共有

Bab 2

作者: Renee
Berhadapan dengan anak tiri yang dingin dan dominan seperti ini, Yulia tidak pernah sekali pun berhasil mengambil keuntungan. Dia tidak berani menentangnya secara langsung, hanya berani bermain di belakang layar.

Yulia tahu, Dexter baru saja mendengar kata-katanya tentang Caitlyn, jadi sekarang dirinya sedang menjadi sasaran.

Bukan karena hubungan mereka baik, tetapi karena otoritas Dexter di Keluarga Mahadira tidak bisa diganggu gugat.

Dulu Dexter menikahi Caitlyn karena tekanan dari mendiang ayahnya. Hubungan mereka bisa dibilang sekadar saling menghormati tanpa keintiman. Katanya, Dexter masih mencintai orang lain. Yulia pun sudah lama menunggu saat dia bisa menonton lelucon besar.

Yulia tidak berani membantah. Dia tertawa canggung dan berkata, "Aku cuma bercanda dengan Caitlyn. Dia itu ilmuwan, aku malah menunggu dia mengharumkan nama negara dan membawa kebanggaan bagi Keluarga Mahadira. Mana mungkin aku biarkan dia masuk dapur."

Kalimat itu terdengar manis, tetapi sarat sindiran. Sejak berdirinya negara ini, berapa banyak ilmuwan yang benar-benar mengharumkan nama bangsa?

Dexter melepaskan jasnya, melemparkannya ke samping begitu saja. "Aku jadi penasaran, kamu sendiri seberjasa apa untuk negara ini? Dan seberapa banyak kamu membuat keluarga ini bangga?"

Senyuman di wajah Yulia hampir pudar seluruhnya.

Tepat saat itu, Gaby masuk dan memanggil dengan lembut dari belakang, "Kak Dexter, ada apa?"

Ekspresi kesal dan dingin di wajah Dexter sedikit memudar. Dia menoleh sekilas ke arah Gaby, lalu menjawab dengan pendek, "Nggak apa-apa."

Selesai berkata begitu, dia membuka kancing lengannya sambil berjalan ke dalam rumah. Ketika melewati Caitlyn, dia berujar, "Kenapa masih berdiri di sana? Masuklah ke kamar."

Kemudian, dia naik ke lantai atas lebih dulu.

Caitlyn menatap Gaby. Gaby tersenyum menantang kepadanya. Dexter tadi membelanya bukan karena peduli, tetapi karena dia tahu Dexter memang tidak suka ibu tirinya itu. Saat Dexter marah, tidak ada yang berani melawannya. Namun, begitu Gaby memanggilnya dengan lembut, seluruh amarahnya lenyap begitu saja.

Caitlyn menatap Gaby sesaat, lalu mengalihkan pandangan dan naik ke lantai atas. Di sisi lain, Yulia tersenyum hangat, lalu maju dua langkah ke depan. "Gaby, ayo masuk, di depan pintu dingin."

Gaby menjawab dengan manis, "Terima kasih, Bibi."

Yulia membenarkan rambut gadis itu sambil tertawa lembut. "Masih panggil bibi? Sebentar lagi harus ganti panggilan, 'kan?"

Begitu berbelok di tangga dan suara dari bawah tak terdengar lagi, Caitlyn menarik napas panjang, lalu masuk ke kamarnya bersama Dexter.

Terdengar suara air mengalir dari kamar mandi. Dexter sedang mandi. Caitlyn duduk di kursi dekat jendela, menunduk, menatap lampu-lampu yang berkilauan di kejauhan.

Ponselnya berdering. Dia mengangkatnya. "Halo, Affan."

Affan menyapa, lalu bertanya, "Data yang tadi sore sudah kamu hitung?"

Caitlyn mengusap pelipisnya. "Sudah."

"Data tambahannya aku kirim ke email-mu, besok kamu bisa lebih santai sedikit."

