FAZER LOGINBeberapa saat kemudian, Jimmy pun tiba.Belum sempat turun dari mobil, Jimmy sudah melihat Yasmin berdiri di depan pintu Keluarga Sucipto."Ngapain kamu berdiri di sini?"Jimmy turun dari mobil sambil menatap Yasmin dengan wajah tak berdaya. Yasmin tidak banyak bicara, melainkan langsung berkata, "Ikut aku!""Kenapa aku harus ikut kamu?" Jimmy mengangkat alis menatap Yasmin. "Jenderal Yasmin, kamu menganggapku tahananmu?""Aku nggak punya waktu untuk berdebat denganmu." Yasmin menatap Jimmy dengan kesal, "Cepat ikut aku, kakekku sedang menunggumu makan!"Membicarakan hal ini saja sudah membuat Yasmin kesal. Kakek tua keras kepala itu benar-benar sedang bersikeras melawannya. Kalau Jimmy tidak datang makan, kakeknya akan terus duduk di halaman. Bahkan tidak mau masuk ke dalam rumah!Kakeknya juga mengatakan bahwa calon cucu menantunya pergi makan dengan orang lain dan meninggalkannya di sini. Dia merasa sangat dipermalukan dan kesal. Pokoknya, kakek tua itu terus saja memberi berbagai a
"Kakek!"Zisel tersenyum lebar dan mendekat ke sisi Yahya. "Kakek nggak perlu lihat lagi. Kalau Jimmy sudah berjanji, berarti dia pasti akan datang.""Ya, ya." Yahya terkekeh, lalu bertanya lagi pada Andra, "Kamu tahu Jimmy tinggal di mana, 'kan?""Ini ...." Andra sedikit tertegun, lalu menggeleng. "Aku merasa bersalah, jadi nggak enak hati untuk tanya sama dia."Yahya terdiam sejenak, lalu menoleh ke Laura.Menghadapi tatapan Yahya, Laura menundukkan kepala dalam diam. Ayahnya merasa bersalah sehingga tidak enak bertanya. Sedangkan dia, sama sekali tidak pernah peduli pada hal itu. Tiba-tiba, Laura seakan mulai mengerti kenapa ayahnya mengatakan bahwa dirinya tidak tahu berterima kasih.Sejak bercerai dengan Jimmy, tidak peduli seberapa banyak Jimmy membantu mereka, Laura tidak pernah sekali pun berinisiatif untuk peduli pada Jimmy. Bahkan, dia sampai tidak tahu Jimmy tinggal di mana.Melihat Laura yang menunduk diam, Yahya tak bisa menahan diri untuk menghela napas panjang dan sorot
Sore hari, seperti yang sudah diduga, Jimmy menerima telepon undangan makan. Yang menelepon langsung adalah Yahya.Kebetulan malam itu Jimmy tidak ada urusan, jadi dia pun menyetujuinya. Namun, belum lama setelah menutup telepon, Yasmin justru meneleponnya. Dia juga mengundang Jimmy makan malam, di vila miliknya.Tanpa berpikir, Jimmy langsung menolak. "Kebetulan sekali, Kakek Yahya hari ini keluar dari rumah sakit dan mengundangku makan. Jadi, aku nggak bisa ke tempatmu.""Pak Yahya sudah keluar dari rumah sakit?" Yasmin agak terkejut. "Jangan bilang kamu yang menyembuhkannya.""Masa kamu?" balas Jimmy dengan santai."Bicara yang benar!" Yasmin mendengus dengan kesal. 'Bajingan ini! Dulu saja sudah seenaknya, sekarang ada Kakek yang membelanya, dia makin nggak tahu batas!'Mendengar nada suaranya, Jimmy langsung malas bicara dan menutup telepon. Saat Yasmin menelepon lagi, Jimmy langsung menolak panggilannya.Dia sudah membantu mengobati luka dalam Yasmin, tetapi kenapa rasanya sepert
Felix mengangkat pandangan dan menilai Yunan, lalu bertanya dengan penuh rasa penasaran, "Kak Jimmy, ini kakak ipar baru ya?""Apa kamu bilang?" Ekspresi Yunan langsung berubah drastis. Aura membunuh memancar saat menatap Felix.Felix langsung gemetar ketakutan, buru-buru melempar pandangan minta tolong ke Jimmy. Perempuan ini kenapa sih? Dia cuma tanya sedikit, kenapa seperti mau membunuh orang?"Sudah, dia cuma tanya saja." Jimmy menghentikan Yunan, lalu menggeleng pelan pada Felix. "Dia cuma teman biasa saja, jangan asal bicara.""Oh, oh ...." Felix buru-buru mengangguk."Siapa pula temanmu?" Yunan menatap Jimmy dengan kesal. "Aku mau membunuhmu!""Ya, ya ...." Jimmy hanya bisa pasrah. "Nanti aku buatkan papan dan gantung di dadamu, tulis saja 'aku mau bunuh Jimmy'."Hal yang jelas-jelas tidak bisa dilakukan, tetapi terus diulang setiap hari. Apa tidak capek?"Kamu ...!" Yunan langsung semakin kesal. Dia menatap Jimmy dengan penuh niat membunuh.Melihat interaksi mereka, Felix dan N
