Share

Bab 7

Penulis: Renee
Caitlyn menegakkan punggungnya, hanya ujung jarinya yang sedikit bergetar. Lehernya jenjang. Saat berdiri seperti ini, dia tampak seperti seekor angsa putih yang anggun dan penuh kebanggaan.

Dia menatap Dexter yang berjalan mendekat. Tatapannya dingin dan keras kepala. Tak ada sepatah kata pun yang terucap darinya.

Gaby terisak-isak sambil berkata, "Ini salahku. Maaf, Kak Dexter. Jangan marah pada Kak Caitlyn."

Caitlyn menunduk, memandang Gaby yang menangis. "Geser sedikit, kamu menghalangi jalan."

Kedua sosok itu menutupi seluruh ruang.

Tangisan Gaby semakin keras. Caitlyn memiringkan tubuh, hendak berjalan masuk, tetapi Dexter langsung menangkap pergelangan tangannya.

Caitlyn menatap lurus padanya. Pandangannya dingin, keras kepala, tanpa rasa takut sedikit pun. Hanya saja, di sana sudah tak tersisa sedikit pun kasih sayang.

Dexter merasakan tatapannya berbeda. Kali ini ada sedikit ketidaksabaran yang belum pernah dia lihat sebelumnya. "Caitlyn, kamu itu kakak ipar, seharusnya bisa mengalah pada adik ipar."

Bagian hati Caitlyn yang sudah lama retak kini seakan-akan hancur menjadi serpihan. Segala rasa cinta dan kasih yang pernah ada pun ikut hancur, mengalir bersama darahnya ke seluruh tubuh. Sakitnya seperti ditusuk jarum.

Caitlyn menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali. Dia akan bercerai, akan meninggalkan rumah ini. Sekarang bukan waktunya memperpanjang masalah. Kalau Dexter benar-benar marah, siapa tahu dia akan mempersulitnya.

Caitlyn menatap Gaby, lalu berkata, "Aku sudah menyinggung anjingmu. Menyingkirlah."

Matanya bening, seolah-olah ada air mata. Namun, jika diperhatikan baik-baik, itu bukan air mata. Itu adalah sesuatu yang dingin, tenang, dan penuh keteguhan.

Dexter tertegun. Ada sesuatu yang keras di dalam hatinya bergetar pelan. Sebelum dia sempat memahami perasaan itu, Caitlyn sudah berjalan melewatinya. Aroma lembut dari tubuhnya masih tercium samar di hidung Dexter.

Caitlyn naik ke lantai atas. Saat sampai di tikungan, Gaby kembali berbicara. Suaranya masih bergetar karena tangisannya. "Kak Caitlyn, ini semua salahku. Aku akan menegur Coco. Kalau kamu ada masalah, marah saja padaku, jangan pada Coco ya?"

Caitlyn terkekeh-kekeh, tak menoleh sedikit pun.

Andhika cepat-cepat berkata, "Ah, cuma hal sepele. Gaby, jangan nangis lagi. Caitlyn juga nggak mempermasalahkan itu."

Yulia menukas, "Kenapa nggak? Lihat saja wajahnya itu, kayak semua orang punya utang padanya!"

Dexter tampak dingin dan berwibawa. Wajahnya suram saat dia langsung naik ke lantai atas. Ketika dia masuk kamar, Caitlyn sedang memegang pakaian dan bersiap mandi.

"Caitlyn, kita bicara." Dexter membuka suara lebih dulu. Nadanya rendah dan berat.

"Bicara apa lagi?" Caitlyn menatapnya. "Bukannya semua salahku?"

"Kamu bisa bersikap sedikit lebih baik padaku nggak?" Dexter bertanya dengan dingin, "Kamu di luar juga bersikap seperti ini pada orang lain? Sesinis ini?"

