LOGINRamli segera berlari ke arah Rangga dan Vina. Malam ini, pria itu terlihat sangat kharismatik, berwibawa dan pastinya lebih macho dan seksi dari penampilannya yang sehari-hari.
Benar kata pelayan salon, Ramli terlihat seperti bos besar ala-ala mafia. Wajahnya yang tegas dengan tatapan matanya yang tajam, semakin membuat penampilan Ramli lebih memukau dari Rangga.
"Ramli? Kenapa mukanya jadi beda?" gumam Vina terkejut dan pangling.Wanita itu yang semula tidak terlalu memperhatikan wajah sang pelayan, hari ini entah kenapa wajah Ramli tidak bosan untuk dipandang.
Tapi tetap saja, Vina tak ingin menjatuhkan dirinya. Ia masih menganggap Ramli adalah pria desa yang menjadi pelayannya. Dan baginya hanya Rangga pria paling tampan dan tidak ada yang menandinginya.
Rangga melihat kedatangan Ramli.Lalu setelah Ramli sampai di depan mereka. Pria itu mengajak Ramli untuk masuk ke dalam hotel.
"Maaf, Pak Rangga, Bu Vina. Tadi saya tidak melihat kalau Bapak sama ibu sudah datang," ucap Ramli sambil menundukkan kepalanya layaknya seorang pelayan. "Tidak apa-apa, lagipula aku dan istriku baru saja datang. Ayo kita masuk, aku akan daftar dan cek in!" jawab Rangga sambil menggandeng istrinya masuk ke dalam hotel.Ramli mengangguk dan berjalan di belakang mereka.
Sementara itu, Vina yang berjalan di samping sang suami, sejenak ia menoleh ke belakang di mana Ramli sedang berjalan mengikuti mereka.
Ramli tersenyum sambil mengangguk saat Vina menoleh padanya. Vina langsung memalingkan wajahnya dan menatap ke arah depan. "Issh, kenapa aku noleh sih. Dasar bodoh!" gerutu Vina yang saat itu sedang memakai gaun berwarna hitam dengan siluet A line dengan belahan sampai ke paha, menunjukkan bentuk tubuhnya yang ramping bak gitar spanyol. Rambutnya yang panjang disanggul ke atas, memamerkan leher jenjangnya yang seksi dan menggoda. Ramli melihat penampilan sang majikan yang sangat menggoda. Sebagai pria normal apalagi seorang duda, tentu saja Ramli dibuat menelan ludah melihat kecantikan dan keanggunan istri majikannya. "Wanita secantik ini, bagaimana bisa Pak Rangga tega menyerahkann pada pelayan miskin seperti aku! Kasihan sekali, harusnya dia disayang suaminya, tapi suaminya malah membayar pria lain untuk menghamilinya. Aku sendiri tidak bisa nolak, kebutuhan anak-anakku paling utama. Maafkan bapak anak-anakku, ini semua bapak lakukan demi kalian. Pekerjaan yang sangat mudah, bikin adek untuk kalian. Tapi, nanti adek kalian akan dibawa sama mereka!" gumam Ramli dalam hatinya. Sesampainya di meja resepsionis, Rangga segera mendaftar untuk cek in menggunakan identitasnya sendiri. Ia memesan kamar VVIP untuk istri dan pelayanannya. Setelah ia memesan kamar, Rangga membawa Ramli dan istrinya untuk pergi ke kamar.Di lantai atas nomor 201 adalah kamar VVIP yang akan dibuat sebagai tempat untuk mentransfer benih Ramli ke rahim Vina.
Rangga membuka kunci pintu dengan menggesek kartu khusus untuk pembuka pintu kamar tersebut.Pintu pun terbuka, Rangga membawa masuk istri dan pelayan pria itu.
Kamar yang luas dan dipenuhi oleh fasilitas mewah. Ramli tercengang saat melihat kemewahan kamar kelas atas itu.Sesuai permintaan Vina, Rangga ingin istrinya merasa nyaman saat berhubungan intim dengan pelayannya.
Entahlah, seolah rasa cemburu itu sudah tidak ada lagi dalam kamus hidup Rangga. Pria itu justru memberikan fasilitas yang mewah saat istri dan pelayan rumahnya akan melakukan aktivitas gila yang biasa dilakukan oleh suami istri. "Waduh, Pak. Kamarnya besar sekali. Kamar ini lebih luas dibandingkan rumah saya di desa!" kata Ramli yang baru pertama kali masuk ke dalam kamar hotel mewah. "Ya, jika tugasmu berhasil, kamu bisa membangun rumah yang lebih besar dari kamar hotel ini. Pasti anak-anakmu sangat senang, ayahnya sukses dan bisa membangun rumah baru di desa!" kata Rangga.Sesekali pria itu melihat ke arah jam tangan. Hari itu ia juga sedang ada janji dengan kliennya untuk makan malam di hotel itu.