Mendengar ucapan Benjamin, Jimmy hanya bisa menggeleng tak berdaya. Benar-benar tidak tahu diri! Benar-benar cari mati!"Aku urus para satpam ini, kamu urus tuan muda itu! Ingat, cukup kasih pelajaran saja!" Jimmy memberi instruksi kepada Yunan, lalu langsung berjalan menuju para satpam.Dia sendiri pernah bekerja sebagai satpam selama beberapa tahun. Dia tahu orang-orang ini hanya menjalankan perintah. Kalau Yunan turun tangan, mereka pasti akan celaka.Yunan tidak menjawab, hanya berjalan ke arah Benjamin dengan ekspresi dingin. Meskipun Jimmy membawa beberapa kantong pakaian besar di tangannya, gerakannya sama sekali tidak lambat. Dalam sekejap, dia sudah menjatuhkan beberapa satpam."Aku nggak mau menyulitkan kalian, jangan ikut campur." Setelah memberi peringatan, Jimmy menoleh kembali ke arah Yunan."Kenapa kalian masih bengong? Tangkap dia!" Benjamin berteriak dengan marah kepada orang-orang di sekitarnya.Mereka tersadar dan segera maju untuk menangkap Yunan, tetapi langsung d
Jimmy tidak tahan melihatnya, langsung mengambil beberapa gaun untuk Yunan. Ada yang panjang, ada yang pendek."Aku nggak mau pakai gaun!" Begitu melihat Jimmy mengambil gaun, Yunan langsung meledak.Jimmy santai saja. "Aku beli buat orang lain, boleh 'kan?"Yunan mendengus sinis, baru berhenti bicara. Namun, karena tidak puas dengan pegawai toko itu, Yunan langsung pindah ke toko lain.Setelah kembali memborong barang, Jimmy membawa beberapa kantong besar pakaian ke kasir untuk antre membayar.Sementara itu, Yunan tetap seperti bos besar, berdiri santai dengan tangan kosong di samping, menunggu Jimmy membayar.Pada saat yang sama, putra pemilik mal, Benjamin, sedang berkeliling memeriksa mal ditemani oleh para manajer. Dari kejauhan, dia sudah memperhatikan Yunan. Aura dingin dan anggunnya langsung menarik perhatian Benjamin.Celana jeans biru yang dikenakan Yunan membentuk lekuk tubuhnya dengan sangat jelas, membuat hati Benjamin langsung tergoda. Tanpa ragu, Benjamin langsung berjal
"Minggir! Aku nggak ada waktu untuk dengar ocehanmu! Nanti saja baru katakan setelah Pak Broto dan Pak Felix tiba!" sergah Atta.Andra terkejut. Dia masih ingin berbicara, tetapi Atta menatapnya dengan sorot mata penuh niat membunuh.Dahi Andra berkeringat dingin. Dia beringsut mundur dengan gusar.
Melihat Broto berlutut seperti kehilangan akal, semua orang kembali terperangah.Berlutut? Tidak disangka, Broto berlutut. Dia langsung berlutut hanya karena melihat Jimmy? Bahkan, orang lain pun belum sempat berbicara."Apa mungkin kaki Pak Broto keram?""Dasar bodoh. Kalau kakinya keram, mulutnya
Ervina mencengkeram Jimmy erat-erat, takut Jimmy akan kabur jika dilepas.Wajah Jimmy menegang. Dia terus mengumpat dalam hati, 'Dasar idiot! Kalau aku mau kabur, aku sudah kabur sejak awal! Nggak mungkin ikut Laura pulang untuk ikut campur!'"Aku bukan mau kabur, tapi mau cari bantuan!" bantah Jimm
Jimmy menarik napas, lalu memandang Ervina dan menenangkan, "Keluarga Bahrani juga nggak sehebat itu. Tenang saja, aku akan bereskan masalah ini.""Situasinya sudah begini! Kamu masih saja pura-pura?" sergah Laura dengan panik."Siapa yang pura-pura? Aku juga punya senjata pemungkas," timpal Jimmy m







