Se connecter_o0o_
Keesokan paginya, kabar tentang Ibu Suri jatuh sakit menyebar di istana. Ketika hendak sarapan dengan putri tercintanya, Ibu Suri tib
"Aku memang tidak bisa meragukan sifat licikmu, Tuan Xi." Tawa Zhu Weishan mengisi keheningan ruang rapat. "Pasukan Feng unggul di senjatanya, karena itu kita akan mengambil keunggulan pasukan milik Feng Wu Lan itu."Perkataan Zhu Weishan sontak membuat semua petinggi militer disana terkejut. Baru saja ingin menyampaikan protes, Zhu Weishan memanggil prajurit masuk."Pergi ke lapangan perang, cari dan kumpulkan baju zairah bekas prajurit serta panji-panji milik kekaisaran Feng dan bawa kemari.""Xi Zian bawa masuk lima puluh orang yang paling cekatan," lanjut Zhu Weishan tanpa menunggu prajurit itu pergi. "Tidak perlu menunggu rapat selesai. Operasi ini dimulai malam ini, setelah prajurit-prajurit itu kembali kenakan zirah itu untuk menyusup ke tenda musuh."Xi Zian, yan
Memasuki akhir minggu, Zhu Weishan memaksakan serangan besar-besaran untuk menutupi kelemahannya. Ia memerintahkan pasukan pedang untuk maju dari tengah dan tombak dari sisi kiri, berharap melumpuhkan pusat kekuatan pasukan Feng.Pertempuran itu sangat sengit.Feng Wu Lan bertarung melawan Jenderal agung yang sudah membantai banyak prajurit kekaisaran Feng. Di antara pertarungan mereka, beberapa pasukan Zhu mencoba menyerang pemimpin kekaisaran Feng itu. Beruntung, Huo Li melindungi dengan serangan panah silang yang dapat menembakkan panah dengan cepat.Di saat yang sama, Huang Ji bertemu kembali dengan Xi Zian. Berbeda dengan pertarungan yang lalu, kali ini Huang Ji mengungguli karena kekuatan senjata yang Xi Zian gunakan berkurang. Huang Ji bahkan berhasil melukai putra mantan Perdana Menteri itu.
Salju pertama yang turun pada hari ketujuh menjadi pertanda bahwa musim dingin akhirnya tiba. Pada awalnya, butiran tipis itu jatuh perlahan, nyaris seperti abu yang ditiup angin. Namun pada malam harinya, udara mengeras, suhu turun drastis, dan lapangan luas di kaki Pegunungan Huashan itu berubah dari tanah coklat dingin menjadi hamparan putih licin yang menusuk tulang.Di pagi hari pertama minggu kedua, pasukan Feng dan Zhu sama-sama membuka mata pada dunia yang berbeda dari dunia yang mereka tinggali seminggu sebelumnya. Langkah kaki kuda meninggalkan jejak berlubang yang cepat terisi air. Beberapa tenda prajurit Feng bahkan roboh semalam terdorong angin beku dari arah utara.Di sisi barat lapangan, Feng Wu Lan berdiri di luar tendanya, nafasnya berubah menjadi uap yang langsung hilang diterpa angin. Zirah peraknya sudah ia lapisi minyak agar tidak mudah mem
_o0o_Pada hari kedua, udara pagi berhembus dingin. Kabut tipis masih menggantung di kaki pegunungan Huashan saat suara terompet perang dari barisan Kekaisaran Zhu kembali menggema. Mereka maju lebih awal, mencoba menekan pasukan Feng sebelum matahari tinggi.Huang Ji, meski masih dengan kain yang menutup tangannya, memimpin sayap kanan dengan penuh amarah. Melihat bendera merah milik Kekaisaran Zhu berkibar terlalu dekat dengan garis depan pasukan Feng membuat darahnya mendidih."Jangan biarkan mereka melewati batu penanda itu!" teriaknya, menunjuk formasi pasukan Zhu yang mulai menanjak.Serangan balasan dari pasukan tombak Jenderal Tao datang bagaikan gelombang baja. Namun tanah yang basah membuat pergerakan lambat, banyak tombak yang meleset dan pasukan panah harus m
Kabut berputar pelan seperti nafas raksasa yang menahan amukan. Di kedua sisi, pasukan menahan hasrat untuk bergerak lebih cepat. Ketika genderang pertama terdengar dari barisan Zhu, detik-detik itu terasa seperti napas yang ditahan bersama seluruh darah yang mengalir di medan perang.Suara genderang kedua bergema, menggetarkan dada setiap prajurit yang berdiri di garis depan. Di sisi lembah sebelah timur, Komandan Ren Jia menundukkan kepala sejenak sebelum mengangkat tangannya tinggi"Majuuuu!"Seruan itu disambut oleh dentuman ribuan langkah kaki. Tanah bergetar, debu lapangan perang mulai naik menutupi pandangan.Di sisi seberang, dari bawah balik kabut, Huo Li melihat gerakan besar di bawah lembah. "Pasukan tombak mereka mulai maju," katanya.
_o0o_Kabut pagi menggantung berat di perbatasan timur, menyelimuti lapangan luas di kaki Pegunungan Huashan. Tanah disana terbentang lapang, namun bergelombang oleh bukit-bukit kecil yang menjadi posisi ideal bagi pasukan pemanah dan pengintai.Udara dingin membawa aroma besi dan tanah lembab. Ketika genderang perang berdentum, gema suaranya bergema hingga ke puncak gunung yang tertutup salju tipis.Di bawah langit kelabu, dua ratus ribu prajurit Kekaisaran Feng berdiri dalam barisan rapi. Zirah baja mereka berkilau diterpa cahaya obor. Di sisi berlawanan, pasukan Kekaisaran Zhu yang berjumlah lebih dari tiga ratus ribu telah bersiap, memenuhi seluruh lembah hingga tampak seperti lautan manusia. Warna panji merah dan hitam mereka bergoyang di antara kabut tebal, membawa bayangan mengancam bagi siapa pun yang menata







