登入[ Yasmin: Kalau soal beginian, lebih baik percaya daripada lengah. Jangan sampai tertipu. ]Caitlyn tersenyum lalu membalas pesan itu.[ Aku nggak akan tertipu. Tenang saja, kalian berdua. ][ Yasmin: Jadi, apa rencanamu nanti? ][ Anastasia: Kak Caitlyn, apa Kakak benar-benar mau kasih dia kesempatan? Menurutku, sebenarnya Dexter cukup baik juga. ]Jari Caitlyn yang sedang mengetik tiba-tiba berhenti. Sekarang, yang paling membuatnya bimbang adalah masalah anak. Dia juga tahu, begitu Dexter mengetahui bahwa anak itu adalah darah dagingnya sendiri, Dexter pasti akan semakin ingin rujuk dengannya.Sedangkan Caitlyn tidak ingin hubungan mereka berubah hanya karena anak itu.[ Caitlyn: Yang sedang membuatku bingung sekarang adalah ... apa aku harus kasih tahu dia tentang anak itu atau nggak. ][ Yasmin: Cepat atau lambat, dia pasti akan tahu juga. ][ Anastasia: Iya, bilang saja. ][ Caitlyn: Jadi kalian berdua mendukungku? ]Keduanya membalas hampir bersamaan.[ Tentu! ][ Anastasia: Kal
Dexter menunduk menatap Caitlyn."Kalau begitu, aku nggak akan kasih."Dulu Caitlyn selalu mengatakan bahwa Dexter tidak pernah menghormati perasaannya. Kali ini, dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Namun, kalau Caitlyn tidak menginginkan apa pun darinya, dia benar-benar merasa frustrasi. Dia bahkan tidak tahu harus melakukan apa lagi agar bisa lebih dekat dengan Caitlyn.Ternyata ... mendekati seseorang memang sesulit ini.Saat mendengar Dexter berkata tidak akan mengirim bunga, hati Caitlyn bergetar sesaat.Dulu, selain mengira hati Dexter mencintai wanita lain, hal yang paling membuatnya terluka adalah Dexter tidak pernah peduli pada perasaannya.Sekarang, Dexter memilih bertanya secara langsung. Karena dia memang tidak pandai menebak isi hati orang. Jadi, dia akan bertanya terus terang apakah Caitlyn menginginkannya atau tidak.Memang terasa kurang romantis. Namun, dia benar-benar tidak punya cara lain."Aku belum pernah pacaran." Nada bicara Dexter dipenuhi rasa frustr
Ini adalah pertama kalinya Dexter secara sukarela menyinggung soal anak. Bukan karena dia tidak ingin membahasnya, tetapi karena dia khawatir Caitlyn akan merasa tidak nyaman.Mendengar Dexter menyebut anak itu, Caitlyn juga sedikit terkejut.Bagaimanapun juga, Dexter tidak tahu siapa ayah anak itu. Secara logis, seharusnya dia merasa keberatan.Setelah berpikir sejenak, Caitlyn bertanya, "Menurutmu, anak itu gimana?""Dia itu anakmu." Dexter berpikir sejenak sebelum menjawab, "Aku akan memperlakukannya seperti anakku sendiri."Meskipun itu tidak mudah, dia akan berusaha. Lagi pula, dia sudah memikirkannya.Karena anak itu adalah anak Caitlyn. Hanya dengan alasan itu saja ... karena mencintai seseorang berarti juga mencintai segala yang berkaitan dengannya, Dexter yakin dirinya juga akan menyayangi anak itu."Kamu nggak ingin tahu siapa ayahnya?""Aku memang penasaran, tapi aku nggak ingin tahu." Dexter berkata, "Terus terang saja, aku pasti akan cemburu. Soal anak masih nggak apa-apa
Rekan kerjanya itu terkejut. "Hah?"Rekan kerja yang lain menjelaskan, "Dia investor kampus kita. Orangnya sangat kaya."Rekan kerja itu mengangguk pelan sambil berpikir.Caitlyn berjalan menuju area parkir dan melihat Dexter sedang duduk di dalam mobil itu. Namun, di samping mobil berdiri seorang gadis yang sedang berbicara dengannya melalui jendela sisi pengemudi.Caitlyn tidak menghampiri mereka. Dia melihat gadis itu mengeluarkan ponselnya. Sepertinya dia ingin meminta bertukar nomor kontak.Caitlyn hanya berdiri di sana beberapa saat. Dari sudut tempatnya berdiri, dia tidak bisa melihat bagaimana reaksi Dexter.Gadis itu masih muda dan cantik. Caitlyn mengenalinya. Dialah gadis yang tempo hari memberikan bunga. Belakangan Dexter tidak mau menerimanya dan malah menyuruh gadis itu memberikan bunga tersebut kepada Caitlyn.Beberapa saat kemudian, gadis itu mundur selangkah lalu melambaikan tangan ke arah mobil sebelum pergi. Begitu gadis itu menyingkir, Caitlyn akhirnya bisa melihat
