Mag-log inPintu akhirnya tertutup, untuk terakhir kalinya Vina melihat wajah suaminya sebelum ia melihat wajah pria lain.
Wanita itu menarik napas panjang sebelum ia memulainya. Hati kecilnya berkata tidak, namun rasa cintanya yang teramat besar kepada sang suami, membuat wanita itu melakukan hal yang gila. Berhubungan badan dengan pelayannya.
Udara di kamar itu memang dingin, tapi bagi Vina, rasanya masih sangat panas. Sepanas hatinya yang ingin segera keluar dari kamar ini. Hingga akhirnya, suara berat seorang pria memanggil wanita itu. "Bu Vina, mari minum dulu!" Ramli menawarkan minum untuk wanita itu. Minuman yang sudah disediakan khusus untuk mereka.Rangga sengaja memesan bir untuk mereka berdua.
Vina menoleh dengan wajah dingin.Sesungguhnya wanita itu tidak pernah ingin melakukan hal gila ini. Tapi tuntutan dari suami dan keluarganya, membuatnya nekad untuk menerobos dosa paling terlarang yang konon katanya, rasanya sangat nikmat dari pasangan sah.
"Bu Vina tidak minum?" tawar Ramli lagi.Wanita itu memegangi kepalanya yang pusing, merutuki dirinya yang saat ini terjebak dalam hubungan yang rumit.
Ramli tahu apa yang ada di dalam hati wanita itu. Ia juga tidak serta-merta memaksanya untuk mau berhubungan dengan dirinya. "Bu Vina sedih, ya? Apa Bu Vina menyesal dengan perjanjian kita? Jika Bu Vina menyesal, saya tidak keberatan untuk membatalkan kerjasama kita dan uangnya akan saya kembalikan saja ke Pak Rangga!" "Jangan! Kamu tidak usah melakukan itu. Aku tidak akan membatalkan kerjasama kita. Aku cuma butuh waktu sebentar, tolong! Kepalaku sangat pusing sekali. Bisa kah kamu biarkan aku tenang dulu!" mohon Vina. Ramli mengangguk dan mengerti. Pria itu pun tidak akan bertanya macam-macam lagi. Hanya saja ia merasa kasihan melihat kondisi Vina yang kurang fit malam ini.Bagaimana bisa wanita itu menerima benihnya dengan baik jika Vina dalam keadaan seperti itu.
"Maaf Bu Vina. Saya lihat Bu Vina kurang enak badan. Kalau Bu Vina mau, saya bisa bantu pijitin kepala dan area leher. Biasanya otot-otot di daerah itu suka tegang dan bikin pusing! Dulu, waktu di desa saya sering mijitin kepala Emak saya yang suka pusing, setelah saya pijit katanya udah nggak pusing lagi dan sembuh!" tawar Ramli yang masih bersikap hormat seperti pelayan Vina biasanya, meskipun penampilannya saat itu terkesan sangat macho dan gagah. Sejenak, Vina berpikir, apa yang dikatakan oleh Ramli ada benarnya.Tidak ada salahnya jika ia meminta bantuan kepada pria itu untuk memijit kepalanya.
"Beneran kamu bisa mijitin kepala?" jawab Vina. Ramli mengangguk sambil tersenyum. "Kalau Bu Vina tidak percaya, bisa dicoba sekarang!" jawab Ramli percaya diri.Vina menggerakkan bola matanya ke kanan-kiri untuk memastikan dirinya mengizinkan sang pelayan menyentuh kepalanya.
Setelah beberapa saat setelah berpikir, Vina pun setuju bersedia untuk dipijit. "Oke, silakan dipijit! Terus, aku harus duduk di mana?" jawab wanita itu tampak memilih posisi yang tepat. "Bu Vina duduk di situ saja, biar saya yang naik ke ranjang!" jawab Ramli bersiap untuk naik di atas ranjang ukuran Big size itu. "Oke!" Vina masih duduk di tempatnya.Lalu, perlahan Ramli naik dan memposisikan dirinya di belakang sang majikan.
Aroma harum dari tubuh Vina cukup membuat konsentrasi Ramli sedikit terganggu.
Wangi itu sangat lembut namun membuat hidung ingin sekali menciumnya lebih dalam.
"Tubuh Bu Vina sangat harum, pasti wanita ini sangat pandai merawat dirinya. Astaga, kulitnya sangat mulus tanpa cela. Kalau aku jadi suaminya, aku tidak akan membiarkan laki-laki lain menatap kecantikannya apalagi sampai berhubungan badan. Pak Rangga memang suami yang sangat aneh!" batin Ramli. Vina belum merasakan tangan Ramli memijit kepalanya, wanita itu pun langsung protes sambil menoleh ke samping. "Ramli, kenapa lama sekali? Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya dengan tegas.Ramli terkesiap, lamunannya buyar seketika saat suara Vina memanggilnya.
"Emmm iya Bu, maaf! Saya cuma kagum sama ibu. Bu Vina sangat mencintai Pak Rangga rupanya, sampai-sampai Bu Vina harus mau berada di kamar ini bersama saya!" kata Ramli.Vina menghela napas dan kali ini ia tidak ingin membicarakan itu lagi.
"Sudahlah, aku sedang tidak ingin bicara tentang itu. Cepat pijitin, udah pusing banget ini!" desak Vina yang bersiap untuk mendapatkan pijitan spesial dari sang pelayan. "I-iya, Bu!" Tangan kekar Ramli, mulai menyentuh kepala Vina.Lalu menekannya pelan-pelan, pria itu tahu di mana titik saraf untuk meringankan sakit kepala.
Tangannya turun ke bawah, tepatnya di pangkal leher sebelah luar.
"Ahhhh lumayan juga pijatan tangan Ramli, kepala jadi nggak tegang lagi!" gumam Vina sambil menikmati pijatan lembut itu. Vina semakin memejamkan matanya saat pijitan Ramli membuatnya sangat rileks.Hingga akhirnya, entah kenapa pijatan tangan Ramli tiba-tiba membuat Vina sedikit gugup. Pasalnya, pria itu memijit dengan sangat lembut dan begitu dekat, apalagi saat tangan Ramli menekan pangkal lehernya lalu turun ke pundak dan dada bagian atas.
Kedua bola mata Vina melirik ke bawah di mana tangan besar Ramli hampir saja sampai pada dua gundukan kenyal miliknya.Napasnya mulai tak beraturan, seolah Ramli tahu di mana letak titik-titik syaraf yang bisa membuat rileks bahkan keenakan.
"Bagaimana rasanya Bu, enak?" bisik pria itu di telinga Vina.
BERSAMBUNGVina masih tidak menyangka jika kedua orang tua Ramli dibunuh. Tentu saja wanita itu ikut simpati atas apa yang menimpa sang pelayan. "Ya Tuhan, maaf aku tidak tahu jika kedua orang tuamu...!" "Tidak apa-apa, sudah lupakan saja! Ibu hamil tidak boleh mikir yang sedih-sedih! Nanti anaknya nangisan!" jawab Ramli yang masih bisa bercanda. Meskipun begitu, tidak menampik jika pria itu sangat sedih. Kini, Vina melihat awan mendung di wajah sang pelayan. Sungguh, pria itu seperti menyimpan luka yang dalam atas kematian kedua orang tuanya. "Pasti tidak mudah hidup sendirian tanpa ayah atau ibu. Aku bisa merasakannya, mamaku meninggal saat aku berumur sepuluh tahun. Duniaku jadi gelap dan aku merasa seperti mimpi. Baru tadi pagi aku dan Mama saling bercanda bahkan Mama memberikan harapan besar kelak pasti ada laki-laki baik yang akan membahagiakanku, tapi malam harinya, aku melihat jenazah Mama dikebumikan, Mama tertabrak mobil saat menjemputku ke sekolah!" Kali ini Ramli ikut terse
"Hanya membantu menggosok saja, kan? Tidak ada tugas lain?" jawab Ramli. Vina mengangguk sambil tersenyum. "Memangnya kenapa kalau ada tugas lain? Bukannya pelayan harus menuruti perintah majikannya?" Pertanyaan Vina hanyalah sebuah kiasan, namun sejatinya wanita itu ingin sekali dimanja. "Aku hanya pelayan, tugasku adalah melakukan pekerjaan rumah dan melayani majikan. Tapi jika ada tugas berat di luar tugas pelayan biasa. Sepertinya aku nggak sanggup, misal kamu meminta pelayan miskin ini untuk mengambil bulan dan bintang di genggamanmu, sudah pasti aku semaput duluan!" Jawaban Ramli seketika membuat Vina tertawa lebih renyah. Wanita itu justru mencubit lengan Ramli dengan gemas. "Memangnya ngapain aku minta kamu ambilin bulan dan bintang? Aku nggak butuh itu semua, Ramli!" sahut Vina. "Ya emang gitu, kan! Ibaratnya aku cuma hamba sahaya sedangkan kamu putri raja. Mana bisa bersatu, Bu!" Kata-kata Ramli langsung membuat Vina terdiam. Wanita itu menghela napas panjang dan sebi
"Kamu serius?" Tuan Andreas memastikannya lagi. Rangga mengiyakannya dan sangat yakin. Anak buahnya tidak mungkin salah karena mereka mendapatkan informasi itu dari sumber yang sangat terpercaya. "Sangat serius, Pa!" "Jadi si pelayan itu ternyata adalah Aland yang sedang menyamar! Ohhh... Pantas saja, firasatku tidak pernah meleset saat pertama kali lihat mukanya, seperti tidak asing. Jadi selama ini pria itu bersembunyi di rumah kalian tapi aku tidak menyadarinya! Itu artinya Vina dalam bahaya!" Tuan Andreas semakin cemas, karena saat ini sang anak selalu bergantung pada Ramli, bahkan wanita itu tidak bisa makan jika tidak ada Ramli, dan Tuan Andreas pun harus segera menghentikannya. "Iya, Pa. Saya sendiri juga tidak tahu kalau Ramli ternyata adalah Aland sialan itu. Jika saya tahu dari awal mungkin saya tidak akan pernah membawa pria itu masuk ke rumah dan menghamili.... Em maksudnya dekat dengan Vina!" Hampir saja Rangga keceplosan mengatakan rahasia besarnya, segera pria it
Sementara itu di tempat lain, anak buah Rangga telah mendapatkan informasi akurat tentang di mana keberadaan Bu Mar, wanita yang digadang-gadang telah menolong Aland dari maut. Rangga sungguh tercengang dan tidak menyangka jika sebenarnya Aland sangatlah dekat dengannya. Pria itu sangat frustasi setelah mendengar penjelasan dari anak buahnya tentang siapa Aland saat ini. Seandainya ia tahu dari awal, mungkin dirinya tidak akan mudah memberikan kontrak kerjasama dengan sang pelayan. "Menurut tetangga Bu Mar. Aland Orlando selamat karena bantuan wanita itu. Dia punya seorang anak perempuan dan dua orang cucu. Saat ditemukan Aland mengalami amnesia dan tidak ingat apa-apa, Bu Mar menikahkan anak perempuannya dengan Aland dan mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Dan wanita itu memberi nama Aland sebagai, Ramli!" Sungguh, rasanya seperti disambar petir saat mendengar kenyataan bahwa Ramli sebenarnya adalah Aland Orlando. Bagaimana bisa ia membiarkan istrinya dihamili oleh musuh
Tamparan di pipi Intan sangat keras dan spontan wanita itu memegangi pipinya sendiri. Seketika di tempat itu menyita perhatian orang-orang yang lewat untuk berbelanja. Suara tamparan itu cukup keras hingga menggema di sudut ruangan. "Kurang ajar kamu, Vin. Kamu udah berani tampar muka aku!" sungut Intan. Dengan santai, Vina langsung membalasnya dengan wajah tegang dan kesal. "Sekali lagi aku ngomong sama kalian, ya! Jangan pernah usik hidupku teruss. Aku sudah nyaman dengan hidup seperti ini, dan Ramli! Kamu tidak berhak menghinanya. Aku dan Ramli hanya sebatas majikan dan pelayan. So, sekarang pergilah sebelum kesabaranku habis!" "Halah! Nggak usah nutup-nutupi borok mu itu. Kita semua udah tahu. Dari kamu kelihatan hamil dan dari bagaimana sikapmu terhadap jongos itu, sepertinya kamu sedang jatuh cinta dan ada hubungan deh! Tapi kenapa harus dengan cowok yang kayak itu sih! Nggak punya channel brondong yang asyik ya? Kok malah mungut sampah jalanan yang nggak guna kayak dia!
Di saat Vina dan Ramli meninggalkan toko itu, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan suara dari arah belakang. Suara wanita yang sedang memanggil nama Vina. "Hmmm begitu ya, kalau udah jalan berdua sampai lupa sama teman sendiri!" Seketika Vina menoleh ke belakang dan ia melihat tiga temannya. Intan, Mona dan Linda. Ramli pun ikut menoleh dan pria itu tampak menghela napas karena ia bertemu lagi dengan perempuan bernama Intan. Wanita yang paling getol menyebarkan berita perselingkuhan Vina dan pelayannya. Sedangkan baru saja ia tak sengaja bertemu dengan mantan tunangannya, benar-benar hari yang sial untuknya. "Kalian!" Suara Vina keluar ari bibir mungil wanita itu. Vina menanggapinya datar, sejatinya wanita itu sengaja menjaga jarak dengan teman-temannya karena ia tidak ingin tersulut emosi karena apa yang diberitakan oleh teman-temannya itu sudah sangat meresahkan. Ketiga wanita itu nampak tersenyum sinis, si Intan yang semakin antusias mengorek kebenaran dari gosip perselingk