Caitlyn terkejut. "Kamu sudah selesai? Bukannya kamu juga sibuk di sana?"

Affan menjawab, "Masih sempat. Bagian data ini bukan keahlianmu, jadi aku bantu selesaikan saja."

Kadang satu set data butuh dua jam untuk dijalankan. Mengingat rekan barunya yang tidak terlalu bisa mengurus data, Caitlyn merasa sangat berterima kasih. "Terima kasih banyak. Kalau kamu butuh bantuanku, jangan sungkan ya."

"Baiklah, selamat malam."

Saat panggilan berakhir, Dexter keluar dari kamar mandi. Dia tepat mendengar kalimat terakhir itu. Caitlyn menoleh.

Dexter mengeringkan rambut dengan satu tangan. Air hangat tidak membuat ketampanannya memudar, bahkan bulu matanya yang basah membuat tatapannya semakin tajam. Handuk melilit longgar di pinggangnya, memperlihatkan garis otot perut yang tegas dan kuat.

Caitlyn berdiri, berniat keluar kamar. Saat hampir berpapasan, pergelangan tangannya tiba-tiba ditahan.

"Ngapain?" Suara Caitlyn datar dan dingin. "Sudah waktunya makan malam."

Sejak melihat Gaby tadi, hatinya sudah menegang. Dia hendak menarik tangannya, tetapi Dexter malah menariknya ke pelukannya dan menunduk, hendak menciumnya.

Caitlyn langsung teringat bagaimana Dexter tersenyum lembut pada Gaby tadi, bahkan memberinya hadiah. Rasa mual menyerang. Tangannya menahan dada Dexter dan mendorongnya menjauh.

Alis Dexter berkerut. Wajahnya tampak tak sabar. Beberapa detik kemudian, dia bertanya, "Kenapa? Kamu sakit?"

Caitlyn tahu dalam hal hubungan fisik, Dexter selalu memegang kendali mutlak. Kalau dia menginginkannya, Caitlyn tak punya hak menolak. Memikirkan hal itu, hatinya terasa semakin sesak. Selama ini, Dexter hanya menganggapnya alat untuk melampiaskan hasrat, 'kan?

Caitlyn menepis tangannya dengan tegas. "Mulai sekarang, tanpa izinku, jangan sentuh aku lagi."

Setelah memberanikan diri berkata begitu, dia turun tanpa melihat reaksi suaminya.

Di ruang makan, dia melihat Andhika. Pria ini bisa dibilang sangat beruntung. Saat muda, dia punya ayah yang menanggung seluruh beban keluarga. Bahkan sebelum ayahnya meninggal, Dexter sudah memantapkan posisinya sebagai penerus keluarga dengan kemampuan luar biasa.

Andhika punya ayah yang hebat, juga punya anak yang hebat. Dia tidak perlu melakukan apa pun, tetapi bisa menikmati kekayaan yang tak terhitung jumlahnya.

Di usia 50-an, dia tampak seperti baru berusia 40-an. Dewasa, elegan, dan berwibawa. Begitu melihat Caitlyn, dia melambaikan tangan. "Caitlyn, ayo duduk makan. Dexter mana?"

Pernikahan ini adalah keputusan mendiang Tuan Tua Mahadira. Andhika yang sangat berbakti tidak pernah menentangnya. Bahkan setelah ayahnya tiada, dia tetap memperlakukan Caitlyn dengan baik.

Caitlyn menjawab, "Dia sebentar lagi turun."

Gaby segera menghampiri dan merangkul lengannya dengan mesra. "Kak Caitlyn, duduk di sini ya."

Caitlyn menggeleng dan menarik tangannya. "Seingatku, aku yang lebih dulu masuk ke rumah ini."

Seketika, Gaby tampak hendak menangis. Wajahnya polos dan penuh kepura-puraan. "Aku ... aku nggak bermaksud apa-apa ...."

