LOGIN_o0o_
Li Yue terbangun saat matahari sudah condong ke arah barat. Sudah lama dia tidak tidur senyenyak tadi. Saat membuka mata, dia melihat Ye Lin sedang merapikan sebuah baju.
"Ye Lin, kau sedang apa?"
Ye Lin ."Kau sudah bangun Li Yue, aku sedang merapikan baju yang nanti akan kau kenakan"
"Oh." Li Yue bangkit, lalu duduk di pinggir ranjangnya. Matanya menjelajahi seisi ruangan. Saat dia sampai disini, dia tidak bisa melihat seisi ruangan sesukanya, karena ada
"Kau ingin mandi atau makan dulu, Li Yue?"
"Aku akan makan nanti. Sekarang aku ingin mandi dulu. Tubuhku rasanya lengket sekali," jawab Li Yue.
"Aku sudah menyiapkan air hangat untuk kau mandi." Ye Lin meraih sebuah nampan lalu berjalan ke arah Li Yue.
"Kau ingin wewangian yang mana, Li Yue?" Li Yue mendekatkan wajahnya ke nampan, lalu mengendus satu per satu wewangian yang ada di depannya.
"Aku ingin yang ini saja, jangan terlalu banyak."
"Baiklah."
Li Yue mengikuti Ye Lin ke tempat pemandian yang disediakan khusus di kediamannya. Li Yue memperhatikan ruangan pemandian ini yang sangat besar, bahkan lebih besar dari kamarnya di masa depan.
"Akh, apa yang kau lakukan, Ye Lin!" Teriak Li Yue ketika Ye Lin hendak membuka hanfunya.
"Aku ingin membantumu membuka baju," jawab Ye Lin polos.
"Kau tidak bisa membuka bajuku sembarangan, Ye Lin."
"Aku kan sering membantumu membuka baju saat kau hendak mandi, Para pelayan juga. Kenapa kau marah?"
"I-itu dulu, sekarang tidak. Aku bisa melakukannya sendiri, dan juga, aku ingin mandi sendiri. Kau bisa menungguku di depan."
Ye Lin menganggukkan kepala percaya. "Ya sudah jika itu keinginanmu,"
Li Yue yang melihat Ye Lin percaya, menghembuskan napas lega, kemudian dia melangkah mendekati kolam, menghirup aroma wewangian pilihannya yang tadi dituangkan oleh Ye Lin.
Li Yue mencelupkan tangannya ke dalam kolam, hangat, tidak terlalu panas maupun dingin. Li Yue mulai menanggalkan hanfu yang digunakannya, meninggalkan lapisan kain tipis. Perlahan Li Yue masuk ke kolam pemandian yang tidak terlalu dalam, duduk menyandarkan punggungnya lalu memejamkan mata, menikmati sensasi yang ada.
Tak lama, Li Yue keluar dari pemandiannya sambil mengenakan jubah mandi yang sudah disediakan di sana. Sebenarnya, dia ingin berlama-lama, tapi perutnya sejak tadi sudah bersuara, meminta diisi.
"Kau sudah selesai," ucap Ye Lin melihat Li Yue yang sudah berada di sampingnya. Li Yue membalas dengan anggukan, kemudian melangkah kembali ke kamarnya, diikuti Ye Lin di belakang.
Sesampainya di kamar. Li Yue langsung mendudukkan dirinya di kursi di depan meja rias. dia memperhatikan benda apa saja yang ada di depannya. Mulai dari perhiasan, alat rias zaman dahulu yang biasa di drama kolosal, dan tentunya sebuah cermin yang terbuat dari tembaga, dan pastinya, tidak menampilkan hasil bayangan yang jelas.
Ye Lin menghampiri Li Yue seraya membawa handuk kecil, lalu mengeringkan rambut Li Yue yang sedikit basah.
"Selesai, sekarang kau bisa mengganti bajumu Li Yue, aku akan mem--"
"Tidak! Aku bisa sendiri," sela Li Yue, dengan cepat ia bangkit dari duduknya, mengambil baju yang tadi sudah dirapikan oleh Ye Lin kemudian berlalu ke sekat ruangan yang digunakan sebagai tempat berganti baju.
"Aneh," ucap Ye Lin melihat tingkah laku Permaisurinya.
"Ye Lin, ambilkan aku sisa salep yang kemarin kau buat dan juga perban," ujar Li Yue di balik sekat.
