Share

Bab 3

Penulis: Renee
Yulia merasakan hatinya mencelos. Dia sangat puas dengan pernikahan ini, jadi tentu saja tidak ingin Dexter merusaknya. Namun, dia juga tidak berani berhadapan langsung dengan Dexter, jadi berpura-pura tidak melihat ekspresi dinginnya.

Sambil tetap tersenyum, Yulia bertanya kepada Levan, "Gimana kalau akhir pekan ini saja? Biar Levan bawa hadiah dulu ke rumah Gaby, lalu nanti dua keluarga makan bersama."

Levan baru saja mengangguk ketika ponsel Caitlyn berdering. Dia segera menjawab panggilan itu, lalu berdiri, menoleh pada semua orang di meja makan sambil memberi isyarat permisi.

"Affan, ada apa?" Nada suaranya lembut, wajahnya tampak anggun. Sambil menjawab telepon, dia berjalan menjauh.

Mendengar itu, Dexter menoleh ke arah Caitlyn dengan tatapan sedikit bingung.

Yulia bergumam pelan, "Pasti urusan kerja."

Gaby berkata, "Nanti waktu makan bersama, Kak Dexter juga ikut ya?"

Dexter mengangguk ringan, mengambil serbet untuk mengelap tangan, lalu berdiri tanpa sepatah kata pun dan melangkah keluar.

Andhika memanggilnya, "Kamu mau ke mana? Makan saja belum selesai!"

Gaby juga berseru lembut, "Kak Dexter!"

Dexter akhirnya menoleh. "Nggak apa-apa, kalian makan saja."

Ketika Caitlyn selesai menutup telepon dan kembali ke meja, dia mendapati Dexter sudah tidak ada.

Gaby bertanya dengan mata memerah, "Kak Dexter marah dan pergi karena nggak setuju sama pernikahan ini ya?"

Wajar saja, cinta pertamanya akan menikah dengan adiknya sendiri. Mana mungkin Dexter bisa tetap tenang?

Dada Caitlyn terasa semakin nyeri. Dia menatap hidangan di meja dengan pandangan yang mulai kabur.

Levan menyahut, "Mana mungkin. Lagi pula, urusan pernikahanku bukan ditentukan oleh dia."

Semua orang di meja makan ikut menenangkan Gaby dengan kata-kata manis. Caitlyn menunggu sampai mereka semua selesai, baru berkata, "Kalian lanjutkan saja, aku pulang dulu. Kalau hari pertunangan sudah ditentukan, kabari aku, biar aku siapkan hadiah."

Gaby menatapnya dengan lembut, tetapi di mata itu jelas-jelas ada senyuman penuh kemenangan. "Terima kasih, Kak Caitlyn."

Caitlyn menatapnya beberapa detik, lalu berbalik dan pergi. Baru saja salah satu data di proyeknya bermasalah. Pikirannya sudah kusut sejak tadi, jadi dia langsung menuju institut penelitian.

Ada sesuatu yang aneh dalam data itu. Dia refleks ingin bertanya kepada Affan, tetapi baru sadar bahwa pria itu sudah dipindahkan kemarin.

Begitu semua pekerjaan selesai, waktu hampir menunjukkan pukul 11 malam. Kepalanya masih dipenuhi rumus-rumus yang rumit. Saat menuruni tangga, kakinya terkilir karena tidak hati-hati.

Caitlyn terpincang-pincang. Setiap kali menapak, kakinya terasa sakit. Dia akhirnya memesan taksi untuk pulang.

Setelah menikah, Caitlyn dan Dexter tinggal di Green Residence, hanya akhir pekan saja mereka pulang ke rumah lama Keluarga Mahadira. Itu salah satu kawasan paling mahal di Kota Hardison, setiap meter tanahnya bernilai tinggi.

Mereka tinggal di area vila yang tenang dengan pemandangan luas. Karena itulah, Dexter yang sedang berdiri di depan jendela besar sambil minum, bisa langsung melihat Caitlyn begitu mobilnya tiba di gerbang. Saat ini sudah hampir tengah malam.

Setelah perjalanan panjang, rasa sakit di pergelangan kaki Caitlyn sudah agak berkurang. Dia perlahan menapak, mencoba berjalan, dan berhasil. Langkahnya pelan, hampir tak terlihat kalau kakinya terkilir, saat masuk ke halaman dan membuka pintu rumah.

Begitu masuk, pergelangan tangannya langsung ditarik seseorang dan tubuhnya ditekan ke dinding dekat pintu masuk.

