Home / Romansa / Kawin Grebek / 59. Kok Tegang Gitu?

Share

59. Kok Tegang Gitu?

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-10-10 23:28:33

"Hik hik hik!" Suara bayi mungil yang baru berusia empat bulan itu mulai terdengar. Zain nampaknya mulai tak nyaman dengan hawa panas siang itu.

Siang itu matahari memang bersinar terik. Zain tidur di dalam kamarnya bersama sang ibu. Di sampingnya, Cita berbaring tiduran miring dengan tanktop dan celana pendek. Tubuhnya kembali lemas. Selain karena lelah menuntaskan tumpukan pekerjaan sejak subuh, rasa nyeri di perut bawah akibat efek menstruasi hari kedua masih terasa dan cukup menguras tenaga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kawin Grebek   94. Hamil Duluan

    Rayhan masih membeku di ambang pintu, seolah kedua kakinya tertanam erat ke lantai yang dingin. Tatapan matanya yang tadi dipenuhi rasa curiga dan amarah kepada Adi, seketika luntur, berganti dengan rasa terkejut yang luar biasa."Mamah?" gumam Rayhan sangat pelan, hampir tak terdengar oleh tenggorokannya yang mendadak kering.Sosok wanita paruh baya berpenampilan elegan dengan pakaian rapi itu sedang duduk di atas tikar di dalam ruang tamu kontrakan yang sempit. Wanita itu tak lain adalah Lilis, ibu kandungnya. Baik Lilis maupun Cita tampaknya belum menyadari kehadiran Rayhan di depan pintu karena fokus mereka tertuju satu sama lain."Kamu sebaiknya jauhi anakku!" tegur Lilis dengan suara dingin, tegas, dan penuh penekanan.Cita yang duduk di hadapannya sembari memangku Zain dalam dekapannya hanya bisa diam dengan ekspresi bingung. Wanita muda itu memilih diam, tak berani membantah sepatah kata pun. Bibirnya bergetar pelan, menahan luapan emosi dan rasa takut yang m

  • Kawin Grebek   93. Jangan Macam-Macam

    Hari berikutnya Rayhan sudah sembuh. Pagi itu ia mulai berjualan lagi dan kini berpamitan dengan sang istri."Aku berangkat dulu, Cit," pamit Rayhan sembari mengulurkan tangan kanannya dan Cita segera mencium punggung tangan suaminya."Iya, Mas. Hati-hati dan semoga laris," sahut Cita dan wanita itu mendapatkan kecupan lembut di keningnya."Aduh. Mesranyaaaa!" Suara seruan Adi mengejutkan mereka berdua. Spontan Rayhan melepas pelukannya.Tetangga baru mereka itu selalu saja antusias dengan hubungan Cita dan Rayhan."Mas Adi," sapa Cita salah tingkah."Hai, Adikku Cita! Halo adik ipar," sahut Adi ceria. "Mau berangkat kerja, nih? Udah sembuh?""Iya," jawab Rayhan singkat dengan ekspresi yang lansung kembali datar."Oh. Ya udah sana. Tenang aja nanti biar Cita dan Zain aku yang bantu urus. Kamu yang penting jangan lupa bawa mantol," ucap Adi semangat sembari mengingatkan."Sudah aku siapkan." Lalu Rayhan terdiam dan langsung menautkan kedua alisnya.

  • Kawin Grebek   92. Berubah Manja

    Pukul enam lewat tiga puluh menit, suasana di sekitar rumah tampak berbeda dari biasanya. Lapak sayur di belakang kecamatan hari ini kosong, tidak ada sosok Rayhan yang sibuk menata dagangan atau melayani ibu-ibu langganan setianya.Di dalam kamar, Rayhan masih terlelap pulas. Pria itu benar-benar mengistirahatkan tubuhnya yang semalam dihantam demam tinggi.Cita yang sudah bangun sejak subuh bergerak sigap. Setelah merapikan tempat tidur dan menyiapkan wadah kue, ia memutuskan untuk tetap berangkat mengantar kue ke warung Bu Is. Dengan menggendong Zain di depan dadanya menggunakan kain jarik, Cita melangkah ringan menuju warung Bu Is yang tidak jauh dari rumah mereka."Pagi, Bu Is," sapa Cita ramah setibanya di warung."Eh, Mbak Cita," balas Bu Is sambil menerima nampan berisi aneka kue basah yang dibawa Cita. "Ini kok...?""Iya, Bu Is. Kue hari ini nggak sebanyak kemarin, soalnya Mas Rayhan lagi sakit, masuk angin semalem gara-gara kehujanan. Jadi saya cuma bisa buat setengahnya aja

