로그인Langit mulai menggelap ketika mobil Alena memasuki halaman rumahnya.
Pertemuan dengan Pak Adrian menguras lebih banyak tenaga daripada yang ia bayangkan. Bukan karena pembicaraan mereka berlangsung lama, melainkan karena hari ini ia benar-benar mengucapkan keputusan yang selama lima tahun tak pernah berani ia pikirkan.
Bercerai. Kata itu masih terasa asing di telinganya.
Alena baru saja melangkah memasuki rumah ketika aroma berbagai masakan memenuhi indra penciumannya.
Ia berhenti. Pandangannya beralih ke arah ruang makan. Meja makan yang biasanya hanya diisi tiga atau empat hidangan kini dipenuhi berbagai menu yang tampak asing, bukan kesukaannya maupun Alres.
Alena mengernyit. "Bik Isa."
Perempuan paruh baya yang sedang menata piring langsung menoleh. "Iya, Non?"
"Ada acara apa?"
Bik Isa tersenyum. "Pak Alres bilang malam ini ada tamu penting."
"Tamu?"
"Iya, Non."
Belum sempat Alena bertanya lagi, suara langkah kaki terdengar dari lantai dua. Alena mendongak.
Seorang perempuan bergaun merah maroon mewah turun perlahan. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi. Wajahnya masih sama seperti yang diingat Alena. Hanya kini terlihat lebih dewasa.
Begitu mata mereka bertemu, senyum lebar langsung menghiasi wajah perempuan itu.
"Alena!" Keira mempercepat langkahnya. Tanpa ragu, ia memeluk Alena. "Surprise!"
Napas Alena tercekat. Ia melirik Keira yang memeluknya, berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.
Kenapa Keira ada di sini? Jangan bilang tamu penting itu adalah dia?
Keira melepaskan pelukannya sambil tersenyum cerah. "Apa kamu kaget? Aku memang sengaja meminta Alres untuk tidak memberitahukan kedatanganku padamu."
Alena tersenyum kaku melihat Keira tertawa riang. Entah kenapa ucapannya terasa janggal bagi Alena. Terdengar seperti sebuah alasan yang dibuat-buat.
Ia segera menyimpan pikiran itu dan berkata, "Senang melihat Kak Keira lagi." Kalimat itu keluar dengan tenang.
Alena tidak tahu apakah ucapannya itu jujur atau bohong. Bagaimanapun, mereka pernah menjadi sahabat dulu. Saat masih sekolah, mereka bertiga hampir selalu bersama. Alres, Keira, dan dirinya.
Sama seperti Alres, Keira juga salah satu anak yatim piatu yang dibiayai oleh ayahnya. Ia dimasukkan ke sekolah yang sama seperti Alena dan Alres. Dari situlah, mereka akhirnya bertiga menjadi teman.
Keira bukan hanya sahabatnya, tapi juga sosok kakak bagi Alena. Usia wanita itu lebih tua setahun darinya, seumuran dengan Alres.
Dalam ingatannya, Keira adalah kakak yang baik dan ramah. Alena bahkan masih mengingat bagaimana Keira selalu membantunya belajar tiap ia kesusahan.
Karena itu, ia tidak menyangka Keira akan menjadi duri dalam bahtera rumah tangganya. Takdir hidupnya benar-benar kejam.
"Kakak tinggal di mana sekarang? Apa sudah mencari tempat tinggal baru?” tanya Alena, mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh, soal itu---"
"Di sini."
Suara bariton yang tajam itu membuat Alena menoleh. Alres berdiri di ambang pintu ruang kerja. Mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung hingga siku. Tatapannya tetap setenang biasanya.
"Keira akan tinggal di rumah ini," ulangnya.
Tak ada penjelasan atau permintaan maaf karena tidak memberitahunya lebih dulu. Hanya sebuah keputusan.
Di wajahnya juga tidak terlihat keheranan karena baru melihat Alena sekarang. Sepertinya, ia tidak peduli tentang keberadaannya selama empat hari ini, atau bahkan tidak ke rumah sama sekali selama ia berada di rumah sakit. Terlalu sibuk berduaan dengan Keira.
Alena merasakan kepahitan ketika memikirkan itu. Tapi, ia berusaha tetap tenang.
"Oh, begitu, Ayah dan Ibu pasti juga menginginkan itu," jawab Alena pelan.
Keira langsung memasang wajah tidak enak. "Alena, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud mengganggu kamu dan Alres. Aku cuma sementara saja, setelah ini aku akan mencari tempat tinggal secepatnya."