Bau alkohol kuat menyelimuti Dexter. Dia tidak berbicara sepatah kata pun, hanya menunduk dan langsung mencium Caitlyn.

Caitlyn berusaha mendorongnya, tetapi kedua tangannya sontak ditahan di atas kepala. Tenaga di antara pria dan wanita jelas tak seimbang. Akhirnya, Caitlyn kalah sepenuhnya.

Entah berapa lama, barulah pria itu berhenti mencium. Dexter menegakkan tubuh, menatap Caitlyn dari atas.

Ciuman barusan membuat rambut Caitlyn berantakan. Matanya basah, tetapi sorotnya tetap dingin.

Dexter berbicara pelan. Suaranya rendah dan dalam, tanpa kehangatan sedikit pun. "Kenapa pulang selarut ini?"

Tatapan dinginnya membuat bibir Caitlyn seperti baru menelan cairan pahit seperti jamu. Dia tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

Ya, Dexter pasti sedang marah karena Gaby akan bertunangan. Namun, kenapa harus dilampiaskan kepada dirinya?

Caitlyn mendorong pria itu, hendak pergi. Begitu melangkah, rasa sakit di pergelangan kakinya membuatnya tersentak. Tubuhnya hampir jatuh, tetapi Dexter segera menahan pinggangnya.

Suaranya terdengar sedikit khawatir. "Kakimu kenapa?"

Tubuh Caitlyn tiba-tiba terasa ringan. Dia terkejut saat menyadari Dexter sudah mengangkatnya dalam gendongan.

"Kalau sudah cedera, jangan memaksakan diri!" Wajah Dexter suram. Dia menggendong Caitlyn ke kamar tidur, menidurkannya di atas ranjang, lalu berbalik keluar untuk menelepon seseorang.

Caitlyn menarik napas panjang, tersenyum pahit. Dia turun perlahan dari ranjang, berjalan tertatih-tatih ke dapur untuk mengambil es batu, lalu ke kamar mandi untuk mencari handuk.

Seharusnya ada handuk baru di lemari, tetapi setelah dibuka, tidak ada apa pun. Dia mencari ke sana sini, tetap tidak ketemu. Akhirnya dia menggunakan handuk lama untuk membungkus es batu, lalu menempelkannya ke pergelangan kaki yang bengkak.

Pintu kamar tidak tertutup rapat. Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan. Dexter masuk bersama seorang dokter. "Tolong periksa, apakah kakinya patah atau nggak."

Untungnya tidak, hanya keseleo ringan. Setelah dikompres dingin dan diberi salep, besok seharusnya sudah membaik.

Begitu dokter pergi, ponsel Dexter kembali berdering. Suaranya sangat lembut. "Gaby, tadi kamu ...."

Langkahnya menjauh. Suara itu semakin kecil hingga akhirnya tidak terdengar. Caitlyn langsung paham. Jadi, tadi Dexter menelepon Gaby? Hatinya seperti tertusuk jarum tajam.

Dexter mendengarkan sambil menatap kamar dari kejauhan. Dia berujar, "Baiklah."

Keesokan harinya, Caitlyn seharian di institut penelitian. Saat hendak pulang, pergelangan kakinya terasa tidak nyaman. Dia berjalan perlahan untuk menyesuaikan diri. Setelah agak membaik, dia baru menyetir pulang.

Sampai di rumah, sudah hampir pukul 11 malam. Caitlyn mandi, lalu berbaring di tempat tidur. Pikirannya masih berantakan. Dia memaksakan diri memejamkan mata. Besok masih banyak hal yang harus dikerjakan.

Tiba-tiba, terdengar langkah kaki mendekat. Caitlyn tetap diam.

Kasur di sebelahnya bergerak, lalu punggungnya menempel pada dada pria yang panas. Dexter melingkarkan lengannya di bahunya, lalu tangannya turun perlahan, menggenggam pinggangnya yang ramping.

Caitlyn menahan tangannya. "Aku nggak mau malam ini ...."

Dexter mengerutkan kening. "Kamu lagi datang bulan? Bukannya biasanya akhir bulan?"

"Bukan. Aku cuma ... nggak mau." Caitlyn memejamkan mata.

