LOGINDarah dan bau gosong yang menempel di baju Sakakala perlahan tersapu oleh hawa dingin yang menusuk tulang. Setelah melompat melintasi batas jendela rumah sakit, langkah Nyi Kirana seolah membentangkan jalan tak kasat mata di udara malam.
Setiap kali ujung payung peraknya memukul udara, kabut tebal bergulung, menelan jejak mereka dari kejauhan. Ketika kabut perlahan terurai, Sakakala mendapati dirinya berdiri di pelataran luas berumput basah.
Di hadapan mereka, berdiri kokoh sebuah rumah joglo tua berarsitektur kayu jati hitam.
Tidak ada lampu listrik, hanya deretan lentera kertas memancarkan cahaya keperakan yang menggantung di bawah bubungan atap.
Ukiran relief ular berkepala burung di tiang penyangga joglo seolah terus memandangi setiap pergerakan Sakakala dengan pendaran cahaya mistis yang redup.
"Di mana ini?" tanya Sakakala, menyapu pandangan ke sekeliling. Hutan pinus tebal mengepung tempat itu, namun udaranya terasa jauh lebih tenang dan murni.
"Markas cabang Sanggrahan Perak," jawab Nyi Kirana santai sembari memutar gagang payungnya. Bunga melati di selendangnya berayun tipis. "Sekte Gagak Hitam tidak akan bisa melacak tempat ini. Batas perak di luar menipu radar gaib mereka."
"Kau berjanji mengajariku cara membalas kematian keluargaku," potong Sakakala cepat. Tangan kanannya mencengkeram erat pisau lipat berajah di sakunya. "Aku tidak punya waktu untuk beristirahat."
"Tenangkan hati dan pikiranmu dulu. Sakakala." Nyi Kirana berbalik, menatap Sakakala dengan mata peraknya yang tajam menembus malam. "Dendam tanpa kendali hanya akan menjadikanmu santapan berikutnya untuk iblis di mata kirimu, Sakakala."
Nyi Kirana melangkah menuju tengah pelataran, lalu menancapkan ujung payung kertasnya ke tanah batu. Empat patung kayu berwujud prajurit bertopeng yang berdiri di sudut pelataran mendadak bergetar.
Dari retakan kayu patung-patung itu, merayap aura biru keabu-abuan yang menghidupkan persendian mereka. Mata kayu mereka menyala merah redup, lalu melangkah maju mengepung Sakakala dengan tombak tumpul tergenggam erat.
"Apa-apaan ini?!" seru Sakakala, otomatis memasang kuda-kuda.
"Ujian pertamamu," ucap Nyi Kirana datar, bersedekap di tepi pelataran. "Mata Banaspati di mata kirimu itu adalah tungku api liar. Jika kau bertarung menggunakan emosi, maka api itu akan membakar saraf otakmu sendiri hingga kau kehilangan akal atau bahkan mati."
"Lalu aku harus bagaimana?!" seru Sakakala saat salah satu patung kayu menerjang, mengayunkan tombaknya lurus menuju dadanya.
Dorongan Refleks Tubuh lebih dari 20% membuat Sakakala berhasil memiringkan badan tepat waktu.
Ujung tombak kayu menyambar tipis baju rumah sakit yang masih dipakai Sakakala. Sakakala menarik pisau lipatnya, mencoba membalas tebasan, namun kulit kayu patung itu terlalu keras hingga memercikkan bunga api.
"Gunakan Mata Banaspatimu!" seru Nyi Kirana. "Bukan untuk meledakkan api, melainkan untuk membaca aliran daya di dalam tubuh lawanmu!"
Sakakala memejamkan mata kanannya dan memaksa mata kirinya terbuka lebar. Denyut panas langsung membakar rongga matanya.
Penglihatan tembus pandang mampu melihat di dalam dada patung kayu itu, terlihat sebentuk inti energi biru berputar pelan bagai benang kusut.'Itu pusat kendalinya!' batin Sakakala.
Namun, saat emosi dan amarah Sakakala membumbung memikirkan pembunuhan orang tuanya, gumpalan api merah dari mata kirinya meledak tak terkendali.
BOOM!
Gelombang api merah menyambar liar ke segala arah. Bukannya menghancurkan patung, ledakan api yang tidak terarah itu justru memantul menghantam dada Sakakala sendiri, melemparkannya hingga tersungkur keras di atas tanah berumput.
"Ugh!" Sakakala merintih, memegangi lehernya yang terasa terbakar dari dalam. Pandangannya kabur, kepalanya berdenyut hebat.
"Kubilang juga apa," kata Nyi Kirana yang kini sudah berdiri di sampingnya, menatap dingin. "Banaspati Merah adalah iblis ketakutan dan emosi. Makin kau meluapkan amarah tanpa fokus, makin cepat ia menelan jiwamu. Tarik napasmu, stabilkan detak jantungmu."
Sakakala menggigit bibirnya hingga berdarah. Rasa sakit di matanya perlahan mereda saat ia mencoba menahan napas, menata kembali emosi liarnya.