Alena membalasnya dengan senyum tipis. "Tenang saja, Kak. Aku kan sudah bilang, tidak masalah kalau kakak tinggal di sini."
‘Lagipula, sebentar lagi aku juga akan pergi dari sini,’ sambungnya dalam hati.
Keira menghembuskan napas lega. "Terima kasih, Alena. Kamu benar-benar baik!" ucapnya membuat senyum Alena berubah pahit.
Tiba-tiba, bel rumah berbunyi.
Bik Isa segera berjalan membukakan pintu. Tak lama kemudian, Kevin, Dion, dan Rafael masuk sambil membawa beberapa paper bag berisi buah dan kue.
"Selamat malam! Apa acaranya sudah dimulai?" sapa Kevin heboh.
“Baru saja mau dimulai. Ayo duduk dulu!” balas Keira riang sambil mengarahkan sahabat Alres itu ke meja makan. Sikapnya sudah seperti pemilik rumah saja.
Alena melipat dahinya. Apa-apaan ini? Jangan bilang mereka mau mengadakan pesta penyambutan Keira di rumahnya?
Ia bahkan tidak diberitahukan apa pun soal itu!
“Aku yang membolehkannya,” sahut Alres tiba-tiba di sampingnya, “cuma pesta penyambutan kecil. Lagipula, Keira juga tuan rumah sekarang.”
Pandangan Alres begitu menuntut. Seolah memaksa Alena untuk menerimanya.
Alena yang dulu pasti akan mengiyakannya dan membiarkannya seolah itu bukan masalah. Tapi, ia kini mengerutkan alisnya dalam. Menunjukkan kekesalannya terang-terangan.
“Setidaknya, kamu harus kabari aku sebelumnya.”
Ucapan itu membuat Alres sedikit terkejut, alis tebalnya naik sedikit. Ia memerhatikan Alena yang ikut menyusul ke ruang makan.
Di dalam kabin mobil mewah yang melaju tenang membelah keheningan malam kota, aroma leather berpadu dengan wangi parfum maskulin milik Regan.Regan melirik sekilas ke arah kursi penumpang di sampingnya, tempat Alena duduk termenung menatap keluar. Jemari wanita itu saling bertautan di pangkuannya, menyiratkan sisa-sisa ketegangan dari apa yang baru saja terjadi di rumah sakit dan aula pesta."Alena," panggil Regan lembut, memecah kesunyian yang sempat mendominasi. "Kamu tampak begitu tenang, tapi aku tahu pikiranmu sedang melayang ke mana-mana. Apa kamu benar-benar yakin tidak ingin menuntut semua kasus Keira secara bersamaan? Termasuk menyeret Angel yang selama ini menjadi kaki tangannya?"Alena menoleh perlahan. Ia menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Dua dakwaan itu—pencemaran nama baik dan percobaan pembunuhan di eskalator—sudah lebih dari cukup untuk membuat Keira mendekam sangat lama di balik jeruji besi, Regan. Hukum akan bekerja setimpal padanya."Alena
"Apa maksud kalian?!" Alres membentak, matanya menatap tajam para pria berjas yang ternyata didampingi oleh dua orang petugas kepolisian berseragam lengkap.Petugas polisi melangkah maju seraya mengacungkan sebuah amplop dokumen resmi. "Kami membawa surat perintah penangkapan atas nama Nona Keira. Beliau resmi dilaporkan atas kasus pencemaran nama baik serta penyebaran berita bohong terhadap Nona Alena. Selain itu, berdasarkan bukti baru yang diserahkan, Nona Keira juga dijerat pasal percobaan pembunuhan atas insiden di mal, di mana beliau terbukti sengaja mendorong Nona Alena dari atas eskalator.""Apa?!" Alres terperanjat hebat, kaget setengah mati. Wajahnya pucat seketika. "Apakah Anda tidak salah tuduhan?! Keira tidak mungkin melakukan hal sekeji itu!"Polisi menyerahkan surat perintah penangkapan beserta berkas salinan bukti kepada Alres. Dengan tangan yang gemetar hebat, Alres membaca setiap lembar dokumen tersebut. Di dalamnya terlampir rekaman CCTV mal yang memperlihatkan gera
