Home / Romansa / Kawin Grebek / 75. Mana Buktinya?

Share

75. Mana Buktinya?

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-10-18 21:45:14

Pernyataan cinta yang keluar dari bibir Dinda bergema pelan di udara pagi yang mulai menghangat. Gadis itu menahan napas, dadanya berdebar sangat kencang menanti jawaban dari pria di hadapannya. Ia membayangkan Rayhan akan terkejut atau gugup karena tak menyangka ada gadis muda yang menyatakan perasaan terlebih dahulu padanya. Namun sayangnya, dugaan Dinda meleset jauh.

Rayhan sama sekali tidak terkejut. Pria itu justru memasang ekspresi datar dan dingin.

Menyadari keheningan itu, Din
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Null_null
Rayhan dah baper sm cita , citanya kapan wkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kawin Grebek   98. Berkemas-Kemas

    Lilis lagi-lagi diam. Namun pertahanan terakhir wanita itu akhirnya runtuh. Hatinya sebagai seorang nenek bergetar saat melirik sekilas ke dalam kontrakan, teringat dengan bayi manis yang tertidur di dalam sana. Dengan helaan napas panjang yang terdengar berat, Lilis akhirnya menyerah."Terserah sajalah," ucap Lilis kemudian. "Tapi ingat, keputusan akhir tetap ada di tangan Papah."Rayhan tersenyum tipis, merasa bebannya sedikit terangkat. "Soal itu gampang, Mah. Aku sudah dewasa, aku bisa menentukan jalan hidupku sendiri."Lilis mendengus pelan, lalu kembali menatap putranya. Di dalam hatinya, ia sendiri merasa bersalah. Sejak kecil Rayhan memang dididik begitu keras sehingga anak itu menjadi pribadi yang keras kepala seperti ini. Bahkan di usianya yang masih muda, Rayhan sudah bekerja begitu keras."Ya sudah. Kalau memang mereka berdia mau ikut, cepat bereskan barang-barang kalian! Tapi ingat... jangan sampai istrimu nanti mempermalukan keluarga besar kita!""N

  • Kawin Grebek   97. Didesak Pulang

    Rayhan dan Cita masih berada di tempat mereka berdiri. Napas Rayhan masih memburu, sisa-sisa amarah dan ketegangan akibat keputusan sepihak sang ibu. Sementara Cita, wanita itu menunduk dalam-dalam, terjebak di antara rasa bersalah, rasa tidak pantas, dan ketakutan luar biasa bahwa hubungan pernikahannya yang rapuh ini akan benar-benar hancur.Adi masih berdiri di dekat pintu dengan wajah bingung, menatap bergantian ke arah Rayhan, Cita, dan pintu luar kontrakan tempat Lilis baru saja pergi. Karena tidak kunjung mendapat jawaban, Adi merasa ada yang tidak beres dan memilih bungkam sejenak, membiarkan suasana yang kaku itu mencair dengan sendirinya.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Langkah kaki terdengar kembali mendekat, memasuki ruang tamu yang sempit. Lilis kembali muncul, mendorong Adi agar menyingkir."Apa, sih, Bu?!" pekik Adi kaget."Kamu siapa? Minggir!" usir Lilis."Ibu ini yang siapa? Aku ini keluarganya Rayhan dan Cita, kakak laki-laki mere

  • Kawin Grebek   96. Kita Cerai Saja

    Rayhan menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun menahan emosi yang nyaris meledak. Ia sama sekali tidak bisa tinggal diam mendengar sang ibu merendahkan tempat tinggal mereka."Mamah bilang tempat ini kotor?" Suara Rayhan dingin, penuh ketegasan yang menyiratkan rasa tidak terima. Ia mempererat rangkulannya di pinggang Cita. "Tempat ini bersih, Mah. Cita selalu membersihkannya setiap hari dengan sangat rajin. Bahkan, nggak peduli lelah, dia selalu memasak makanan lezat untukku, memastikan aku makan dengan layak setiap kali aku pulang jualan."Lilis mendengus sinis, menatap putranya dengan tatapan tak percaya. "Makanan lezat? Rumah kontrakan sempit seperti kandang ayam ini kamu sebut layak? Apa lagi itu? Kamu jualan?""Ya. Memangnya kenapa, Mah. Yang penting aku kerja cari uang halal," sahut Rayhan lagi.Lilis menggeleng cepat. "Rayhan, sadarlah! Mamah melahirkan dan membesarkan kamu bukan untuk hidup susah di tempat kumuh seperti ini!"Mendengar itu, pertaha

