LOGINUcapan Tara membuat suasana di ruang kunjungan berubah seketika. Kara yang sejak tadi menahan diri akhirnya tidak mampu lagi menyembunyikan kemarahannya. Wajahnya memerah, napasnya memburu, sementara tatapannya kepada Tara kembali dipenuhi kebencian yang selama ini begitu akrab bagi wanita itu.
“Kau selalu seperti ini!” bentaknya. “Selalu membuat seolah-olah kau yang paling menderita! Kau pikir setelah semua yang terjadi, kau bisa mengambil anakku begitu saja?”<
Dua hari berlalu sejak Tara diminta untuk beristirahat total di rumah. Untuk sementara waktu, ia tidak lagi membuka pekerjaan yang terlalu berat dan mulai membiasakan dirinya mengikuti saran dokter.Kamar yang diminta Victor juga sudah selesai dibuat. Letaknya di lantai satu, dekat taman di sudut mansion, dan kini siap didekorasi sesuai keinginan Tara. Dan seperti apa yang Victor katakan, bagian ini terasa lebih tenang, nyaman, dan benar-benar terasa lebih hangat dibanding sudut rumah lainnya.Berbagai barang yang mereka beli dari beberapa butik mulai berdatangan. Liora tampak sangat antusias ketika melihat semua perlengkapan bayi tersebut. Ia bahkan ikut membawa beberapa barang kecil ke dalam kamar calon adiknya, meski sebagian besar waktu justru dihabiskannya dengan melihat-lihat setiap benda yang ada di sana.“Yang ini untuk adik, kan?” tanya Liora sambil mengangkat sebuah pakaian bayi.“Iya,” jawab Tara.“Kalau yan
Setelah selesai dari butik pertama, Tara mengira mereka akan langsung pulang. Namun, Victor ternyata sudah memiliki rencana lain.“Kita mau ke mana lagi?” tanya Tara ketika mereka kembali berhenti di depan sebuah butik perlengkapan bayi lainnya.Victor membelokkan kursi roda yang membawa Tara masuk. “Masih ada beberapa barang yang belum kita beli.”Tara menatapnya tidak percaya. “Bukankah tadi sudah cukup banyak?”“Belum.”“Tapi—““Masih ada yang diperlukan, Tara.” Pria itu hanya tersenyum. “Ayo. Kau bisa melihat-lihat dulu. Kalau memang tidak ada yang kau sukai, kita tidak perlu membeli apa pun.”Tara akhirnya menuruti apa yang Victor katakan. Namun, setelah memasuki butik kedua, ia segera menyadari bahwa perkataan Victor tidak sepenuhnya benar. Mereka kembali melihat pakaian bayi, perlengkapan tidur, selimut, hingga berbagai barang kecil yang m
Di rumah sakit, Tara akhirnya mendapatkan penjelasan mengenai rasa sakit yang dialaminya. Dokter mengatakan bahwa kondisinya secara keseluruhan baik-baik saja. Perkembangan bayi di dalam perutnya juga tak ada masalah.Nyeri yang muncul disebabkan oleh kelelahan dan tubuhnya yang mulai mendekati masa persalinan. Tidak ada masalah serius yang perlu dikhawatirkan, tetapi dokter tetap meminta Tara untuk lebih banyak beristirahat dan mengurangi aktivitasnya.“Prediksi kelahirannya sekitar satu bulan lagi,” jelas dokter setelah memeriksa kembali kondisi Tara. “Jadi, saya sarankan Anda mulai mempersiapkan diri untuk cuti dari pekerjaan. Jangan memaksakan diri terlalu banyak.”Tara hanya mengangguk. Ia sebenarnya sudah menduga bahwa pekerjaannya akan menjadi masalah ketika usia kehamilannya semakin dekat dengan waktu persalinan. Namun, mendengar dirinya harus benar-benar berhenti bekerja untuk sementara waktu tetap membuatnya sedikit tidak nyaman
Kehidupan Tara perlahan kembali seperti biasanya. Sesekali Victor ikut sarapan bersama. Terkadang pria itu juga menyempatkan diri untuk makan malam, bergantung pada kesibukan yang dimilikinya.Tara tidak pernah mempermasalahkan kehadiran atau ketidakhadirannya. Ia memahami bahwa Victor memiliki banyak urusan yang harus diselesaikan, sementara dirinya sendiri juga nyaris tidak memiliki waktu luang.Setelah mengambil alih begitu banyak hal, kesibukan Tara justru semakin padat. Ia terbiasa menghabiskan sebagian besar harinya di ruang rapat, meninjau laporan, mengambil keputusan, dan memastikan setiap urusan perusahaan berjalan sesuai rencana. Dan yang paling penting, Tara tak melupakan tanggung jawabnya mengawasi dan memberikan perhatian terbaik untuk Liora.Setidaknya, ada satu hal yang kini terasa lebih ringan. Liora tidak lagi bertanya-tanya mengenai ayah dan ibunya. Gadis kecil itu lebih banyak bercerita mengenai sekolahnya, kemajuan belajarnya, serta banyak la
Ucapan Tara membuat suasana di ruang kunjungan berubah seketika. Kara yang sejak tadi menahan diri akhirnya tidak mampu lagi menyembunyikan kemarahannya. Wajahnya memerah, napasnya memburu, sementara tatapannya kepada Tara kembali dipenuhi kebencian yang selama ini begitu akrab bagi wanita itu.“Kau selalu seperti ini!” bentaknya. “Selalu membuat seolah-olah kau yang paling menderita! Kau pikir setelah semua yang terjadi, kau bisa mengambil anakku begitu saja?”Tara tidak menjawab. Ia hanya berdiri di dekat Liora, membiarkan Kara meluapkan emosinya tanpa memberi alasan untuk memperpanjang pertengkaran. Namun, Kara justru semakin marah karena tidak mendapatkan reaksi yang diinginkannya.“Liora adalah putriku!” serunya. “Dia akan kembali bersamaku setelah semua masalah hukum ini selesai. Aku akan menjemputnya sendiri. Kau tidak punya hak untuk memisahkan seorang anak dari ibunya!”Liora yang sejak tadi menggen
Wajah Kara langsung berubah. Ia tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari anaknya sendiri.“Liora,” suaranya terdengar lemah. “Kau tidak boleh mengatakan seperti itu.”“Kenapa?” Liora bertanya polos. “Aku cuma bilang apa yang aku rasakan.”Kara terdiam.Liora mengusap ujung bajunya sendiri, lalu melanjutkan, “Mommy Tara memang banyak aturan. Kadang dia galak kalau aku melakukan sesuatu yang tidak boleh. Kadang dia juga menyuruhku belajar atau tidur tepat waktu.” Ada senyum kecil di wajahnya ketika mengingat hal itu. “Tapi aku tahu Mommy Tara menyayangiku.”Tara yang sejak tadi diam hanya menatap Liora. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya, tetapi ia tidak ingin menghentikan anak itu. Liora berhak mengatakan apa yang selama ini ia rasakan.“Kalau aku sakit, Mommy Tara yang menjagaku. Kalau aku sedih, dia selalu bertanya kenapa. Kalau aku takut, dia tetap ada







