LOGIN_o0o_
'Menunggu' adalah kegiatan yang paling dibenci Li Yue.
Saat ini Li Yue ada di pinggir hutan, dia sedang menunggu Ye lin yang pergi ke pasar membelikannya sebuah pakaian untuk dipakai sementara waktu.
Li Yue tidak ingin menjadi pusat perhatian karena pakaiannya yang tidak sesuai dengan zaman ini. Karena itu, semalam dia memerintahkan Ye Lin untuk membelikannya sebuah pakaian.
Duduk menyelonjorkan kaki sambil bersandar di salah satu pohon besar, dan menghela nafas kasar, itulah kegiatan yang dilakukan Li Yue ketika menunggu.
Derap langkah kaki terdengar, membuat Li Yue waspada. Dengan cepat dia mengeluarkan belati kecil yang diselipkan di pinggang rampingnya. Langkah kaki itu kian mendekat, Li Yue bersikap tenang untuk mengelabui orang yang ada di belakangnya.
Sebuah tangan terjulur di belakang, hendak menyentuh bahunya. Dengan cepat Li Yue mencengkeram lalu memelintir tangan itu.
"Aakkhh!"
"Siapa ka– Ye Lin?!" Li Yue terkejut, Li Yue kira itu bukanlah Ye Lin, tapi perampok atau bandit.
"Kenapa mengendap-endap?"
"Sebelum menjawab, bisakah melepaskan ini," pinta Ye Lin kesakitan karena Li Yue belum melepaskan cengkeramannya.
"Oh maaf."
Dengan cepat Li Yue melepaskan cengkeramannya. Ye Lin langsung mengusap pergelangan tangannya yang memerah. Sakit, itulah yang dirasakan Ye Lin.
Li Yue menatap ngeri pergelangan tangan Ye Lin yang memerah karena perbuatannya. Jangan salahkan Li Yue, sejak kecil dia selalu diajarkan waspada, tidak boleh lengah sedikitpun oleh ayah angkatnya.
"Ini." Ye lin menyodorkan bungkusan kain yang dibawanya kepada Li Yue.
"Terima kasih." Li Yue membukanya, dilihatnya sebuah pakaian dan sandal sederhana yang akan dipakainya sementara.
"Aku akan memakainya, kau bisa menungguku di sana, jangan mengintip."
"Baiklah." Ye Lin berjalan menjauh, menuruti perintah tuannya. Tak lama Li Yue keluar dengan pakaian yang dibawa Ye Lin, tasnya ia simpan di kain yang tadi digunakan sebagai pembungkus pakaian.
"Pakaian apa yang kau berikan padaku Ye Lin, lengan panjang dan rok, apa tidak ada celana?" Gerutu Li Yue
"Wanita yang sudah menikah, tidak pantas jika hanya menggunakan celana saat di luar rumah suaminya, Li Yue," nasihat Ye Lin.
Li Yue menatap Ye Lin datar, wanita yang sudah menikah? Ayolah, dekat dengan pria saja tidak pernah.
"Kau akan terus menasihatiku? Kalau begitu aku akan berangkat terlebih dahulu," ucap Li Yue lalu pergi sambil melambaikan tangan.
Sadar bahwa tuannya sudah jauh meninggalkannya, Ye Lin berlari menyusul Li Yue.
"Tunggu!"
_o0o_
"Ramai sekali," gumam Li Yue takjub. Suara ribut dari teriakan para pedagang yang menjajakan barang dagangannya, serta para pembeli yang berusaha menawar harga barang yang ingin dibelinya.
"Kau mengatakan apa?" tanya Ye Lin yang sudah tidak canggung dengan Li Yue.
"Eung, tidak ada."
"Baiklah. Oh ya, kita akan kembali ke istana dengan cara menumpang di kereta itu," tunjuk Ye Lin ke rombongan kereta yang mengangkut banyak barang.
"Aku sudah berbicara kepada pemiliknya, dan dia mengizinkan," sambung Ye Lin.
Mereka berjalan mendekat ke arah pria setengah baya yang terlihat mengatur orang-orang yang memikul barang yang akan dibawanya.
"Permisi," ucap Ye Lin, menepuk pundak pria itu.
"Ah, kau adalah orang yang tadi ingin menumpang di keretaku, bukan?" tanya pria itu.
"Ya, Tuan. Anda benar. Dan perkenalkan, ini adalah Nonaku."
"Nona Yuan Lin, aku sudah mendengar cerita dari pelayanmu tentang kau yang telah dirampok di hutan."
Ucapan pria yang ada di depannya ini membuat Li Yue menaikkan alis, 'Yuan Lin'. Li Yue dengan cepat menoleh ke Ye Lin, melihat Ye Lin yang mengedipkan sebelah mata membuat Li Yue mengerti, identitas Zhang Li Yue yang merupakan Permaisuri tidak boleh diketahui oleh sembarang orang.