Vina sendiri masih menggandeng tangan suaminya seolah ia tidak mau ditinggal pergi oleh sang suami. Rasanya sangat tidak nyaman berada di dalam satu ruangan dengan pria lain.Sungguh, sebenarnya Vina merasa sangat takut.
"Baiklah, aku tinggal sekarang. Klien kita sudah menunggu di lantai bawah. Baiklah sayang, aku tinggal sebentar ya, setelah aku dan Mr. Edward selesai makan malam, kita akan segera pulang. Dan tentunya kamu juga sudah selesai dengan Ramli!" kata Rangga sebelum pria itu pergi. "Tapi, Mas! Aku takut!" jawab Vina yang terlihat gugup. "Jangan takut! Anggap saja kamu sedang bercinta denganku, bayangkan wajahku saja, bila perlu matikan lampunya, oke!" ucap Rangga meyakinkan sang istri. Ramli sendiri masih terpesona dengan desain kamar hotel mewah itu. Sebagai orang desa, tentunya desain mewah itu tidak pernah ia jumpai di sekitar tempat tinggalnya. Akhirnya setelah berhasil merayu istrinya, Rangga keluar dari kamar. Meninggalkan sang istri berdua saja dengan sang pelayan. "Daaah, aku pergi dulu. Ingat kata-kataku! Bayangkan wajahku dan matikan lampunya!" Kalimat terakhir sebelum Rangga menutup pintu. BERSAMBUNGTentu saja Vina tidak percaya begitu saja. Mungkin itu adalah Bastian yang lain yang kebetulan tinggal di kawasan rumah itu. Bisa jadi itu saudaranya atau tetangganya. "Emmm maaf, ya. Saya datang ke sini untuk mencari saudara Bastian yang katanya tinggal di rumah ini. Mungkin Anda bisa menunjukkan saya dia di mana sekarang?" tanya Vina sambil tersenyum. "Bastian?! Sudah saya bilang saya ini Bastian, Nyonya!" jawab pria itu lagi. Vina masih belum percaya begitu saja, nama Bastian di dunia ini sangat banyak dan bukan cuma satu orang saja. Lalu Vina mengeluarkan sebuah kartu nama dan alamat restoran di mana Bastian bekerja sebagai bukti. "Bastian pernah bekerja di disini!" kata Vina sambil menunjukan sebuah kartu nama tentang di mana restoran seafood itu. Pria yang mengaku bernama Bastian tampak sedang tertawa kecil. "Maaf, Nyonya. Saya sendiri si Bastian itu. Saya juga pernah bekerja di rumah makan seafood persis seperti yang Anda tunjukkan ini." "Nggak mungkin!" sahut Vina
"Ya maksudku, dia kan ibaratnya cuma pelayan, Vin. Untuk apa kamu buang-buang waktu untuk nganter dia ke rumah sakit. Kamu bisa aja kan nyuruh asisten kamu atau orang-orang kamu. Lagipula kamu wanita yang sibuk jadi mana mungkin kamu buang-buang waktu cuma sekedar ngurus pelayan yang sakit, apalagi dia itu cuma orang baru. Kamu belum tahu tetek bengek nya, dia berasal dari keluarga mana, ini yang aku sayangkan, kamu cepat sekali percaya sama orang, takutnya dia itu orang jahat!" kata dokter Robby. Pria itu berniat untuk mempengaruhi Vina agar menjauh dari Aland. Sayangnya, Vina tidak peduli sama sekali dengan ucapan Dokter tersebut. "Udah ya, Dok. Cukup! Aku nggak butuh nasehat dari kamu, okeyy. Aku tahu apa yang harus aku lakukan, aku bukan anak kecil lagi. Aku faham kekhawatiran mu sama aku. Tapi percayalah! Bastian itu pria yang sangat baik," kata Vina penuh perasaan. Meskipun orang-orang di sekitarnya mengatakan hajj "Tapi, Vin! Aku juga khawatir banget sama kamu!" lanjut sa
"A... aku...aku!" Vina terlihat tergagap karena ia melihat wajah Aland yang terlihat marah. Tidak seperti biasanya, kali ini tatapan mata pria itu sangat menakutkan. Meskipun ia sedang menahan rasa sakit pada punggungnya. Lalu, ia menatap tajam ke arah Vina seraya berkata. "Saya memang menghormati Anda, Nyonya. Tapi saya sangat tidak suka jika Anda berani sekali menyentuh wajah saya!" "Emmmm, tapi aku tidak bermaksud untuk...!" Tiba-tiba saja Aland melempar tangan Vina cukup keras sehingga membuat wanita itu sedikit bergerak mundur. "Sebaiknya Anda tidak usah dekat-dekat. Maaf!" kata Aland sambil memalingkan wajahnya. Vina tampak mengerutkan keningnya, kenapa pria itu begitu marah saat ia menyentuh wajahnya. Apa mungkin jika kecurigaan nya benar bahwa kulit itu memang kulit palsu. Sementara itu Aland hanya bisa mengelus dada. Sebenarnya ia juga tidak ada niat untuk berucap kasar pada Vina. Namun apa yang dilakukan oleh wanita itu hampir saja membuat rahasianya terbongkar.
