MasukRamli langsung melepaskan tangannya dari kerah baju sang asisten. Meskipun mencoba untuk terlihat biasa saja, namun wajah malu-malu nya tidak bisa disembunyikan.
"Diam kamu! Tahu apa kamu soal itu!" sahut Ramli. "Nanti, kamu bilang sama Romi, suruh dia bawa anak-anakku untuk diantar ke rumah ini Minggu depan. Mereka akan tinggal bersamaku!" imbuh Ramli. "Anak-anak Anda akan tinggal di rumah Mbak Vina?" Ramli mengangguk. "Vina sendiri yang meminta!" jawabnya. "Mbak Vina sendiri yang minta? Tapi kalau menurut saya sebaiknya anak-anak tinggal bersama neneknya. Kalau tinggal bersama Anda,saya khawatir aja, Tuan!" ucap Edi yang cukup keberatan jika anak-anak Ramli yang masih kecil-kecil tinggal bersama keluarga Rangga. "Kenapa kamu bisa bilang seperti itu?" Ramli menjawabnya tanpa menatap wajah sang asisten. "Ya masalahnya, anak-anak Anda pasti sering ketemu sama Tuan Andreas. Nggak tahu kenapa saya sangat khawatir jika mereka ketemu Tuan Andreas!" kata Edi lagi. Sebenarnya Ramli juga ada kekhawatiran seperti itu. Tuan Andreas adalah orang yang sangat berbahaya, apa jadinya jika pria itu tahu bahwa anak-anak itu adalah bagian dari hidup seorang Aland Orlando. "Kamu benar, aku juga merasa seperti itu. Tapi Vina memaksa terus!" "Sebaiknya Anda pikirkan lagi, Tuan. Lagipula saya khawatir jika mereka cukup mengganggu waktu Anda. Ingat, Anda di sini sedang menyamar, sedangkan anak-anak sudah tahu wajah asli ayah mereka. Jika mereka ngomong ke mbak Vina, ini bisa kacau!" bisik Edi. Kedua pria itu terlihat dalam obrolan serius sehingga membuat Vina dan Sandra yang telah selesai membeli makanan, tampak saling melirik. Apalagi Edi yang terlihat begitu akrab dan dekat. Seolah mereka tengah berbicara tentang suatu hal yang sangat serius. "Loh, Mas Edi dan Ramli ngapain ya, Mbak? Mereka ngobrolin apa sih? Kayak serius gitu!" bisik Sandra sambil membawa bungkusan makanan di tangannya. "Nggak tahu tuh!" jawab Vina yang juga penasaran apa yang sedang dua pria itu obrolkan. Di saat kedua wanita itu hendak menghampiri mereka. Tiba-tiba saja seorang wanita cantik dan seksi sedang berjalan lewat di depan Edi dan Ramli yang sedang bermusyawarah. Wanita itu dengan centilnya tersenyum sambil mengibaskan rambutnya yang ia panjang dan lebat. Wanita yang berusia sekitar dua puluh lima tahun itu nampak sedang memakai baju ketat dengan atasan dress dengan leher Sabrina yang rendah, sehingga memperlihatkan belahan dadanya yang simetris dan begitu padat. Pakaiannya yang super seksi, tentu saja membuat setiap lekuk tubuhnya membentuk dengan jelas. Namun sesuatu yang aneh, tubuhnya memang seksi dan mulus, hanya saja ada tonjolan kecil pada batang lehernya. Sayangnya, Ramli dan Edi belum menyadarinya. Aroma wangi dari wanita itu tertinggal dan membelai hidung dua pria itu, rasanya sangat harum dan seolah-olah mereka ingin terus menciuminya. Jiwa laki-laki keduanya spontan bangkit, reflek mereka mulai bergerak untuk mengikuti wanita tersebut. Sementara itu Vina dan Sandra melongo melihat Edi dan Ramli yang sedang berjalan mengekor di belakang seorang wanita cantik dan begitu seksi. Sandra dibuat kesal melihat suaminya yang sedang mengekor di belakang wanita itu. "Ihhh Mas Edi ngapain sih kayak gitu! Apa dia pingin nasibnya sama kayak Mas Rangga! Berani dia lirik-lirik cewek lain. Biar aku cabein terongnya yang item itu, biar mampus!" gerutu Sandra. Tapi tidak dengan Vina. Bukannya marah, Vina justru ingin sekali tertawa melihat itu, karena ini benar-benar sangat lucu. Dirinya justru menonton Ramli dan Edi sambil tertawa kecil. "Ihhh, Mbak Vina kok malah ketawa sih! Harusnya Mbak Vina marahin mereka tuh! Pokonya aku nggak terima!" Sandra langsung beranjak pergi untuk menghampiri suaminya. Namun dengan cepat, Vina menahan tangan adik iparnya itu. "Kamu mau ke mana, San? Di sini aja, mending kita duduk dulu sambil makan!" kata Vina sambil mengajak adik