Mag-log inDaisy menatap layar ponselnya sambil menunggu balasan. Entah mengapa, jantungnya kembali berdegup lebih cepat. Ia bukan sedang menghadapi sidang perceraian, bukan pula menunggu hasil dari sebuah keputusan besar yang akan menghancurkan hidupnya. Namun, bertemu dengan keluarga Lucian tetap membuatnya gugup. Ia ingin diterima, bukan hanya sebagai perempuan yang dicintai Lucian, tetapi juga sebagai ibu dari Evelyn.Beberapa detik kemudian, layar ponselnya kembali menyala."Ayah bilang, 'Kalau perempuan itu benar-benar Daisy yang selama ini kamu ceritakan, jangan biarkan dia menunggu terlalu lama. Bawa dia pulang.'"Daisy membaca pesan itu berulang kali. Senyum perlahan merekah di wajahnya, sementara matanya kembali dipenuhi air mata. Selama ini ia selalu takut masa lalunya akan menjadi alasan seseorang menolaknya. Namun, tanpa pernah ia duga, keluarga Lucian justru membuka pintu sebelum ia sempat mengetuknya.Ia membalas dengan satu kalimat singkat."Terima kasih sudah memilihku sejak dul
Daisy menatap pria di hadapannya cukup lama. Jemarinya masih menggenggam tangan Lucian dengan erat, seolah ingin memastikan bahwa semua yang terjadi saat itu bukan sekadar mimpi. Bertahun-tahun lalu, ia pernah berdiri di hadapan seorang pria sambil mengucapkan janji yang ternyata berakhir dengan luka. Karena itulah, keputusan untuk membuka kembali pintu hatinya bukan sesuatu yang bisa diucapkan dengan mudah. Namun kali ini berbeda. Di hadapannya bukan seseorang yang hanya mencintainya ketika semuanya baik-baik saja, melainkan seseorang yang tetap memilih bertahan bahkan saat hidupnya berada di titik paling hancur."Aku sudah memikirkan semuanya," ucap Daisy perlahan. "Tentang aku, tentang Eve, dan tentang kita."Lucian mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Tatapannya tetap tenang, meski jantungnya berdegup jauh lebih cepat daripada biasanya. Selama bertahun-tahun ia belajar bahwa mencintai seseorang juga berarti menghormati setiap keputusan yang diambil orang tersebut. Karena itu,
"Tentu," jawab Lucian sambil tersenyum hangat. "Kalau aku ingin menjadi bagian dari keluarga kalian, maka aku juga harus menghargai perasaan Eve."Keesokan harinya, tepat setelah jam sekolah usai, Evelyn berlari keluar gerbang sambil membawa tas ransel berwarna merah muda. Begitu melihat Daisy menunggunya, gadis kecil itu langsung memeluk ibunya dengan wajah penuh semangat."Mama, hari ini aku dapat nilai bintang lima!" serunya bangga sambil menunjukkan buku tugasnya."Wah, hebat sekali." Daisy mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Berarti nanti malam kita rayakan pakai es krim.""Yeay!"Sepanjang perjalanan pulang, Evelyn tidak berhenti bercerita tentang kegiatan di sekolah. Daisy mendengarkannya sambil sesekali tertawa. Namun di balik senyumnya, ia terus memikirkan percakapan semalam. Ia belum tahu bagaimana harus memulai pembicaraan itu, tetapi ia yakin Lucian akan datang sore nanti.Menjelang pukul lima, bel rumah berbunyi. Evelyn yang sedang menggambar di ruang keluarga langsu
Malam itu, setelah seluruh rapat selesai dan pekerjaan di cake shop juga berakhir, Lucian menjemput Daisy tepat ketika langit mulai dipenuhi cahaya lampu kota. Pria itu mengenakan setelan jas yang masih rapi meski hari panjang jelas terlihat dari sorot matanya. Saat Daisy masuk ke dalam mobil, ia sedikit heran karena Lucian memilih jalan yang berbeda dari biasanya."Kita mau ke mana?" tanya Daisy sambil memasang sabuk pengaman.Lucian tersenyum tipis. "Makan malam. Anggap saja hadiah karena kita sama-sama berhasil melewati hari yang sibuk."Daisy mengangguk tanpa bertanya lagi. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di sebuah restoran kecil di tepi danau. Tempat itu tidak terlalu ramai. Lampu-lampu hangat memantul di permukaan air, sementara alunan musik piano mengisi udara malam dengan lembut. Suasananya sederhana, tetapi terasa begitu nyaman.Setelah pelayan menghidangkan makanan, keduanya menikmati makan malam sambil mengobrol tentang hal-hal ringan. Daisy bercerita tentang pelang