Vina terus menemani Aland. Wajah pria itu sangat pucat dan tentunya ia sangat khawatir. "Ya Tuhan, tolong selamatkan Bastian. Aku nggak mau terjadi sesuatu padanya, dia punya anak dan anak-anaknya pasti nungguin ayahnya pulang!" gumam Vina penuh harap, membayangkan bagaimana nasib anak-anak sang bodyguard nanti. Di sisi lain, sesuai perintah Romi. Anak buah Aland bergerak untuk menjaga bos mereka yang saat ini sedang dalam kondisi kritis. Mereka pun akan segera mencari siapa yang sudah menembak bos mereka. Orang itu tidak akan pernah bisa lepas. Sarah dan Nancy sangat cemas jika saja penyamaran bos mereka diketahui oleh Vina. Karena saat ini Aland sedang tidak sadarkan diri dan sewaktu-waktu identitasnya bisa terbongkar. "Semoga saja Tuan Aland baik-baik saja. Aku takut jika Nyonya tahu siapa si Bastian!" bisik Sarah pada Nancy. "Kamu benar, semoga saja Nyonya Vina tidak mengetahui jika wajah Bastian adalah palsu," jawab Nancy. Selama dalam perjalanan. Vina selalu setia men
Vina melototkan matanya dan ia sangat yakin sekali jika darah itu berasal punggung Aland. "Bastian, kau... Kau...!" Vina merasa jika pria itu tertembak di punggungnya dan benar saja, Aland langsung bersandar pada bahu wanita itu karena tubuhnya semakin lemah. Felix kabur, sedangkan ketiga pria itu masih tergeletak di atas jalan. Di saat polisi datang ketiganya langsung diamankan. Sedangkan Aland akan segera mendapatkan pertolongan. Sarah dan Nancy langsung turun dari mobil dan melihat kondisi bos mereka. Kedua wanita itu tentunya sangat takut jika terjadi sesuatu kepada Aland. Apalagi darah yang keluar cukup banyak dari tubuh pria itu. "Bastian, bangun! Jangan mati dulu! Aku akan menjadi wanita paling berdosa jika kamu sampai mati. Bangunlah, anak-anakmu menunggumu di rumah!" ucap Vina dengan suaranya yang bergetar. Ia menggerak-gerakkan tubuh Aland yang sudah lemas tak berdaya. Di sisi lain, Sarah segera menghubungi Romi untuk memberitahukan apa yang terjadi pada bos merek
Felix terus konsentrasi membidik untuk menembak tepat di kepala Aland. Cukup susah memang karena saat itu Aland sedang menghadapi tiga pria yang sedang mengeroyoknya. "Shit!" umpat Felix sambil menepatkan tembakan itu. Sementara itu Vina menjadi sangat panik. Wanita itu benar-benar melihat Felix yang akan menembak ke arah Aland. "Ya Tuhan! Felix akan membunuhnya. Ini nggak bisa dibiarkan. Nggak bisa!" Vina tiba-tiba memaksa keluar dari mobil untuk menyelamatkan Aland. "Nyonya, Anda mau ke mana? Nyonya di sini saja!" kata Nancy sambil memegangi tangan Vina yang hendak beranjak dari tempat duduknya. "Aku nggak bisa diam saja di sini! Bastian dalam bahaya. Minggir jangan halangi aku!" tepis Vina sambil terus memaksa untuk keluar dari mobil. "Tapi, Nyonya. Di luar bahaya banget, Nyonya bisa terluka! Kalau Nyonya terluka gimana dengan anak-anak?" sahut Sarah sambil menggendong baby Nala. Sejenak Vina menoleh pada dua bayinya yang sedang bersama sang baby sitter. Kedua bayi itu