Yulia langsung mengernyit dan menyela, "Gaby cuma bermaksud baik, kenapa kamu harus sombong begitu? Kamu kira kamu nyonya besar di rumah ini? Lalu aku ini siapa? Aku nggak pantas dihormati sedikit pun?"

Dia menoleh ke arah Andhika. "Kalau begini terus, Gaby bisa ditindas."

Gaby menangis pelan, membuat orang merasa iba padanya.

Andhika memijit pelipis, merasa pusing. "Aduh, kenapa jadi begini? Semuanya duduklah. Gaby, jangan nangis. Caitlyn, minta maaflah. Jangan sampai Dexter dan Levan salah paham."

Caitlyn menatap Gaby. Gaby sedikit memiringkan tubuhnya. Orang lain tidak bisa melihat ekspresi Gaby, tetapi Caitlyn bisa melihat jelas sorot matanya yang penuh kepuasan dan kesombongan.

Hari pertama datang ke rumah Keluarga Mahadira, dia sudah berhasil membuat Caitlyn dimarahi. Sayangnya, Dexter tidak melihat sendiri adegan ini. Bagaimana mungkin Caitlyn mau meminta maaf?

Yulia tak berhenti mendesak, "Ayahmu suruh kamu minta maaf, kamu nggak dengar?"

Langkah kaki terdengar dari tangga. Semua orang menoleh.

Dexter turun perlahan, menggulung lengan bajunya. Meskipun hanya mengenakan pakaian rumah berwarna abu-abu gelap, dia tetap tampak berkelas dan berwibawa. Tatapannya langsung jatuh pada Caitlyn, dingin dan menekan.

Caitlyn bisa merasakan jelas kemarahan di matanya. Benar, hari ini baru hari pertama, tetapi dia sudah berhasil membuat cinta pertama Dexter menangis.

Entah apa yang dipikirkan Dexter tadi saat mencoba menciumnya. Apakah dia membayangkan Gaby?

Pikiran itu membuat hati Caitlyn terasa seperti diremas keras, sakit hingga nyaris mati rasa. Akan tetapi, dia juga merasa muak.

Dexter menatapnya dalam-dalam. Matanya seperti sumur gelap tanpa dasar. Dia tidak melontarkan sepatah kata pun untuk membela Caitlyn.

Andhika yang selalu tidak punya pendirian, hanya bisa menuruti keputusan anaknya itu. Tadinya dia ingin menengahi, tetapi melihat ekspresi Dexter, dia tidak berani berbicara lebih jauh.

Yulia memang tidak menyukai Dexter, tetapi dia jauh lebih membenci Caitlyn. Kenapa? Karena keduanya sama-sama perempuan. Dulu dia bersusah payah agar bisa menikah dengan Andhika dan masuk Keluarga Mahadira, tetapi tetap harus tunduk pada Dexter.

Sementara Caitlyn, yang datang dari keluarga biasa, bisa menjadi istri Dexter semudah itu dan langsung menjadi nyonya muda. Kalau hubungan Dexter dan Caitlyn memburuk, Yulia justru paling senang melihatnya.

Hal lain bisa Caitlyn abaikan, tetapi tatapan meragukan dari Dexter membuat hatinya terasa dingin. Ujung jarinya bergetar. Dia tersenyum getir untuk dirinya sendiri.

Dia sudah tahu sejak awal kalau Dexter tidak mencintainya. Seharusnya dia sudah terbiasa. Namun, tetap saja hatinya terasa perih dan sedih. Di tengah hatinya yang sudah membeku, rasa sakit itu tetap muncul, halus tetapi nyata.

Caitlyn melirik Andhika. Pria itu berkata, "Sudahlah, semua keluarga sendiri. Ayo duduk, makanlah."

Caitlyn duduk tegak, diam sepanjang makan malam. Dia tidak salah, kenapa harus meminta maaf?

Gaby dengan manis mengambilkan lauk untuk semua orang, termasuk Caitlyn. Terakhir, dia mengambilkan lauk untuk Dexter.