Awalnya tentu saja Caitlyn tidak setuju Dexter mengantar dan menjemputnya. Namun, pria itu selalu punya berbagai alasan untuk ikut menumpang mobilnya. Setelah tiba di bawah apartemennya, Dexter akan membawa mobil itu pergi.Lalu keesokan harinya, dia datang menjemput Caitlyn seolah semuanya memang sudah sewajarnya begitu.Saat Caitlyn ingin menghentikannya, Dexter hanya menatapnya lalu bertanya, "Aku sudah menurut, 'kan? Aku sudah kembali menjalani pola hidup yang normal. Anggap saja ini hadiah untukku, boleh?"Tatapannya saat itu dipenuhi permohonan dan kepolosan yang belum pernah Caitlyn lihat sebelumnya.Belakangan, Caitlyn sendiri merasa dia benar-benar tidak punya pendirian. Setiap kali Dexter menatapnya seperti itu, dia seolah tidak mampu menolak permintaannya.Dia teringat perkataan Hower.Apa dia memang seharusnya memberi Dexter satu kesempatan?Sejujurnya, dia sendiri tidak tahu.Karena sampai sekarang dia masih memikirkan soal anak mereka.Alasan dia akhirnya membiarkan Dexte
Sebenarnya Nala juga tidak ingin menghubungi Yaksa. Namun, setiap pesan yang dia kirim tidak pernah dibalas Dexter. Teleponnya pun tidak pernah diangkat. Dia bahkan mulai curiga jangan-jangan Dexter sudah memblokirnya.Karena itulah, dia menelepon Yaksa. Nala berkata, "Kalau begitu, gimana waktu jam kerja? Besok dia sempat ketemu sama aku nggak?"Yaksa tampak sangat kesulitan menjawab."Begini ... jadwal kerja Pak Dexter sudah penuh. Selama jam kerja Pak Dexter memang nggak punya waktu untuk menerima tamu.""Dia tetap harus makan, 'kan? Biasanya makan siang di mana?"Yaksa menjawab, "Maaf, saya tidak bisa membocorkan kehidupan pribadi Pak Dexter.""Pak Yaksa." Nada bicara Nala menjadi sedikit lebih serius, "Kamu yakin nggak mau kasih tahu aku?"Kalau dulu, Yaksa pasti tidak berani. Selama ini dia selalu mengira wanita yang paling memenuhi hati Dexter adalah Nala. Namun, sekarang dia tahu semua itu hanyalah kesalahpahaman. Lalu apa lagi yang harus dia takutkan?Dia segera berkata, "Gima
Aneh juga. Begitu dia berbicara, anjing itu langsung menyalak karena melihat Caitlyn. Gaby buru-buru menggendongnya, lalu menunduk sambil berkata, "Aku bawa Coco keluar dulu."Tak lama kemudian, Gaby menaruh Coco di luar pintu, lalu kembali masuk.Caitlyn sudah duduk. Andhika berusaha mencairkan sua
Caitlyn melambaikan tangan padanya. "Cepat sini!"Bianca berlari sambil tersenyum, menyerahkan segelas susu kedelai di tangannya. "Cepat minum, masih hangat."Bianca juga bekerja di institut penelitian, tetapi dia tidak terlibat dalam proyek-proyek inti."Aku sudah sarapan." Caitlyn menariknya agar
Caitlyn tahu dari mana suasana murung itu berasal. Besar kemungkinan karena pertunangan antara Levan dan Gaby. Hatinya terasa semakin perih. Dia menepis tangan Dexter, lalu turun dari tempat tidur. "Aku malam ini tidur di kamar tamu saja."Dexter tidak berbicara, hanya meraih pergelangan tangannya d
Yulia merasakan hatinya mencelos. Dia sangat puas dengan pernikahan ini, jadi tentu saja tidak ingin Dexter merusaknya. Namun, dia juga tidak berani berhadapan langsung dengan Dexter, jadi berpura-pura tidak melihat ekspresi dinginnya.Sambil tetap tersenyum, Yulia bertanya kepada Levan, "Gimana kal







