Share

Chapter. 5

Author: Vanilatte733
last update publish date: 2026-06-17 17:30:35

Setelah arwah Zhang Li Yue pergi, Li Yue langsung mencari jasad Zhang Xiu Ran, adiknya Zhang Li Yue, dan jasadnya berada tidak jauh dari jasad Zhang Li Yue.

Dengan susah payah Li Yue membawa jasad Zhang Xiu Ran dan meletakkannya di dekat Zhang Li Yue, kemudian menggali tanah dan mengubur kedua kakak beradik itu.

"Semoga kalian tenang disana, aku akan membalas semua ketidakadilan yang kalian dapatkan, aku berjanji," ucap Li Yue setelah memberi penghormatan terakhir, lalu pergi mencari jalan ke danau tempat pelayan Zhang Li Yue menunggu.

Tidak mudah mencari jalan keluar di hutan yang lebat ini, terkadang Li Yue bertemu dengan anjing liar, tapi dengan satu tangan dan sebuah belati dia dengan mudah mengalahkannya, beruntung hanya anjing liar yang dia temui, bukan sang raja hutan.

Li Yue juga beruntung, selama perjalanan dia menemukan beberapa tanaman herbal yang sulit didapatkan tapi sangat bermanfaat.

Li Yue juga menemukan tanaman beracun hemlock, bunganya berwarna putih berukuran kecil, sering dianggap bunga liar, tapi sebenarnya mematikan, dapat mengganggu sistem pernapasan bahkan bisa menghilangkan nyawa.

Dulu pada zamannya, Li Yue selalu meminta tanaman tersebut dari para pekebun, karena para pekebun menganggapnya hanyalah tanaman liar.

Li Yue kira tanaman ini tidak ada pada zaman ini tapi ternyata dia salah, Li Yue mengambil secukupnya lalu meletakkannya di kotak kecil, bersama dengan tanaman beracun lainnya yang ia bawa.

Setelah lama berjalan, akhirnya Li Yue sampai di danau tempat tujuannya. Ternyata danaunya lebih luas dari perkiraannya, dan tugasnya sekarang adalah mencari Ye Lin, pelayan setia Zhang Li Yue.

Li Yue mulai mencari, berjalan di sekitar danau sambil berteriak, memanggil nama Ye Lin.

"Ye Lin! Ye Lin! Kau dimana, ini aku!" Li Yue berteriak berharap Ye Lin mendengar dan segera ke tempatnya.

Tak lama kemudian, terdengar sebuah suara lain yang menyahut.

"Permaisuri! Permaisuri!! Ini hamba, Ye Lin. Anda dimana, Permaisuri?" teriak suara itu.

Mendengar kata Permaisuri dari suara yang tidak jauh di depannya, Li Yue berlari mendekati suara itu, ternyata suara itu berasal dari gadis yang lebih kecil darinya.

"Ye Lin!" seru Li Yue, membuat Ye Lin menoleh ke belakang.

"Pe-Permaisuri? I-ini sungguh-sungguh anda kan?" tanya Ye Lin terbata-bata, saat sampai di depan Li Yue.

Sebelum Li Yue berhasil menjawab pertanyaan Ye Lin, tanpa aba-aba Ye Lin langsung memeluk Li Yue erat.

"Akhhh!" seru Li Yue, membuat Ye Lin langsung melepaskan pelukannya.

"Astaga, anda terluka Permaisuri! Maafkan hamba, hamba tidak tahu," ucap Ye Lin tatkala melihat sebuah luka gores yang memanjang di lengan Li Yue.

"Aku tidak apa - apa Ye Lin," ucap Li Yue.

"Apa maksud anda dengan tidak apa - apa Permaisuri? Bagaimana jika luka anda membesar dan meninggalkan bekas?" ujar Ye Lin panik.

"Ini hanya luka kecil, dari pada kau terus mengoceh dengan tidak jelas, lebih baik kau ambilkan aku air bersih untuk membersihkan luka ini," kata Li Yue seraya meringis karena lukanya kembali mengeluarkan darah.

Ye Lin yang mendapat teguran dan perintah dari tuannya itu segera meminta maaf.

"Maaf karena hamba, telah lancang, Permaisuri," ucap Ye Lin, lalu pergi ke danau untuk mengambil air seperti perintah Li Yue.

"Ini airnya, Permaisuri," kata Ye Lin seraya menyerahkan air diambilnya dengan daun besar kepada Li Yue.

"Hm, Ye Lin. Ambilkan aku daun yang tumbuh di dekat batu itu, sebelumnya cuci terlebih dahulu sampai bersih," perintah Li Yue.