Dexter langsung berkata, "Kamu makan saja."

Gaby tersenyum lembut. "Aku makan kok. Tenang saja, aku akan makan yang banyak."

Kelopak mata Caitlyn bergetar pelan.

Levan belum juga datang. Apa dia sengaja agar Dexter semakin kesal?

Makan malam berlangsung lama sebelum akhirnya Levan datang terlambat. Levan belakangan sibuk karena proyek bersama dosennya.

Wajahnya mirip Yulia, sementara tubuhnya tidak setinggi Dexter. Ada aura licik dan ambisi di matanya. Sejak SD, Yulia sudah menanamkan di kepalanya bahwa Dexter adalah saingannya. Suatu hari, dia harus merebut bisnis keluarga ini dari tangan Dexter.

Levan tahu dirinya belum cukup kuat, jadi setiap kali bertemu Dexter, dia selalu menunduk dan memanggilnya "Kakak".

Dia duduk di sebelah Gaby, lengannya melingkari sandaran kursi gadis itu. Dia mulai memamerkan proyeknya dengan penuh kebanggaan. "Keuntungannya besar sekali, masa depan proyek ini cerah banget."

Yulia tersenyum puas. "Anakku memang hebat. Belum lulus kuliah saja sudah dapat untung besar!"

Caitlyn menahan tawa sinis. Hebat? Itu hebat? Dia dan Levan sebaya. Dia sudah lulus magister dan bekerja.

Levan bahkan belum tamat kuliah. Adapun proyek yang dibanggakannya itu, semua dibiayai oleh Keluarga Mahadira. Siapa pun bisa untung kalau begitu.

Kalau bicara soal keuntungan, Dexter-lah yang pantas disebut luar biasa. Caitlyn mendongak dan pandangannya bertemu dengan mata hitam pekat Dexter.

Makan malam ini memang disiapkan untuk membicarakan pertunangan Levan dan Gaby. Andhika baru saja hendak menyarankan agar dua keluarga segera bertemu secara resmi, tetapi tiba-tiba terdengar suara tajam. Dexter meletakkan peralatan makannya.

Wajahnya setenang air, tetapi matanya seperti langit yang dipenuhi awan gelap. Badai besar seolah-olah akan datang.

Cinta pertamanya akan bertunangan dengan adiknya. Wajar saja kalau malam ini Dexter akhirnya tidak bisa menahan diri lagi.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Hellia Hellia
seru perselisahan Krn harta memang. menyebalkan
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 460

    Jangankan makan, sedikit saja ada aroma yang tidak biasa, perutnya langsung bereaksi.Sore harinya, Caitlyn kembali ke Universitas Hardison, lalu menerima telepon dari Dexter lagi.Dexter bertanya, "Akhir pekan nanti ada waktu? Kita ajak anak jalan-jalan."Sudah beberapa hari Caitlyn tidak bertemu Rezi, dia sangat merindukannya. Hanya saja, mengingat Dexter sedang membangun kedekatan dengan anak itu, dia terpaksa menahan rasa rindunya."Sabtu aku ada waktu," sahutnya. "Bisa?""Bisa. Kita ajak dia ke Sea World saja. Dia suka lumba-lumba."Caitlyn mengiakan.Malam harinya, saat sudah di rumah, dia tidak perlu menunggui Yasmin lagi, juga tidak ada anak di sisinya. Untuk sesaat, dia malah merasa tidak terbiasa.Caitlyn melihat ponselnya. Sejak terakhir kali Lusia meneleponnya, setelah itu mereka tidak pernah berhubungan lagi.Padahal waktu itu Lusia tampak sangat membutuhkan uang. Anehnya, setelah itu dia sama sekali tidak menghubunginya lagi. Entah masalahnya sudah selesai atau belum.Cai

