LOGINBerhubung saat ini masih musim panas, kondisi Edgar tidak terlalu bermasalah.Setelah beristirahat sejenak, mereka bertiga mengangkat gelas ke arah laut untuk bersulang beberapa kali bagi kakeknya, lalu baru pergi.Saat mereka kembali ke Bataram, langit sudah mulai gelap.Baru saja memasuki wilayah Bataram, Edgar langsung memberi instruksi pada cucunya, "Telepon kakakmu, suruh dia datang untuk makan malam bersama."Belum sempat Edward menjawab, Jimmy sudah tersenyum sambil menggeleng, "Sekarang dia kemungkinan masih sibuk sama Yunan, sepertinya nggak punya waktu.""Eh, kok kamu tahu Yunan?" Edward terkejut.Senyum nakal muncul di wajah Jimmy seraya berkata, "Aku yang suruh kakakmu cari masalah sama Yunan, kenapa aku nggak tahu?"Mendengar ucapannya, Edward langsung terpana, lalu berkata dengan penuh semangat, "Gimana caranya? Ajari aku sedikit!"'Ajari? Seberapa inginnya orang ini menjebak kakaknya?'Jimmy menatap Edward dengan geli. "Aku malas menjelaskan, nanti tanya saja langsung ke
Edgar terus batuk, lalu melambaikan tangan dengan lemah.Siku dan lututnya lecet. Namun, melihat dia masih bisa bergerak dengan normal, seharusnya tidak ada masalah besar yang terjadi."Kamu jaga Kakek, aku ambil kotak P3K di mobil!" kata Edward kepada Jimmy, lalu buru-buru berlari ke tempat parkir. Jimmy membantu Edgar duduk di samping, lalu menanyakan apakah ada bagian lain yang terluka."Nggak apa-apa."Setelah merasa baikan, Edgar lalu tersenyum, "Aku ini pernah turun ke medan perang, luka sekecil ini nggak berarti apa-apa."Jimmy menatap Edgar dengan curiga, lalu mengernyit, "Jangan-jangan Bapak sengaja mau nguji aku?""Kamu mikir apaan, sih!" Edgar tersenyum sambil melotot pada Jimmy, "Kalau aku mau mengujimu, nggak perlu mempertaruhkan nyawaku sendiri! Aku bahkan belum sempat melihat cicit, nggak mau mati secepat itu.""Baiklah."Jimmy tersenyum tak berdaya.'Kakek tua ini benar-benar nekat! Dengan tubuh setua ini, malah pergi ke karang. Apa dia mau berdiri di sana sambil berpui
Pagi-pagi keesokan harinya, Jimmy menerima telepon dari Edgar. Dia mengatakan ingin pergi ke pantai untuk berziarah kepada kakek Jimmy. Sekalian minum beberapa gelas di sana.Meskipun Jimmy tahu Edgar hanya ingin mencari kesempatan untuk membujuknya, dia memang tidak bisa menolak dengan alasan seperti ini.Namun yang membuat Jimmy heran, sepanjang perjalanan Edgar malah mengobrol tentang hal-hal seperti budaya dan kebiasaan di Bataram. Edgar sama sekali tidak menyinggung soal pernikahannya dengan Yasmin.Hal ini membuat Jimmy agak bingung dan menebak-nebak apa yang sedang direncanakan orang tua itu. Setelah berkendara beberapa jam sampai di pantai, Edgar meminta Jimmy membawa Edward berjalan-jalan ke tepi pantai, sementara dia ingin berbicara sendiri dengan kakek Jimmy dari hati ke hati.Jimmy menyetujuinya dan membawa Edward ke samping. Mereka juga khawatir dengan keselamatan Edgar, jadi tidak pergi terlalu jauh."Aku dengar, kamu menggoda kakakku?" Baru sampai di samping, Edward lang
Setelah semuanya beres, Edward mengirim nomor kamar hotel kepada kakaknya. Sekitar pukul dua dini hari, Edward yang setengah tertidur samar-samar mendengar suara ketukan pintu. Setelah membuka pintu, barulah dia tahu bahwa Yasmin datang mencarinya."Kak, kamu ini ngapain sih!"Edward menggosok matanya yang masih mengantuk, lalu berkata dengan tak berdaya, "Sudah jam berapa ini? Kamu datang jam segini, memang sengaja nggak mau biarin aku tidur ya?""Kamu kira aku mau datang selarut ini?"Yasmin melotot kesal pada adiknya, lalu masuk ke dalam dengan lemas, "Aku baru bisa keluar setelah orang itu tidur!""Or ... orang itu?"Wajah Edward tampak canggung dan menatap kakaknya dengan bingung. Yasmin langsung menceritakan tentang Yunan dengan terus terang."Apa?"Begitu mendengar ceritanya, rasa kantuk Edward langsung hilang. "Ini jelas-jelas menindas orang! Kak, kamu hajar saja dia! Masa kamu takut sama dia?"Plak!Yasmin memang menghajar orang ... tapi yang dihajar adalah kepala Edward.Edwa
