LOGINKabur dari pernikahan paksa beberapa hari sebelum upacara adalah keputusan paling nekat yang pernah Elia lakukan. Demi bersembunyi, ia melamar pekerjaan sebagai guru bagi Lady Violet, putri seorang Earl duda yang telah mengusir tujuh guru sebelumnya. Yang tidak pernah Elia duga, gadis kecil itu justru mulai membuka hati padanya. Dan sang Earl yang pendiam itu, tanpa ia sadari, mulai pulang lebih cepat dari biasanya. Namun ketika pria yang memaksanya menikah akhirnya menemukan tempat persembunyiannya, Elia harus memilih. Kabur sekali lagi. Atau mempertaruhkan hatinya. “Kalau ada yang ingin membawamu pergi …” Kenneth menatap pria di hadapannya tanpa berkedip. “... dia harus melewatiku dulu.”
View MoreElia seharusnya sedang berdiri di depan altar, atau bahkan sudah menjadi istri orang di malam pertamanya.
Tapi kenyataannya, ia justru berdiri membeku di balik pintu kayu ruang kerja ini, menahan napas dalam kegelapan bersama ayah muridnya.
Langkah kaki mungil yang tadi berlarian di koridor luar akhirnya berangsur senyap, disusul suara pintu kamar di ujung lorong yang mengatup pelan, menandakan anak kecil itu sudah menyerah pada kantuknya.
Elia mengembuskan napas lega. Udara malam yang dingin masuk ke paru-parunya, sedikit menenangkan degup jantungnya yang terlalu cepat. Ia hendak bergeser melangkah mundur, tapi ujung gaunnya menabrak pinggiran meja kayu tebal, memicu bunyi kecil yang terdengar terlalu keras di tengah kesunyian.
"Sshh, Diam," tegur sebuah suara rendah.
Elia membeku seketika. Detak jantungnya yang mulai tenang, kini kembali neggedor-gedor rusuknya seperti ingin keluar.
Kenneth Ronan Ashwick, ayah muridnya kini mengikis habis jarak di antara mereka, tidak menyentuh, tapi tubuhnya yang lebih tinggi itu cukup untuk mengunci ruang gerak Elia tanpa perlu menggunakan tangannya sama sekali.
Aroma samar yang maskulin dari pria itu memenuhi indera penciumannya. Kancing teratas kemeja Kenneth terbuka, memperlihatkan sedikit kulit di bawah lehernya, menghimpit dada Elia hingga napasnya tertahan. Elia buru-buru mengalihkan pandangannya.
Jangan lihat ke sana.
Tapi semakin ia berusaha untuk tidak melihat, matanya selalu mengkhianatinya untuk kembali ke sana.
Kenneth menunduk sedikit. Cahaya lilin di dinding menyinari rahangnya yang tegas. Matanya yang biru mengamati wajah guru baru putrinya dari jarak yang terlalu dekat untuk dua orang yang baru kenal dua hari.
“Gadis kecil itu sudah tidur,” gumam Kenneth lambat, suaranya berat bergema di ruangan yang sunyi. “Jadi... bagaimana, Guru? Anak saya nakal?”
Elia menahan napas, berusaha keras menjaga pandangannya tetap lurus pada simpul dasi Kenneth yang agak longgar.
“Lady Violet hanya... butuh pendekatan yang lebih sabar, My Lord.” Suaranya terdengar lebih stabil dari yang ia duga walau keringat dingin mulai terbentuk di telapak tangannya.
“Sabar?” Kenneth terkekeh tipis, nada suaranya dingin sekaligus mengintimidasi. “Tujuh guru sebelumnya kabur. Tapi kau justru betah berdiri di ruang kerja saya sampai larut malam.”
Mata tajam pria itu meneliti tiap inci garis rahang Elia yang tegang, menembus sorot matanya yang sedang berusaha keras menyembunyikan sebuah rahasia. Ada batas tak kasat mata antara majikan dan pekerja yang baru saja dilompati secara kurang ajar di dalam ruangan tertutup yang hanya diterangi satu lilin.
Dan yang membuatnya semakin berbahaya adalah kaki Elia sendiri yang terpaku seolah menolak untuk melangkah pergi.
Elia merasakan ujung jarinya dingin. “Mungkin karena saya lebih keras kepala dari mereka, My Lord.”
Kalimat itu membuat alis Kenneth berkerut sedikit, mata birunya mengunci manik mata Elia, seolah sedang mencari sesuatu di baliknya.
Apa yang sedang kau cari? Pikir Elia. Tolong berhenti!
“Kau berbeda,” kata Kenneth akhirnya.
Elia tidak tahu harus menjawab apa.
“Tapi aku tidak percaya kau di sini hanya karena kau sabar atau keras kepala.” Kenneth tidak mengalihkan pandangannya. “Ada sesuatu yang kau sembunyikan.”
Kata-kata itu menusuk tepat di dada Elia. Ia menggigit bagian dalam bibirnya.
“Saya hanya ingin melakukan tugas saya dengan baik,” cicit Elia. Tangannya meremas kain gaunnya seolah kain itu bisa menahan gemetar tubuhnya.
Kenneth maju selangkah lagi, membiarkan dadanya hampir menempel pada Elia. Elia tidak bisa mundur lagi, meja di belakangnya sudah menghalangi sejak tadi.
