LOGINSesampainya di dalam gua, Li Yue langsung duduk mengistirahatkan tubuhnya, melihat sekeliling.
Benar kata Ye Lin, gua ini memang tersembunyi karena pintu masuk gua yang tertutupi oleh rimbunnya dedaunan.
Gua ini juga berbeda dari gua- gua yang ada. Kebanyakan gua itu berada di kaki gunung atau bukit, tapi gua ini berada di bawah tanah datar yang dipijak. Jadi saat masuk tadi Li Yue dan Ye Lin harus berhati-hati karena tempat berpijaknya sedikit curam.
Sembari menunggu Ye Lin yang sedang mengumpulkan kayu kering untuk membakar ubi, Li Yue memikirkan bagaimana nasibnya kelak jika dia berhasil membalaskan dendam Zhang Li Yue.
Apa dia akan kembali ke zamannya atau tetap disini? Seharusnya ia sudah meninggal karena terjatuh kedalam sumur tua, tapi karena doa dari Zhang Li Yue, membuat dia berpindah ke zaman ini, Li Yue pusing memikirkannya.
"Permaisuri," panggil Ye Lin.
Lamunan Li Yue terhenti ketika Ye Lin memanggilnya.
"Ya?" sambil menengok cepat ke arah Ye Lin
"Hamba perhatikan, seharian ini Permaisuri sering melamun, apa yang sedang Permaisuri pikirkan? Apa anda memikirkan Nona Xiu Ran?" tanya Ye Lin penasaran.
"Ya... aku memikirkannya."
"Anda harus mengikhlaskan kepergian Nona Xiu Ran, dan tunggulah sebentar lagi Permaisuri, hamba hanya perlu menyalakan api lalu membakar ubinya."
"Menyalakan api?" tanya Li Yue.
"Ya, Permaisuri."
"Apa yang kau gunakan untuk menyalakan api?" tanya Li Yue lagi.
"Hamba akan menggunakan batu Permaisuri." Ye Lin mengangkat dua buah batu yang digunakannya semalam.
"Jangan memakai itu," ucap Li Yue melarang Ye Lin.
"Tapi Permaisuri, hamba hanya bisa menyalakan api dari batu," kata Ye Lin.
"Biarkan aku yang menyalakan apinya."
"Tapi Permaisuri-"
"Aku saja Ye Lin," ucap Li Yue memotong perkataan Ye Lin.
"Baiklah," patuh Ye Lin lalu pergi mengambil kayu kering yang didapatkannya, dan meletakkannya di depan Li Yue.
Li Yue bangun dari duduknya dan mulai menata kayu - kayu itu agar nanti saat dinyalakan tidak cepat padam, lalu ia mengambil pematik api dari tasnya.
Ye Lin mendekat, ingin melihat benda apa yang dikeluarkan tuannya. "Itu apa Permaisuri? Hamba tidak pernah melihatnya," tanya Ye Lin penasaran.
"Pemantik api," jawab Li Yue singkat.
'Pemantik api?' Batin Ye Lin bingung, lalu memperhatikan lagi benda yang dipegang tuannya.
Ctaak!
Blaarrr!Api langsung keluar dari pemantik api.Ye Lin yang melihat itu hanya bisa menganga takjub. 'Bagaimana bisa api keluar dari benda itu?' Batin Ye lin.
"Wooaaahh!! Itu sungguh luar biasa!" Ujar Ye Lin, mulutnya menganga lebar saking takjubnya.
"Oh ya, darimana Permaisuri mendapatkan pemantik api itu? Seingat hamba, Permaisuri tidak pernah memiliki itu," ucap Ye Lin seraya memiringkan kepalanya bingung.
Mendengar perkataan Ye Lin yang seakan mulai curiga lagi, Li Yue dengan cepat berkata.
"Bukankah sudah aku katakan untuk tidak menanyakan apa saja yang aku gunakan Ye Lin," tegas Li yue.
"Maafkan hamba, Permaisuri. Hamba tidak bermaksud lancang, hamba hanya-"
"Sudahlah," sela Li Yue yang langsung membuat Ye Lin bungkam tidak berani berkutik.
