MasukBau anyir darah yang sangat menyesakkan dan mampu membuat orang ingin mengeluarkan isi perut mereka. Keranda Mayat itu mengapung tanpa penopang, dikelilingi oleh pusaran angin hitam yang memutar debu dan dedaunan kering. Tetesan cairan merah kental dari keranda terus menetes di atas tanah liat hingga mengeluarkan suara mendesis pelan, seolah cairan itu bersifat asam yang mampu melubangi apa saja yang disentuhnya. Di dalam rumah, Woro dan Ki Demang duduk merapat di sudut ruangan. Woro mendekap kedua lututnya, sambil menahan isak tangis. Sementara Ki Demang menggenggam sebilah keris pusaka leluhur dengan tangan yang bergetar. Di luar, suara kambing dan sapi di kandang belakang desa mengamuk liar, melenguh keras sebelum akhirnya mati mendadak dan hal itu sangat aneh. "Ayah, apa kita akan selamat?" bisik Woro lirih, matanya menatap ke arah bayangan hitam yang mulai merayap masuk lewat celah-celah dinding kayu. "Tenanglah, Nduk. Sakakala ada di luar," jawab Ki Demang meski suaranya
Sakakala keluar dengan tenang melewati warga desa yang menunduk dan mundur beberapa langkah ke belakang saat kaki Sakakala melangkah melewati mereka. Saka menghentikan langkahnya, lalu menyapukan pandangannya pada mereka. Saka mengangkap ada keganjilan. Sakakala menarik napas, lalu kembali melangkah. "Nak Saka... tunggu sebentar!" Sebuah panggilan menghentikan kembali langkahnya. Sakakala menoleh dan mendapati Ki Demang berlari kecil menyusulnya dengan napas sedikit tersengal-sengal. Sementara Woro tampak mengekor beberapa langkah di belakang ayahnya dengan wajah cemas. Sakakala membalikkan badan, menunggu sang kepala desa mendekat. "Ada apa, Ki?" Ki Demang berhenti tepat di hadapan Sakakala, merapatkan jaket tebalnya untuk menahan angin gunung yang dinginnya menusuk tulang. Ia menatap pemuda tampan itu dengan sorot mata penuh permohonan. "Jangan buru-buru untuk turun gunung, Nak," ujar Ki Demang lirih. "Kami tahu kau punya urusan besar di kota. Tapi, tinggallah dulu untuk semen
Udara dingin pegunungan menambah suasana makin menegang. Seolah tersedot oleh aura intimidasi yang mendadak menguar begitu kuat dari tubuh Sakakala.Pria berjas yang berdiri di ambang pintu tersenyum miring, menatap sekeliling ruangan sebelum matanya kembali terkunci pada Sakakala. Ia melangkah maju dengan angkuh, sementara empat pengawalnya yang berwajah garang dengan manik mata menghitam mengekor di belakang."Kau pikir dengan bersembunyi di lereng gunung ini, kau bisa lepas dari tangan biro, Agen Sakakala?" cibir pria berjas itu, tangannya merapikan jas mahalnya dengan santai. "Atasan kami di pusat sudah lama mengincar sisa-sisa kekuatan Banaspati yang ada di dalam tubuhmu."Di belakang Sakakala, Woro terkesiap ngeri, mencengkeram lengan baju ayahnya, Ki Demang, yang berdiri pasang badan melindungi putrinya dengan wajah tegang.Sakakala tidak menjawab. Ia perlahan bangkit dari kursi kayunya. Dengan tenang dan tidak terburu-buru, juga tidak ada kepanikan di wajahnya. Namun, begitu
Woro menghela napas pelan, berusaha menstabilkan debaran jantungnya yang masih belum mau tenang setiap kali ia mencuri pandang ke arah pemuda di hadapannya. Rambut Sakakala yang sedikit berantakan justru menambah daya tarik tersendiri. Serta postur tubuhnya yang tegap dan atletis benar-benar membuat gadis desa itu salah tingkah."Jika boleh tahu, apa kau sedang menuju ke perkampungan?" tanya Woro ragu-ragu, jemarinya meremas ujung kain tenunnya sendiri. "Jika tidak keberatan, biarkan aku menunjukkan jalannya. Ayahku pasti akan sangat berterima kasih karena kau telah menyelamatkan nyawaku hari ini."Sakakala menatap sejenak ke arah jalan setapak yang menurun tajam di balik pepohonan pinus. Insting Banaspati-nya menangkap gelombang energi gaib yang tipis namun mencurigakan dari arah perkampungan di bawah sana.Sebuah tanda bahwa sisa-sisa pengaruh gelap atau kutukan gaib mungkin telah masuk ke wilayah kaki gunung."Baiklah. Antarkan aku ke rumah kepala desa," jawab Sakakala singkat den
Mbah Djojonegoro menghentakkan ujung tongkat naganya ke lantai kayu. Bum! Suara hantaman itu tidak menghancurkan lantai kayu, melainkan menciptakan gelombang kejut gaib yang membuat seluruh pelita di dalam rumah padam seketika.Ruangan mendadak gelap gulita. Namun, di tengah pekatnya malam, lantai rumah kayu tersebut seolah lenyap, menyisakan pijakan hampa yang diselimuti oleh kabut merah menyala. Udara berubah menjadi panas membara, seolah Sakakala ditarik masuk ke dalam kawah gunung berapi yang sedang aktif."Duduk bersila, Kala!" suara Mbah Djojonegoro menggema memenuhi isi kepala Sakakala. "Jika kau ingin menghancurkan akar iblis di birokrasi itu, ragamu harus terlebih dahulu ditempa menjadi baja murni."Tanpa ragu, Sakakala duduk bersila di atas lantai. Ia menutup kedua matanya, memusatkan seluruh kesadaran pada Mata Banaspati di sisi kiri wajahnya.Seketika, ribuan aksara Jawa kuno yang tadi ditransmisikan oleh sang master mulai berputar liar di dalam kepalanya. Aksara-aksara i
Matahari perlahan tenggelam di balik punggung Gunung Dieng, menyisakan bias jingga tua yang perlahan-lahan ditelan oleh gelapnya malam. Suhu udara di lereng pegunungan menurun dratis, membawa kabut tebal yang perlahan naik dan menyelimuti pekarangan rumah kayu tempat Sakakala tinggal dalam pengasingannya.Selepas magrib, Sakakala duduk bersila di tengah ruangan dalam rumah. Di hadapannya, sebuah pelita kecil dari minyak tanah memancarkan cahaya kekuningan yang berkedip-kedip karena tertiup angin malam, bayangannya seolah menari-nari di dinding kayu. Suasana begitu sunyi, hanya ditemani oleh suara jangkrik dan deru angin malam yang menggesek dahan-dahan pohon cemara.Namun, ketenangan itu mendadak berubah.Nyala api di pelita kecil itu tiba-tiba membiru, bergoyang hebat tanpa tertiup angin dari luar. Bulu kuduk di tengkuk Sakakala meremang seketika. Insting tempurnya langsung siaga, membuat telapak tangan kanannya refleks berdenyut hangat dan memancarkan pendar rajah api merah di ba