"Tapi aku mau."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 460

    Jangankan makan, sedikit saja ada aroma yang tidak biasa, perutnya langsung bereaksi.Sore harinya, Caitlyn kembali ke Universitas Hardison, lalu menerima telepon dari Dexter lagi.Dexter bertanya, "Akhir pekan nanti ada waktu? Kita ajak anak jalan-jalan."Sudah beberapa hari Caitlyn tidak bertemu Rezi, dia sangat merindukannya. Hanya saja, mengingat Dexter sedang membangun kedekatan dengan anak itu, dia terpaksa menahan rasa rindunya."Sabtu aku ada waktu," sahutnya. "Bisa?""Bisa. Kita ajak dia ke Sea World saja. Dia suka lumba-lumba."Caitlyn mengiakan.Malam harinya, saat sudah di rumah, dia tidak perlu menunggui Yasmin lagi, juga tidak ada anak di sisinya. Untuk sesaat, dia malah merasa tidak terbiasa.Caitlyn melihat ponselnya. Sejak terakhir kali Lusia meneleponnya, setelah itu mereka tidak pernah berhubungan lagi.Padahal waktu itu Lusia tampak sangat membutuhkan uang. Anehnya, setelah itu dia sama sekali tidak menghubunginya lagi. Entah masalahnya sudah selesai atau belum.Cai

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 459

    Maksud dokter jelas, janin itu belum tentu bisa dipertahankan.Di hati Irvin, Yasmin selalu berada di urutan pertama. Hal yang paling membuatnya bahagia bukanlah karena Yasmin mengandung anaknya, melainkan karena Yasmin bersedia melahirkan anak untuknya.Saat kembali berdiri di depan pintu kamar rawat Yasmin, yang tersisa di hatinya hanyalah rasa sakit dan iba.Yasmin adalah perempuan yang selalu menjaga penampilan dan sangat rapi. Sekarang karena hamil, dia muntah sampai keadaannya menjadi sangat berantakan.Tak perlu dibayangkan pun sudah tahu betapa menyedihkannya kondisi itu.Caitlyn sedang membuka pintu kamar sambil menggenggam ponselnya. Dexter baru saja menelepon.Saat mengangkat kepala, dia melihat Irvin. Dia berkata ke arah ponsel, "Nanti aku telepon balik."Dia memasukkan ponselnya ke saku, lalu bergeser memberi jalan. "Cepat sekali sampainya. Masuklah."Irvin mengangguk ringan, lalu melangkah masuk dengan kaki jenjangnya. Di saat seperti ini, ucapan terima kasih saja sudah t

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 458

    Hower sempat bertanya di meja perawat, jadi dia sudah tahu bahwa Yasmin sedang hamil. Namun, saking kagetnya, dia sampai lupa menanyakan alasan Yasmin dirawat.Memangnya hamil pun perlu dirawat di rumah sakit? Atau memang Yasmin saja yang terlalu manja?Caitlyn berkata, "Dia nggak bisa makan apa pun dan muntahnya parah sekali. Kalau nggak dirawat dan diberi infus, dia bisa kolaps."Hower belum pernah berurusan dengan perempuan hamil selain Caitlyn. Seingatnya, waktu Caitlyn hamil dulu, dia sama sekali tidak mengalami reaksi seperti ini.Barulah Hower menyadari kalau Yasmin memang terlihat lebih kurus. Tadi dia memang tidak terlalu memperhatikan penampilan Yasmin, apalagi Yasmin sedang berbaring di ranjang rumah sakit.Pipi Yasmin memang sejak dulu sudah tirus, tetapi sekarang kesannya tampak lebih kurus dan rapuh. Aura seorang wanita karier yang biasanya dia pancarkan pun jadi lebih redup."Memang lebih kurus," kata Hower. "Kenapa melahirkan anak bisa serepot ini?"Dia menoleh ke Caitl

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 457

    Sebenarnya Caitlyn ingin memberi tahu Irvin. Hanya saja, dia tidak punya posisi untuk melakukan itu.Dia adalah sahabat terbaik Yasmin. Sebelumnya saat Yasmin hamil, Caitlyn sudah pernah menghubungi Irvin sekali. Kalau kali ini dia ikut campur lagi, bagaimanapun rasanya kurang pantas.Sekarang Hower sudah tahu, justru lebih baik. Namun, dia juga tidak bisa menunjukkan kalau dirinya senang, jadi hanya berkata, "Sepertinya memang cuma bisa begitu."Yasmin membuka mata, meliriknya, lalu memberinya tatapan yang seolah menyuruhnya memahami sendiri maksudnya.Caitlyn buru-buru menahan senyum yang hampir muncul di sudut bibirnya.Hower berkata, "Kalau begitu, aku keluar sebentar."Setelah keluar dari kamar rawat, dia langsung menelepon Irvin lagi.Irvin tidak menyangka Hower akan menelepon balik. "Hari ini kamu nggak ada kerjaan ya?""Pulanglah," kata Hower. "Ada urusan pertunangan, akta nikah, sampai pesta pernikahan yang harus kamu urus.""Maksudmu apa? Kamu mau menikah?" Irvin sangat terke

