Mag-log inDalam perjalanan menuju Keluarga Enggana, Sukro terus menyusun kata-kata di dalam pikirannya. Dia memikirkan bagaimana cara menjelaskan kesulitan yang sedang dihadapi keluarganya kepada Basuki.Basuki sudah menebak bahwa Sukro memiliki sesuatu yang ingin disampaikan. Dia pun menutup mata dan berkata dengan nada tidak senang, "Kalau ada yang ingin dikatakan, katakan langsung. Aku nggak suka orang yang berbelit-belit atau menyembunyikan sesuatu dariku!"Mendengar perkataan itu, hati Sukro langsung bergetar. Setelah terdiam sejenak, dia memasang senyum penuh sanjungan. "Pak Basuki benar-benar jeli. Aku merasa kagum ....""Cepat masuk ke inti masalahnya!" potong Basuki dengan tidak sabar.Sukro tampak sedikit canggung, lalu berkata dengan hati-hati, "Terus terang saja, Keluarga Enggana sedang menghadapi sedikit masalah. Dengan kemampuan keluarga kami, aku khawatir kami nggak mampu menyelesaikannya.""Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Basuki tanpa membuka matanya.Sukro segera menjawab, "
"Kalau mereka benar-benar ingin meminta maaf, mereka seharusnya sudah datang sejak setelah kejadian semalam. Untuk apa menunggu sampai kita yang datang sendiri ke sini?"Jimmy tersenyum tipis."Lagi pula, kalau mereka benar-benar takut sama kita, dengan penampilan pengecut seperti itu, mereka seharusnya sudah kabur sejak lama. Mana mungkin mereka malah duduk diam menunggu kita datang mencari masalah?""Hm?"Mendengar perkataan itu, kedua wanita tersebut langsung hanyut dalam pemikiran sendiri.Beberapa saat kemudian, secercah pemahaman muncul bersamaan di mata mereka.Benar! Membuat kita masuk ke dalam jebakan!Keluarga Enggana pasti sudah menyiapkan kartu cadangan untuk menghadapi mereka!Tetua keluarga itu kemungkinan besar tidak sedang dirawat di rumah sakit, melainkan pergi mencari bala bantuan. Sikap rendah hati yang mereka tunjukkan sekarang tidak lebih dari upaya untuk menenangkan mereka sementara waktu.Setelah memahami hal itu, keduanya tidak berkata apa-apa lagi.Tak lama kem
Sekitar pukul setengah 11 pagi, Jimmy membawa Sabrina dan Yunan ke kediaman Keluarga Enggana. Bahkan sebelum turun dari mobil, mereka sudah melihat anggota Keluarga Enggana berdiri berjajar di depan gerbang."Ini lagi nyambut kita?" tanya Sabrina dengan heran sambil melemparkan senyum menawan kepada Jimmy.Apakah sikap Keluarga Enggana ini berarti mereka sudah menyerah? Namun setelah dipikir-pikir, hal itu juga tidak terlalu aneh.Setelah peristiwa semalam, jika Keluarga Enggana masih tidak menyadari bahwa mereka telah menyinggung orang yang tidak seharusnya disinggung, maka mereka pasti terlalu sombong atau terlalu bodoh."Siapa yang tahu?" Jimmy mengangkat bahu. "Nanti kita tanya saja."Sabrina tersenyum dan tidak berkata apa-apa lagi. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan gerbang Keluarga Enggana. Melihat ketiga orang yang turun dari mobil, seluruh anggota Keluarga Enggana langsung merasa jantung mereka berdegup kencang.Mereka datang! Mereka benar-benar datang!Sebelum Sukro b
"Pasti!"Sukro mengepalkan tinjunya dengan erat."Tak peduli berapa pun harga yang harus dibayar, aku pasti akan meminta bantuan Pak Basuki! Kalau bajingan itu berani datang, dia sama sekali nggak akan punya kesempatan untuk tetap hidup!"Mendengar ucapan Sukro yang tegas, semangat semua orang kembali bangkit.Basuki saja sudah sehebat I tu. Belum lagi sosok besar yang menggemparkan di belakangnya.Asalkan mereka bisa menumpang reputasi Basuki, mengapa Keluarga Enggana harus khawatir tidak akan berjaya? Bajingan itu harus membayar harga yang setimpal!Mereka harus membuatnya mengerti bahwa Keluarga Enggana bukanlah pihak yang bisa diremehkan! Siapa pun yang berani memprovokasi Keluarga Enggana harus menanggung amarah mereka!Setelah berusaha menekan amarah dalam hatinya, Sukro berkata kepada semua orang dengan nada garang, "Besok aku akan pergi ke bandara untuk jemput Pak Basuki. Kalau orang itu berani datang, lakukan apa pun untuk menahannya! Asalkan Pak Basuki tiba, mau sehebat apa p
