로그인Setelah berbicara cukup lama dengan Jerry dan Tiara, Nicko akhirnya memahami bahwa keputusan yang diambil putranya bukan sekadar karena Jerry ingin memenuhi syarat agar diperbolehkan kembali ke mansion. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Jerry berbicara kali ini. Tidak ada lagi sikap keras kepala atau keinginan untuk memaksakan kehendak. Jerry benar-benar ingin memberikan kesempatan kepada Tiara, sementara Tiara sendiri datang atas kemauannya tanpa paksaan dari siapa pun. Perempuan itu bahkan masih menyimpan perasaan kepada Jerry dan bersedia berjalan bersamanya meskipun mengetahui bahwa laki-laki yang dicintainya memiliki masa lalu yang tidak sederhana.Nicko tidak ingin menghalangi mereka sebaliknya, semakin lama ia memperhatikan keduanya, semakin besar keinginannya untuk memastikan bahwa kali ini Jerry benar-benar mendapatkan kesempatan untuk memulai hidup yang baru. Ia tahu kesalahan Jerry di masa lalu tidak bisa dihapus begitu saja, tetapi hidup juga tidak seharusnya berhenti han
Nicko masih berdiri di hadapan Jerry dengan tatapan serius. Setelah melihat kondisi putranya, ia memang sudah tidak sanggup bersikap sepenuhnya acuh. Ada rasa iba yang terselip di balik ketegasan wajahnya. Bagaimanapun juga, Jerry adalah darah dagingnya sendiri.Namun rasa iba itu tidak membuat Nicko mengabaikan kenyataan bahwa Jerry harus memiliki batas yang jelas jika ingin kembali tinggal di rumah tersebut. Nicko menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata,“Kalau kamu memang mau kembali ke rumah ini, Papa bisa terima.”Jerry yang sejak tadi menundukkan kepala perlahan mengangkat wajahnya.“Papa... masih mau menerima Jerry?”Suaranya terdengar bergetar. Ada ketidakpercayaan yang begitu jelas dalam tatapannya, seolah ia sudah mempersiapkan diri untuk ditolak sejak datang ke mansion itu.Nicko mengangguk kecil.“Kamu tetap anak Papa.”Mata Jerry langsung memerah, namun sebelum rasa lega itu berkembang lebih jauh, Nicko melanjutkan,“Tapi ada syaratnya.”Jerry menahan napas.“Apa,
Jerry tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya berdiri diam dengan pandangan yang kembali menunduk, seolah tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa. Keheningan yang tercipta membuat Nicko semakin yakin bahwa putranya memang sedang gugup berada di hadapannya. Namun, Nicko tidak segera mundur. Sebaliknya, ia kembali melangkah perlahan mendekati Jerry dengan ekspresi yang masih sulit dibaca.Jarak di antara mereka semakin menyempit. Jerry yang sejak tadi berusaha tetap tenang mulai terlihat semakin kaku. Ia tanpa sadar menggeser tubuhnya sedikit ke belakang, tetapi ruang geraknya terbatas karena sofa berada tepat di belakangnya. Ketika Nicko kembali maju satu langkah, Jerry refleks mencoba mundur lagi. Namun, tumitnya justru mengenai sisi sofa.Tubuhnya kehilangan keseimbangan.“Eh—”Jerry bahkan tidak sempat mengatur posisi tubuhnya. Dalam satu gerakan yang tidak disengaja, ia langsung jatuh terduduk di atas sofa. Kedua tangannya spontan bertumpu di sisi dudukan untuk menahan tubu
Keesokan harinya, setelah suasana mansion mulai tenang dan kesibukan pagi sedikit mereda, Loviana mengajak Nicko bersantai di taman belakang mansion. Ia tampak bersemangat hanya karena ingin menikmati udara segar sambil menghabiskan asinan buah yang sejak kemarin masih menjadi makanan favoritnya. Dengan langkah perlahan, Loviana berjalan menuju taman sambil membawa sebuah mangkuk berisi potongan buah yang sudah disiram kuah asinan, sedangkan Nicko mengikuti di sampingnya. Sesekali pria itu melirik langkah istrinya, memastikan Loviana tidak terburu-buru atau melakukan gerakan yang terlalu banyak.Begitu sampai di taman, Loviana langsung memilih tempat duduk yang teduh di bawah pohon besar. Angin pagi berembus pelan melewati dedaunan, membuat suasana di belakang mansion terasa begitu nyaman. Loviana menyandarkan tubuhnya dengan santai, kemudian meletakkan mangkuk asinan di atas meja kecil di hadapannya. Wajahnya terlihat puas, seolah-olah menemukan cara sederhana untuk menikmati pagi ta