Ia teringat wajah dingin pria bermasker emas yang mengeksekusi keluarganya. Jika ia mati konyol di sini, dendam itu tidak akan pernah terbalaskan.
"Sekali lagi..." bisik Sakakala. Ia bangkit berdiri, menyapu darah tipis di bibirnya.
Kini hanya tiga patung kayu yang tersisa. Mereka kembali bergerak maju bersamaan, mengincar leher, dada, dan kaki Sakakala. Ujung-ujung tombak kayu mereka memancarkan desakan angin dingin yang mengunci ruang gerak Sakakala.
Sakakala memejamkan mata, menghela napas panjang, lalu membuka mata kirinya dengan ketenangan yang dingin.
Garis-garis merah tidak lagi meledak liar, melainkan memusat tajam pada satu titik di leher patung paling depan. Sebuah simpul kecil tempat aliran energi biru terputus-putus.
Dengan gerakan yang sangat presisi, Sakakala melangkah menyamping, menghindari sabetan tombak, dan menancapkan pisau lipat beracunnya tepat di simpul leher patung tersebut.
Cairan racun hijau meresap cepat, menghancurkan inti energi biru di dalamnya. Patung kayu itu seketika kehilangan daya dan roboh menjadi tumpukan kayu lapuk tidak berguna.
[ Penguasaan Mata Banaspati Meningkat: Kendali Fokus lebih dari 10% ]
Sakakala tersenyum tipis, merasakan aliran daya yang jauh lebih stabil membalut mata kirinya.
Namun, sebelum ia sempat memusnahkan dua patung yang tersisa, pendaran merah di mata Banaspati-nya mendadak bergetar hebat. Rasa sakit yang menyerang mampu mengguncang kedalaman tengkoraknya hingga Sakakala susah bernapas.
DEG! DEG! DEG!
Rasa panas yang asing menusuk saraf matanya secara paksa. Bukan berasal dari patung kayu atau Nyi Kirana, melainkan dari arah selatan, jauh di luar batas benteng perak markas Sanggrahan Perak.
Dalam penglihatan tembus pandang Mata Banaspati, langit malam di atas pusat kota mendadak terbelah oleh kolom aura hitam raksasa berwujud lambang Gagak Hitam yang membumbung tinggi ke awan.
Gelombang kejut gaibnya membuat lentera-lentera kertas di sekeliling rumah joglo bergetar hebat, memancarkan gelombang energi yang terlempar melintasi ribuan meter.
Nyi Kirana mendongak, raut wajah santainya seketika sirna digantikan dengan wajah yang menegang. "Ritual Pemanggilan Skala Besar... Petinggi sekte utama telah turun ke kota."
"Apa mereka mencariku, Nyi?" tanya Sakakala dengan napas terengah-engah.
Nyi Kirana menggenggam erat gagang payung peraknya. "Lebih buruk dari itu. Mereka sengaja memancing Biro Pengawas Gaib untuk memulai perang terbuka."
Kyai Sengkala mendarat di pelataran dengan menyeringai. "Sungguh, tindakan sangat bodoh,Wadah Banaspati. Tapi pisau besi murahanmu itu tidak akan—"Ucapan Kyai Sengkala terhenti seketika.Pisau lipat yang masih berada di genggaman tangan kanan Sakakala mendadak memancar terang. Ukiran rajah halus di permukaannya tidak lagi berkilat keemasan biasa, melainkan menyala hijau zamrud terang. Cahaya purba kuno yang membakar habis sisa racun dan kutukan di sekitarnya."Pisau Rajah itu..." Nyi Kirana melompat turun dari atas atap dan berdiri di samping Sakakala. Matanya yang berwarna perak membelalak tidak percaya. "Rajah Penyelaras Alam?" Nyi Kirana mengalihkan pandangannya dari Pisau Rajah itu dan menatap Sakakala. "Kau adalah cucu dari Mbah Wirya?!"Bilah pisau lipat itu mendadak memanjang secara gaib, bertransformasi dari sekadar pisau lipat saku menjadi bilah pedang pendek berukir relief naga jawa. Resonansi energi dari pisau tersebut menjalar cepat masuk ke dalam tubuh Sakakala, menetr
Langit malam di atas hutan pinus mendadak berubah warna menjadi merah keruh. Lentera-lentera kertas di sekeliling rumah joglo retak dan terbakar satu per satu, memuntahkan percikan api yang padam sebelum menyentuh tanah. Bau belerang dan daging busuk menyeruak pekat dari udara."Mereka menggunakan Umpan Jiwa di pusat kota!" geram Nyi Kirana. Wajah cantiknya tidak lagi menunjukkan keramahan. "Target asli mereka sejak awal adalah tempat ini!"KWAKKK! KWAKKK!Ribuan burung gagak bermata merah menyala menembus kabut perak yang melindungi markas. Kepakan sayap mereka membawa hawa angin beku yang menghanguskan pepohonan pinus di sekeliling pelataran. Di belakang kawanan burung iblis itu, belasan sosok berjubah hitam melayang turun, mendarat di atas atap dan pagar kayu joglo.Dari tengah kawanan gagak, muncul seorang pria berbadan bungkuk yang menunggangi gumpalan asap hitam. Wajahnya dipenuhi rajah garis-garis merah, dan di lehernya menggantung kalung dari susunan tulang jari manusia. Di