  • Kawin Grebek   95. Aku Bukan Ibumu

    "Apa katamu?!" Lilis semakin terkejut, begitu juga Cita yang duduk di sebelahnya."Ya. Dan Zain...." Rayhan meraih bayi mungil itu dan memangkunya dengan hangat. "Dia adalah anak kandungku yang selama ini aku sembunyikan dari kalian.""A-apa?!" Lilis menjerit tertahan, kedua tangannya spontan menutupi mulutnya sendiri karena syok berat. Wajahnya seketika pucat pasi mendengar pengakuan mematikan dari putranya.Di saat yang sama, Cita pun ikut tersentak hebat. Ia sama sekali tak menyangka Rayhan akan melontarkan kebohongan sebesar dan senekat itu di hadapan ibunya sendiri. Namun, ia hanya bisa diam.Pandangan Lilis kini terpaku pada bayi mungil di pangkuan Rayhan. Zain adalah cucu yang selama ini tak pernah ia ketahui keberadaannya, yang tiba-tiba diakui sebagai darah daging Rayhan sendiri setelah putranya itu menghilang tanpa kabar dan tak bisa dilacak oleh orang suruhannya.Tekanan darah Lilis mendadak melonjak drastis. Napasnya mulai memburu tidak teratur. Matan

  • Kawin Grebek   94. Hamil Duluan

    Rayhan masih membeku di ambang pintu, seolah kedua kakinya tertanam erat ke lantai yang dingin. Tatapan matanya yang tadi dipenuhi rasa curiga dan amarah kepada Adi, seketika luntur, berganti dengan rasa terkejut yang luar biasa."Mamah?" gumam Rayhan sangat pelan, hampir tak terdengar oleh tenggorokannya yang mendadak kering.Sosok wanita paruh baya berpenampilan elegan dengan pakaian rapi itu sedang duduk di atas tikar di dalam ruang tamu kontrakan yang sempit. Wanita itu tak lain adalah Lilis, ibu kandungnya. Baik Lilis maupun Cita tampaknya belum menyadari kehadiran Rayhan di depan pintu karena fokus mereka tertuju satu sama lain."Kamu sebaiknya jauhi anakku!" tegur Lilis dengan suara dingin, tegas, dan penuh penekanan.Cita yang duduk di hadapannya sembari memangku Zain dalam dekapannya hanya bisa diam dengan ekspresi bingung. Wanita muda itu memilih diam, tak berani membantah sepatah kata pun. Bibirnya bergetar pelan, menahan luapan emosi dan rasa takut yang m

  • Kawin Grebek   93. Jangan Macam-Macam

    Hari berikutnya Rayhan sudah sembuh. Pagi itu ia mulai berjualan lagi dan kini berpamitan dengan sang istri."Aku berangkat dulu, Cit," pamit Rayhan sembari mengulurkan tangan kanannya dan Cita segera mencium punggung tangan suaminya."Iya, Mas. Hati-hati dan semoga laris," sahut Cita dan wanita itu mendapatkan kecupan lembut di keningnya."Aduh. Mesranyaaaa!" Suara seruan Adi mengejutkan mereka berdua. Spontan Rayhan melepas pelukannya.Tetangga baru mereka itu selalu saja antusias dengan hubungan Cita dan Rayhan."Mas Adi," sapa Cita salah tingkah."Hai, Adikku Cita! Halo adik ipar," sahut Adi ceria. "Mau berangkat kerja, nih? Udah sembuh?""Iya," jawab Rayhan singkat dengan ekspresi yang lansung kembali datar."Oh. Ya udah sana. Tenang aja nanti biar Cita dan Zain aku yang bantu urus. Kamu yang penting jangan lupa bawa mantol," ucap Adi semangat sembari mengingatkan."Sudah aku siapkan." Lalu Rayhan terdiam dan langsung menautkan kedua alisnya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status