iparnya untuk duduk di kursi. "Mbak Vina kok malah santai sih, aku mau jewer telinga Mas Edi, dasar cowok. Di mana-mana sama aja, kalau lihat jidat mulus, pasti lupa dengan istri. Itu juga si Ramli, ternyata mereka sama aja!" kata Sandra kesal setengah mati. "Udah tenang, bentar lagi kamu juga tahu. Udah deh, duduk aja di sini!" ajak Vina lagi. Wajahnya terlihat santai dan tidak cemburu jika Ramli tergoda oleh wanita itu. Sementara itu, wanita cantik itu tiba-tiba berhenti. Ramli dan Edi juga berhenti sambil memasang muka cengar-cengir. "Hehehe, hai mbak!" sapa Edi kali pertama. Wanita itu cuma diam sambil tersenyum. Ramli sendiri juga pura-pura baik dengan wanita itu. "Gila, Tuan. Nih cewek bening beud! Perfect! Semuanya serba gede, uhuyyy!" bisik Edi yang tiba-tiba berpikiran mesum tatkala melihat tubuh sang wanita yang tinggi semampai dan besar. Memang, tubuh wanita itu cenderung tinggi besar, mungkin sejajar dengan tinggi Edi yang lebih pendek dari Ramli. "Busett nih cewek! Tingginya kek jerapah euy, bener kan, Tuan?" bisik Edi bertanya di telinga Ramli dengan pikirannya yang mulai aneh-aneh. "Ada apa ya, Mbak? Mbak nyari sesuatu?" tanya Ramli memberanikan diri dengan wajah polosnya. Sayangnya wanita itu tidak terlalu tertarik dengan Ramli yang menurutnya sangat jelek. Wanita itu pun reflek menjawab ucapan Ramli dengan suara baritonnya yang besar persis suara pria normal. "Ihhh kamu kok jelek banget sih, bikin jijay eieh, ihhh najong mukanya!" kata wanita itu sambil mengibaskan rambutnya yang panjang. Seketika, baik Edi maupun Ramli saling menatap setelah mendengar suara wanita cantik itu. Ternyata suara wanita itu jauh lebih besar ketimbang suara maskulin kedua pria itu. "Njirrr, bowtie, eimmm!" kata Edi yang seketika itu ia menjadi jijik melihat wanita itu. Sudah dipastikan itu adalah wanita bertytyd. BERSAMBUNGSepertinya pertemuan Aland dan Erick itu membawa kebahagiaan tersendiri. Sesampainya di rumah, Aland langsung bercerita kepada sang istri bahwa dirinya bertemu dengan Erick dan anaknya. Apalagi Erick sudah menikah dengan Ani. "Ohhh ya? Jadi Ani dan Erick udah nikah?" sahut Vina yang begitu antusias. "He em, dan sekarang katanya si Ani sedang hamil tua!" jawab Aland lagi. "Ya ampun, udah lama nggak denger kabar mereka. Sekarang mereka sudah menikah. Syukurlah, Ani bisa mendapatkan kebahagiaannya, semoga saja rumah tangga mereka langgeng sampai kakek nenek ya, Mas!" balas Vina. "Ya, aku pun bahagia mendapatkan istri sepertimu. Jika saja kita tidak pernah bertemu. Mungkin aku tidak akan pernah menjadi orang baik. Aku pasti akan tetap menjadi pria brengsek!" balas Aland. Tiba-tiba suasana menjadi melow. Vina menatap wajah suaminya yang sudah enam tahun ini menjadi suaminya. "Jangan bilang seperti itu. Justru, aku yang beruntung memiliki suami pengertian sepertimu. Dulu aku sa
Lucunya, Ezra menjawab pertanyaan Aland langsung. "Makan nasi lah, Om. Masa makan ati!" jawabnya apa adanya'. Aland langsung melongo mendengarnya. Bisa-bisanya bocah itu bicara demikian. "Wah! Iy, iya, bener juga kamu. Makan ati emang nggak enak. Om sering ngerasain itu dulu!" jawabnya ikutan absurd seperti Ezra. Ezra menatap wajah Aland dengan serius. Pipinya yang terlalu gembul membuatnya seperti sedang mengunyah bakso. "Oh iya, Om lupa. Kita belum kenalan, boy!" ucap Aland sambil mengulurkan tangannya pada bocah laki-laki itu. Ezra tersenyum. Sepertinya bocah itu mulai nyaman. Ia membalas uluran tangan Aland dan menyebut namanya. "Saya Ezra, Om. Anaknya ibu Ani sama ayah Erick yang paling ganteng dan paling rajin satu kampung," ucap bocah itu dengan kalimat yang lancar. Sepertinya ia memang sengaja menghafal kata-kata itu. Aland menaikkan kedua alisnya sambil menoleh ke arah Erick. Erick sendiri mengulum senyumnya sambil garuk-garuk pelipisnya. "Ohhh, jadi namamu