Dexter melanjutkan, "Aku cuma mengingatkan. Kalau kamu nggak bisa menjaga diri dan sering pulang larut malam, sebaiknya berhenti bekerja saja. Caitlyn, kamu harus sadar akan statusmu."

Emosi yang sudah lama tertahan akhirnya meledak. Caitlyn menyahut, "Dexter, sekarang kamu benar-benar membuatku ... muak."

Dexter merasa telinganya berdengung keras. Kata "muak" itu seolah-olah menggema di telinganya hingga terasa menyakitkan. "Apa yang kamu bilang?"

Caitlyn tak mau mengulanginya. Dia tidak ingin terus melukai dirinya sendiri. Namun, kata itu sudah keluar. Dalam hatinya, dia tahu maknanya telah menyatu dengan rasa perih yang dalam. Pria yang dulu begitu dia cintai kini sudah tak sama lagi.

"Caitlyn, beraninya kamu ...." Dengan mata memerah, Dexter menariknya ke dalam pelukan. Tubuh pria itu menekan tubuh Caitlyn ke pintu kamar mandi.

Caitlyn sama sekali tak ingin disentuh. Dari tatapan Dexter, dia sudah tahu apa yang pria itu inginkan. Namun, sekarang dia tidak akan menuruti keinginannya.

"Jangan sentuh aku." Mata Caitlyn yang jernih itu menatapnya dengan dingin. Baik tatapan maupun tubuhnya, keduanya menolak Dexter sepenuhnya. Namun, Dexter tetap menekannya tanpa belas kasihan.

"Aku bilang, jangan sentuh aku." Caitlyn menahan suaranya, nada marahnya sangat jelas. "Dexter, apa kamu tahu arti kata hormat?"

"Nggak tahu. Tolong ajari aku, Nyonya Mahadira," jawab Dexter dengan nada datar seperti biasa. "Bukankah kamu yang dulu memeluk pinggangku dan enggan melepaskan? Siapa yang bersikap cabul selama ini, Nyonya Mahadira?"

"Kita cerai saja." Suara Caitlyn getir, dipaksa keluar dari tenggorokannya. Tatapannya tertuju pada Dexter.

"Dexter ...." Suaranya dalam, serak, tetapi penuh ketenangan.

Dexter berdiri, membalikkan badan. Caitlyn memejamkan matanya. Dua baris air mata mengalir perlahan dari sudut mata.

"Kita ... cerai saja," ucap Caitlyn lagi.

Udara di kamar itu seakan-akan mendadak menipis dan penuh tekanan, bahkan untuk bernapas pun terasa sulit.

"Cerai?" Dexter masih membelakanginya. Suaranya serak dan dingin. "Kamu bilang mau cerai?"

Caitlyn duduk dengan susah payah. "Dexter, memangnya pernikahan kita ini masih ada artinya? Kakek sudah tiada. Kamu nggak perlu lagi berpura-pura di depan siapa pun."

Dexter berbalik, menatapnya dengan tidak percaya. "Kamu ingin cerai? Aku nggak setuju. Caitlyn, jangan bertindak sesuka hati."

Setelah berkata begitu, dia masuk ke kamar mandi dan membanting pintu keras-keras. Saat dia keluar, kamar pun sudah kosong. Caitlyn tidak ada di sana.

Dexter turun, mendapati Yulia yang masih menonton TV.

"Kamu dan Caitlyn kenapa? Dia pergi tanpa pamit," kata Yulia dengan nada tak senang. Kemudian, dia bergumam pelan, "Benar-benar kurang ajar."

Wajah Dexter semakin kelam. Dia tak berkata apa pun dan naik lagi.

Melihat itu, Yulia bergumam sendiri, "Jangan sampai bertengkar ya. Jangan sampai cerai juga. Biarlah hubungan kalian begini saja."

Dengan status Dexter, kalau sampai mendapat istri baru yang punya latar belakang kuat, anak laki-lakinya benar-benar tidak akan punya peluang lagi.