Tanpa sepengetahuan Loviana, Nicko ternyata sama sekali tidak berniat menjalankan misi itu dengan cara yang sederhana. Begitu cukup jauh dari mansion dan yakin Loviana tidak mungkin melihat apa yang sedang dilakukannya, sikap Nicko berubah. Wajahnya yang sebelumnya tenang saat berpamitan kepada sang istri kini kembali menunjukkan ketegasan seorang pria yang terbiasa menghadapi situasi berbahaya. Beberapa orang kepercayaannya sudah menunggu di lokasi yang telah ditentukan, sementara Marcel menjadi salah satu orang yang ikut mendampingi dan mengetahui seluruh rencana tersebut.Nicko memang sudah berjanji kepada Loviana bahwa ia akan berhati-hati, tetapi ia juga tahu bahwa jika istrinya mengetahui misi sebenarnya, perempuan itu pasti akan panik dan berusaha menghentikannya. Karena itulah Nicko memilih merahasiakannya. Ia tidak ingin Loviana memikirkan sesuatu yang dapat membuat kondisi tubuhnya kembali terganggu, terlebih setelah dokter baru saja mengizinkannya melakukan aktivitas ringa
Nicko menerima dokumen tersebut dan membukanya sekilas. Hanya dalam beberapa detik, ekspresinya berubah. Wajah yang sebelumnya santai selama perjalanan pulang kini kembali menunjukkan ketegasan seorang pria yang terbiasa memegang kendali atas banyak hal. Matanya bergerak membaca beberapa bagian laporan sebelum ia menutup kembali berkas itu.Loviana yang berdiri di sampingnya memperhatikan perubahan tersebut. Ia sudah sangat mengenal ekspresi Nicko ketika pria itu mulai kembali masuk ke dalam dunianya sebagai seorang pemimpin. Ia pun akhirnya menyadari bahwa setelah perjalanan singkat mereka ke pantai, Nicko memang harus kembali bekerja.“Kamu harus kerja?”Nicko menatapnya beberapa saat sebelum menjawab.“Sepertinya ada beberapa hal yang harus aku urus.”Loviana tidak langsung menjawab. Ia justru memandangi Nicko dengan tenang. Selama beberapa minggu terakhir, pria itu memang sudah mengorbankan begitu banyak waktu hanya untuk menemaninya. Bahkan ketika pekerjaan menumpuk, Nicko tetap
Loviana, wanita cantik nan anggun bermata almon, yang memiliki gelar sebagai gadis terpopuler di kampusnya telah lama menjalin cinta dengan seorang lelaki tampan dan kaya raya bernama Jerry Nikcolas. Mereka dinobatkan sebagai pasangan paling serasi dan romantis di universitas tersebut. Sebab perlak
Dalam hati Jerry bertanya-tanya, dari mana Loviana mendapatkan semua bukti itu? Bahkan selama ini Loviana tak menaruh curiga padanya. Hubungan mereka baik-baik saja. Tak ada pertengkaran serius. Oleh sebab itu, kejadian ini membuat Jerry seperti tersambar petir di siang bolong. Tak ada angin, tak a
“Katakan syaratmu itu, aku akan mengabulkannya.”Loviana menegapkan dada, mengangkat wajah, meluruskan pandangannya pada bola mata Nicko.“Syarat yang pertama. Saat ini hatiku belum mencintai Anda. Dan masih ada sisa rasa dari cinta yang dulu, dari putramu Jerry. Jika dalam waktu dua puluh delapan
Tengah malam, dering ponsel mengagetkan Loviana. Dia terbangun dengan terperanjat. Loviana memandangi tubuhnya sendiri yang hanya terbalut selimut. Tak ada satu pakaiannya pun yang melekat. Pikirannya agak kacau. Kepalanya sedikit pusing. Ia acak wajahnya kasar setelah teringat apa yang baru saja