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 456

    Yasmin berkata, "Kami sudah putus. Memangnya masih ada gunanya bahas ini?"Hower berkata, "Kalau begitu, aku akan tanya Irvin. Kalau dia mengakui kalian memang sudah putus, aku nggak akan beri tahu dia."Yasmin berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Oke, telepon dia sekarang. Nyalakan pengeras suaranya."Bagaimanapun, dia dan Irvin sudah membicarakan soal putusnya hubungan mereka. Irvin juga sudah menyetujuinya.Hower langsung menelepon.Di luar negeri saat ini masih pagi. Irvin sedang joging. Suara Irvin terdengar sedikit terengah-engah. "Ada apa?"Mulut Hower memang tidak pernah bersekolah. Dia berkata, "Jangan-jangan kamu lagi asyik di kasur sama cewek ya? Kalau begitu, aku nggak akan mengganggu."Irvin sampai ingin memakinya. "Aku lagi joging, ngomong apa sih!"Hower sudah menyalakan pengeras suara, jadi dia tidak lagi bercanda. Dia langsung bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Yasmin?"Hower langsung ke intinya.Irvin merasa heran. "Sudah selama ini baru kepikiran p

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 455

    Caitlyn baru saja turun ke lantai satu untuk membayar biaya obat yang memang harus dibayar secara terpisah. Dia sama sekali tidak tahu kalau ada seseorang yang mengikutinya.Toh rumah sakit penuh dengan orang. Dia tidak sempat memperhatikan satu per satu.Setelah kembali ke kamar rawat, dia mengobrol sebentar lagi dengan Yasmin, lalu menerima telepon dari Hower.Dia merasa heran, kenapa Hower menelepon lagi. Dia pun mengangkat telepon dan menyapa.Hower langsung bertanya, "Kamu di mana?""Aku sama Yasmin," jawab Caitlyn. "Malam ini nginap di rumahnya.""Oh." Hower tertawa pelan. "Sejak kapan rumah Yasmin pindah ke bangsal kebidanan dan kandungan?"Jantung Caitlyn berdegup kencang. Dia refleks menoleh ke arah Yasmin.Yasmin mengerjapkan mata, sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi.Caitlyn menyalakan pengeras suara, lalu bertanya, "Maksudmu apa?""Maksudku, aku sudah lihat kamu di rumah sakit," kata Hower. "Sekarang aku ada di depan kamar rawat kalian."Yasmin langsung tak bisa

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 10

    Caitlyn menurunkan pandangan, menyembunyikan seluruh emosi yang bergolak di matanya.Dexter menggenggam tangannya. "Katakan padaku."Hidung Caitlyn terasa sesak, matanya panas. Ternyata Dexter juga punya sisi yang lembut seperti ini. Ironisnya, dulu dia hanya pernah melihat sisi itu saat Dexter bera

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 9

    "Kamu suka?" tanya Dexter sambil memegang setir dengan satu tangan, tanpa menoleh padanya. Dalam nada suaranya terselip keangkuhan dan sedikit godaan, seolah-olah yakin akan mendapatkan jawaban yang diinginkan.Caitlyn terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menyahut, "Cantik." Dia tidak menjawab ap

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 8

    "Jangan banyak tanya." Dexter mulai terdengar tidak sabar. "Sudahlah, bukan urusan besar. Aku masih ada rapat sebentar lagi."Mason tertawa. "Jangan begitu dong, jarang-jarang kamu ngomong kayak begini. Menghibur orang juga ada caranya. Setidaknya kasih tahu dulu, kamu mau hibur siapa? Caitlyn? Ngga

  • Kebangkitan Istri yang Terpaksa Dinikahi CEO Dingin   Bab 7

    Caitlyn menegakkan punggungnya, hanya ujung jarinya yang sedikit bergetar. Lehernya jenjang. Saat berdiri seperti ini, dia tampak seperti seekor angsa putih yang anggun dan penuh kebanggaan.Dia menatap Dexter yang berjalan mendekat. Tatapannya dingin dan keras kepala. Tak ada sepatah kata pun yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status