Li Yue mulai mendekatkan pemantik api yang sudah dinyalakannya ke tumpukan kayu yang sudah disusunnya mengerucut, api langsung menjalar dengan cepat membakar kayu-kayu kering tersebut.
"Ubi-ubi itu tidak akan matang dengan sendirinya jika kau hanya menunduk diam Ye Lin."
"Maafkan hamba, Permaisuri, ha-"
"Kau tidak perlu sering-sering meminta maaf, Ye Lin."
"Tapi, Permaisuri, hamba-"
"Cukup, Ye Lin. Diam dan dengarkan aku."
Ye Lin hanya menganggukkan kepalanya patuh.
"Pertama, berhenti memanggilku Permaisuri." Ye Lin yang mulanya ingin menyela urung karena melihat tuannya melototkan mata seperti berkata jangan menyela ucapanku.
"Kedua, jangan memanggil diri sendiri dengan sebutan hamba dan yang terakhir jangan berbicara formal kepadaku, kau mengerti?" ujar Li Yue yang dibalas dengan anggukan dari Ye Lin.
Mendengar seseorang berbicara seperti itu terasa tidak nyaman bagi Li Yue, terlebih saat ia sadar perempuan muda di depannya ini adalah Pelayan Pribadi yang artinya akan menghabiskan banyak waktu bersamanya.
"Jika tidak boleh memanggil dengan sebutan Permaisuri, lalu apa?" Tanya Ye Lin pelan.
"Kau bisa memanggilku Li Yue."
"Tidak, Permaisuri. Itu tidak sopan, bagaimana jika ada orang yang lain yang mendengarnya, hamba pasti akan dihukum."
"Kalau ada orang lain kau bisa memanggilku Permaisuri lagi, tapi jika hanya ada kita berdua kau tidak boleh berbicara formal padaku, paham?" Ujar Li Yue tegas. Setidaknya dengan ini dia tidak terlalu sering mendengar orang menyebut dirinya dengan gelar yang bukan miliknya itu.
"A-aku paham, L-Li Yue."
Li Yue yang mendengarnya tersenyum tipis.
"Ayo cepat bakar ubinya."
"Ya."
Malam itu pun mereka habiskan dengan memakan ubi dan merencanakan apa yang akan dilakukan di esok harinya.
Malam itu, lentera-lentera kertas di sepanjang selasar Istana Zhu baru saja disulut, melemparkan pendar kuning yang bergoyang di lantai kayu. Di dalam paviliunnya yang sunyi, Yue Ning duduk terpaku. Pandangannya tertambat pada selembar gulungan sutra tebal yang tergelar di atas meja rendah.Kain sutra merah, kotak-kotak perhiasan emas lambang kekaisaran Zhu, dan tata cara penyambutan altar leluhur tersusun rapi yang harus ia pelajari.Pernikahan akan diselenggarakan kurang dari sebulan lagi. Jemari Yue Ning berhenti di atas baris kuas paling bawah, tempat dua nama bersanding erat sebagai penguasa baru wilayah ini, Feng Huang Ji dan Zhu Yue Ning.Yue Ning memejamkan mata, menghembuskan napas panjang. Kejadian di aula pertemuan tadi pagi kembali berputar di kepalanya. Tepat saat itu, suara langkah kaki yang santai nam
_o0o_Atmosfer di aula utama Istana Zhu yang dialihfungsikan menjadi ruang pertemuan sementara terasa begitu kaku, dipenuhi oleh gumaman rendah para pejabat. Sebagian besar adalah menteri lama Zhu yang memilih tunduk demi keselamatan keluarga, sementara sisanya adalah pejabat utusan kekaisaran Feng yang dikirim untuk mengawasi masa transisi.Yue Ning duduk di kursi kayu berukir di sisi kanan Huang Ji. Punggungnya ditarik lurus sempurna, sepasang tangannya tersusun rapi di atas lutut. Namun, di balik lipatan lengan kainnya yang lebar, jemarinya saling meremas satu sama lain. Ini adalah rapat formal pertama yang ia hadiri, dan ia bisa merasakan ratusan pasang mata di bawah sana sedang menguliti sosoknya dengan tatapan meragu, penasaran, bahkan ketidaksukaan yang terang-terangan."...dengan demikian, pasokan gandum unt
