Compartir

4. Nyi Kirana

Autor: RiverMoon
last update Fecha de publicación: 2026-10-08 15:15:18

Bau kain terbakar dan sisa racun mistis beradu dengan aroma parfum bunga melati yang dibawa oleh wanita bergaun hitam itu.

Setiap kali payung kertas kunonya bergeser tipis, udara di dalam kamar rawat mendadak terasa panas, meredam raungan sirine darurat di luar gedung, akan tetapi membuat keringat bercucuran.

Sakakala melangkah mundur dua langkah. Pisau lipat berrajah kembali tergenggam erat di tangan kanannya, sementara mata kiri Banaspati berkedip berapa kali menatap wanita di depannya.

"Siapa kau? Kau utusan Sekte Gagak Hitam juga, hah!" tembak Sakakala langsung.

Wanita bercadar itu terkekeh pelan. Suaranya terdengar renyah namun dingin bagai bilah es. "Jangan samakan aku dengan kerumunan burung bangkai yang tergeletak di lantaimu ini, Sakakala. Namaku Nyi Kirana."

Nyi Kirana memutar gagang payung kertasnya dengan santai. "Jika aku menginginkan nyawamu atau Mata Banaspati itu, aku tidak akan menunggumu menumbangkan lima pembunuh ini. Aku datang menawarkan jalan hidup."

'Jalan hidup?' batin Sakakala curiga. 

Mata kirinya mencoba menembus tubuh Nyi Kirana. Namun, bukannya aliran aura jahat seperti pada musuh-musuhnya yang baru saja ia tumbangkan beberapa menit yang lalu. 

Pandangan Banaspati Sakakala justru dipukul mundur oleh pantulan cahaya perak yang menyilaukan dari payung kertas wanita itu.

"Jangan gunakan matamu sembarangan, anak kecil," tegur Nyi Kirana. Mata peraknya menyipit tajam. "Mata itu baru menyerap dua kutukan murahan tingkat rendah. Kau belum cukup kuat untuk menatap tabir energinya."

"Aku tidak butuh bantuan siapa pun!" seru Sakakala.

Dengan dorongan refleks yang baru ia dapatkan, Sakakala menerjang maju dalam satu hentakan kaki. Bilah pisau beracunnya meluncur cepat mengincar leher Nyi Kirana.

Tanpa mengubah posisi berdirinya, Nyi Kirana hanya merendahkan ujung payungnya sedikit. Ujung besi tua payung itu menangkis bilah pisau Sakakala dengan tepat dan sempurna. 

Gelombang kejut tidak kasat mata tercipta dari benturan tersebut, membuat pergelangan tangan Sakakala terasa kebas dan memaksanya terhuyung mundur tiga langkah.

"Refleks yang lumayan untuk seorang pemula," puji Nyi Kirana datar. "Tapi kemarahan tanpa penguasaan diri hanya akan membuatmu mati konyol malam ini."

Nyi Kirana mengarahkan ujung payungnya ke arah jendela kamar rawat. Di luar, kegelapan malam yang seharusnya dihiasi lampu kota kini tertutup oleh kabut merah tebal yang membubung tinggi. Garis-garis jaringan gaib merayap di kaca jendela, mengunci seluruh area gedung.

"Sekte Gagak Hitam telah membentangkan Batas Darah," lanjut Nyi Kirana. "Dua puluh pengeksekusi tingkat menengah sedang menaiki tangga darurat. Mereka tidak akan menyisakan satu pun saksi di rumah sakit ini."

Dada Sakakala berdebar kencang. Bayangan kematian orang tuanya di atas altar batu kembali berputar di benaknya. "Mereka... mereka membantai semua orang tanpa alasan?"

"Bagi sekte itu nyawa manusia biasa hanya bahan bakar ritual," jawab Nyi Kirana dingin. "Pilihannya sederhana, Sakakala. Kau ingin tetap di sini dan menjadi bangkai, atau ikut denganku dan mempelajari cara membalaskan dendam keluargamu."

Dinding luar kamar rawat mendadak bergetar kuat. Pintu kayu kamar hancur berkeping-keping dihantam ledakan api hitam dari koridor. 

Dari balik asap yang tebal, belasan pria berpakaian jubah bertuliskan rajah gaib melangkah masuk dengan membawa senjata di tangan mereka.

"Kepung wadah Banaspati! Jangan biarkan wanita itu ikut campur tangan!" seru pemimpin pasukan baru tersebut.

"Waktumu habis, Sakakala!" ujar Nyi Kirana. Ia menyentakkan gagang payungnya ke lantai.

WUSH!

Aura perak merekah dari balik kain payung, menahan serbuan api hitam dari para pengeksekusi sekte. Nyi Kirana berbalik membelakangi musuh dan menatap Sakakala. 

