LOGINMenghadapi tatapan Zisel, entah mengapa hati Laura tiba-tiba terasa perih. Dia diam-diam menundukkan kepala.Jimmy menoleh ke arah Howard dan bertanya, "Kalian masih butuh orang untuk lanjut membahas investasi?""Butuh, butuh!" Howard langsung mengangguk berulang kali."Bukannya kamu bilang ini nggak penting?" tanya Jimmy sambil tersenyum."Penting, mana mungkin nggak penting?" Howard tersenyum canggung, lalu menjelaskan, "Tadi aku hanya ingin sedikit mengabaikan si Leonel itu, supaya pihak mereka nggak meminta harga yang terlalu tinggi ...."Tidak penting? Itu jelas omong kosong! Itu dana triliunan!"Baiklah."Jimmy tersenyum tipis, "Nanti aku sampaikan ke Barry.""Terima kasih, Pak Jimmy!" Howard berkali-kali mengucapkan terima kasih, lalu bertanya dengan hati-hati, "Pak Jimmy, hubungan Bapak dengan Dewa Rezeki itu ....""Cuma kenalan." Jimmy tersenyum tipis, tidak menjelaskan lebih lanjut.Cuma kenalan? Kalau hanya kenal biasa, apa orang itu akan sepatuh itu sama perintah Jimmy?Mes
Jimmy menggeleng sambil tersenyum, "Begitu kelakuanmu hari ini tersebar, kamu nggak akan bisa bertahan di industri investasi!"Jimmy memang tidak tertarik dengan urusan bisnis. Namun, bukan berarti dia tidak mengerti sama sekali. Di dunia investasi, perilaku seperti Leonel adalah pantangan besar.Siapa pun yang memegang dana dalam jumlah besar di perusahaan investasi, jika keputusan investasi didasarkan pada preferensi pribadinya, sebanyak apa pun uangnya akan habis tak bersisa."Nggak usah sok hebat di sini!" Leonel mendengus dingin. "Kalau mampu, buat saja aku nggak bisa bertahan di industri investasi!""Seperti yang kamu inginkan!"Jimmy kembali mengangkat ponselnya dan menelepon sebuah nomor, "Sampaikan ke Barry, buat Leonel nggak bisa bertahan di industri investasi!""Baik!" Suara dari seberang langsung menerima perintah.Leonel sama sekali tidak menganggapnya serius. Sekalipun Jimmy mengenal para raksasa modal dalam negeri, lalu kenapa? Dia akan berkembang di luar negeri! Apa par
Kamu dipecat?Mendengar kata-kata Jimmy, semua orang langsung tertegun. Bahkan Zisel pun menatap Jimmy dengan bingung.'Kak! Sudah cukup! Ini sudah kelewatan! Dia itu dari Titan Capital, memangnya kamu siapa sampai bisa memecatnya? Kamu kira kamu bos besar Titan Capital?'"Kamu memecatku?"Leonel tertawa, "Kamu ini siapa? Coba saja pecat aku kalau memang bisa!""Baik!"Jimmy langsung mengangkat ponselnya dan menelepon sebuah nomor, lalu berkata dengan tegas, "Sampaikan ke Barry, pecat Leonel, dan jangan pernah dipakai lagi!"Barry, yang dikenal sebagai "Dewa Rezeki". Dia mengelola seluruh aset Sekte Bayangan, karena itu mendapat julukan tersebut."Baik!" Pihak di seberang langsung menjawab, lalu segera menutup telepon."Oh, pura-pura serius juga ya?" Leonel mencibir dan sama sekali tidak menganggapnya serius, "Kamu mungkin belum tahu, aku direkrut langsung sama ketua Titan Capital dari luar negeri! Kamu ... mau memecatku?"Jimmy menggeleng ringan, lalu berkata tegas, "Kalau ketua kalia
Jika memang benar Howard yang datang, skala seperti ini memang agak berlebihan.Tak lama kemudian, helikopter mendarat di tanah kosong di luar resor. Pintu kabin terbuka, Howard segera turun dari helikopter, lalu berlari kecil ke arah sini.Ternyata benar, itu Howard!Ekspresi semua orang langsung berubah drastis, mata mereka langsung membelalak. Sementara para karyawan Resor Scene malah bersorak dalam hati, masing-masing menunjukkan ekspresi bangga di wajah mereka.Entah seberapa banyak uang yang bisa mereka hasilkan dengan mengikuti bos sehebat ini. Namun, yang pasti mereka tidak akan ditindas orang lain! Tidak sampai harus minta maaf meski sudah diperlakukan tidak adil.Howard berlari dengan napas tersengal-sengal. Dia menatap Rigen dan yang lainnya dengan marah, lalu meminta maaf kepada Jimmy dengan penuh rasa bersalah, "Pak Jimmy, benar-benar minta maaf. Ini karena aku kurang tegas mengatur bawahan, sampai merepotkan Bapak ....""Nggak ada hubungannya denganmu." Jimmy menggeleng s