"Kenapa kau tidak memakai salep yang tadi dibuat oleh tabib?"
"Nanti akan kujawab. Sekarang ambilkan aku salep dan perbannya, cepat."
Ye Lin menanggapinya dengan mengangguk walau tahu Li Yue tidak bisa melihatnya, Ye Lin mengambil salep dan perban sesuai permintaan Li Yue.
"Kau tidak boleh masuk!" Ucap Li Yue setengah teriak, menghentikan Ye Lin yang hendak masuk untuk memberikan apa yang diminta oleh Li Yue.
"Kenapa aku tidak boleh masuk?"
"Tidak ya tidak, Ye Lin, kau bisa menyodorkannya, kan?"
Ye Lin diam. Dia bingung dengan tingkah nonanya ini yang berbeda dari biasanya.
"Cepat, Ye Lin," sentak Li Yue, mengagetkan Ye Lin.
"Ah iya, ini." Ye Lin cepat menyodorkan salep dan perban yang dibutuhkan Li Yue. Dengan cepat pula Li Yue mengambilnya.
Setelah beberapa saat, Li Yue keluar dengan hanfu yang tadi ia bawa. Li Yue memang bisa memakai hanfu tradisional. Pekerjaannya mengharuskan ia bisa melakukan segala hal.
"Aissh, aku lapar sekali," keluh Li Yue, setelah mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang mengapit sebuah meja kecil di tengahnya.
Di meja tersebut terdapat beberapa makanan hangat menggugah selera yang sudah Ye Lin siapkan sebelum Li Yue bangun tadi.
"Rambutmu belum diatur, Li Yue."
"Kau bisa mengaturnya nanti. Saat ini aku makan," ujar Li Yue, lalu melahap makanan yang sejak tadi menggodanya untuk dimakan. "Eum, ini enak sekali."
'Krruukkk'
Suara perut Ye Lin mengalihkan perhatian Li Yue dari makanannya, Li Yue mendongak, melihat kearah Ye Lin yang wajahnya kini memerah menahan malu.
"Kau belum makan?"
Ye Lin menggeleng pelan. "Belum," desisnya
"Lalu kenapa kau diam? Kemari, makanlah bersamaku," ajak Li Yue
"Itu tidak pantas Li Yue,.
"Aku ini nonamu, jadi kau harus mematuhiku, cepat duduk lalu makan."
Ye Lin menatap Li Yue ragu.
"Cepat," ucap Li Yue sekali lagi. Dengan patuh, Ye Lin duduk dan mulai makan bersama Li Yue. Makan sore mereka dihiasi dengan keheningan. Tidak ada yang ingin berbicara.
"Wah wah wah. Aku tidak tahu jika seorang Permaisuri Kekaisaran Feng memiliki derajat yang sama dengan seorang Pelayan," ucap seseorang di depan pintu.
"Rendahan," lanjutnya dengan nada sinis.
_o0o_
Malam itu, lentera-lentera kertas di sepanjang selasar Istana Zhu baru saja disulut, melemparkan pendar kuning yang bergoyang di lantai kayu. Di dalam paviliunnya yang sunyi, Yue Ning duduk terpaku. Pandangannya tertambat pada selembar gulungan sutra tebal yang tergelar di atas meja rendah.Kain sutra merah, kotak-kotak perhiasan emas lambang kekaisaran Zhu, dan tata cara penyambutan altar leluhur tersusun rapi yang harus ia pelajari.Pernikahan akan diselenggarakan kurang dari sebulan lagi. Jemari Yue Ning berhenti di atas baris kuas paling bawah, tempat dua nama bersanding erat sebagai penguasa baru wilayah ini, Feng Huang Ji dan Zhu Yue Ning.Yue Ning memejamkan mata, menghembuskan napas panjang. Kejadian di aula pertemuan tadi pagi kembali berputar di kepalanya. Tepat saat itu, suara langkah kaki yang santai nam
_o0o_Atmosfer di aula utama Istana Zhu yang dialihfungsikan menjadi ruang pertemuan sementara terasa begitu kaku, dipenuhi oleh gumaman rendah para pejabat. Sebagian besar adalah menteri lama Zhu yang memilih tunduk demi keselamatan keluarga, sementara sisanya adalah pejabat utusan kekaisaran Feng yang dikirim untuk mengawasi masa transisi.Yue Ning duduk di kursi kayu berukir di sisi kanan Huang Ji. Punggungnya ditarik lurus sempurna, sepasang tangannya tersusun rapi di atas lutut. Namun, di balik lipatan lengan kainnya yang lebar, jemarinya saling meremas satu sama lain. Ini adalah rapat formal pertama yang ia hadiri, dan ia bisa merasakan ratusan pasang mata di bawah sana sedang menguliti sosoknya dengan tatapan meragu, penasaran, bahkan ketidaksukaan yang terang-terangan."...dengan demikian, pasokan gandum unt