“Tugas?” bisiknya menyindir, bibirnya tepat bergerak di samping pelipis Elia. “Atau kau punya alasan lain betah di rumah ini?”
Belum sempat Elia menyusun kalimat balasan, sesuatu di dadanya runtuh. Apa… pria ini tau bahwa ia kabur?
Darahnya terasa dingin lalu panas, bergantian dalam satu detik. Tubuhnya gemetar, napasnya memburu oleh kepanikan yang datang tanpa peringatan, dan perubahan itu tidak luput dari mata Kenneth. Alih-alih mundur, tangan kekar sang Earl justru merengkuh pinggang Elia, menariknya makin rapat ke dalam dekapan hingga tak ada celah tersisa di antara mereka. Telapak tangannya hangat di punggung Elia, menekannya dengan lembut tapi tegas.
“Apa yang kau takutkan, Guru?” bisik Kenneth di telinga Elia.
“Saya tidak takut,” jawab Elia. Ia memaksa suaranya terdengar tegas, tapi ujung katanya tetap bergetar tipis,
Mata Kenneth menatapnya lama. “Tidak?”
Di luar, angin malam berbisik di antara pepohonan menerobos masuk melalui celah jendela membuat cahaya lilin bergoyang pelan hingga membuat bayangan mereka menari di dinding.
Lalu satu tangan Kenneth terangkat perlahan, menangkup rahang Elia yang dingin, mengunci tatapan mereka di tengah kekacauan yang bergemuruh di dalam dada Elia sendiri.
“Katakan,” bisik Kenneth dengan suara bergetar dalam, matanya menggelap menatap bibir Elia yang gemetar.
Tubuh Elia menegang.
“Siapa kau sebenarnya?”
Elia menahan napas, tangannya mengepal di sisi tubuh. Rosalind bilang itu? Rosalind bilang itu ke Kenneth?Kenneth mengalihkan pandangannya ke dokumen di meja. “Tapi aku tidak peduli. Itu bukan urusanku.”Elia menunduk. Lega, karena Rosalind belum membocorkan apa pun secara terbuka. Tapi juga bersalah, karena Kenneth sedang berbicara kepadanya tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Pria ini baru saja bilang tidak peduli pada calon istri Blackthorne, dengan Elia berdiri tepat di depannya, hanya beberapa langkah dari kejujuran yang belum sanggup ia ucapkan.Niat Elia untuk mengaku mendadak terasa jauh, seolah kesempatan itu menyusut sedikit demi sedikit setiap detik ia berdiri diam.Kenneth menatapnya lagi. &l
Malam sudah mulai turun ketika Elia berdiri di depan pintu kamar Violet. Ia tidak tahu kenapa ia datang ke sini dulu, sebelum memutuskan apa pun dan melakukan apa pun. Mungkin karena kalau ia tidak melakukannya sekarang, ia tidak akan pernah punya kesempatan lagi.Ia mengetuk pelan. Suara Violet terdengar dari dalam, dan pintu dibuka.“Guru Hart!”Violet berdiri di depan pintu dengan senyum lebar, menarik Elia masuk, dan mengajaknya duduk di karpet dengan boneka-boneka tersusun di sekelilingnya. “Aku sedang bermain dengan boneka,” katanya, menginformasikan kegiatannya pada Elia dengan bangga.Elia mengangguk sambil mengambil satu boneka, jarinya mengelus rambut wol boneka itu tanpa benar-benar memperhatikannya.
Elia masih memegang kertas potret itu.Rosalind berdiri dua langkah di depannya. Wajahnya tenang, senyumnya yang tipis terpasang sempurna, seolah tidak ada yang lebih menyenangkan baginya selain momen ini.Elia mengangkat kepala. Tenggorokannya kering, tapi ia berhasil membuka mulut. “Apa yang kau inginkan?”Rosalind tertawa pendek, suaranya terdengar sangat tidak menyenangkan. Lalu ia berhenti, menatap Elia. “Aku ingin kau pergi dari kehidupan Kenneth. Dari Mistvale. Selamanya.”Elia tidak bergerak. Pergi dari Mistvale? Meski ia sempat memikirkannya beberapa kali, tetap saja, rasanya sulit untuk benar-benar melangkah pergi. Apa yang akan terjadi pada Violet? Pa
Elia duduk di bangku panjang di ruang makan pelayan. Di depannya ada sepiring makanan yang tidak benar-benar ia makan. Molly duduk di sampingnya, sesekali menyendok makanannya sambil bercerita tentang kegiatan paginya. Thomas di seberang, mendengarkan sambil sesekali mengangguk.Beberapa pelayan lain ikut makan di meja yang sama. Suasana biasa saja, tidak ada yang menatap Elia dengan sinis, tidak ada yang membicarakannya dan tidak ada yang mencurigakan.Dora baru masuk ke ruang makan. Ia mengambil makanannya, lalu sengaja duduk tidak jauh dari Elia.Untuk beberapa menit, tidak ada yang berbicara. Semua menikmati makanan masing-masing. Ujung mata Elia sesekali menangkan gerak-gerik Dora, tapi Dora hanya makan seperti pelayan lain. Lalu setelah Dora menyuap makanannya beberapa kali, ia berhenti dan meletakkan sendokny






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore