MasukVina membuka matanya dan langsung melepaskan tangan Ramli dari pundaknya. Tentu saja Ramli sangat terkejut dengan sikap Vina yang tiba-tiba pergi.
"Sudah cukup! Terima kasih banyak atas pijitin nya, sekarang udah agak mendingan!" kata wanita itu sambil duduk sedikit menjauh dari Ramli. Ramli sendiri juga tidak bisa memaksa majikannya. Pria itu pun ikut duduk di ranjang yang sama namun mereka saling berjauhan. "Maaf jika saya sudah membuat Bu Vina merasa tidak nyaman," kata Ramli merasa tak enak hati. "Tidak apa-apa, santai saja!" jawab Vina yang sejatinya ia juga sangat gugup. "Baiklah, saya akan berusaha untuk santai, lalu...setelah ini kita ngapain lagi? Apa kita segera ke tujuan utama? Bikin anak?"Kata-kata Ramli langsung membuat Vina meremang, bulu kuduknya berdiri, bukan karena ada setan, tapi kata-kata Ramli terasa menghantui pikiran melebihi seekor setan.
"Emmm gimana, ya! Jujur, aku tuh nggak bisa nafsu dengan pria lain selain sama suamiku sendiri. Jadi, aku minta maaf jika nanti aku nggak bisa bayangin wajahmu, karena hanya suamiku yang selalu ada di pikiranku!" kata Vina terus terang. Ramli tertawa dan bisa memahami ucapan istri majikannya. "Tidak apa-apa, Bu Vina. Saya sangat mengerti sekali. Tapi, saya akan usahakan untuk membuat Bu Vina senyaman mungkin, saya juga tidak mungkin menyakiti Anda. Saya akan melakukannya sesuai request, jika Anda minta slow, oke saya bisa. Anda minta kecepatan sedang-sedang saja, saya juga tidak keberatan. Bahkan, Anda minta full tenaga, saya juga tidak masalah sama sekali!" Kata-kata Ramli cukup membuat Vina tertawa kecil.Rasanya aneh saja, untuk membicarakan hal tabu itu terasa seperti memesan ojek.
Ramli melihat Vina tertawa kecil, pria itu pun garuk-garuk pelipisnya, apa salah dengan ucapannya?Bukankah ia dibayar untuk menghamili istri orang?
Seharusnya ia harus bisa memberikan pelayanan yang senyaman mungkin untuk Vina. Agar wanita itu tidak trauma misal mereka melakukan hubungan intim lagi jika kehamilan belum berhasil.
"Kenapa ketawa, Bu? Ada yang lucu, ya?" tanya Ramli sambil mengulum senyumnya.Vina menegakkan kepalanya, sejenak wanita itu tersenyum hingga menunjukkan deretan giginya yang putih bersih.
Beda sekali dengan gigi Ramli yang berwarna putih keruh bahkan cenderung kekuningan karena terlalu banyak minum kopi dan merokok.
"Astaga, apa yang sedang terjadi pada kita, Ramli? Ini sangat tidak masuk akal, bukan? Lucu sekali!" kata Vina sambil menggelengkan kepalanya. Ramli ikut tertawa, "Entahlah, Bu. Saya juga tidak menyangka bisa mendapatkan pekerjaan seperti ini dari Pak Rangga. Menghamili Anda adalah sesuatu yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, sepertinya kita sama-sama membutuhkan hal ini. Bu Vina ingin anak, dan saya ingin membiayai anak-anak saya di desa!" kata Ramli yang seketika menarik perhatian Vina untuk membicarakan anak-anak pria itu. "Anak-anakmu tinggal sama neneknya?" tanya Vina. Ramli mengangguk lemah. "Ohhh, lalu, apa kamu tidak ingin menikah lagi? Kamu masih muda dan kuat, pasti banyak wanita yang ingin menjadi istrimu!" kata Vina lagi. Ramli menundukkan wajahnya sambil menggelengkan kepala. "Saya berjanji tidak akan menikah lagi. Almarhum istri saya adalah wanita terakhir dalam hidup ini, saya hanya fokus membesarkan anak-anak, itulah kenapa saya merantau ke Jakarta dan kebetulan bertemu dengan Pak Rangga saat beliau dikejar-kejar preman."Ramli mengambil napas sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya. "Beliau membawa saya ke rumah kalian dan dipercaya sebagai kepala pelayan. Sungguh, ini adalah kehormatan untuk saya, sampai akhirnya, saya harus melakukan sesuatu yang sangat besar yakni... Dibayar untuk menghamili istrinya!"