Daisy membuka perekat amplop itu dengan hati-hati agar kertasnya tidak robek. Di dalamnya hanya ada sebuah kartu ucapan berwarna putih dengan gambar bunga liar di sudutnya. Tidak ada dokumen penting, tidak ada surat panjang, apalagi rahasia baru. Hanya beberapa baris tulisan tangan yang sederhana."Selamat ulang tahun untuk Evelyn. Semoga kalian selalu menemukan alasan untuk tersenyum setiap hari. Masa lalu sudah melakukan tugasnya. Kini saatnya menikmati masa depan. Bahagialah."Daisy membaca kalimat itu dua kali. Tidak ada tanda tangan di bagian bawah, hanya sebuah gambar bulan sabit kecil yang digambar menggunakan tinta hitam. Ia tersenyum tipis. Entah siapa yang mengirimkannya, tetapi isi kartu itu terasa seperti doa yang datang di waktu yang tepat."Apa isinya, Ma?" tanya Evelyn penasaran sambil memanjat sofa.Daisy menyerahkan kartu itu kepada putrinya. Evelyn mengeja setiap kata dengan suara pelan, lalu tersenyum lebar ketika selesai membacanya."Orangnya baik ya.""Iya," jawab
Beberapa bulan berlalu tanpa terasa. Musim berganti, dan kehidupan Daisy perlahan menemukan iramanya sendiri. Cake shop miliknya kini jauh lebih ramai dibandingkan sebelumnya. Meja-meja hampir selalu terisi sejak pagi, sementara pesanan kue ulang tahun dan acara keluarga terus berdatangan. Nama tokonya yang dulu hanya dikenal oleh warga sekitar kini mulai disebut-sebut di berbagai media sosial berkat pelanggan yang puas dengan hasil buatannya.Daisy berdiri di balik meja kerja sambil menyelesaikan hiasan bunga dari krim pada sebuah kue. Gerakan tangannya kini jauh lebih tenang. Tidak ada lagi keraguan yang dulu sering muncul setiap kali ia bekerja. Para pegawai saling berbagi tugas dengan teratur, membuat suasana toko terasa hidup sekaligus hangat."Evelyn pasti senang lihat kue ini," ujar salah seorang pegawai sambil tersenyum.Daisy ikut tersenyum. "Dia memang sudah pesan dari seminggu lalu. Katanya teman-temannya mau main ke rumah nanti sore."Hari itu bertepatan dengan ulang tahun
Aiden langsung terdiam. Tatapan pria itu tetap tertuju pada Daisy, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Daisy perlahan menggenggam map putih di tangannya lebih erat sebelum akhirnya berjalan melewati Aiden menuju ruang sidang. Langkah wanita itu
Langit Kota Cresden pagi itu terlihat mendung. Sisa hujan semalam masih meninggalkan udara dingin yang menusuk hingga ke kulit.Daisy turun perlahan dari mobilnya sambil menggenggam map putih di dada.“Nyonya yakin nggak perlu saya temenin?”Suara Martha membuat Daisy menoleh pelan. Pengasuh paruh
Lucian langsung membeku. Sorot mata pria itu berubah gelap. Rahangnya mengeras samar saat mendengar suara Daisy yang mulai bergetar menahan emosi.Selama bertahun-tahun, Lucian membayangkan banyak kemungkinan tentang pertemuan mereka kembali.Daisy marah, menangis, atau mungkin Daisy sudah benar-be
Daisy melangkah pelan keluar dari ruang rawat putrinya. Dokter mengatakan kondisi Evelyn mulai stabil setelah obat penurun panas diberikan. Meski begitu, Daisy tetap belum bisa merasa tenang sepenuhnya.Anak itu masih tertidur lemah di ranjang rumah sakit dengan wajah pucat.Martha memilih menjaga