Tadi dia tidak sengaja melihat sekeliling dan menemukan tanaman yang dapat menyembuhkan lukanya. Tanpa diperintah dua kali, Ye Lin langsung pergi mengambil daun yang ditunjuk Li Yue, mengambil segenggaman lalu kembali pada Li Yue.

"Untuk apa daun-daun ini, Permaisuri?" tanya Ye Lin bingung.

"Obat," jawab Li Yue singkat, lalu membuka tasnya dan mengambil salah satu tanaman kering yang ada dengan satu tangannya yang tidak terluka.

"Bisa kau tumbuk daun itu lalu campurkan dengan ini? " ucap Li Yue sambil menyerahkan beberapa tanaman kering yang tadi diambilnya.

"Tentu, Permaisuri." Ye Lin menerima tanaman dari Li Yue kemudian pergi mencari batu yang cocok untuk digunakan sebagai alat menumbuk.

Sembari menunggu Ye Lin selesai, Li Yue merenung, merencanakan bagaimana cara cepat untuk membalaskan dendam Zhang Li Yue.

Dia tidak mungkin langsung membunuh Liu Ri yang merupakan Selir kesayangan dari Kaisar Feng, belum lagi ayah Liu Ri yang merupakan Perdana Menteri di kekaisaran Feng.

Li Yue harus merencanakannya dengan matang - matang agar semuanya berjalan dengan lancar.

"Permaisuri," panggil Ye Lin yang langsung membuyarkan lamunan Li Yue.

"Iya, ada apa?"

"Ini daun yang sudah hamba tumbuk tadi, Permaisuri," ucap Ye Lin lalu menyerahkan hasil tumbukannya kepada Li Yue.

Li Yue menerimanya dan langsung membubuhkannya di atas luka gores yang ada di lengannya.

Ye Lin hanya diam memperhatikan tuannya yang kini sedang mengoleskan daun yang tadi di tumbuknya ke luka gores memanjang itu.

"Permaisuri," ucap Ye Lin memecahkan keheningan yang ada.

"Apa?" jawab Li Yue singkat.

"Maaf jika membuat Permaisuri tersinggung. Tapi, pakaian apa yang anda gunakan. Permaisuri? Kenapa sangat terbuka dan benda apa yang ada di punggung anda?" tanya Ye Lin bingung.

Pakaian itu sungguh tidak sopan dan benda yang di punggung Permaisurinya itu seperti tas. Tapi tas itu disampirkan di pinggang, seperti itu pikiran Ye Lin melihat penampilan Li Yue.

"Apapun yang aku gunakan tak perlu kau pikirkan. Apa kau curiga ini bukan? Kau masih mengingat bagaimana wajahku, kan?" tanya Li Yue gegabah karena khawatir rahasianya akan cepat terbongkar.

"Tentu tidak, Permaisuri. Hamba masih ingat dengan jelas wajah, Permaisuri," ucap Ye Lin yakin.

"Tapi, Permaisuri. Dimana Nona Xiu Ran? Sedari tadi hamba tidak melihatnya," tanya Ye Lin seraya memutar kepalanya ke berbagai arah.

"Xiu Ran tidak selamat, dia terjatuh di jurang. Aku menemukan jasadnya lalu menguburkannya," 'dan juga Permaisurimu,' lanjut Li Yue dalam hati.

"Ya dewa, semoga Nona Xiu Ran tenang di nirwana," doa Ye lin tulus. "Anda harus kuat, Permaisuri."

"Tentu," jawab Li Yue singkat lalu melanjutkan kegiatannya mengoles obat.

"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Permaisuri?" ucap Ye Lin.

"Maksudmu?" tanya Li Yue tidak mengerti.

"Semua harta dan barang-barang yang kita bawa sudah dirampas oleh para bandit. Sedangkan yang bisa hamba selamatkan hanya sekotak kecil perhiasan, Permaisuri,"ucap Ye Lin yang membuat Li Yue paham.

"Semalam dimana tempat kau bersembunyi?" tanya Li Yue.

"Hamba bersembunyi di sebuah gua yang tidak jauh dari sini. Letaknya tersembunyi jadi aman untuk kita beristirahat disana," jelas Ye Lin.

