Share

Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin
Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin
Penulis: Renee

Bab 1

Penulis: Renee
Semalam, Caitlyn Hartana merasa heran, kenapa Dexter Mahadira tiba-tiba menjadi begitu gila di ranjang. Namun, pagi ini akhirnya dia tahu alasannya.

Ternyata adik iparnya akan bertunangan. Calon tunangannya pun tak lain adalah cinta pertama yang selalu ada di hati suaminya.

Singkatnya, itu adalah wanita yang Dexter cintai, tetapi tak bisa dia miliki. Kini, wanita itu akan menikah dengan adiknya sendiri. Betapa ironisnya.

Mengingat kembali bagaimana Dexter menekan pinggangnya semalam dengan mata yang memerah dan bertindak seperti kehilangan akal sehat, Caitlyn merasa semuanya begitu menyakitkan.

Caitlyn turun ke lantai bawah. Dexter sudah rapi dan bersiap keluar rumah. Tinggi badan pria itu hampir mencapai 1,9 meter. Sosoknya memancarkan aura yang menekan.

Karena sudah lama berada di posisi tinggi, orang sering kali lebih memperhatikan wibawanya dibandingkan wajahnya. Padahal wajah Dexter sebenarnya luar biasa tampan. Bahkan dengan ekspresi dingin dan kaku, ketampanannya tetap sulit disembunyikan.

Apalagi dengan bahu yang lebar, pinggang ramping, dan postur tegap. Dua kakinya yang panjang dibalut bahan kain berkelas, memperlihatkan kekuatan dan karismanya.

Caitlyn sudah tahu sejak lama, putra sulung Keluarga Mahadira ini dikenal tenang, bijak, dan penuh pengendalian diri. Seolah-olah di dunia ini tidak ada hal yang bisa menggoyahkan emosinya. Kecuali, cinta pertamanya itu ....

Caitlyn menekan perasaan getir di hatinya. Dia tidak menatap Dexter, lalu berjalan langsung ke ruang makan. Tatapan gelap Dexter menyapu tubuhnya sekilas, lalu dia menunduk, merapikan kancing lengan bajunya, dan berbalik pergi.

Keduanya tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Mendengar suara pintu tertutup, Caitlyn tersenyum pahit. Hatinya seperti tertusuk. Dulu dia berpikir, dirinya bisa menerima pernikahan yang saling menghormati dan dingin ini. Namun nyatanya, hatinya tak bisa dikendalikan. Dia jatuh cinta, sedikit demi sedikit, pada pria itu.

Caitlyn menyantap sarapan, tetapi makanan terasa hambar di mulutnya. Pandangannya kosong. Saat itu juga, ponselnya berdering. Dia mengangkatnya, lalu berdiri. "Aku segera ke sana."

Menjelang sore, Caitlyn sibuk di institut penelitian sampai hampir kehabisan tenaga. Dulu dia sangat cocok dengan rekan lamanya, Affan. Entah kenapa, pria itu tiba-tiba dipindahkan. Kini, rekan barunya yang bernama Darius, tidak terlalu ahli dalam hal data.

Caitlyn terpaksa mengerjakan pekerjaan dua orang seorang diri. Ditambah dengan masalah di pikirannya, dia semakin lelah.

Selesai bekerja, dia baru sadar ada pesan dari Dexter. Hanya lima kata dingin tanpa emosi.

[ Malam ini ke rumah lama. ]

Caitlyn langsung tahu, pasti malam ini mereka akan mengumumkan pertunangan Levan dan Gaby.

Levan adalah adik tiri Dexter. Berbeda ibu, tetapi satu ayah. Sementara itu, Gaby adalah cinta pertama yang selalu diingat Dexter.

Kedua bersaudara itu jatuh cinta pada wanita yang sama. Jamuan keluarga malam ini ... pasti akan sangat "menarik".

Ketika Caitlyn tiba di rumah lama Keluarga Mahadira dan baru hendak melangkah masuk, dia melihat Dexter dan Gaby di sudut taman. Jaraknya agak jauh, jadi dia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun, dia melihat Dexter menyerahkan sebuah tas hadiah kepada Gaby.

Senyuman di wajah Gaby tampak begitu bahagia dan manis. Dia memandang ke atas dengan wajah lembut yang tampak begitu familier bagi Caitlyn.