"Pegang pundakku atau kau akan ikut terbakar bersama gedung ini!"

Sakakala menatap wajah para pengeksekusi yang memancarkan aura yang haus akan darah. 

Aura yang sama persis dengan pembunuh orang tuanya. Kebencian membakar dadanya dari dalam. Ia sadar, perjalanan masih panjang dan ia belum bisa mati di tempat ini.

"Ingat janjimu tentang balas dendam!" tegas Sakakala sambil mencengkeram erat bahu gaun hitam Nyi Kirana.

Nyi Kirana tersenyum tipis di balik cadarnya. Ia mengangkat payungnya tinggi ke atas, lalu mengayunkannya lurus ke arah jendela kaca tebal kamar rawat.

Kaca tebal lantai tiga itu hancur berkeping-keping memancarkan ribuan kristal bening ke udara malam. 

Bersamaan dengan meledaknya jaringan gaib musuh akibat kibasan payung perak, Nyi Kirana menarik tubuh Sakakala melompat keluar melintasi batas jendela.

Angin malam yang dingin menyambar tubuh Sakakala saat mereka melayang bebas di udara. Dari ketinggian, ia melihat bagian bawah rumah sakit mulai dilalap api gaib berwarna merah dan hitam.

"Buka mata kirimu, Sakakala!" perintah Nyi Kirana di tengah hembusan angin. "Telan sisa api gaib di udara agar kita bisa mendarat!"

Sakakala membuka mata kirinya seperti yang diintruksikan Nyi Kirana. Inti Banaspati di dalam jiwanya merespons cepat, melahap sisa energi api gaib dan mengubahnya menjadi dorongan angin penahan.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Kebangkitan Penguasa 1000 Kutukan   6. Pasukan Burung Bangkai

    Langit malam di atas hutan pinus mendadak berubah warna menjadi merah keruh. Lentera-lentera kertas di sekeliling rumah joglo retak dan terbakar satu per satu, memuntahkan percikan api yang padam sebelum menyentuh tanah. Bau belerang dan daging busuk menyeruak pekat dari udara."Mereka menggunakan Umpan Jiwa di pusat kota!" geram Nyi Kirana. Wajah cantiknya tidak lagi menunjukkan keramahan. "Target asli mereka sejak awal adalah tempat ini!"KWAKKK! KWAKKK!Ribuan burung gagak bermata merah menyala menembus kabut perak yang melindungi markas. Kepakan sayap mereka membawa hawa angin beku yang menghanguskan pepohonan pinus di sekeliling pelataran. Di belakang kawanan burung iblis itu, belasan sosok berjubah hitam melayang turun, mendarat di atas atap dan pagar kayu joglo.Dari tengah kawanan gagak, muncul seorang pria berbadan bungkuk yang menunggangi gumpalan asap hitam. Wajahnya dipenuhi rajah garis-garis merah, dan di lehernya menggantung kalung dari susunan tulang jari manusia. Di

  • Kebangkitan Penguasa 1000 Kutukan   5. Amarah Banaspati

    Darah dan bau gosong yang menempel di baju Sakakala perlahan tersapu oleh hawa dingin yang menusuk tulang. Setelah melompat melintasi batas jendela rumah sakit, langkah Nyi Kirana seolah membentangkan jalan tak kasat mata di udara malam.Setiap kali ujung payung peraknya memukul udara, kabut tebal bergulung, menelan jejak mereka dari kejauhan. Ketika kabut perlahan terurai, Sakakala mendapati dirinya berdiri di pelataran luas berumput basah.Di hadapan mereka, berdiri kokoh sebuah rumah joglo tua berarsitektur kayu jati hitam. Tidak ada lampu listrik, hanya deretan lentera kertas memancarkan cahaya keperakan yang menggantung di bawah bubungan atap. Ukiran relief ular berkepala burung di tiang penyangga joglo seolah terus memandangi setiap pergerakan Sakakala dengan pendaran cahaya mistis yang redup."Di mana ini?" tanya Sakakala, menyapu pandangan ke sekeliling. Hutan pinus tebal mengepung tempat itu, namun udaranya terasa jauh lebih tenang dan murni."Markas cabang Sanggrahan Perak

