MasukBeruntung, Irene memiliki pengendalian diri yang luar biasa. Dia bisa tersenyum santai, walaupun keinginannya untuk membunuh anggota keluarga kerajaan saat ini tengah berkobar.
“Berterima kasihlah kepada Elard, dia memintaku langsung untuk ikut hadir malam ini.” Nama yang disebut tersenyum kecil, Irene pun tak punya pilihan lain selain sedikit menundukkan kepalanya kepada Elard. “Terakhir kali aku melihatmu tiga tahun yang lalu, dan sekarang kau terlihat semakin cantik juga anggun. Pantas saja Erald sering menceritakanmu.” puji Ratu Charlotte. “Terimakasih atas pujiannya Yang Mulia.” Irene tersenyum, namun hatinya terus memaki kedua orang didepannya. Perkataan Ratu Charlotte mungkin sangatlah manis saat ini, tapi jangan salah, dongeng kekejaman ibu mertua ini telah dirasakannya selama bertahun-tahun dulu. “Maafkan kedatangannya kami yang cukup terlambat ya, ada sedikit masalah dengan kereta sebelum kami berangkat.” Suara berat Erald yang terdengar lembut, sukses membuat Irene merinding dan mual. Tangannya sudah sangat gatal ingin mengambil pedang. “Tidak apa pangeran, acara juga belum lama dimulai.” Senyuman Erald mengembang, membuat para perempuan muda memekik melihat ketampanan putra mahkota itu. Mereka semua tentu saja sangat iri kepada Irene. Dengan wajah secantik itu dan keluarga sekuat Ester, sangatlah mudah mengajukan diri sebagai calon Ratu. “Jika berkenan, apa saya bisa menjadi pasangan anda dalam acara dansa malam ini?” Erald mulai bertanya. Pekikan tertahan para perempuan terdengar kembali, ajakan yang dilontarkan langsung oleh Pangeran mahkota merupakan kehormatan khusus yang menjadi impian semua putri bangsawan. Tentu berbeda dengan Irene, ketika mendengar ajakan itu tangan yang tertutup dengan gaun terkepal erat, hingga buku buku tangannya memutih. Namun, Irene tetap bersikap profesional demi berpegang kepada rencananya. Masih ada satu jam sebelum acara dansa dimulai. “Sebuah kehormatan bisa menjadi pasangan dansa anda Pangeran.” *** Dinginnya udara malam menghembus perlahan, memberikan rasa segar setelah cukup lama bercengkrama dengan bangsawan lain. Sorot mata Irene terlihat tajam serta dingin, melihat keramaian dari atas balkon, menunggu seseorang yang akan menjadi salah satu pion terbaiknya. “Lady Irene.” Irene berbalik, menemukan sosok lelaki muda berkacamata, dengan rambut pirang panjang yang diikat rapi. Putra dari Marquess Oliver, Helios Oliver. Laki-laki itu di masa depan akan menjadi tangan kanan Elard. “Kemarilah Tuan Helios.” “Ada perlu apa Lady memanggil saya secara pribadi saat ini?” Tanya Helios dengan raut datar tanpa berbasa basi. Satu sudut bibir Irene terangkat, “Kau memang orang yang tidak suka berbasa basi, Tuan Helios.” Helios tidak menjawab. Tatapannya masih datar, namun masih dengan penuh hormat. Tak lama, raut wajah Irene kembali berubah menjadi dingin, “Kau sedang mencari obat untuk adikmu yang sedang sakit bukan?” Netra Helios membesar, terkejut dengan ucapan putri Ester. Pasalnya keberadaan adik perempuannya yang sedang sakit parah tidak diketahui oleh dunia luar. “Apa maksud anda?” “Kau tenang saja, tidak ada seorangpun yang tahu tentang semua itu selain aku.” Irene mengubah gaya bicaranya, memberikan tatapan serius kepada Helios. Membuat laki laki itu menelan saliva kasar. “Aku tau sesuatu mengenai penyakit itu, dan jika kau ingin tahu, mari bertemu besok!” *** Mata hazel Irene menyala tajam dalam kegelapan dibalik semak semak taman, mengawasi Erald yang sedang berjalan dari kejauhan bersama dengan Marie. Gaun panjangnya kini telah berganti menjadi setelan serba hitam, dengan kain melingkari kepalanya, menyisakan ruang untuk mata. Ia tersenyum miring saat kedua orang itu telah tiba di bangku taman. “Pangeran mohon tunggu saja di sini. Nona Irene mungkin akan sedikit terlambat karena dikerumuni para Lady di sana.” Erald mengangguk pelan, “Aku paham, pasti sedikit susah baginya untuk keluar dari acara itu.” “Baiklah Pangeran, saya undur diri.” Marie membungkuk sebentar, kemudian pergi dari sana. ‘Kau tidak akan lolos kali ini Elard, ku pastikan kau harus merasakan penderitaan Sion saat dia harus kehilangan kakinya.’ batin Irene yakin. Mata Irene tak lepas dari Erald yang sedang menikmati langit gelap. Panah dan busur di tangannya hanya menunggu detik yang tepat untuk melesat. Jangan salah, meskipun ia perempuan. Namun, keluarga Ester tetap memberikan pengajaran untuk memegang beberapa senjata. Salah satunya yang paling dia sukai adalah panahan. “Pangeran?” Irene berdecak sebal saat melihat atensi gadis menghampiri Erald. Padahal tangannya sudah bersiap melepaskan anak panah. “Lady Tiodore.” Gadis dengan gaun pastel itu tersenyum malu malu, menyelipkan sehelai rambutnya ke telinga. “Apa yang Pangeran lakukan di sini sendirian? Bukankah semua orang menghirup udara segar di taman sebelah selatan?” “Saya hanya ingin berjalan jalan ke sini saja. Sudah lama sejak terakhir kali saya berkunjung ke kediaman Ester.” Bibir gadis itu sedikit turun, “Jangan terlalu lama Pangeran, setelah ini pesta dansa akan dimulai. Sebaiknya anda segera masuk ke dalam.” “Terima kasih informasinya Lady Tiodore, setelah merasa cukup segar saya akan segera kembali ke sana.” Erald kembali tersenyum, membuat pipi gadis itu memerah malu. “Kalau begitu saya masuk terlebih dahulu.” Pamitnya dengan cepat, membuat Erald bernafas lega. “Kemana sebenarnya Irene pergi, apa pelayan pribadinya salah mengantarkan ke sini…?” Erald berdiri dari bangku taman, membuat Irene sedikit panik karena pria itu terlihat akan kembali ke tempat acara. Dengan sedikit terburu buru, ia segera mengarahkan panahnya menuju ke arah kaki kanan Erald. Sreet “ARGH!!”Mereka berdua terus berjalan dengan santai. Namun tiba tiba Irene merasakan sesuatu yang aneh saat melewati sebuah pintu. Ada sebuah aura aneh yang membuatnya seketika menghentikan langkah.“Ada apa Nona Ester?”Mata Irene menyisir pintu tersebut dengan teliti. Dari tampilan sebenarnya tidak ada yang aneh. Namun, tempat tersebut seolah menariknya untuk mendekat.“Ruangan apa itu?”Zoey menggaruk pelipisnya sebelum menjawab, “Itu adalah ruangan pribadi Tuan Duke Nona. Selama ini hanya beberapa orang saja yang diizinkan masuk ke dalam sana, saya juga tidak tahu pasti tentang isi ruangan tersebut.”Irene tampak terdiam sebentar, kemudian kembali berjalan menuju taman.Jarak antara taman dan ruangan tadi tidaklah jauh, hanya menghabiskan waktu tak sampai satu menit, kini keduanya telah sampai.Begitu masuk, mereka langsung disambut dengan ratusan, atau bahkan mungkin ribuan tangkai mawar berwarna merah. Tanpa adanya satupun tumbuhan atau bunga lain.Dapat Irene rasakan, aroma manis sepert
Irene memandangi sekeliling kamar tempatnya terbangun. Sebuah ruangan asing yang tak pernah ia lihat sebelumnya.Interiornya tampak mewah, dipenuhi sentuhan hitam elegan yang menciptakan kesan dingin namun anggun. Tak ada satupun sudut ruangan ini yang terasa familiar, seolah ia dilemparkan ke dalam dunia baru.Ia masih mengingat dengan jelas kejadian semalam, saat penyerangan itu terjadi dan dirinya pingsan di pinggiran hutan.Mungkinkah ada seseorang yang menolongnya, atau ia telah tertangkap oleh pasukan hitam semalam. Namun sepertinya mustahil jika seorang bangsawan secara kebetulan menemukannya di jalur hutan, karena tempat itu tak pernah dilewati oleh kereta maupun patroli keamanan.Irene menurunkan kakinya dari ranjang mewah, ia baru menyadari jika gaun yang dikenakannya semalam sudah berganti dengan gaun sederhana berwarna putih.Tidak ada prasangka apapun mengenai gaun tersebut, karena dia yakin jika pelayan di sinilah yang menggantikannya.Langkah Irene pelan, namun pasti, m