Dari sudut itu, terlihat sisi wajah Dexter yang tegas. Hidung mancung, rahang tegas, bibir sedikit terangkat. Senyuman kecil itu adalah senyuman yang tidak pernah dia tunjukkan saat bersama Caitlyn.

Hati Caitlyn terasa pedih sekaligus getir. Dia menekan kukunya ke telapak tangan, menahan perih, lalu mengalihkan pandangan dan melangkah menaiki tangga. Tumit sepatunya mengetuk anak tangga batu, menimbulkan suara pelan.

Dexter menoleh mengikuti suara itu. Senyuman di bibirnya lenyap tanpa jejak, tatapannya kembali dingin. Caitlyn berpura-pura tidak melihatnya, hanya mengangkat tangan dan membuka pintu.

Dexter menyingkir, hendak pergi. Namun, Gaby memanggilnya dengan lembut, "Kak Dexter, besok sore kamu ada waktu nggak? Levan mau ke rumah dosen pembimbing. Kamu bisa temani aku ke rumah sakit hewan sebentar?"

Suara Dexter rendah. "Besok sore aku ada rapat. Nanti aku lihat dulu. Masuklah, di luar dingin."

Gaby tersenyum. "Kak Dexter masuk saja dulu, aku mau telepon Levan sebentar."

Begitu Dexter pergi, sudut bibir Gaby terangkat. Senyumannya penuh keyakinan, seolah-olah sudah menggenggam kemenangan di tangannya.

Begitu Caitlyn masuk ke rumah, terdengar suara sarkastis dari ruang tamu. "Datang makan saja harus diundang berkali-kali, sok sekali gayamu! Kamu ini menantu Keluarga Mahadira, bukan leluhur! Sudah nikah, tapi nggak melayani suami di rumah, nggak masak, malah keluar kerja! Sungguh tak tahu malu!"

Caitlyn menoleh. Di sofa duduk Yulia, ibu tiri Dexter. Penampilannya anggun dan berwibawa, tetapi ucapannya tajam dan arogan.

Keluarga Mahadira memiliki aset besar. Sejak kakek Dexter meninggal, tanggung jawab keluarga besar dipegang oleh Dexter. Sebagai ibu tiri yang tidak dekat dengan Dexter dan ingin semua warisan jatuh ke tangan anak kandungnya, Yulia tentu tidak menyukai Dexter. Otomatis, dia juga membenci Caitlyn.

Dulu, ketika kakek Dexter memutuskan agar Dexter menikahi Caitlyn, banyak orang menganggap Keluarga Hartana tidak sepadan dengan Keluarga Mahadira. Hanya Yulia yang berpikir pernikahan itu bagus.

Semakin rendah status istri Dexter, semakin mudah bagi putranya, Levan, untuk menikahi pasangan yang lebih seimbang dan menguntungkan.

Sekarang, dia sangat puas dengan calon menantu seperti Gaby. Keluarga Sirait kaya raya dan kedua kakak Gaby memanjakannya setengah mati. Kelak, mereka pasti akan menjadi dukungan besar bagi Levan.

Jika dibandingkan dengan itu, Caitlyn tidak ada apa-apanya. Maka di saat tidak ada orang lain, Yulia semakin tak segan melancarkan kata-kata pedasnya.

Namun, begitu kata-katanya baru selesai, Dexter sudah muncul di belakang Caitlyn. Dia mengangkat tangan, menempatkan telapaknya di punggung bawah Caitlyn. Suaranya dingin saat berujar, "Ngapain berdiri di sini? Masuk."

Caitlyn menepis tangannya, melepaskan sepatu, lalu berjalan masuk. Tangan Dexter mengepal, sendi-sendinya menegang.

Yulia berdiri dengan senyuman pura-pura ramah. "Dexter, kamu datang juga. Ayo masuk, sebentar lagi makan malam."