Yue Ning terdiam selama beberapa detik. Tatapannya bertemu dengan binar jenaka di mata pangeran Feng itu. Perlahan, otot-otot wajahnya yang kaku mengendur. Sudut bibirnya berkedut naik, membentuk lengkungan tipis yang sangat samar, namun tidak lolos dari tangkapan mata Huang Ji.Huang Ji menggeser cangkir hangat itu hingga menyentuh ujung jari Yue Ning. "Minum."Yue Ning mengangkat cangkir itu dengan kedua tangan. Saat keramik itu terangkat, Huang Ji menangkap getaran halus yang menjalar di pergelangan tangan sang gadis. Sisa-sisa ketegangan dari pelajaran pertama dalam hidupnya baru merembes keluar sekarang, bermanifestasi dalam jemari yang gemetar samar.Huang Ji tidak berkomentar apa-apa tentang getaran itu. Ia hanya memperhatikan dalam diam sampai Yue Ning menurunkan kembali cangkirnya yang kini kosong setengah.
Mereka berjalan lebih jauh hingga langkah kaki terhenti di bawah pohon plum putih yang paling besar. Kelopaknya berguguran seperti serpihan salju lambat. Yue Ning mengulurkan sebelah tangannya yang bebas dari kain jubah, membiarkan satu kelopak putih mendarat tepat di tengah telapak tangannya. Matanya mengikuti setiap bunga yang jatuh tanpa berkedip."Di kediaman Komandan Chao tidak ada bunga plum?" tanya Huang Ji, teringat bahwa gadis ini menghabiskan waktu bertahun-tahun di kediaman sang kakek."Ada." Yue Ning membalik telapak tangannya, membiarkan kelopak itu jatuh ditiup angin sore. "Tapi saya jarang bisa melihatnya."Huang Ji terdiam. Kalimat itu adalah pengingat pahit tentang apa yang dialami Yue Ning sebelum dinasti ini runtuh. Di atas mereka, ranting-ranting pohon berderit pelan menyapa angin dingin. Akhirny
_o0o_Udara awal musim semi di Istana kekaisaran Zhu masih menyisakan gigitan embun beku yang menembus sela-sela lantai kayu. Ketika pelayan paviliun timur menggeser pintu dengan kepala nyaris menyentuh lantai, Huang Ji melangkah masuk ke dalam ruangan yang terasa terlalu sunyi bagi sebuah tempat yang kini menjadi pusat kendali wilayah yang rapuh.Calon istrinya, Yue Ning berada di sana. Seberkas cahaya sore menerobos dari kisi-kisi kayu, menyinari lembaran kertas yang terbuka di meja rendah. Sinar itu turut menyoroti jemari Yue Ning yang membeku di sudut halaman kertas."Pangeran Huang Ji."Yue Ning tersentak berdiri ketika menyadari ada seseorang di pintu. Gerakannya yang terlampau mendadak itu membuat ujung lengan bajunya menyapu cangkir teh. Bunyi gesekan keramik di
Li Yue tertawa kecil, Ibu Suri menggeleng sambil tersenyum, sementara Yue Ning yang sama sekali tidak tahu sedang jadi bahan pembicaraan mengambil langkah mendekati mereka setelah selesai menyapa Li Yue.Saat Yue Ning mendekat, Lu Si mendadak berubah sikap, ia langsung berdiri tegap dengan pose putri yang anggun.Huang Ji memelototinya. "Oh, jadi sekarang kau ingat bagaimana caranya bersikap sopan?"Lu Si melirik samping. "Tentu saja. Aku punya citra yang harus kujaga. Tidak seperti seseorang yang dari tadi menatap calon istrinya seperti kucing kelaparan melihat ikan.""Aku tidak—!!!!" Huang Ji hampir memprotes, tapi Yue Ning sudah cukup dekat untuk mendengar.Keduanya langsung diam.