Caitlyn keluar malam itu. Dia tidak ingin kembali ke Green Residence. Itu adalah rumah Dexter. Dia juga tidak ingin kembali ke rumah orang tuanya, takut mereka khawatir.

Akhirnya, dia pergi ke institut penelitian. Di kantornya ada ruang istirahat kecil dengan sebuah ranjang. Dia berbaring di sana lama sekali, masih belum bisa menenangkan diri. Tubuhnya gemetar, hatinya terasa sangat sakit.

Belakangan ini, pikiran untuk bercerai memang sudah sering muncul di kepalanya. Dia berencana mencari waktu yang tepat untuk bicara baik-baik dengan Dexter. Namun, dia tak menyangka dalam pertengkaran seburuk tadi, kata "cerai" justru keluar begitu saja.

Dulu, Caitlyn pernah berpikir bisa hidup bersama Dexter seumur hidup, meskipun itu hanya dengan hubungan sopan dan hambar. Namun sekarang, dia tahu dirinya sudah tak sanggup lagi.

Dexter tak menghormatinya, tak peduli perasaannya, dan tak memperlakukannya seperti manusia. Pernikahan seperti ini sudah tidak ada lagi artinya untuk dipertahankan.

Namun, Dexter tidak setuju. Atas dasar apa?

Caitlyn terjebak dalam rasa sakit dan kebingungan. Malam sudah sangat larut saat dia akhirnya tertidur.

Keesokan paginya, Dexter berangkat ke kantor. Masih ada rapat, tetapi belum waktunya. Dia pun mengeluarkan ponsel, lalu menekan sebuah nomor.

Panggilan berdering lama sebelum diangkat. Suara di seberang terdengar kesal. "Awas saja kalau kamu telepon bukan karena urusan super penting! Ganggu orang tidur pagi-pagi begini, Dexter, kamu ini kurang ajar banget!"

Dexter mengerutkan kening. "Kamu belum bangun?"

"Coba lihat jam berapa sekarang!" Mason menggerutu, "Kamu nggak punya kehidupan malam, bukan berarti orang lain juga suci tanpa hasrat! Semalam aku baru saja perang 300 ronde sama pacarku ...."

Tak tertarik dengan urusan cabul sahabatnya itu, Dexter memotong, "Gimana cara membujuk perempuan?"

Mason seperti baru menemukan dunia baru. Dia bersandar di kepala ranjang, menyalakan rokok, dan bertanya, "Membujuk perempuan? Siapa? Kamu? Siapa yang kamu mau bujuk, hah?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 460

    Jangankan makan, sedikit saja ada aroma yang tidak biasa, perutnya langsung bereaksi.Sore harinya, Caitlyn kembali ke Universitas Hardison, lalu menerima telepon dari Dexter lagi.Dexter bertanya, "Akhir pekan nanti ada waktu? Kita ajak anak jalan-jalan."Sudah beberapa hari Caitlyn tidak bertemu Rezi, dia sangat merindukannya. Hanya saja, mengingat Dexter sedang membangun kedekatan dengan anak itu, dia terpaksa menahan rasa rindunya."Sabtu aku ada waktu," sahutnya. "Bisa?""Bisa. Kita ajak dia ke Sea World saja. Dia suka lumba-lumba."Caitlyn mengiakan.Malam harinya, saat sudah di rumah, dia tidak perlu menunggui Yasmin lagi, juga tidak ada anak di sisinya. Untuk sesaat, dia malah merasa tidak terbiasa.Caitlyn melihat ponselnya. Sejak terakhir kali Lusia meneleponnya, setelah itu mereka tidak pernah berhubungan lagi.Padahal waktu itu Lusia tampak sangat membutuhkan uang. Anehnya, setelah itu dia sama sekali tidak menghubunginya lagi. Entah masalahnya sudah selesai atau belum.Cai