Suara siulan pendek terdengar seolah menjadi sinyal, dan seketika hujan panah melesat dari berbagai arah.Dentingan pedang beradu memenuhi udara. Dion dengan sigap melompat turun dari kudanya dan berlari ke arah kereta, tubuhnya menghalangi Irene yang hendak keluar.“Anda harus segera pergi dari sini Nona. Kita telah kalah jumlah.”Wajah Dion telah dipenuhi keringat dan debu, namun sorot matanya tak goyah. “Setidaknya tiga kali lipat dari jumlah pasukan kita!”Kereta Irene dikepung dari semua arah. Jalan depan diblokir, jalan belakang dipasangi paku paku besi yang membuat roda kereta sulit bergerak. Di sisi-sisi hutan, puluhan pemanah bayangan muncul satu per satu.Sebuah panah melesat ke arah Dion.Braak!ditangkis oleh pengawal di belakangnya, namun lelaki itu tetap terguncang mundur.“Jangan turun!” serunya ke arah Irene yang hendak membuka pintu. “Terlalu berbahaya!”Irene menahan diri. Ia meraih busur kecil dari peti senjata di bawah tempat duduknya, membuka jendela hanya sedikit
Kendrick mengangkat sebelah alis, wajahnya dipenuhi ekspresi heran sekaligus geli. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi reot dengan gerakan malas, kedua kakinya disilangkan santai di atas meja, tepat di hadapan Irene.“Begitu cepat? Biasanya wanita minta makan malam dulu sebelum mengajukan permintaan semacam itu.”Irene mengerutkan dahi, namun tetap tenang. “Aku sedang tidak dalam suasana bercanda.”Kendrick menyeringai, memperlihatkan lesung pipi samar yang tak sesuai dengan reputasinya sebagai pembunuh bayaran.“Justru itu masalahnya. Kau terlalu serius. Dunia ini sudah cukup suram, Lady Irene. Sedikit humor tak akan membunuhmu.”“Aku bisa membunuhmu, kalau kau terlalu banyak bicara.” Balas Irene dingin.Ia tertawa kecil, geleng-geleng kepala. “Kau menarik juga, ya. Biasanya para bangsawan yang datang padaku menggigil ketakutan. Tapi kau? Kau mengancamku seperti sedang memarahi pelayan.”“Aku bukan bangsawan biasa.”“Ya, ya. Sudah kudengar.” Kendrick menurunkan kakinya dari meja, akhir
“Bagaimana?”“Cukup mengejutkan Tuan. Tanah yang ditemukan Lady Irene ternyata memiliki emas yang sangat berlimpah. Keluarga Ester sekarang sedang mengusahakan agar tambang itu tidak di ambil alih kerajaan.”Luke menghentikan tulisannya sejenak, “Yah, sudah kuduga. Irene memang bukan gadis biasa. Dia mengetahui banyak hal. Tatapannya penuh dendam, seolah kembali dari kematian yang buruk… semakin menarik.”“Kematian?” Bingung Hendry dijawab anggukan pelan oleh majikannya.“Kematian di masa depan. Yang penuh dengan penghinaan.”Hendry semakin bingung, ia tak memahami apa yang dimaksud Luke saat ini.“Apa di masa depan, Lady Irene akan mengalami kematian yang penuh dengan penghinaan?” Tebaknya, membuat sang Duke menoleh.“Tidak ada yang mengetahui masa depan Hendry. Kirimkan Ben untuk tetap mengawasi Irene, jangan sampai kejadian malam tadi terulang kembali.”Hendry menundukkan kepalanya, “Baik, Tuan Duke.”“Apa saya juga perlu mencari dalang penyerangan Lady Irene?”“Tidak,” Luke menjed
Arthur menatap Irene sebentar, lalu tersenyum tipis. “Aku masih tak menyangka kau ternyata sudah sebesar ini.”“Kita hanya berbeda beberapa tahun kak.”Netra hazel sulung Ester itu kembali menatap sang adik.“Tapi di mataku, kau tetap masih kecil.”Irene membalas tatapan kakaknya, “Apa ada anak kecil yang berinvestasi dengan membeli tanah berisi emas?”“Tidak.” Jawab Arthur cepat, “Tapi kau berkata hanya iseng membeli tanah itu di lelang.”“Bukankah firasatku luar biasa?” Kata Irene sembari menaikturunkan alisnya, menciptakan tawa ringan yang jarang terdengar dari Arthur.Suasana santai tercipta di taman, membuat hati Irene perlahan menghangat.Selama lebih dari tiga puluh tahun menjalani hidup, ia menyadari. Hanya keluarganya lah yang mencintai tanpa pamrih, menyayangi tanpa batas, dan melindungi tanpa pernah diminta.Hanya dengan keluarganya, Irene bisa diterima tanpa memandang siapapun dirinya.“Aku akan pergi malam ini.” Ucap Arthur tiba tiba.“Lagi?”Anggukan diberikan sang kakak