Dexter menatapnya dengan dingin dan membalas, "Kenapa kamu di ruang tamu? Bukannya seharusnya di dapur? Lagi pula, setelah masuk ke Keluarga Mahadira, bukannya tugasmu adalah mengurus suami, mencuci, dan memasak?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 460

    Jangankan makan, sedikit saja ada aroma yang tidak biasa, perutnya langsung bereaksi.Sore harinya, Caitlyn kembali ke Universitas Hardison, lalu menerima telepon dari Dexter lagi.Dexter bertanya, "Akhir pekan nanti ada waktu? Kita ajak anak jalan-jalan."Sudah beberapa hari Caitlyn tidak bertemu Rezi, dia sangat merindukannya. Hanya saja, mengingat Dexter sedang membangun kedekatan dengan anak itu, dia terpaksa menahan rasa rindunya."Sabtu aku ada waktu," sahutnya. "Bisa?""Bisa. Kita ajak dia ke Sea World saja. Dia suka lumba-lumba."Caitlyn mengiakan.Malam harinya, saat sudah di rumah, dia tidak perlu menunggui Yasmin lagi, juga tidak ada anak di sisinya. Untuk sesaat, dia malah merasa tidak terbiasa.Caitlyn melihat ponselnya. Sejak terakhir kali Lusia meneleponnya, setelah itu mereka tidak pernah berhubungan lagi.Padahal waktu itu Lusia tampak sangat membutuhkan uang. Anehnya, setelah itu dia sama sekali tidak menghubunginya lagi. Entah masalahnya sudah selesai atau belum.Cai

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 459

    Maksud dokter jelas, janin itu belum tentu bisa dipertahankan.Di hati Irvin, Yasmin selalu berada di urutan pertama. Hal yang paling membuatnya bahagia bukanlah karena Yasmin mengandung anaknya, melainkan karena Yasmin bersedia melahirkan anak untuknya.Saat kembali berdiri di depan pintu kamar rawat Yasmin, yang tersisa di hatinya hanyalah rasa sakit dan iba.Yasmin adalah perempuan yang selalu menjaga penampilan dan sangat rapi. Sekarang karena hamil, dia muntah sampai keadaannya menjadi sangat berantakan.Tak perlu dibayangkan pun sudah tahu betapa menyedihkannya kondisi itu.Caitlyn sedang membuka pintu kamar sambil menggenggam ponselnya. Dexter baru saja menelepon.Saat mengangkat kepala, dia melihat Irvin. Dia berkata ke arah ponsel, "Nanti aku telepon balik."Dia memasukkan ponselnya ke saku, lalu bergeser memberi jalan. "Cepat sekali sampainya. Masuklah."Irvin mengangguk ringan, lalu melangkah masuk dengan kaki jenjangnya. Di saat seperti ini, ucapan terima kasih saja sudah t

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 458

    Hower sempat bertanya di meja perawat, jadi dia sudah tahu bahwa Yasmin sedang hamil. Namun, saking kagetnya, dia sampai lupa menanyakan alasan Yasmin dirawat.Memangnya hamil pun perlu dirawat di rumah sakit? Atau memang Yasmin saja yang terlalu manja?Caitlyn berkata, "Dia nggak bisa makan apa pun dan muntahnya parah sekali. Kalau nggak dirawat dan diberi infus, dia bisa kolaps."Hower belum pernah berurusan dengan perempuan hamil selain Caitlyn. Seingatnya, waktu Caitlyn hamil dulu, dia sama sekali tidak mengalami reaksi seperti ini.Barulah Hower menyadari kalau Yasmin memang terlihat lebih kurus. Tadi dia memang tidak terlalu memperhatikan penampilan Yasmin, apalagi Yasmin sedang berbaring di ranjang rumah sakit.Pipi Yasmin memang sejak dulu sudah tirus, tetapi sekarang kesannya tampak lebih kurus dan rapuh. Aura seorang wanita karier yang biasanya dia pancarkan pun jadi lebih redup."Memang lebih kurus," kata Hower. "Kenapa melahirkan anak bisa serepot ini?"Dia menoleh ke Caitl

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 457

    Sebenarnya Caitlyn ingin memberi tahu Irvin. Hanya saja, dia tidak punya posisi untuk melakukan itu.Dia adalah sahabat terbaik Yasmin. Sebelumnya saat Yasmin hamil, Caitlyn sudah pernah menghubungi Irvin sekali. Kalau kali ini dia ikut campur lagi, bagaimanapun rasanya kurang pantas.Sekarang Hower sudah tahu, justru lebih baik. Namun, dia juga tidak bisa menunjukkan kalau dirinya senang, jadi hanya berkata, "Sepertinya memang cuma bisa begitu."Yasmin membuka mata, meliriknya, lalu memberinya tatapan yang seolah menyuruhnya memahami sendiri maksudnya.Caitlyn buru-buru menahan senyum yang hampir muncul di sudut bibirnya.Hower berkata, "Kalau begitu, aku keluar sebentar."Setelah keluar dari kamar rawat, dia langsung menelepon Irvin lagi.Irvin tidak menyangka Hower akan menelepon balik. "Hari ini kamu nggak ada kerjaan ya?""Pulanglah," kata Hower. "Ada urusan pertunangan, akta nikah, sampai pesta pernikahan yang harus kamu urus.""Maksudmu apa? Kamu mau menikah?" Irvin sangat terke