"Kakek, lihat si Jimmy itu, keterlaluan sekali!""Nggak sopan dan nggak beretika. Sudah datang terlambat, malah ninggalin Kakek begitu saja. Kenapa sih kakek harus nikahin kakakku sama dia? Dari segi mana dia pantas dijodohin sama Kakak?"Di perjalanan, Edward terus mengomel tanpa henti tentang ketidakpuasannya terhadap Jimmy. Edgar hanya mendengarkan tanpa berkata apa-apa. Sampai Edward kehabisan kata dan berhenti sendiri, barulah Edgar berkata dengan tenang, "Sudah selesai?""Aku ...." Edward sedikit terdiam, lalu menjawab kaku, "Sudah.""Kalau sudah, sekarang dengarkan aku!" Edgar melirik cucunya dengan kesal, lalu bertanya, "Otakmu itu dipakai untuk apa? Apa kamu nggak melihat ada yang aneh?""Aneh? Aneh apa?" Edward bingung.Edgar menggeleng sambil tersenyum, lalu bertanya, "Menurutmu ... Jimmy takut sama aku nggak?"Takut?Sudut bibir Edward berkedut, wajahnya tampak muram saat berkata, "Kalau dia takut sama Kakek, mana mungkin dia berani nggak sopan begitu?""Nah, itu jawabannya
'Motong jari?' Jimmy bergumam dalam hati, 'Kenapa mirip sekali sama hobiku dulu?'Setelah Jimmy menanyakan lebih lanjut, situasinya pun langsung menjadi jelas. Mengetahui isi taruhan mereka, sudut bibir Jimmy berkedut sejenak."Wah, kamu lumayan cepat belajar ya!"Bukankah ini sama saja dengan taruhannya dengan Yonah, hanya diubah sedikit caranya?"Pak ... Pak Jimmy, aku ...."Maruli memaksakan senyum yang bahkan lebih buruk dari menangis, wajahnya penuh kepanikan saat menjelaskan, "Pak Jimmy, kali ini benar-benar bukan kami yang cari masalah. Dia yang datang membuat keributan dengan menghancurkan barang dan memukul anggota kamu, sikapnya bahkan sangat arogan."Sambil berbicara, Maruli menunjuk Adrian yang bersembunyi di samping."Kamu lagi rupanya!"Jimmy langsung mengenali Adrian, lalu menggeleng sambil tersenyum, "Kamu benar-benar nggak pernah bisa diam sehari pun. Hati-hati tubuhmu habis terkuras sama minuman dan wanita."Kemarin dia membuat masalah di tempat Sabrina, Sabrina sudah
"Minggir! Aku nggak ada waktu untuk dengar ocehanmu! Nanti saja baru katakan setelah Pak Broto dan Pak Felix tiba!" sergah Atta.Andra terkejut. Dia masih ingin berbicara, tetapi Atta menatapnya dengan sorot mata penuh niat membunuh.Dahi Andra berkeringat dingin. Dia beringsut mundur dengan gusar.
Itu adalah senjata pemungkasnya. Utang budi dari Yasmin itu sama dengan perlindungan yang kuat. Di saat genting, itu bisa dipakai untuk menyelamatkan diri."Utang budi itu sudah lunas atau belum, bukan kamu yang putuskan, tapi aku," ucap Jimmy.Yasmin menatap Jimmy dengan angkuh seraya berujar, "Aku
Sudah kehilangan harga diri, Felix juga harus menderita tanpa sebab. Meski hatinya dipenuhi kebencian, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.Felix berani melanggar saat ayahnya melarangnya untuk menyentuh Jimmy. Namun, dia tidak berani melanggar perintah Yasmin. Wanita itu memang cantik, tetapi jika
Melihat Broto berlutut seperti kehilangan akal, semua orang kembali terperangah.Berlutut? Tidak disangka, Broto berlutut. Dia langsung berlutut hanya karena melihat Jimmy? Bahkan, orang lain pun belum sempat berbicara."Apa mungkin kaki Pak Broto keram?""Dasar bodoh. Kalau kakinya keram, mulutnya