Melihat Rigen yang berlutut di tanah sambil memohon ampun, wajah Leonel langsung berubah-ubah antara pucat dan merah.Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Howard ternyata begitu menghargai Jimmy.Sialan! Dia baru saja bertemu Laura dan sebenarnya ingin menunjukkan kemampuannya di depan Laura, agar Laura mengaguminya. Dengan begitu, Laura pasti akan menjadi miliknya cepat atau lambat.Sekarang, Howard justru membuatnya kehilangan muka seperti ini! Apa dia sudah tidak menginginkan investasi 10 triliun lebih itu?"Sepertinya kamu sang pembawa rezeki juga nggak terlalu penting ya!" Zisel menatap Leonel dengan tatapan mengejek."Aku sudah bilang, jangan terlalu sok hebat. Nanti wajahmu malah bengkak karena ditampar. Tapi kamu nggak mau percaya.""Oh ya?" Leonel mendengus dingin, lalu berkata dengan gigi bergemeletuk, "Justru bagus kalau Howard datang. Aku ingin melihat sendiri, mana yang lebih penting baginya. Investasi triliunan itu atau temannya ini!"Dia tidak percaya Howard akan menyin
"Sepertinya hari ini aku perlu menyadarkan kalian, siapa sebenarnya yang kotoran di sini." Sambil berkata begitu, Leonel mengeluarkan ponselnya dan menelepon Howard.Melihat tindakan Leonel, ekspresi Laura langsung berubah. Dia buru-buru menarik Zisel ke samping dan berbisik pelan, "Dia itu pembawa uang bagi Howard. Dia memegang investasi lebih dari 10 triliun!""Meskipun Jimmy kenal Pak Howard, kalian tetap nggak mampu menyinggungnya! Cepat minta maaf padanya, nanti aku bantu menengahi supaya masalah besar jadi masalah kecil!"Zisel sedikit terkejut, lalu tersenyum sambil menggeleng. "Jimmy memang benar. Kamu sebenarnya nggak punya niat jahat, cuma otakmu saja yang kurang jalan."Dia sama sekali tidak meragukan bahwa Laura memang bermaksud baik pada mereka. Namun, cara berpikir Laura memang tidak terlalu bagus.Dia juga tidak memikirkannya. Kalau Howard benar-benar sangat menghargai Leonel, seberapa sibuk pun dia pasti akan datang sendiri menemani Leonel makan.Sepuluh triliun investa
Sambil berkata demikian, Bisma kembali mengangkat gelas dan menenggak birnya dengan ganas.Jimmy tersenyum dan berkata, "Nggak apa-apa, aku akan cari orang untuk membantu mencarikan sekolah buat anakmu."Bisma adalah perantau yang datang bekerja dari luar daerah. Meski sudah menetap di Bataram, kota
Mengingat peringatan Argani semalam, niat membunuh yang lama terpendam di tubuh Jimmy langsung meledak. Dengan aura pembunuh yang mengerikan, dia bertanya dingin, "Siapa yang menyuruhmu membunuhku?"Pria itu hendak menjawab, tetapi baru saja membuka mulut, darah langsung menyembur dengan deras. Tubu
Larut malam, Yasmin yang sedang terlelap tiba-tiba dibangunkan dengan tergesa-gesa oleh Rubah Perak."Apa? Si Jagal sudah mati?"Begitu mendengar laporan dari Rubah Perak, rasa kantuk Yasmin langsung lenyap. Wajahnya tampak tegang saat dia bertanya, "Bagaimana Si Jagal bisa menyusup ke Bataram? Kena
Apakah Zisel benar-benar ketakutan, atau hanya ingin menumpang tinggal di sini? Padahal dia sudah diberi tahu tentang kondisi Jimmy sekarang, kenapa dia masih tidak punya kesadaran juga?Jimmy menghela napas pelan, lalu berkata dengan serius, "Kalau kamu benar-benar nggak berani pulang sendirian mal