Di lorong Rumah Sakit Internasional Hilstown yang lengang, Alres berdiri bersandar pada dinding dingin di depan ruang perawatan VIP. Pakaiannya yang sempat basah kini berganti kemeja kering yang dibawakan asistennya.Pikirannya melayang jauh kembali ke area kolam renang tadi. Suara tenang Alena dan sindirannya yang menohok tentang insiden danau bertahun-tahun lalu terus berputar-putar di kepalanya bagaikan gema. “Aku melihat kamu sama sekali tidak bisa berenang sampai hampir tenggelam. Bukankah itu aneh?"Alres memijat pelipisnya yang berdenyut. Keraguan sempat menyusup ke dadanya saat melihat Keira kepakan tangan dan tenggelam begitu mudah. Namun, alasan yang diberikan Keira—soal kram mendadak akibat dingin dan trauma mendalam semenjak menyelamatkannya dulu—terdengar sangat masuk akal bagi Alres.Lagipula, Alres tidak punya alasan untuk meragukan Keira; bukti yang dimiliki wanita itu sewaktu menyelamatkannya puluhan tahun lalu terlalu kuat untuk disanggah. Hanya saja, instingnya teta
Tanpa mengulurkan waktu, Regan memberi isyarat tegas pada kepala keamanan. Layar monitor besar di sudut lorong aula yang terhubung langsung dengan sistem keamanan pusat seketika menampilkan rekaman CCTV dari area kolam renang. Para tamu undangan membendung area tersebut, menatap layar dengan rasa penasaran yang memuncak.Video diputar dalam kecepatan normal lalu diperlambat tepat di detik-detik krusial.Di layar itu, terlihat jelas Alena sedang berbalik hendak melangkah pergi. Namun dari arah belakang, Shanon melesat maju dengan kedua tangan terulur penuh dorongan ganas. Di saat yang hampir bersamaan, Keira juga bergerak agresif menghampiri Alena dari sudut berbeda. Namun, gerakan refleks Alena yang gesit berkelit membuat dorongan kuat Shanon menghantam tubuh Keira. Keira yang hilang pijakan panik dan secara refleks mencengkeram baju Shanon, menarik mereka berdua jatuh berbarengan ke dalam kolam.Kenyataan pahit itu terpampang nyata di depan mata puluhan pasang mata kolega kelas atas.
Sosok yang tercebur ke dalam dinginnya air kolam ternyata adalah Keira. Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Shanon yang berniat mendorong Alena agar terjatuh berharap Keira yang nantinya disalahkan.Di saat bersamaan, Keira juga berniat jahat melesat maju untuk mendorong Alena dengan skenario yang sama—agar Shanon yang memikul kesalahannya jika Alena tercebur. Namun, Alena yang sempat hilang keseimbangan secara refleks berkelit menghindar.Dorongan keras Shanon yang salah sasaran justru menghantam tubuh Keira tepat di tepi kolam. Keira yang hilang pijakan panik luar biasa. Dalam detik-detik sebelum tubuhnya membentur air, jemari Keira sempat menyambar dan mencengkeram lengan Shanon kuat-kuat, menarik wanita muda itu ikut jatuh bersamanya.BYURRR!Alena mundur dua langkah, bernapas lega meski jantungnya berdegup kencang. Ia berdiri utuh dan baik-baik saja di tepi kolam.Tak lama kemudian, Shanon memunculkan kepalanya ke permukaan. Karena bisa berenang, ia segera bergerak menyandarka
Gedung pertemuan termewah di pusat kota malam itu disulap menjadi tempat perayaan ulang tahun Regantara Corporation yang sangat megah. Lampu-lampu kristal menggantung tinggi, memancarkan pendar keemasan yang menerangi jajaran kolega bisnis papan atas dan petinggi perusahaan.Di antara deretan tamu undangan, tampak Alres berjalan berdampingan dengan Keira. Awalnya Alres enggan membawa wanita itu setelah semua konflik yang terjadi, tetapi Keira terus merajuk dan memaksa hingga Alres tak punya pilihan selain menuruti kemauannya.Suasana aula utama mendadak riuh saat pintu utama terbuka lebar. Regan melangkah masuk dengan aura kepemimpinan yang begitu kuat. Di sisi kanannya, Alena tampil sangat anggun mendampinginya, sementara Shanon berada di sisi kirinya dengan gaun mewah.Pemandangan tersebut seketika mengundang bisik-bisik dan pertanyaan dari para tamu. Walau sebagian besar kolega mengenali sosok Alena, keberadaan wanita muda di sisi kiri Regan memicu spekulasi baru tentang posisi ked







