Share

Kebohongan Busuk Suamiku
Kebohongan Busuk Suamiku
Penulis: Nuri522

Bab 1. Fitnah Mertua

“Kandungannya berkembang dengan baik. Jangan lupa atur pola makan dan jaga kesehatan, juga istirahat dengan cukup,” ujar Dokter Rian sambil mencatat resep vitamin untuk ditebus Gendis.

“Baik, Dok. Terima kasih,” jawabnya. Ia mengulas senyum kepada dokter spesialis kandungan langganannya itu. Lalu, mereka berjabat tangan dan Gendis keluar ruangan pemeriksaan.

Wanita itu langsung ke apotek Rumah Sakit untuk menebus resep obat dari Dokter tadi. Disela-sela ia menunggu, Gendis mencoba menghubungi Damar, suaminya. Ia membuka aplikasi berwarna hijau. Lalu, menekan tombol telepon di ponselnya.

Panggilan dijawab Damar dengan salam. Alis Gendis mengernyit saat mendengar suara suaminya yang terdengar tidak biasa.

“Halo, Sayang,” tanya Damar dengan suara tertahan.

“Mas sedang apa? Kok suaranya aneh? Mas Damar baik-baik saja, kan?” cecar Gendis. Ia merasa khawatir, takut suaminya sedang tidak sehat.

“Enggak, kok. Mas baik-baik saja. Mas hanya kepedesan. Barusan, Mas makan siang dengan ayam geprek kesukaan Mas. Sambalnya pedas banget,” jawab Damar masih dengan nada suara yang aneh.

“Beneran, Mas?” tanya Gendis sekali lagi untuk memastikan.

“Iya, Sayang, istri Mas yang paling cantik. Oh iya, gimana kandungannya? Bayi kita laki atau perempuan?” tanya Damar seolah mengalihkan pembicaraan.

“Belum kelihatan, dong, Mas. Kan baru empat bulan. Mas, dokter tadi tanya kenapa enggak diantar suami. Kapan Mas bisa luangkan waktu untuk nganter aku periksa?”

Mendengar pertanyaan Gendis, Damar menghela napas. Ia sudah bosan mendengar permintaan istrinya yang satu itu.

“Mas kan sudah bilang. Mas itu sibuk di kantor. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Kenapa harus mengulang-ulang terus pertanyaan itu, sih!” jawab Damar dengan suara meninggi membuat Gendis membelalakkan matanya. Ia terkejut dengan yang baru saja suaminya lakukan. Baru kali ini Damar membentak dirinya. Sebelumnya, pria itu selalu memperlakukan Gendis dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Dan sekarang apa yang dilakukannya? Damar mulai berani menaikkan nada suara kepada dirinya gara-gara hal sepele. Gendis hanya butuh perhatian serta dampingan suaminya saat hamil seperti sekarang. Padahal, kehamilan ini sangat diidam-idamkan mereka karena setelah menikah selama enam tahun, Gendis baru mendapatkan kabar baik ini.

“Tapi ....”

“Sudah, ya, Mas mau rapat penting dulu. Nanti Mas hubungi.” Ucapan gendis menggantung di udara, ketika Damar tiba-tiba memotong perkataannya, lalu mematikan panggilan secara sepihak.

Wanita itu merenung sejenak mencoba menyelami perasaannya. Tiba-tiba saja, hati Gendis tidak enak. Entah karena apa?

‘Apa mungkin Mas Damar ...?’ bisiknya dalam hati. Seketika itu pula ia menggeleng mencoba menepis segala kemungkinan buruk yang sempat berkecamuk di pikiran.

‘Mungkin hanya perasaanku saja. Apa yang dikatakan Mas Damar itu benar. Dia memang sedang sibuk dengan pekerjaannya,' batin Gendis kembali.

Lamunannya buyar kala salah satu petugas apotek memanggilnya untuk menebus resep. Selanjutnya, Gendis pulang ke rumah setelah segala urusannya di Rumah Sakit itu beres.

**

“Eh, Jeng. Ke mana menantumu? Kok dia enggak ada?” tanya Bu Nani tetangga Bu Retno. Wanita itu tidak sengaja lewat, lalu mampir ketika melihat Bu Retno, mertua Gendis sedang duduk santai di teras rumah.

“Dia lagi periksa kandungan,” jawab mertua Gendis singkat dan terkesan tidak suka ketika ada seseorang menyebut nama menantunya. Sejak awal, wanita paruh baya itu memang kurang suka kepada Gendis. Entah apa alasannya yang membuat dia begitu.

“Oh gitu? Emangnya dia sudah hamil berapa bulan sih, Jeng?” tanya Bu Nani kembali.

Seperti tadi, Bu Retno hanya menjawab dengan nada malas. Membuat tetangganya itu penasaran sebenarnya apa yang membuat Bu Retno bersikap aneh ketika menyangkut menantunya.

Bu Retno mulai terpancing, ia menceritakan kalau sejak awal tidak menyukai menantu seperti Gendis. Katanya, selama putranya menikah dengan Gendis, segala kasih sayang dan perhatian Damar seolah direnggut. Padahal bukan itu yang sebenarnya terjadi.

Sifat iri terus menguasai hati dan pikiran wanita paruh baya tersebut. Ia tidak suka kalau putranya mengabaikan dia. Apalagi, sebelum menikah, semua gaji Damar dikuasai ibunya itu. Dan sekarang, Bu Retno harus berbagi dengan seorang menantu yang jatah bulanannya lebih besar dari dirinya.

Bu Retno lupa, kalau selama ini yang membiayai usaha putranya itu Gendis. Sebagian aset dan saham perusahaan yang dikelola Damar itu milik menantunya. Lagi pula, Gendis tidak memakai semua uang yang diberikan Damar. Selain untuk bersedekah, sisa dari bulanannya ia tabung. Takut suatu saat nanti ada keperluan yang mendesak. Pun untuk masa depan mereka dan keturunannya.

“Oh, gitu, Jeng? Kukira Gendis itu menantu yang baik. Selama ini kulihat dia selalu berbakti dan bersikap sopan. Jadi, ternyata Gendis hanya pura-pura buat menutupi kejelekannya, ya?” ujar Bu Nani menggebu-gebu saat Bu Retno menceritakan segala mengenai Gendis dengan kebohongan. Wanita itu terus saja memfitnah menantunya. Sialnya, Bu Nani termakan ucapan Bu Retno.

“Yang sabar, ya, Jeng. Menantu kek gitu memang harus dididik sama kita.”

Mereka terus saja bergosip tentang Gendis, sampai wanita itu datang. Bu Retno tidak sadar kalau menantunya mendengar sekilas percakapan dia dan Bu Nani. Tubuhnya mematung di depan pintu gerbang menyimak segala fitnah yang dilontarkan sang mertua.

Kira-kira, apa reaksi Gendis?

Bersambung.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
istri tolol lagi. kebanyakan ngangkang membuat otaknya g berfungsi
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status