  • Kawin Grebek   91. Wasiat

    "Apaan, sih, Mas?!" Cita mengerjap tak percaya mendengar tebakan ngawur suaminya dengan wajah memerah. Wanita itu mendengus gemas, lalu tanpa ragu kembali mendaratkan cubitan yang lebih keras di lengan Rayhan."Aw! Aduh, Cita! Katanya tadi nggak mau 'gituan', tapi kok malah nyubit-nyubit begini? Kamu beneran ngajak ribut atau kode keras, sih?" protes Rayhan dengan suara serak khas orang demam, meski matanya masih menyipit menahan sakit kepala.Alih-alih menjawab, Cita mendengus kesal sambil mengangkat piring kecil yang sejak tadi dibawanya. Ia tunjukkan benda-benda di atas piring itu tepat di depan wajah sang suami."Nih, lihat!" seru Cita.Rayhan mengerutkan dahi, menatap bingung ke arah piring kecil yang berisi sedikit minyak goreng dan sebuah uang koin seribu rupiah. Pria itu diam sembari menatal heran."Kamu... mau goreng koin, Cit? Buat apa? Mau menggadaikan uang lewat dukun pakai minyak?" tanya Rayhan mulai melantur.Kesabaran Cita hampir saja habis. Wanita itu semakin gemas hin

  • Kawin Grebek   90. Jangan Jumawa

    Sebelum subuh, Cita yang terbangun terlebih dahulu. Wanita itu membuka kedua matanya dan langsung melihat wajah suaminya. Ia bahkan bisa melihat dada bidang Rayhan yang masih telanjang.Tatapan Cita tiba-tiba berubah sedih. 'Mas... Apa kamu keberatan menyentuh wanita sepertiku?' tanyanya dalam hati saat teringat Rayhan benar-benar tidak melakukan penyatuan dengannya malam tadi."Emhhh...." Rayhan melenguh pelan lalu membuka kedua matanya. Pria itu langsung menarik Cita ke dalam pelukan."Eh?!""Sebentar lagi, Cit," bisik Rayhan lembut sembari mengecup dahi istrinya dan mulai memejamkan kedua matanya lagi."Tapi ini udah jam berapa, Mas. Cepatlah bangun sebelum terlambat ke pasar!" ucap wanita itu sembari mendorong pelan dada bidang Rayhan."Iya, iya, bawel," sahut Rayhan segera melepas pelukan lalu meregangkan otot-ototnya.Seolah tak ada yang terjadi, Rayhan beranjak dari kasur, meraih pakaian ganti lalu berjalan keluar kamar. Sementara Cita diam di temp

  • Kawin Grebek   89. Tak Bisa Menahan Diri

    "Mas Rayhan...." panggil Cita dengan suara lembut.Seketika, mata Rayhan terpaku. Dadanya berdesir hebat saat mendengar namanya dipanggil dengan suara yang begitu lembut dan manis.Di hadapannya kini, sepasang payudara yang sekal dan padat tersingkap sempurna di bawah temaram lampu. Bagi Rayhan, ini adalah kali pertama ia melihat keindahan tubuh wanita secara langsung dengan mata kepalanya sendiri, bukan lagi melalui layar ponsel dari video-video porno yang pernah ia tonton sewaktu masih sendiri.'Ternyata... ini yang selalu Cita sembunyikan di balik daster longgarnya....' gumam pria itu dalam hati dengan perasaan kagum.Ternyata kenyataan jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan. Tubuh Cita benar-benar sangat indah, alami, dan sempurna di matanya.Napas Rayhan seketika memburu. Ia segera melepas daster itu agar tidak mengganggu. Hasrat lelakinya bergejolak hebat, mendesak untuk segera keluar dari tubuhnya. Namun, seperti janji dan kesepakatan mereka sebelumny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status