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 459

    Maksud dokter jelas, janin itu belum tentu bisa dipertahankan.Di hati Irvin, Yasmin selalu berada di urutan pertama. Hal yang paling membuatnya bahagia bukanlah karena Yasmin mengandung anaknya, melainkan karena Yasmin bersedia melahirkan anak untuknya.Saat kembali berdiri di depan pintu kamar rawat Yasmin, yang tersisa di hatinya hanyalah rasa sakit dan iba.Yasmin adalah perempuan yang selalu menjaga penampilan dan sangat rapi. Sekarang karena hamil, dia muntah sampai keadaannya menjadi sangat berantakan.Tak perlu dibayangkan pun sudah tahu betapa menyedihkannya kondisi itu.Caitlyn sedang membuka pintu kamar sambil menggenggam ponselnya. Dexter baru saja menelepon.Saat mengangkat kepala, dia melihat Irvin. Dia berkata ke arah ponsel, "Nanti aku telepon balik."Dia memasukkan ponselnya ke saku, lalu bergeser memberi jalan. "Cepat sekali sampainya. Masuklah."Irvin mengangguk ringan, lalu melangkah masuk dengan kaki jenjangnya. Di saat seperti ini, ucapan terima kasih saja sudah t

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 458

    Hower sempat bertanya di meja perawat, jadi dia sudah tahu bahwa Yasmin sedang hamil. Namun, saking kagetnya, dia sampai lupa menanyakan alasan Yasmin dirawat.Memangnya hamil pun perlu dirawat di rumah sakit? Atau memang Yasmin saja yang terlalu manja?Caitlyn berkata, "Dia nggak bisa makan apa pun dan muntahnya parah sekali. Kalau nggak dirawat dan diberi infus, dia bisa kolaps."Hower belum pernah berurusan dengan perempuan hamil selain Caitlyn. Seingatnya, waktu Caitlyn hamil dulu, dia sama sekali tidak mengalami reaksi seperti ini.Barulah Hower menyadari kalau Yasmin memang terlihat lebih kurus. Tadi dia memang tidak terlalu memperhatikan penampilan Yasmin, apalagi Yasmin sedang berbaring di ranjang rumah sakit.Pipi Yasmin memang sejak dulu sudah tirus, tetapi sekarang kesannya tampak lebih kurus dan rapuh. Aura seorang wanita karier yang biasanya dia pancarkan pun jadi lebih redup."Memang lebih kurus," kata Hower. "Kenapa melahirkan anak bisa serepot ini?"Dia menoleh ke Caitl

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 457

    Sebenarnya Caitlyn ingin memberi tahu Irvin. Hanya saja, dia tidak punya posisi untuk melakukan itu.Dia adalah sahabat terbaik Yasmin. Sebelumnya saat Yasmin hamil, Caitlyn sudah pernah menghubungi Irvin sekali. Kalau kali ini dia ikut campur lagi, bagaimanapun rasanya kurang pantas.Sekarang Hower sudah tahu, justru lebih baik. Namun, dia juga tidak bisa menunjukkan kalau dirinya senang, jadi hanya berkata, "Sepertinya memang cuma bisa begitu."Yasmin membuka mata, meliriknya, lalu memberinya tatapan yang seolah menyuruhnya memahami sendiri maksudnya.Caitlyn buru-buru menahan senyum yang hampir muncul di sudut bibirnya.Hower berkata, "Kalau begitu, aku keluar sebentar."Setelah keluar dari kamar rawat, dia langsung menelepon Irvin lagi.Irvin tidak menyangka Hower akan menelepon balik. "Hari ini kamu nggak ada kerjaan ya?""Pulanglah," kata Hower. "Ada urusan pertunangan, akta nikah, sampai pesta pernikahan yang harus kamu urus.""Maksudmu apa? Kamu mau menikah?" Irvin sangat terke