  • Kebangkitan Penguasa 1000 Kutukan   4. Nyi Kirana

    Bau kain terbakar dan sisa racun mistis beradu dengan aroma parfum bunga melati yang dibawa oleh wanita bergaun hitam itu.Setiap kali payung kertas kunonya bergeser tipis, udara di dalam kamar rawat mendadak terasa panas, meredam raungan sirine darurat di luar gedung, akan tetapi membuat keringat bercucuran.Sakakala melangkah mundur dua langkah. Pisau lipat berrajah kembali tergenggam erat di tangan kanannya, sementara mata kiri Banaspati berkedip berapa kali menatap wanita di depannya."Siapa kau? Kau utusan Sekte Gagak Hitam juga, hah!" tembak Sakakala langsung.Wanita bercadar itu terkekeh pelan. Suaranya terdengar renyah namun dingin bagai bilah es. "Jangan samakan aku dengan kerumunan burung bangkai yang tergeletak di lantaimu ini, Sakakala. Namaku Nyi Kirana."Nyi Kirana memutar gagang payung kertasnya dengan santai. "Jika aku menginginkan nyawamu atau Mata Banaspati itu, aku tidak akan menunggumu menumbangkan lima pembunuh ini. Aku datang menawarkan jalan hidup."'Jalan hidup

  • Kebangkitan Penguasa 1000 Kutukan   3. Wanita Bermata Perak

    ​Udara di dalam kamar rawat mendadak terasa panas. Lima pria berjas hitam dari Sekte Gagak Hitam mengepung dari berbagai sudut, mengunci setiap celah. Pendaran merah dari bilah keris modern di tangan mereka memantul di dinding putih ruangan.​"Kalian siapa? Apa mau kalian?!" geram Sakakala, memposisikan pisau lipatnya di depan dada dan mengambil kuda-kuda.​"Kau tidak perlu tahu siapa kami," sahut pria berjas hitam di tengah. "Serahkan Mata Banaspati, atau kami akan mengulitimu hidup-hidup."​Tanpa peringatan, dua pria di sisi kiri dan kanan menerjang maju secara bersamaan. Gerakan mereka begitu presisi dan cepat, mengayunkan keris mereka membentuk silangan tajam yang mengincar leher dan perut Sakakala.​​Berkat dorongan Refleks Tubuh lebih dari 20% yang Sakakala serap sebelumnya, persepsi Sakakala terhadap gerakan musuh terasa sedikit lambat. Ia membungkukkan badan secara refleks, merasakan desiran angin tajam dari bilah keris yang nyaris menyambar helai rambutnya. Sakakala bergulin

  • Kebangkitan Penguasa 1000 Kutukan   2. Serapan Kutukan Pertama

    Sakakala merasakan hawa aneh yang menyengat menjalar dari punggung hingga ke leher. Tiba-tiba bau bangkai busuk yang menggelitik hidung memenuhi ruangan dan mengalahkan bau antiseptik rumah sakit.Melalui mata kanannya, Sakakala melihat sang dokter masih berdiri dengan raut wajah tenang. Namun, melalui mata kirinya yang menyala merah dan mampu menembus pandang serta merekam fakta yang ganjil. Di bawah kulit leher dokter itu, ratusan urat hitam bergerak menggeliat seperti cacing yang saling bertumpuk. Aura pekat itu menjalar liar, membentuk wujud samar monster melata bermata picik yang melilit tubuh sang dokter."Cacing Bangkai..." bisik suara berat bergaung di dalam kepala Sakakala, suara dari inti Banaspati yang menyatu dengan jiwanya. "Makhluk suruhan tingkat rendah. Dia datang untuk membungkam mulutmu.""Siapa kau?" ujar Sakakala, menyudutkan tubuhnya hingga menempel pada papan kepala ranjang. Tangannya gemetar menahan ngeri.Dokter itu tidak menjawab dengan kata-kata. Mulutnya me

  • Kebangkitan Penguasa 1000 Kutukan   1. Mata Banaspati

    "Pegang kepala bocah itu! Jangan sampai ritualnya gagal hanya karena dia meronta. Darah ritual ini harus disiramkan saat dia masih sadar sepenuhnya. Dia tidak boleh pingsan ataupun mati!"​Sentakan kasar di rambutnya memaksa Sakakala keluar dari kegelapan. Sensasi terbakar menyengat kulitnya seketika, disusul bau amis darah yang menusuk hidung.Pandangannya remang, tetapi rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya terasa sangat nyata, seolah dihantam martil besi.​Ketika matanya berhasil terbuka sempurna, dadanya bergemuruh hebat. Belasan sosok berjubahkan kain merah darah mengelilinginya, merapalkan kidung kuno atau mantra gaib bertempo cepat yang membuat lantai batu di bawah tubuhnya bergetar. Sakakala berusaha menggerakkan badan, namun ia menyadari tubuhnya sudah dipasung terlentang di atas batu berdarah.​Di hadapannya, berdiri megah sebuah batu besar. Di puncaknya, seorang pria berjubah hitam mengenakan topeng emas dan tepat di bawah kakinya, dua sosok yang sudah tergeletak ti

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status