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 459

    Maksud dokter jelas, janin itu belum tentu bisa dipertahankan.Di hati Irvin, Yasmin selalu berada di urutan pertama. Hal yang paling membuatnya bahagia bukanlah karena Yasmin mengandung anaknya, melainkan karena Yasmin bersedia melahirkan anak untuknya.Saat kembali berdiri di depan pintu kamar rawat Yasmin, yang tersisa di hatinya hanyalah rasa sakit dan iba.Yasmin adalah perempuan yang selalu menjaga penampilan dan sangat rapi. Sekarang karena hamil, dia muntah sampai keadaannya menjadi sangat berantakan.Tak perlu dibayangkan pun sudah tahu betapa menyedihkannya kondisi itu.Caitlyn sedang membuka pintu kamar sambil menggenggam ponselnya. Dexter baru saja menelepon.Saat mengangkat kepala, dia melihat Irvin. Dia berkata ke arah ponsel, "Nanti aku telepon balik."Dia memasukkan ponselnya ke saku, lalu bergeser memberi jalan. "Cepat sekali sampainya. Masuklah."Irvin mengangguk ringan, lalu melangkah masuk dengan kaki jenjangnya. Di saat seperti ini, ucapan terima kasih saja sudah t

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 458

    Hower sempat bertanya di meja perawat, jadi dia sudah tahu bahwa Yasmin sedang hamil. Namun, saking kagetnya, dia sampai lupa menanyakan alasan Yasmin dirawat.Memangnya hamil pun perlu dirawat di rumah sakit? Atau memang Yasmin saja yang terlalu manja?Caitlyn berkata, "Dia nggak bisa makan apa pun dan muntahnya parah sekali. Kalau nggak dirawat dan diberi infus, dia bisa kolaps."Hower belum pernah berurusan dengan perempuan hamil selain Caitlyn. Seingatnya, waktu Caitlyn hamil dulu, dia sama sekali tidak mengalami reaksi seperti ini.Barulah Hower menyadari kalau Yasmin memang terlihat lebih kurus. Tadi dia memang tidak terlalu memperhatikan penampilan Yasmin, apalagi Yasmin sedang berbaring di ranjang rumah sakit.Pipi Yasmin memang sejak dulu sudah tirus, tetapi sekarang kesannya tampak lebih kurus dan rapuh. Aura seorang wanita karier yang biasanya dia pancarkan pun jadi lebih redup."Memang lebih kurus," kata Hower. "Kenapa melahirkan anak bisa serepot ini?"Dia menoleh ke Caitl

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 457

    Sebenarnya Caitlyn ingin memberi tahu Irvin. Hanya saja, dia tidak punya posisi untuk melakukan itu.Dia adalah sahabat terbaik Yasmin. Sebelumnya saat Yasmin hamil, Caitlyn sudah pernah menghubungi Irvin sekali. Kalau kali ini dia ikut campur lagi, bagaimanapun rasanya kurang pantas.Sekarang Hower sudah tahu, justru lebih baik. Namun, dia juga tidak bisa menunjukkan kalau dirinya senang, jadi hanya berkata, "Sepertinya memang cuma bisa begitu."Yasmin membuka mata, meliriknya, lalu memberinya tatapan yang seolah menyuruhnya memahami sendiri maksudnya.Caitlyn buru-buru menahan senyum yang hampir muncul di sudut bibirnya.Hower berkata, "Kalau begitu, aku keluar sebentar."Setelah keluar dari kamar rawat, dia langsung menelepon Irvin lagi.Irvin tidak menyangka Hower akan menelepon balik. "Hari ini kamu nggak ada kerjaan ya?""Pulanglah," kata Hower. "Ada urusan pertunangan, akta nikah, sampai pesta pernikahan yang harus kamu urus.""Maksudmu apa? Kamu mau menikah?" Irvin sangat terke