"Anda benar Tuan…?"
"Dong Lan, nama saya adalah Dong Lan Nona."
"Anda benar, Tuan Dong Lan. Saat perjalanan saya dihadang oleh perampok, mereka mengambil semua harta yang saya bawa. Beruntung saya dan pelayan saya berhasil melarikan diri," ucap Li Yue. Dia tidak sepenuhnya berbohong. Zhang Li Yue dan rombongannya memang dihadang oleh perampok.
"Saya turut berduka, Nona."
"Terima kasih, Tuan Dong Lan, dan maaf kami tidak memiliki uang yang banyak untuk membayar tumpangannya."
"Tidak masalah, Nona Yuan Lin. Saya ikhlas menolong Anda."
"Anda baik sekali, Tuan Dong Lan. Sekali lagi terima kasih," ucap Li Yue tulus.
"Sama-sama. Sebentar lagi kita akan berangkat. Anak saya akan menunjukkan kereta mana yang akan kalian tumpangi. Dong Ju! Kemari!" teriak Tuan Dong Lan memanggil anaknya.
Seorang pria bertubuh tinggi berjalan mendekat. "Ya, ayah," ucap Dong Ju saat tiba di depan mereka.
"Kenalkan, ini adalah putraku, Dong Ju. Dong Ju ini Nona Yuan Lin dan pelayannya. Bisakah kau menunjukkan kereta mana yang akan ditumpangi oleh mereka," ucap Tuan Dong Ju memperkenalkan putranya kepada Li Yue dan Ye Lin.
"Ya, ayah. Mari Nona."
Li Yue dan Ye Lin mengangguk lalu mengikuti langkah Dong Ju. Selama perjalanan mereka, hanya keheningan yang menemani.
"Apa Anda ingin ke ibu kota?" Tanya Dong Ju basa-basi, memecahkan keheningan yang ada.
"Bukankah Anda sudah mengetahuinya." Jawaban yang Li Yue ucapkan membuat Dong Ju salah tingkah.
"Ah, maaf, saya hanya ingin agar suasananya tidak canggung. Tapi ternyata itu mengganggu Anda, sekali lagi maaf," ucap Dong Ju sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kenapa harus meminta maaf?"
"Ah, tidak harus ya, hahaha." Dong Ju tertawa kaku. Astaga, dia malu sekali.
"Pffth, hahaha," tawa renyah Li Yue pecah melihat tingkah konyol Dong Ju.
Mendengar suara tawa dari Li Yue membuat jantung Dong Ju berdetak lebih cepat dari biasanya. Dong Ju menatap Li Yue lekat, wajahnya yang putih cerah, matanya yang bulat, hidung mungil tapi mancung dan jangan lupakan bibir kecil penuhnya.
"Tuan!" sentak Ye lin membuyarkan lamunan Dong jun.
"I-iya, ada apa."
"Anda tidak apa - apa?"
"Apa?" tanya Dong Ju tidak mengerti.
"Sejak tadi, Nona, saya bertanya kereta mana yang akan kami tumpangi, tapi Tuan tidak menjawab."
"O-oh, maaf t-tadi saya sedikit pusing."
Ye Lin hanya mengangguk, pura-pura tidak tahu yang sebenarnya bahwa Dong Ju tidaklah pusing, tapi terpesona akan nonanya.
"Ini kereta yang akan kalian tumpangi. Waktu perjalanan yang kita tempuh tidak terlalu lama, hanya 2 hari. Saya permisi pergi. Semoga kalian nyaman." Dong Ju pamit pergi meninggalkan Li Yue dan Ye Lin bersama rombongan kereta yang akan membawanya ke tempat di mana Zhang Li Yue tinggal.
"Kau ingin masuk sekarang, Li Yue?" Pertanyaan Ye Lin dijawab dengan anggukan kepala dari Li Yue. Tak lama, Li Yue menyusul Ye Lin yang sudah masuk ke kereta.