"Memang tidak sesuai dengan hati kecil saya, tapi rengekan anak kedua yang ingin dibelikan sepeda, membuat hati saya goyah, terpaksa saya harus menerima tawaran Pak Rangga. Maafkan saya, Bu!" ungkap Ramli yang seketika membuat Vina merasa kasihan. "Iya, aku juga seperti itu. Rasanya ini sangat mustahil ya, kan? Tapi, Papa terus mendesakku untuk segera punya anak. Jika tidak, Papa akan memecat suamiku dari jabatannya dan aku tidak ingin itu terjadi, aku sangat menyayangi suamiku. Kamu ngerti perasaanku, kan?" balas Vina yang tanpa sadar wanita itu menangis. Melihat wanita yang sedang menangis, membuat jiwa melankolis seorang Ramli luluh.Pria berotot itu tak tega melihat Vina bersedih, reflek pria itu bergerak mendekat dan duduk di samping Vina.
"Aku takut sekali, Ram! Takut kehilangan semuanya!" Vina makin sesenggukan. Sontak, Ramli memeluk wanita itu untuk menenangkannya.Dan entah kenapa, Vina langsung menyandarkan kepalanya pada dada besar sang pelayan. Seakan-akan ia merasa mendapatkan ketenangan ketika berada di dalam pelukan pria itu.
BERSAMBUNG"Pras, tapi itu anakmu! Darah dagingmu!" sahut Pak lurah. "Bukan! Aku tidak pernah yakin kalau itu adalah anakku. Ada Mas Agus yang ikut andil juga, kenapa harus aku yang dituduh! Enak sekali tinggal nuduh orang!" bantah Pras atas pernyataan dari hasil tes DNA itu. "Kamu jangan sembarang ngomong, Pras. Hasil tes DNA itu berdasarkan data-data yang akurat dan diteliti oleh dokter yang ahli di bidangnya. Jadi nggak mungkin hasilnya bohong. Seharusnya kamu bersyukur bisa punya anak meskipun caranya salah, dan kamu kudu bisa menerima kenyataan ini. Toh, anak itu tidak berdosa, kamu dan masmu itu yang sinting!" oceh Pak lurah menasehati anaknya yang benar-benar tidak mau peduli. "Kalian itu kok bisa-bisanya main sama satu cewek di lubang yang sama. Apa itu namanya kalau bukan cah sableng! Untung ada Tuan Aland yang akhirnya membuat kalian mendapatkan ganjarannya, kalau tidak, seumur hidup bapak pasti menanggung malu dan dosa gara-gara perbuatan mesum kalian!" lanjut Pak lurah seraha me
Ani makin sedih melihat Nyonya Ratna yang begitu bersedih. Sepertinya wanita itu menutupi kesedihannya selama bertahun-tahun. Bahkan Aland sekalipun tidak tahu jika sang Tante pernah melahirkan. "Saya mengerti perasaan, Nyonya. Ini memang tidak mudah. Semoga suatu hari nanti Nyonya bisa bertemu dengan anak nyonya lagi," kata Ani menguatkan. "Tapi itu tidak mungkin. Putraku sudah pergi jauh entah dibawa kemana. Aku hanya memiliki foto saat dia masih berusia satu hari, hanya itu yang bisa mengobati rinduku padanya," kata Nyonya Ratna seraya menyeka air matanya. Ani tahu betul jika Nyonya Ratna teramat merindukan anaknya. "Tidak ada yang tidak mungkin, Nyonya. Jika Tuhan sudah berkehendak, kita tidak bisa menolaknya. Semoga nyonya dan anak nyonya bisa bersama lagi," katanya Ani sambil tersenyum memberikan semangat. Nyonya Ratna pun tersenyum. Ternyata Ani memang sudah banyak berubah. Wanita itu terlihat lebih dewasa dalam berpikir. "Terima kasih banyak, An. Aku bangga padamu.