"Ya sudah, untuk hari ini kita akan bermalam disana. Sebelum itu kita harus mencari sesuatu dulu untuk dimakan," putus Li Yue

"Tidak perlu, Permaisuri. Di mulut gua ada umbi-umbian yang hamba makan kemarin, dan masih tersisa banyak," kata Ye Lin

"Baiklah, kalau begitu tunjukkan jalan," ucap Li Yue.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 100

    _o0o_"Ayahanda tidak datang?"Gelengan kepala Xiu Meng seakan menjawab pertanyaan yang dilontarkan Feng Wu Lan."Ayahanda pasti lelah karena baru saja datang," monolog Feng Wu Lan menghibur dirinya sendiri.Tak ingin sang Pangeran sedih terlalu lama, Xiu Meng segera meminta seorang pelayan untuk mengambil hadiah yang sudah ia siapkan."Ibu memiliki hadiah spesial untukmu.""Apa itu, Ibu?"

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 99

    Di taman yang rindang, Xiu Meng menuntun Feng Wu Lan untuk membuat gelang seperti keinginan bocah kecil itu. "Susah sekali, Ibu!"Xiu Meng menghela napas. Ia sudah tahu hal ini akan terjadi. "Sudah, Ibu katakan, masukkan manik-maniknya satu per satu. Kalau kau ingin menambahkan hiasan tambahan, masukkan sedikit saja. Setelah itu, tutup kembali dengan manik biru ini. Saat kau merasa itu sudah cukup, ikat benangnya." Xiu Meng menunjukkan gelang hasil buatannya kepada Feng Wu Lan."Kau merawat anak ini dengan baik, huh." Xiu Meng melarikan pandangannya ke depan. Di sana berdiri seorang yang dipuji-puji belakangan ini di istana."Ada apa kau ke mari, Menteri Xi?" Tangannya diangkat, mengisyaratkan untuk pelayan mendekat."Bawa Pangeran pergi dan temani dia membuat gela

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 98

    _o0o_Suasana di istana sangat ricuh karena teriakan kesakitan Permaisuri. Xiu Meng yang baru saja tertidur langsung bangun dan berlari saat mendengar kabar Permaisuri yang kesakitan."Apa yang terjadi, Perdana Menteri?! Apa yang terjadi pada Permaisuri. Apa yang terjadi pada sahabatku?!" amuk Xiu Meng seraya mencengkeram baju Huo Gui."Selir Utama, tenangkan diri anda. Saat ini para tabib istana sedang berjuang menyelamatkan Permaisuri dan bayinya."Xiu Meng melepaskan cengkeramannya, tubuhnya meluruh lemas saat men

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 97

    c_o0o_Hari berganti dan matahari sudah menampakkan dirinya pagi ini. Xiu Meng dan Xiao Lan berada di gazebo dengan kolam ikan di bawahnya. Kali ini Xiu Meng berinisiatif untuk membawa sahabatnya menghirup udara segar setelah beberapa hari diam di kamar karena sakit yang diderita."Tidak ada yang kau inginkan lagi?" tanya Xiu Meng pada Xiao Lan."Tidak," ucap Xiao Lan. "Terima kasih sudah mengajakku ke mari.""Kau tidak perlu berterima kasih. Ingat dulu kita pernah berjanji untuk saling me

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 96

    Kondisi utusan pengiriman surat yang dulu ia tugaskan menjadi jawabannya. Utusan itu terlihat naas dengan beberapa luka lebam di sekujur tubuh dan darah kering yang menempel di luka-luka kecil utusan itu.Di badan utusan itu, terselip sebuah kertas yang berisi penolakan damai dan perintah dari Kekaisaran Zhu agar Kekaisaran Feng menyerahkan Pegunungan Huashan secara sukarela. Jika tidak, maka Kekaisaran Zhu akan menyerang kembali dengan kekuatan yang lebih besar.Sontak Kaisar dan seluruh Menterinya dibuat marah dengan tindakan Kekaisaran Zhu. Tanpa perlu menunggu, perintah perang langsung diturunkan.Beratus ribu pasukan dipimpin jenderal terbaik diutus untuk mengalahkan Kekaisaran Zhu. Perdamaian yang sudah ada bertahun-tahun kini sudah selesai. Pertumpahan darah tak dapat dihindari.

  • Kebangkitan Kembali Sang Phoenix   Chapter. 95

    _o0o_Waktu terus berjalan. Kandungan dari istri pertama Kaisar Feng sudah mulai membesar karena sudah memasuki bulan kelima. Dalam kurun waktu itu, tidak sedikit kejadian yang terjadi. Mulai dari kedatangan selir kedua, menurunnya reputasi keluarga Chen karena rumor penyelewengan dana yang dilakukan kembali muncul, serta serangan yang tiba-tiba dilancarkan oleh kelompok misterius di perbatasan utara Kekaisaran Feng.Kedatangan selir kedua mulanya ingin dicegah oleh Lian Gu karena menurutnya ia tidak lagi membutuhkan wanita lain untuk mengandung pewaris. Keinginannya tidak dapat terlaks

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status