kamu bisa datang ke rumahku.”Alena mengangguk meski tidak bisa dilihat Regan. “Baiklah, aku tidak mengganggumu, kan?” “Tidak Alena, aku tunggu kedatanganmu.” Alena menarik napasn
Alena kembali menatap layar komputer di hadapannya. Data yang baru saja diberikan oleh bagian IT masih terbuka. Waktu akses ke situs My Lovely tercatat pukul 21.47, sama seperti yang ditemukan Regan sebelumnya.Namun, semakin lama Alena memperhatikan data tersebut, semakin ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. “Jam segini ada yang masuk ke divisi desain?” tanya Alena.Mira asisten baru yang di kirim Pak Adrian untuk mendampinginya berdiri tak jauh di seberang meja mengangguk. “Kalau berdasarkan catatan akses, iya. Setelah saya cek, malam itu ada rapat sampai cukup larut. Beberapa orang dari divisi lain memang sempat keluar-masuk.”Alena mengerutkan kening. “Rapat?”“Informasi yang kudapat, ada pembahasan proyek baru. Beberapa kepala divisi dan tim mereka ikut hadir.”Alena menyandarkan tubuhnya ke kursi. Berarti, catatan kartu akses pada pukul 21.47 tidak bisa dijadikan bukti untuk menentukan siapa yang menggunakan komputer Angel. Terlalu banyak orang yang keluar-masuk divisi desain
Pagi berikutnya, Alena tiba di Arta Group lebih awal dari biasanya. Semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan pertanyaan Regantara. Kenapa dia yang harus mengingat masa lalu mereka.Seketika pikiran Alena terbagi dua, antara masa lalunya dengan Regantara yang terlupakan, dan masa kini yang harus mulai ia rencanakan. Termasuk menjalani pekerjaan barunya menjadi wakil direktur utama.Sejak resmi menjadi wakil direktur, ia tahu cara orang-orang memandangnya sudah berubah. Kemarin, beberapa karyawan masih membicarakannya sebagai mantan istri Alres. Hari ini, ia adalah salah satu orang yang memiliki wewenang dalam perusahaan.Alena tidak ingin perubahan itu membuatnya terburu-buru. Ia justru ingin memulai dengan memahami kembali perusahaan dari dalam.Begitu sampai di ruang kerjanya, Alena meminta beberapa dokumen kepada sekretaris. “Bisa tolong siapkan struktur organisasi terbaru, daftar kepala divisi, dan laporan proyek yang sedang berjalan?”“Baik, Bu Alena.”“Termasuk prosedur ak
Setelah Pak Adrian dan keluarganya pulang, suasana di Villa Amarilis kembali tenang.Alena membereskan beberapa piring yang masih berada di meja makan, sementara Regantara berdiri di teras sambil menerima telepon.Pria itu memang tidak langsung pulang. Setelah makan malam selesai, ia mengatakan masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.Alena tidak mempermasalahkannya. Malam itu sebenarnya cukup menyenangkan. Tidak ada pembicaraan tentang Keira, Alres, atau masalah perusahaan yang biasanya memenuhi pikirannya.Hanya makan malam sederhana dan percakapan ringan. Setelah dapur kembali rapi, Alena keluar membawa dua gelas air. Namun, Regan masih berbicara di telepon.Alena meletakkan salah satu gelas di meja teras. “Minum dulu kalau sudah selesai,” katanya.Regan mengangkat tangan sebagai tanda mengerti. Alena mengangguk lalu kembali masuk.Beberapa menit kemudian, ia mendengar suara pagar terbuka dan tertutup. Mungkin pria itu pulang terlebih dulu untuk mengambil sesuatu
Sepulang dari Arta Group, Alena langsung menuju Villa Amarilis. Hari ini terasa jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan. Bukan karena rapatnya berlangsung terlalu lama, tetapi karena untuk pertama kalinya ia harus duduk di tengah para pemegang saham sebagai bagian dari jajaran manajemen perusahaan.Ia masih memikirkan banyak hal ketika melihat Regantara sedang duduk di teras rumahnya. Pria itu tampak santai dengan sebuah laptop di hadapannya. Begitu melihat Alena melewati rumahnya, Regan langsung melambaikan tangannya.Melihat lambaian tangan Regan, Alena pun menanggapi dengan lambaian tangannya. Alena berpikir ia harus mengucapkan terima kasih, ia pun menghampiri Regantara.“Sudah pulang?”Alena mengangguk. “Sudah.”Regan memperhatikan wajahnya beberapa saat. “Sepertinya kamu terlihat sangat lelah? Bagaimana Rapatnya, berjalan lancar?”Sebelum menjawab, Alena meletakkan tasnya di kursi terdekat sebelum duduk di hadapan Regan. “Sangat melelahkan ... tapi berkatmu, semuanya be