_o0o_
Malam itu, lentera-lentera kertas di sepanjang selasar Istana Zhu baru saja disulut, melemparkan pendar kuning yang bergoyang di lantai kayu. Di dalam paviliunnya yang sunyi, Yue Ning duduk terpaku. Pandangannya tertambat pada selembar gulungan sutra tebal yang tergelar di atas meja rendah.Kain sutra merah, kotak-kotak perhiasan emas lambang kekaisaran Zhu, dan tata cara penyambutan altar leluhur tersusun rapi yang harus ia pelajari.Pernikahan akan diselenggarakan kurang dari sebulan lagi. Jemari Yue Ning berhenti di atas baris kuas paling bawah, tempat dua nama bersanding erat sebagai penguasa baru wilayah ini, Feng Huang Ji dan Zhu Yue Ning.Yue Ning memejamkan mata, menghembuskan napas panjang. Kejadian di aula pertemuan tadi pagi kembali berputar di kepalanya. Tepat saat itu, suara langkah kaki yang santai nam
_o0o_Atmosfer di aula utama Istana Zhu yang dialihfungsikan menjadi ruang pertemuan sementara terasa begitu kaku, dipenuhi oleh gumaman rendah para pejabat. Sebagian besar adalah menteri lama Zhu yang memilih tunduk demi keselamatan keluarga, sementara sisanya adalah pejabat utusan kekaisaran Feng yang dikirim untuk mengawasi masa transisi.Yue Ning duduk di kursi kayu berukir di sisi kanan Huang Ji. Punggungnya ditarik lurus sempurna, sepasang tangannya tersusun rapi di atas lutut. Namun, di balik lipatan lengan kainnya yang lebar, jemarinya saling meremas satu sama lain. Ini adalah rapat formal pertama yang ia hadiri, dan ia bisa merasakan ratusan pasang mata di bawah sana sedang menguliti sosoknya dengan tatapan meragu, penasaran, bahkan ketidaksukaan yang terang-terangan."...dengan demikian, pasokan gandum unt
Yue Ning terdiam selama beberapa detik. Tatapannya bertemu dengan binar jenaka di mata pangeran Feng itu. Perlahan, otot-otot wajahnya yang kaku mengendur. Sudut bibirnya berkedut naik, membentuk lengkungan tipis yang sangat samar, namun tidak lolos dari tangkapan mata Huang Ji.Huang Ji menggeser cangkir hangat itu hingga menyentuh ujung jari Yue Ning. "Minum."Yue Ning mengangkat cangkir itu dengan kedua tangan. Saat keramik itu terangkat, Huang Ji menangkap getaran halus yang menjalar di pergelangan tangan sang gadis. Sisa-sisa ketegangan dari pelajaran pertama dalam hidupnya baru merembes keluar sekarang, bermanifestasi dalam jemari yang gemetar samar.Huang Ji tidak berkomentar apa-apa tentang getaran itu. Ia hanya memperhatikan dalam diam sampai Yue Ning menurunkan kembali cangkirnya yang kini kosong setengah.
Mereka berjalan lebih jauh hingga langkah kaki terhenti di bawah pohon plum putih yang paling besar. Kelopaknya berguguran seperti serpihan salju lambat. Yue Ning mengulurkan sebelah tangannya yang bebas dari kain jubah, membiarkan satu kelopak putih mendarat tepat di tengah telapak tangannya. Matanya mengikuti setiap bunga yang jatuh tanpa berkedip."Di kediaman Komandan Chao tidak ada bunga plum?" tanya Huang Ji, teringat bahwa gadis ini menghabiskan waktu bertahun-tahun di kediaman sang kakek."Ada." Yue Ning membalik telapak tangannya, membiarkan kelopak itu jatuh ditiup angin sore. "Tapi saya jarang bisa melihatnya."Huang Ji terdiam. Kalimat itu adalah pengingat pahit tentang apa yang dialami Yue Ning sebelum dinasti ini runtuh. Di atas mereka, ranting-ranting pohon berderit pelan menyapa angin dingin. Akhirny
_o0o_Udara awal musim semi di Istana kekaisaran Zhu masih menyisakan gigitan embun beku yang menembus sela-sela lantai kayu. Ketika pelayan paviliun timur menggeser pintu dengan kepala nyaris menyentuh lantai, Huang Ji melangkah masuk ke dalam ruangan yang terasa terlalu sunyi bagi sebuah tempat yang kini menjadi pusat kendali wilayah yang rapuh.Calon istrinya, Yue Ning berada di sana. Seberkas cahaya sore menerobos dari kisi-kisi kayu, menyinari lembaran kertas yang terbuka di meja rendah. Sinar itu turut menyoroti jemari Yue Ning yang membeku di sudut halaman kertas."Pangeran Huang Ji."Yue Ning tersentak berdiri ketika menyadari ada seseorang di pintu. Gerakannya yang terlampau mendadak itu membuat ujung lengan bajunya menyapu cangkir teh. Bunyi gesekan keramik di
Li Yue tertawa kecil, Ibu Suri menggeleng sambil tersenyum, sementara Yue Ning yang sama sekali tidak tahu sedang jadi bahan pembicaraan mengambil langkah mendekati mereka setelah selesai menyapa Li Yue.Saat Yue Ning mendekat, Lu Si mendadak berubah sikap, ia langsung berdiri tegap dengan pose putri yang anggun.Huang Ji memelototinya. "Oh, jadi sekarang kau ingat bagaimana caranya bersikap sopan?"Lu Si melirik samping. "Tentu saja. Aku punya citra yang harus kujaga. Tidak seperti seseorang yang dari tadi menatap calon istrinya seperti kucing kelaparan melihat ikan.""Aku tidak—!!!!" Huang Ji hampir memprotes, tapi Yue Ning sudah cukup dekat untuk mendengar.Keduanya langsung diam.