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 456

    Yasmin berkata, "Kami sudah putus. Memangnya masih ada gunanya bahas ini?"Hower berkata, "Kalau begitu, aku akan tanya Irvin. Kalau dia mengakui kalian memang sudah putus, aku nggak akan beri tahu dia."Yasmin berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Oke, telepon dia sekarang. Nyalakan pengeras suaranya."Bagaimanapun, dia dan Irvin sudah membicarakan soal putusnya hubungan mereka. Irvin juga sudah menyetujuinya.Hower langsung menelepon.Di luar negeri saat ini masih pagi. Irvin sedang joging. Suara Irvin terdengar sedikit terengah-engah. "Ada apa?"Mulut Hower memang tidak pernah bersekolah. Dia berkata, "Jangan-jangan kamu lagi asyik di kasur sama cewek ya? Kalau begitu, aku nggak akan mengganggu."Irvin sampai ingin memakinya. "Aku lagi joging, ngomong apa sih!"Hower sudah menyalakan pengeras suara, jadi dia tidak lagi bercanda. Dia langsung bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Yasmin?"Hower langsung ke intinya.Irvin merasa heran. "Sudah selama ini baru kepikiran p

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 455

    Caitlyn baru saja turun ke lantai satu untuk membayar biaya obat yang memang harus dibayar secara terpisah. Dia sama sekali tidak tahu kalau ada seseorang yang mengikutinya.Toh rumah sakit penuh dengan orang. Dia tidak sempat memperhatikan satu per satu.Setelah kembali ke kamar rawat, dia mengobrol sebentar lagi dengan Yasmin, lalu menerima telepon dari Hower.Dia merasa heran, kenapa Hower menelepon lagi. Dia pun mengangkat telepon dan menyapa.Hower langsung bertanya, "Kamu di mana?""Aku sama Yasmin," jawab Caitlyn. "Malam ini nginap di rumahnya.""Oh." Hower tertawa pelan. "Sejak kapan rumah Yasmin pindah ke bangsal kebidanan dan kandungan?"Jantung Caitlyn berdegup kencang. Dia refleks menoleh ke arah Yasmin.Yasmin mengerjapkan mata, sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi.Caitlyn menyalakan pengeras suara, lalu bertanya, "Maksudmu apa?""Maksudku, aku sudah lihat kamu di rumah sakit," kata Hower. "Sekarang aku ada di depan kamar rawat kalian."Yasmin langsung tak bisa

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 10

    Caitlyn menurunkan pandangan, menyembunyikan seluruh emosi yang bergolak di matanya.Dexter menggenggam tangannya. "Katakan padaku."Hidung Caitlyn terasa sesak, matanya panas. Ternyata Dexter juga punya sisi yang lembut seperti ini. Ironisnya, dulu dia hanya pernah melihat sisi itu saat Dexter bera

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 9

    "Kamu suka?" tanya Dexter sambil memegang setir dengan satu tangan, tanpa menoleh padanya. Dalam nada suaranya terselip keangkuhan dan sedikit godaan, seolah-olah yakin akan mendapatkan jawaban yang diinginkan.Caitlyn terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menyahut, "Cantik." Dia tidak menjawab ap

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 8

    "Jangan banyak tanya." Dexter mulai terdengar tidak sabar. "Sudahlah, bukan urusan besar. Aku masih ada rapat sebentar lagi."Mason tertawa. "Jangan begitu dong, jarang-jarang kamu ngomong kayak begini. Menghibur orang juga ada caranya. Setidaknya kasih tahu dulu, kamu mau hibur siapa? Caitlyn? Ngga

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 7

    Caitlyn menegakkan punggungnya, hanya ujung jarinya yang sedikit bergetar. Lehernya jenjang. Saat berdiri seperti ini, dia tampak seperti seekor angsa putih yang anggun dan penuh kebanggaan.Dia menatap Dexter yang berjalan mendekat. Tatapannya dingin dan keras kepala. Tak ada sepatah kata pun yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status