Raisya tak mau kalah. Bocah perempuan itu mencubit tangan gembul Ezra. Bocah laki-laki itu langsung menangis sambil berjalan ke arah ayahnya. "Huaaa ayah, aku dicubit sama si keriting!" omel Ezra dengan raut wajahnya yang memerah sambil menunjukkan tangannya yang habis dicubit oleh Raisya. Erick memeluk Ezra sambil tertawa kecil. Betapa menggemaskannya anak-anak itu. Sedangkan Aland tampak menasehati putrinya. "Raisya, nggak boleh gitu, Nak! Ayo minta maaf!" ucap Aland. Raisya mengerucutkan bibirnya karena ia merasa tidak bersalah. Ezra lah yang memulainya terlebih dahulu. "Nggak mau! Dia duluan talik-talik lambutku, Yah. Masa Laica yang minta maaf!" sahut bocah itu sambil menyilangkan kedua tangannya seperti orang dewasa. Aland cuma garuk-garuk pelipisnya karena rasanya seperti ia sedang menghadapi Vina, istrinya. "Hah! Rasanya sedang menghadapi kemarahan Emaknya. Ini sih Vina ukuran sachet!" gumam Aland. Namun sebisa mungkin ia merayu putrinya agar mau berdamai dengan E
"Ya nggak lah, Bro. Aku bukan pria seperti itu. Itu anak sambungku dari istri pertamaku!" ungkap Erick. Lagi-lagi Aland menyipitkan matanya. "Istri pertama? Itu artinya masih ada istri-istri yang lain? Eh, kamu ini kawin berjamaah atau gimana?" tanya Aland dengan ekspresi wajah yang serius. Erick tertawa lagi. Sepertinya sepupunya itu belum tahu jika dirinya telah menikahi Ani. Pasalnya saat mereka menikah, Aland dan Vina memang tidak diberitahu dengan alasan tidak ingin merepotkan Aland yang tentunya sibuk dengan pekerjaannya. "Kawin berjamaah, ada-ada saja kamu!" ucap Erick. "Ya itu pokonya, menikahi lebih dari satu wanita, apa sih itu namanya?" Aland terlihat garuk-garuk pelipisnya, mencoba mengingat-ingat. "Poligami!" jawab Erick dengan cepat. "Nah, iya itu. Kamu poligami, bro?" Pertanyaan Aland sungguh serius. Erick menggelengkan kepalanya lagi. "Enggak lah. Istriku masih satu untuk saat ini!" Jawaban Erick lagi-lagi membuat Aland kali ini garuk-garuk tengkuknya. "Masih sa
Aland memang menoleh ke belakang. Tapi pria itu sedang tidak menoleh ke arah tiga wanita itu. Justru, ia terpaku pada seseorang yang sedang bersama seorang anak laki-laki yang seusia putrinya. Iya, dia melihat seorang pria yang sedang menggandeng anak laki-laki yang memakai seragam sekolah yang sama dengan Raisya. Di sisi lain, ketiga wanita itu nampak percaya diri jika Aland sedang melihat mereka. Ketiganya nampak salah tingkah dengan merapikan rambut dan bulu mata mereka. Seolah-olah Aland sedang memperhatikan netes. Nyatanya, kedua mata Aland tertuju pada seorang pria yang sangat dikenalnya. Pria itu nampak akrab dengan seorang anak kecil yang bertubuh gembul. "Erick!" panggil Aland. Ya, sosok itu adalah Erick Hermawan, anak kandung Nyonya Ratna yang tak lain adalah sang Tante. "Erick!" panggil Aland lebih keras. Pria itu pun menoleh. Aland tidak salah lihat karena pria yang diduga Erick itu memang dia. Erick sendiri juga sangat terkejut saat melihat wajah Aland di
Aland tidak bisa menyangkalnya karena sang istri lebih tahu kekurangannya ketimbang dirinya sendiri. "Udah, udah. Jangan bicarakan rambut lagi. Ayo berangkat! Biar Mama di rumah saja!" ajak Aland pada Raisya. Bocah perempuan itu jingkrak-jingkrak kegirangan karena keinginannya untuk ditemani oleh sang ayah akan dituruti. "Tapi apa kamu nggak ke kantor, Mas? Gimana dengan kerjaan kamu? Katanya ada rapat?" tanya Vina yang sudah tahu jadwal sang suami. "Tidak apa-apa, aku bisa wakilkan ke Romi!" jawab Aland sambil menggandeng tangan putrinya, bersiap untuk mengantarnya pergi ke sekolah. "Jangan khawatir, aku pasti bisa!" imbuh pria ini itu lagi. Vina lebih percaya pada suaminya. Meskipun nantinya orang melihatnya sedikit aneh, orang tua murid laki-laki datang ikut menunggu putrinya yang sedang sekolah. "Ayo, salim dulu sama Mama!" titah Aland kepada anaknya itu. Raisya pun segera menurut, ia salim dan mencium tangan sang ibu. Vina mencium kening putrinya dan memberikan nasehat pada