Setengah jam kemudian, ketika amarah Sukro masih belum mereda, dia kembali menerima sebuah telepon. Begitu mendengar kabar dari seberang sana, tubuh Sukro langsung bergetar hebat. Rasa pusing yang luar biasa menyerangnya hingga hampir membuatnya terjatuh ke lantai.Plak ....Ponsel di tangannya ikut terlepas dan jatuh ke tanah.Kali ini, Sukro tidak lagi mengamuk atau berteriak marah. Dia hanya berdiri terpaku di tempat, berusaha sekuat tenaga agar dirinya tidak pingsan.Di wajahnya, kemarahan yang sebelumnya membara telah lenyap sepenuhnya, yang tersisa hanyalah ketakutan yang mendalam. Melihat keanehan sikap Sukro, seluruh anggota Keluarga Enggana langsung diliputi firasat buruk.Mereka semua menatap Sukro dengan gelisah dan jantung berdebar. Di bawah tatapan semua orang, Sukro memejamkan mata dengan penuh penderitaan lalu meratap, "Hampir seratus orang yang dibawa Trigo semuanya dipatahkan tangan dan kakinya!""Jwara kehilangan kedua tangannya dan telah menjadi cacat seumur hidup! S
Orang-orang itu bahkan berani melukai Kaesang, apalagi dirinya?Kalau sampai mengganggu mereka lagi, lidahnya pasti tidak akan selamat.Baru setelah manajer itu terguling masuk ke dalam lift, suasana di lantai tersebut kembali tenang.Beberapa menit kemudian, gadis resepsionis hotel itu keluar dari lift dengan tubuh gemetar dan mata berkaca-kaca. Dia mengantarkan kartu kamar baru kepada Jimmy. Namun, Jimmy tidak mempersulitnya. Setelah menerima kartu kamar itu, dia langsung menyuruhnya pergi.Sabrina tersenyum tak berdaya."Kurasa malam ini kita nggak akan bisa tidur nyenyak lagi."Tidak perlu dipikirkan pun sudah jelas bahwa Keluarga Enggana pasti tidak akan tinggal diam. Cepat atau lambat, Keluarga Enggana pasti akan datang mencari mereka."Nggak apa-apa." Jimmy tersenyum dan berkata, "Siapa tahu mereka datang lebih awal?""Benar juga."Sabrina tersenyum lalu berkata, "Jadi, kita pindah ke kamar lain dan lanjut mengobrol, atau kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat?""Istirah
Keduanya berjalan keluar dari Restoran Sanusi. Begitu sampai di luar, Laura langsung menepis tangan Jimmy dengan kesal."Sekarang kamu puas banget ya?" Laura menatap Jimmy dengan jengkel.Jimmy menggeleng sambil tersenyum. "Cuma beresin dua sampah, nggak ada yang perlu dibanggakan.""Kamu ...." Laur
Melisa mengirim foto itu kepadanya, bukankah memang untuk memancingnya datang?Hanya Laura yang masih polos, mengira Melisa benar-benar mau memperkenalkan "orang penting" kepadanya!Wajah Laura menunjukkan sedikit kebingungan, lalu dia menatap Melisa dan Heston, meminta penjelasan."Ternyata kamu ng
Dua tamparan Jimmy tadi sama sekali tidak ringan. Begitu dua tamparan mendarat, kepala Melisa langsung berdengung. Dari sudut bibirnya mengalir sedikit darah.Saat Jimmy melepaskan tangannya, Melisa bahkan tidak bisa berdiri tegak. Tubuhnya oleng, lalu dia jatuh terduduk di lantai."Melisa!" Laura t
Ervina mencengkeram Jimmy erat-erat, takut Jimmy akan kabur jika dilepas.Wajah Jimmy menegang. Dia terus mengumpat dalam hati, 'Dasar idiot! Kalau aku mau kabur, aku sudah kabur sejak awal! Nggak mungkin ikut Laura pulang untuk ikut campur!'"Aku bukan mau kabur, tapi mau cari bantuan!" bantah Jimm







