LOGINLu Si menahan tubuh Li Yue yang kini tak bertenaga. Ia bisa merasakan tubuh kakak iparnya gemetar tak wajar dengan nafas mulai memburu serta rona merah menjalar di wajahnya.
Wajah Lu Si memucat seiring kepanikannya, ia tahu betul bahwa yang dialami Li Yue bukan kelelahan atau jatuh sakit, sudah jelas kakak iparnya diracuni. Melihat gejala yang muncul Lu Si teringat salah satu jenis racun yang sering kali orang gunak
Lu Si menyipitkan mata bulatnya, memandang sang jenderal dengan raut wajah yang sangsi dan penuh kecurigaan. "Benarkah, Jenderal Ling-Ling?" panggil Lu Si, sengaja menggunakan nama ejekan lamanya untuk memancing pria itu.Zhao Ling mengangguk mantap tanpa ada keraguan di wajahnya.Melihat reaksi tenang itu, Lu Si bertumpu pada satu kakinya, melipat tangan di depan dada sambil mendongak menantang. "Kalau memang tidak berpura-pura, lalu kenapa waktu itu kau diam saja seperti patung di seberang jalan? Aku sampai mengira kau sedang dirasuki makhluk halus karena melamun terlalu lama!"Mendengar ingatan masa lalu itu diungkit, sudut bibir Zhao Ling sedikit berkedut, menahan senyum yang hampir lolos. Ia menghela napas pendek sebelum akhirnya memutuskan untuk jujur mengenai apa yang sebenarnya berputar di kepalanya hari itu
Feng Wu Lan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi naga, melipat jari-jarinya di depan dada sambil terus menatap tajam ke arah bawah."Sifatnya masih sangat kekanakan," kata Feng Wu Lan tiba-tiba, menjabarkan tabiat adiknya. "Dia suka sekali bermain, bicaranya selalu blak-blakan, dan sama sekali tidak bisa menjaga ucapan dari mulutnya."Wajah Zhao Ling tetap tegak. "Saya tahu.""Dia juga sering melanggar aturan istana karena perilakunya yang sangat aktif dan tidak bisa diam. Tingkat percaya diri dengan kecantikan wajahnya sudah kelewat batas, dan terkadang... dia suka bertingkah manja yang berlebihan," lanjut Feng Wu Lan, memijat pelipisnya pelan seolah membayangkan betapa pusingnya dia menghadapi tingkah laku adik perempuannya itu sehari-hari."Saya tahu, Yang Mulia
Zhao Ling menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara ruangan yang harum, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang bergemuruh riuh di dalam dada. Ia menegakkan punggungnya, mendongak, menatap langsung ke arah mata Ibu Suri dengan binar mata yang dipenuhi oleh keteguhan mutlak seorang pria yang sudah selesai dengan penantiannya."Saya... datang untuk memohon restu Yang Mulia Ibu Suri. Saya ingin mempersunting Putri Lu Si untuk menjadi istri sah saya, mendampingi hidup saya hingga akhir hayat," ucap Zhao Ling dalam satu tarikan nafas, tegas dan tanpa keraguan sedikit pun.Keheningan sempat berlangsung selama beberapa saat di dalam aula. Sunyi yang tercipta sempat membuat jantung Zhao Ling berhenti berdetak selama satu detik penuh, khawatir jika ada pertimbangan politik atau keluarga yang akan menghambat permintaannya.
Zhao Ling tertegun sejenak mendengarnya. Kata-kata Lu Si yang jujur, tanpa saringan, dan penuh dengan dukungan mutlak itu selalu berhasil memukul bagian paling lembut di dalam dadanya.Pria itu menghentikan seluruh pergerakannya. Suasana di koridor kayu itu mendadak terasa senyap, menyisakan suara hembusan angin sore yang memainkan ujung jubah mereka.Lu Si yang melihat Zhao Ling tiba-tiba diam ikut menghentikan kalimatnya. Sebelum sempat gadis itu membuka mulut untuk bertanya mengapa pria itu menatapnya dengan pandangan yang begitu dalam, Zhao Ling tiba-tiba mengambil satu langkah besar maju.Langkah kaki Zhao Ling yang tiba-tiba membuat jarak di antara tubuh mereka menyusut begitu cepat. Jarak yang tersisa kini begitu intim, hingga Lu Si bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu dan mencium aroma samar kayu gaharu
Ruangan kembali hening. Namun, kali ini keheningan itu sama sekali tidak diiringi oleh bisik-bisik protes atau gumaman tidak setuju. Tidak ada satu pun jenderal senior yang melangkah maju untuk menyuarakan keberatan. Tidak ada menteri yang mengangkat suara untuk mempertanyakan keputusan tersebut.Karena semua orang di ruangan itu tahu. Mereka semua adalah saksi hidup.Zhao Ling telah membuktikan dirinya berkali-kali, bukan dengan retorika atau silsilah keluarga, melainkan dengan hasil nyata di lapangan yang berdarah. Selama setahun terakhir, pria itulah yang siang dan malam berkuda menembus badai salju untuk membuka kembali jalur logistik yang sempat lumpuh total pascaperang, memastikan rakyat di provinsi barat tidak mati kelaparan. Pria itu pula yang menata ulang sistem pertahanan di pos-pos perbatasan luar yang kacau, melatih ribuan pasukan baru dengan disipl
_o0o_Matahari pagi menyiram atap-atap genting Aula Militer Kekaisaran Feng dengan cahaya keemasan yang dingin. Di dalam ruangan berlantai batu hitam tersebut, atmosfer terasa begitu padat, hampir-hampir mencekat tenggorokan siapapun yang melangkah masuk. Para jenderal senior, perwira tinggi, dan menteri-menteri penting telah memenuhi posisi mereka masing-masing sesuai dengan tingkat hierarki militer. Pakaian zirah mereka yang terbuat dari besi pilihan berkilat tertimpa cahaya, sementara jubah-jubah resmi mereka yang berwarna merah tua dan hitam berdesir pelan setiap kali ada pergerakan.Hari itu, menurut jadwal yang tertera pada gulungan sutra di tangan para juru tulis, seharusnya hanyalah rapat rutin bulanan. Sebuah pertemuan untuk membahas pembagian logistik musim dingin, laporan berkala mengenai kondisi pos-pos penjagaan di garis perbatasan luar, serta eval







