LOGINOrang-orang suruhan Aland langsung terbang ke Paris, sesuai informasi yang didapatkan dari Mbok Yem jika Tuan Andreas dan Vina berada di sana. Benar kata Aland, jika Tuan Andreas seperti belut dan susah ditemukan. Sudah berhari-hari bahkan berbulan-bulan orang-orang suruhan Aland mencari keberadaan Tuan Andreas. Nyatanya nihil, mereka hanya menemukan Vina saja yang tinggal di sebuah rumah di salah satu kota besar itu. Kini, usia kandungannya semakin besar, Vina makin menjaga kandungannya dengan sangat hati-hati. Kelahiran dua bayi kembar itu adalah hal yang paling ia nantikan. Siapa sangka, kedatangan Rangga di tengah-tengah dirinya sedang berjuang sendirian dengan kehamilannya adalah sesuatu yang mengejutkan wanita itu. Rangga sengaja menyusul Vina untuk membujuk wanita itu agar mau kembali kepadanya. "Ngapain kamu ke sini, Mas? Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi! Sebaiknya kamu pergi saja dan jangan ganggu aku!" katanya dengan nada tak enak dan cenderung ketus. "Aku tahu kamu
"Emmm, iya, ayah sudah tidak kerja lagi di sana!" jawab Aland langsung. "Apa karena ayah sudah kaya, ya? Sekarang kan kita tinggal di rumah gede ini, apa ayah udah selesai melakukan pekerjaan ayah yang disuruh Bu Vina dulu? Emangnya uang ayah sudah banyak?" Pertanyaan Ayu seketika membuat Romi dan Edi yang ada di sana ikut tertawa kecil. "Emmm ya begitulah! Su-sudah! Pekerjaan ayah sudah selesai, makanya ayah beliin rumah ini untuk kalian, bukankah ayah udah janji mau beliin rumah besar untuk Bagas, Ayu, Rendra dan nenek juga!" jawab Aland tentunya ia sedang berbohong. "Ohhhh, itu artinya kita udah nggak ketemu sama Bu Vina lagi dong! Sayang banget ya, padahal kita udah seneng tinggal di rumah Bu Vina. Bu Vina juga pasti sedih karena nggak ada yang nemenin main lagi. Apalagi Bu Vina sedang hamil, pasti sekarang sangat kesepian. Jadi pingin ketemu sama Bu Vina!" kata Ayu yang tiba-tiba bersedih. Aland menunduk sambil terus menggendong si bungsu. "Hei, jangan sedih dong! Tentu
"Benar, Tuan. Saya mendengar sendiri kalau Tuan Andreas sengaja mengirim tukang ledeng gadungan itu untuk mencelakai Anda dan anak-anak. Dia sengaja melepaskan ular itu di dalam kamar Anda!" ungkap Edi. Kali ini Ramli tidak bisa membiarkannya begitu saja. Tuan Andreas pasti akan mendapatkan balasannya dengan segera. "Itu artinya, pria itu sudah tahu indentitasku, keparat! Dari mana dia tahu siapa aku yang sebenarnya!" Ramli mulai menyadari jika rahasianya sudah tercium oleh Tuan Andreas. Secara logika untuk apa pria itu menyuruh orang untuk membunuh dirinya dan kedua anaknya jika tidak ada maksud tertentu. Kedua mata Ramli mulai menyalakan kebencian, dendamnya kembali berkobar. Tak berselang lama dokter keluar dari ruang emergency, memberitahukan bagaimana kondisi kedua anaknya yang sekarang dalam perawatan intensif. "Bagaimana anak-anak saya, Dok? Mereka baik-baik saja, kan?" Ramli nampak begitu cemas dan berharap kedua anaknya segera membaik. "Mereka sudah melewati masa krit
"Iya, Bu! Tadi pas tidur ada ular masuk dan gigit tangannya Ayu. Untung saja ada Pak Edi datang, dan sekarang kok udah nggak ada orangnya, apa Pak Edi udah bawa Ayu ke rumah sakit, ya! Saya juga tidak melihat Bagas. Aduh Gusti, ini piye toh. Bagas nggak ada, Ramli malah ilang!" imbuh Mbok Yem bingung. Vina langsung panik, bagaimana bisa Ayu digigit ular sedangkan rumah ini sangat steril dari binatang melata karena ada Ramli yang selalu memastikan keamanan rumah itu dari orang jahat atau hewan liar. "Ya Tuhan. Tapi Ramli juga nggak kelihatan batang hidungnya, perasaan tadi dia keluar. Terus, dia ke mana?" batin Vina pusing. Karena nyatanya ia memang tidak melihat keberadaan sang pelayan. Justru, ia melihat kedatangan Tuan Andreas. Di sisi lain, Pak Sarip mengatakan bahwa ia melihat Bagas keluar dari kamar Ramli, sepertinya bocah itu sedang mencari keberadaan ayahnya. "Tadi saya lihat Bagas keluar, Bu. Tapi sekarang kok nggak ada. Saya sudah mencarinya ke mana-mana tapi tetap ng
Seketika Tuan Andreas terkejut dan melihat ke arah sang anak yang baru saja datang. Sialnya ia tidak tahu jika Vina sudah ada di sana. "Vina! Sialan! Mudah-mudahan saja dia tidak mendengarkan obrolan kami!" batin Tuan Andreas yang terlihat salah tingkah. Lalu, Vina mendekati ayahnya yang sedang bersama seorang pria yang memakai baju katelpak. Wanita itu masih mengenakan piyama handuk dengan rambutnya yang terlihat basah. Ia baru saja keluar dari kamarnya dan mendengar jika ada keributan di luar. Saat ia hendak mengecek dan bertanya kepada para pelayan, tanpa sengaja Vina melihat mobil sang Papa yang terparkir di halaman rumah. Benar saja, Vina mendapati Tuan Andreas sedang berbincang serius dengan seorang pria. "Papa kok ada di sini? Ada apa dan siapa dia, Pa?" tanya Vina seraya menunjuk ke arah pria itu. Tuan Andreas harus bisa menutupi rencananya agar dirinya tidak dicurigai oleh sang anak. "Ohhh, iya, tadi Papa nggak sempat ngasih tahu kamu. Pas Papa nginep di sini, Papa l
Tanpa pikir panjang, Edi langsung membuka pintu kamar Ramli, pria itu terkejut bukan main saat melihat Ayu yang sedang kesakitan karena telah digigit oleh seekor ular. Tubuh gadis kecil itu langsung menggigil sambil memegangi kakinya yang tergigit. Sedangkan ular cobra itu nampak keluar dari jendela. "Ayu!" Edi segera menghampiri Ayu. Dilihatnya tidak ada siapa-siapa di kamar itu selain Ayu. Entah di mana Ramli juga Bagas. "Ya Tuhan, Tuan Aland ke mana? Kasihan kamu, Nak!" Tanpa basa-basi lagi, Edi segera menggendong tubuh mungil Ayu untuk segera ia bawa ke rumah sakit. Pria itu panik dan langsung membawa Ayu begitu saja. Di sisi lain ular itu pergi ke arah halaman depan di mana ada Bagas yang sedang berada di sana. Entah kebetulan atau memang sudah apes. Ular itu juga menggigit kaki Bagas saat ia tak sengaja menginjak ekornya. Bocah itu seketika kaget dan langsung berteriak. Ramli yang saat itu sudah keluar dari kamar Vina. Tiba-tiba ia mendengar suara teriakan Bagas dari arah lu