Darah dan bau gosong yang menempel di baju Sakakala perlahan tersapu oleh hawa dingin yang menusuk tulang. Setelah melompat melintasi batas jendela rumah sakit, langkah Nyi Kirana seolah membentangkan jalan tak kasat mata di udara malam.Setiap kali ujung payung peraknya memukul udara, kabut tebal bergulung, menelan jejak mereka dari kejauhan. Ketika kabut perlahan terurai, Sakakala mendapati dirinya berdiri di pelataran luas berumput basah.Di hadapan mereka, berdiri kokoh sebuah rumah joglo tua berarsitektur kayu jati hitam. Tidak ada lampu listrik, hanya deretan lentera kertas memancarkan cahaya keperakan yang menggantung di bawah bubungan atap. Ukiran relief ular berkepala burung di tiang penyangga joglo seolah terus memandangi setiap pergerakan Sakakala dengan pendaran cahaya mistis yang redup."Di mana ini?" tanya Sakakala, menyapu pandangan ke sekeliling. Hutan pinus tebal mengepung tempat itu, namun udaranya terasa jauh lebih tenang dan murni."Markas cabang Sanggrahan Perak
Bau kain terbakar dan sisa racun mistis beradu dengan aroma parfum bunga melati yang dibawa oleh wanita bergaun hitam itu.Setiap kali payung kertas kunonya bergeser tipis, udara di dalam kamar rawat mendadak terasa panas, meredam raungan sirine darurat di luar gedung, akan tetapi membuat keringat bercucuran.Sakakala melangkah mundur dua langkah. Pisau lipat berrajah kembali tergenggam erat di tangan kanannya, sementara mata kiri Banaspati berkedip berapa kali menatap wanita di depannya."Siapa kau? Kau utusan Sekte Gagak Hitam juga, hah!" tembak Sakakala langsung.Wanita bercadar itu terkekeh pelan. Suaranya terdengar renyah namun dingin bagai bilah es. "Jangan samakan aku dengan kerumunan burung bangkai yang tergeletak di lantaimu ini, Sakakala. Namaku Nyi Kirana."Nyi Kirana memutar gagang payung kertasnya dengan santai. "Jika aku menginginkan nyawamu atau Mata Banaspati itu, aku tidak akan menunggumu menumbangkan lima pembunuh ini. Aku datang menawarkan jalan hidup."'Jalan hidup
Udara di dalam kamar rawat mendadak terasa panas. Lima pria berjas hitam dari Sekte Gagak Hitam mengepung dari berbagai sudut, mengunci setiap celah. Pendaran merah dari bilah keris modern di tangan mereka memantul di dinding putih ruangan."Kalian siapa? Apa mau kalian?!" geram Sakakala, memposisikan pisau lipatnya di depan dada dan mengambil kuda-kuda."Kau tidak perlu tahu siapa kami," sahut pria berjas hitam di tengah. "Serahkan Mata Banaspati, atau kami akan mengulitimu hidup-hidup."Tanpa peringatan, dua pria di sisi kiri dan kanan menerjang maju secara bersamaan. Gerakan mereka begitu presisi dan cepat, mengayunkan keris mereka membentuk silangan tajam yang mengincar leher dan perut Sakakala.Berkat dorongan Refleks Tubuh lebih dari 20% yang Sakakala serap sebelumnya, persepsi Sakakala terhadap gerakan musuh terasa sedikit lambat. Ia membungkukkan badan secara refleks, merasakan desiran angin tajam dari bilah keris yang nyaris menyambar helai rambutnya. Sakakala bergulin
Sakakala merasakan hawa aneh yang menyengat menjalar dari punggung hingga ke leher. Tiba-tiba bau bangkai busuk yang menggelitik hidung memenuhi ruangan dan mengalahkan bau antiseptik rumah sakit.Melalui mata kanannya, Sakakala melihat sang dokter masih berdiri dengan raut wajah tenang. Namun, melalui mata kirinya yang menyala merah dan mampu menembus pandang serta merekam fakta yang ganjil. Di bawah kulit leher dokter itu, ratusan urat hitam bergerak menggeliat seperti cacing yang saling bertumpuk. Aura pekat itu menjalar liar, membentuk wujud samar monster melata bermata picik yang melilit tubuh sang dokter."Cacing Bangkai..." bisik suara berat bergaung di dalam kepala Sakakala, suara dari inti Banaspati yang menyatu dengan jiwanya. "Makhluk suruhan tingkat rendah. Dia datang untuk membungkam mulutmu.""Siapa kau?" ujar Sakakala, menyudutkan tubuhnya hingga menempel pada papan kepala ranjang. Tangannya gemetar menahan ngeri.Dokter itu tidak menjawab dengan kata-kata. Mulutnya me