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 456

    Yasmin berkata, "Kami sudah putus. Memangnya masih ada gunanya bahas ini?"Hower berkata, "Kalau begitu, aku akan tanya Irvin. Kalau dia mengakui kalian memang sudah putus, aku nggak akan beri tahu dia."Yasmin berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Oke, telepon dia sekarang. Nyalakan pengeras suaranya."Bagaimanapun, dia dan Irvin sudah membicarakan soal putusnya hubungan mereka. Irvin juga sudah menyetujuinya.Hower langsung menelepon.Di luar negeri saat ini masih pagi. Irvin sedang joging. Suara Irvin terdengar sedikit terengah-engah. "Ada apa?"Mulut Hower memang tidak pernah bersekolah. Dia berkata, "Jangan-jangan kamu lagi asyik di kasur sama cewek ya? Kalau begitu, aku nggak akan mengganggu."Irvin sampai ingin memakinya. "Aku lagi joging, ngomong apa sih!"Hower sudah menyalakan pengeras suara, jadi dia tidak lagi bercanda. Dia langsung bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Yasmin?"Hower langsung ke intinya.Irvin merasa heran. "Sudah selama ini baru kepikiran p

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 455

    Caitlyn baru saja turun ke lantai satu untuk membayar biaya obat yang memang harus dibayar secara terpisah. Dia sama sekali tidak tahu kalau ada seseorang yang mengikutinya.Toh rumah sakit penuh dengan orang. Dia tidak sempat memperhatikan satu per satu.Setelah kembali ke kamar rawat, dia mengobrol sebentar lagi dengan Yasmin, lalu menerima telepon dari Hower.Dia merasa heran, kenapa Hower menelepon lagi. Dia pun mengangkat telepon dan menyapa.Hower langsung bertanya, "Kamu di mana?""Aku sama Yasmin," jawab Caitlyn. "Malam ini nginap di rumahnya.""Oh." Hower tertawa pelan. "Sejak kapan rumah Yasmin pindah ke bangsal kebidanan dan kandungan?"Jantung Caitlyn berdegup kencang. Dia refleks menoleh ke arah Yasmin.Yasmin mengerjapkan mata, sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi.Caitlyn menyalakan pengeras suara, lalu bertanya, "Maksudmu apa?""Maksudku, aku sudah lihat kamu di rumah sakit," kata Hower. "Sekarang aku ada di depan kamar rawat kalian."Yasmin langsung tak bisa

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 10

    Caitlyn menurunkan pandangan, menyembunyikan seluruh emosi yang bergolak di matanya.Dexter menggenggam tangannya. "Katakan padaku."Hidung Caitlyn terasa sesak, matanya panas. Ternyata Dexter juga punya sisi yang lembut seperti ini. Ironisnya, dulu dia hanya pernah melihat sisi itu saat Dexter bera

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 9

    "Kamu suka?" tanya Dexter sambil memegang setir dengan satu tangan, tanpa menoleh padanya. Dalam nada suaranya terselip keangkuhan dan sedikit godaan, seolah-olah yakin akan mendapatkan jawaban yang diinginkan.Caitlyn terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menyahut, "Cantik." Dia tidak menjawab ap

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 8

    "Jangan banyak tanya." Dexter mulai terdengar tidak sabar. "Sudahlah, bukan urusan besar. Aku masih ada rapat sebentar lagi."Mason tertawa. "Jangan begitu dong, jarang-jarang kamu ngomong kayak begini. Menghibur orang juga ada caranya. Setidaknya kasih tahu dulu, kamu mau hibur siapa? Caitlyn? Ngga

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 6

    Aneh juga. Begitu dia berbicara, anjing itu langsung menyalak karena melihat Caitlyn. Gaby buru-buru menggendongnya, lalu menunduk sambil berkata, "Aku bawa Coco keluar dulu."Tak lama kemudian, Gaby menaruh Coco di luar pintu, lalu kembali masuk.Caitlyn sudah duduk. Andhika berusaha mencairkan sua

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status