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 456

    Yasmin berkata, "Kami sudah putus. Memangnya masih ada gunanya bahas ini?"Hower berkata, "Kalau begitu, aku akan tanya Irvin. Kalau dia mengakui kalian memang sudah putus, aku nggak akan beri tahu dia."Yasmin berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Oke, telepon dia sekarang. Nyalakan pengeras suaranya."Bagaimanapun, dia dan Irvin sudah membicarakan soal putusnya hubungan mereka. Irvin juga sudah menyetujuinya.Hower langsung menelepon.Di luar negeri saat ini masih pagi. Irvin sedang joging. Suara Irvin terdengar sedikit terengah-engah. "Ada apa?"Mulut Hower memang tidak pernah bersekolah. Dia berkata, "Jangan-jangan kamu lagi asyik di kasur sama cewek ya? Kalau begitu, aku nggak akan mengganggu."Irvin sampai ingin memakinya. "Aku lagi joging, ngomong apa sih!"Hower sudah menyalakan pengeras suara, jadi dia tidak lagi bercanda. Dia langsung bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Yasmin?"Hower langsung ke intinya.Irvin merasa heran. "Sudah selama ini baru kepikiran p

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 455

    Caitlyn baru saja turun ke lantai satu untuk membayar biaya obat yang memang harus dibayar secara terpisah. Dia sama sekali tidak tahu kalau ada seseorang yang mengikutinya.Toh rumah sakit penuh dengan orang. Dia tidak sempat memperhatikan satu per satu.Setelah kembali ke kamar rawat, dia mengobrol sebentar lagi dengan Yasmin, lalu menerima telepon dari Hower.Dia merasa heran, kenapa Hower menelepon lagi. Dia pun mengangkat telepon dan menyapa.Hower langsung bertanya, "Kamu di mana?""Aku sama Yasmin," jawab Caitlyn. "Malam ini nginap di rumahnya.""Oh." Hower tertawa pelan. "Sejak kapan rumah Yasmin pindah ke bangsal kebidanan dan kandungan?"Jantung Caitlyn berdegup kencang. Dia refleks menoleh ke arah Yasmin.Yasmin mengerjapkan mata, sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi.Caitlyn menyalakan pengeras suara, lalu bertanya, "Maksudmu apa?""Maksudku, aku sudah lihat kamu di rumah sakit," kata Hower. "Sekarang aku ada di depan kamar rawat kalian."Yasmin langsung tak bisa

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 8

    "Jangan banyak tanya." Dexter mulai terdengar tidak sabar. "Sudahlah, bukan urusan besar. Aku masih ada rapat sebentar lagi."Mason tertawa. "Jangan begitu dong, jarang-jarang kamu ngomong kayak begini. Menghibur orang juga ada caranya. Setidaknya kasih tahu dulu, kamu mau hibur siapa? Caitlyn? Ngga

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 7

    Caitlyn menegakkan punggungnya, hanya ujung jarinya yang sedikit bergetar. Lehernya jenjang. Saat berdiri seperti ini, dia tampak seperti seekor angsa putih yang anggun dan penuh kebanggaan.Dia menatap Dexter yang berjalan mendekat. Tatapannya dingin dan keras kepala. Tak ada sepatah kata pun yang

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 6

    Aneh juga. Begitu dia berbicara, anjing itu langsung menyalak karena melihat Caitlyn. Gaby buru-buru menggendongnya, lalu menunduk sambil berkata, "Aku bawa Coco keluar dulu."Tak lama kemudian, Gaby menaruh Coco di luar pintu, lalu kembali masuk.Caitlyn sudah duduk. Andhika berusaha mencairkan sua

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 5

    Caitlyn melambaikan tangan padanya. "Cepat sini!"Bianca berlari sambil tersenyum, menyerahkan segelas susu kedelai di tangannya. "Cepat minum, masih hangat."Bianca juga bekerja di institut penelitian, tetapi dia tidak terlibat dalam proyek-proyek inti."Aku sudah sarapan." Caitlyn menariknya agar

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status