LOGINVina tetap pergi untuk bertemu dengan Aland. Wanita itu sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan pria itu. Ia harus menyudahi permainan Aland. Vina datang sendiri ke rumah sakit tanpa didampingi oleh siapa pun. Sungguh, wanita itu sangat berani datang sendirian, ia tidak takut sama sekali. Jikalau dirinya dipenjara karena telah membunuhnya. Vina tidak peduli asalkan dendamnya telah terbalas. Di sisi lain, sesaat Vina pergi. Sarah segera menghubungi nomor Aland untuk memberitahukan kedatangan Vina yang tidak main-main. Beruntung, Aland segera mendapatkan informasi tersebut dan pria itu pun cuma tersenyum simpul. "Tuan harus hati-hati. Tadi saya lihat Nyonya Vina bawa senjata. Saya takut dia menyakiti Anda, Tuan!" kata Sarah dalam telepon. Suara wanita itu terdengar sangat khawatir. "Jadi, dia susah tahu siapa aku?" "Sepertinya begitu, Tuan. Nyonya Vina pergi ke rumah Bastian asli dan dari sana akhirnya semua rahasia Tuan terbongkar!" Kali ini Aland tidak bisa mengelak l
Air mata gadis itu tiba-tiba keluar dengan derasnya. Membasahi pipinya yang pink merona. Ia mengusapnya cepat sambil memalingkan wajahnya dari Aland. "Ma-maaf Tuan, saya tidak bermaksud bicara seperti itu." Sonya mengusap langsung air matanya dengan lengan bajunya. Tanpa menunggu lama ia bersiap keluar dari kamar tersebut karena dirinya merasa teramat sakit dengan ucapan kasar Aland padanya. "Baiklah, kalau begitu saya keluar saja dari kamar ini, sebaiknya Tuan istirahat supaya kondisi tubuh Anda segera pulih dan Tuan bisa kembali pulang, permisi!" lanjutnya sambil terus berjalan menuju ke pintu keluar. "Sonya, tunggu!" Aland tersadar jika ucapannya sudah menyingung perasaan gadis itu. Gadis itu tidak kembali dan ia terus pergi meninggalkan kamar itu. "Ah sial! Dasar perempuan, dikit-dikit marah, dikit-dikit ngambek!" gerutu pria itu sesaat Sonya menutup pintu. Kondisi Aland kian membaik, dokter sudah berhasil mengambil jenis peluru 9 mm dari dalam tubuhnya. Mungkin dala
Tubuh Vina lemas, ia berharap ini hanya sebuah mimpi. Dirinya sudah berjanji di pusara sang ayah untuk membalas kematiannya pada pria itu. Tapi ternyata, pria itu justru datang padanya dengan berpura-pura menjadi pelayan restoran. "Tunggu, tunggu! Kamu pasti salah orang, bukan? Itu pasti bukan dia! Aland Orlando tidak mungkin dia yang melakukan itu!" sahut Vina yang terlihat begitu geram dan sangat menyesal karena dirinya telah begitu baik pada pria itu selama ini. "Untuk apa saya bohong, Nyonya. Demi putri saya, saya tidak mungkin berbohong. Sebenarnya Tuan Aland menyuruh saya untuk tutup mulut. Tapi karena Nyonya sudah tahu indentitas saya. Saya tidak mungkin bisa menyembunyikan nya!" kata pria itu lagi. Pria itu juga melanjutkan ceritanya saat awal pertemuan dan akhirnya terjadi kerjasama mereka. Aland memberikan uang satu koper padanya untuk biaya pengobatan putrinya asal identitas Bastian, ditukar dengan Aland. "Begitulah, Nyonya. Karena saya tidak punya pilihan lain,
Tentu saja Vina tidak percaya begitu saja. Mungkin itu adalah Bastian yang lain yang kebetulan tinggal di kawasan rumah itu. Bisa jadi itu saudaranya atau tetangganya. "Emmm maaf, ya. Saya datang ke sini untuk mencari saudara Bastian yang katanya tinggal di rumah ini. Mungkin Anda bisa menunjukkan saya dia di mana sekarang?" tanya Vina sambil tersenyum. "Bastian?! Sudah saya bilang saya ini Bastian, Nyonya!" jawab pria itu lagi. Vina masih belum percaya begitu saja, nama Bastian di dunia ini sangat banyak dan bukan cuma satu orang saja. Lalu Vina mengeluarkan sebuah kartu nama dan alamat restoran di mana Bastian bekerja sebagai bukti. "Bastian pernah bekerja di disini!" kata Vina sambil menunjukan sebuah kartu nama tentang di mana restoran seafood itu. Pria yang mengaku bernama Bastian tampak sedang tertawa kecil. "Maaf, Nyonya. Saya sendiri si Bastian itu. Saya juga pernah bekerja di rumah makan seafood persis seperti yang Anda tunjukkan ini." "Nggak mungkin!" sahut Vina
"Ya maksudku, dia kan ibaratnya cuma pelayan, Vin. Untuk apa kamu buang-buang waktu untuk nganter dia ke rumah sakit. Kamu bisa aja kan nyuruh asisten kamu atau orang-orang kamu. Lagipula kamu wanita yang sibuk jadi mana mungkin kamu buang-buang waktu cuma sekedar ngurus pelayan yang sakit, apalagi dia itu cuma orang baru. Kamu belum tahu tetek bengek nya, dia berasal dari keluarga mana, ini yang aku sayangkan, kamu cepat sekali percaya sama orang, takutnya dia itu orang jahat!" kata dokter Robby. Pria itu berniat untuk mempengaruhi Vina agar menjauh dari Aland. Sayangnya, Vina tidak peduli sama sekali dengan ucapan Dokter tersebut. "Udah ya, Dok. Cukup! Aku nggak butuh nasehat dari kamu, okeyy. Aku tahu apa yang harus aku lakukan, aku bukan anak kecil lagi. Aku faham kekhawatiran mu sama aku. Tapi percayalah! Bastian itu pria yang sangat baik," kata Vina penuh perasaan. Meskipun orang-orang di sekitarnya mengatakan hajj "Tapi, Vin! Aku juga khawatir banget sama kamu!" lanjut sa
"A... aku...aku!" Vina terlihat tergagap karena ia melihat wajah Aland yang terlihat marah. Tidak seperti biasanya, kali ini tatapan mata pria itu sangat menakutkan. Meskipun ia sedang menahan rasa sakit pada punggungnya. Lalu, ia menatap tajam ke arah Vina seraya berkata. "Saya memang menghormati Anda, Nyonya. Tapi saya sangat tidak suka jika Anda berani sekali menyentuh wajah saya!" "Emmmm, tapi aku tidak bermaksud untuk...!" Tiba-tiba saja Aland melempar tangan Vina cukup keras sehingga membuat wanita itu sedikit bergerak mundur. "Sebaiknya Anda tidak usah dekat-dekat. Maaf!" kata Aland sambil memalingkan wajahnya. Vina tampak mengerutkan keningnya, kenapa pria itu begitu marah saat ia menyentuh wajahnya. Apa mungkin jika kecurigaan nya benar bahwa kulit itu memang kulit palsu. Sementara itu Aland hanya bisa mengelus dada. Sebenarnya ia juga tidak ada niat untuk berucap kasar pada Vina. Namun apa yang dilakukan oleh wanita itu hampir saja membuat rahasianya terbongkar.