Yue Ning terdiam selama beberapa detik. Tatapannya bertemu dengan binar jenaka di mata pangeran Feng itu. Perlahan, otot-otot wajahnya yang kaku mengendur. Sudut bibirnya berkedut naik, membentuk lengkungan tipis yang sangat samar, namun tidak lolos dari tangkapan mata Huang Ji.Huang Ji menggeser cangkir hangat itu hingga menyentuh ujung jari Yue Ning. "Minum."Yue Ning mengangkat cangkir itu dengan kedua tangan. Saat keramik itu terangkat, Huang Ji menangkap getaran halus yang menjalar di pergelangan tangan sang gadis. Sisa-sisa ketegangan dari pelajaran pertama dalam hidupnya baru merembes keluar sekarang, bermanifestasi dalam jemari yang gemetar samar.Huang Ji tidak berkomentar apa-apa tentang getaran itu. Ia hanya memperhatikan dalam diam sampai Yue Ning menurunkan kembali cangkirnya yang kini kosong setengah.
Mereka berjalan lebih jauh hingga langkah kaki terhenti di bawah pohon plum putih yang paling besar. Kelopaknya berguguran seperti serpihan salju lambat. Yue Ning mengulurkan sebelah tangannya yang bebas dari kain jubah, membiarkan satu kelopak putih mendarat tepat di tengah telapak tangannya. Matanya mengikuti setiap bunga yang jatuh tanpa berkedip."Di kediaman Komandan Chao tidak ada bunga plum?" tanya Huang Ji, teringat bahwa gadis ini menghabiskan waktu bertahun-tahun di kediaman sang kakek."Ada." Yue Ning membalik telapak tangannya, membiarkan kelopak itu jatuh ditiup angin sore. "Tapi saya jarang bisa melihatnya."Huang Ji terdiam. Kalimat itu adalah pengingat pahit tentang apa yang dialami Yue Ning sebelum dinasti ini runtuh. Di atas mereka, ranting-ranting pohon berderit pelan menyapa angin dingin. Akhirny
_o0o_Udara awal musim semi di Istana kekaisaran Zhu masih menyisakan gigitan embun beku yang menembus sela-sela lantai kayu. Ketika pelayan paviliun timur menggeser pintu dengan kepala nyaris menyentuh lantai, Huang Ji melangkah masuk ke dalam ruangan yang terasa terlalu sunyi bagi sebuah tempat yang kini menjadi pusat kendali wilayah yang rapuh.Calon istrinya, Yue Ning berada di sana. Seberkas cahaya sore menerobos dari kisi-kisi kayu, menyinari lembaran kertas yang terbuka di meja rendah. Sinar itu turut menyoroti jemari Yue Ning yang membeku di sudut halaman kertas."Pangeran Huang Ji."Yue Ning tersentak berdiri ketika menyadari ada seseorang di pintu. Gerakannya yang terlampau mendadak itu membuat ujung lengan bajunya menyapu cangkir teh. Bunyi gesekan keramik di
Li Yue tertawa kecil, Ibu Suri menggeleng sambil tersenyum, sementara Yue Ning yang sama sekali tidak tahu sedang jadi bahan pembicaraan mengambil langkah mendekati mereka setelah selesai menyapa Li Yue.Saat Yue Ning mendekat, Lu Si mendadak berubah sikap, ia langsung berdiri tegap dengan pose putri yang anggun.Huang Ji memelototinya. "Oh, jadi sekarang kau ingat bagaimana caranya bersikap sopan?"Lu Si melirik samping. "Tentu saja. Aku punya citra yang harus kujaga. Tidak seperti seseorang yang dari tadi menatap calon istrinya seperti kucing kelaparan melihat ikan.""Aku tidak—!!!!" Huang Ji hampir memprotes, tapi Yue Ning sudah cukup dekat untuk mendengar.Keduanya langsung diam.