"Iya, Vin. Sekarang Tante sedang menemani dia. Kasihan, dia kesakitan sekali! Tante bisa rasakan itu! Karena Tante juga pernah melahirkan. Emm maksudnya Tante bisa merasakan bagaimana wanita yang sedang melahirkan itu!" ucap Nyonya Ratna seolah wanita itu pernah melahirkan. Padahal diketahui wanita itu tidak memiliki anak meskipun ia seorang janda. "Iya, Tante. Ya Tuhan, semoga Ani dan bayinya selamat. Aku ikutan panik," balas Vina sambil mengusap perutnya. Ia tahu bagaimana paniknya seorang wanita yang hendak melahirkan. "Iya Sayang. Tante juga berharap kamu segera melahirkan!" kata Nyonya Ratna. Di saat itu, Ani yang sedang menunggu kontraksi penuh, ia ingin sekali bicara dengan Vina. Nyonya Ratna mengerti dan ia mengizinkan Ani untuk berbicara dengan Vina. "Vina, Ani ingin bicara!" Mendengar itu, Vina segera mengiyakan permintaan wanita itu. "Halo, Mbak Vina!" Suara Ani terdengar lemah namun ia berusaha untuk kuat. "Ani, Ani kamu baik-baik saja, kan? Kamu harus kuat y
Tak berselang lama, mobil Mercedes Benz yang ditumpangi oleh Aland Orlando tiba di depan gedung bertingkat itu. Seorang pria sudah menunggunya. Iya, Erick Hermawan sudah tidak sabar untuk berjumpa dengan suami Vina itu. Aland turun bersama sang asisten. Pria itu melihat Erick Hermawan yang sedang berdiri di depan kantornya. Sepertinya pria itu baru saja datang. Saat Aland hendak menemui pria itu, Romi membisikkan sesuatu pada sang bos. "Anda harus berhati-hati, Bos. Kita harus tetap waspada meskipun dia terlihat baik!" Aland terdiam sejenak. Pria itu memang tidak pernah mendengar berita miring tentang Erick. Tapi ucapan Romi cukup membuatnya berpikir lagi. Aland melanjutkan langkahnya. Di sana, ia sudah disambut hangat dengan sebuah senyuman. Seorang pria yang berusia sama dengan istrinya, terlihat sangat antusias menunggu nya. "Halo Tuan Aland! Senang sekali bisa bertemu dengan Anda!" kata Erick mengawali obrolan mereka sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Aland merasakan sensasi yang ditarik tapi rasanya sangat nyut-nyutan. "Salah sendiri! Kamu yang mulai duluan!" sahut Vina. "Ya aku kan gemes, aku belum puas mimik cucu kamu. Keburu anak kita lahir, aku mimik apa dong!" jawab Aland yang masih enggan pergi. Ia masih betah menggoda istrinya yang baginya terlihat cantik dan lucu. Apalagi saat itu Vina sedang memakai daster selututyang membuat penampilannya makin gembul. "Ya udah masih banyak susu yang lainnya, Mas. Kamu bisa minum sepuasnya. Tuh, kayak susu kambingnya si Wiwik yang ada di kampung. Malah menyehatkan!" kata Vina sambil menyilangkan kedua tangannya. "Iya juga sih. Tapi aku nggak suka rasanya. Rasanya bau puting kambing!" seloroh Aland tanpa dosa. Kali ini Vina tertawa kecil mendengar pengakuan suaminya. "Memangnya kamu tahu rasanya puting kambing? Pernah minum langsung dari sumbernya?" tanya Vina yang masih penasaran dengan jawaban suaminya. "Hehehe ya nebak-nebak aja sih. Namanya juga susu kambing. Pasti khasiatn
Vina tersenyum sumringah mendengar jawaban suaminya. "Bener, dua bulan kamu sanggup bobo sendiri tanpa aku?" goda Vina. "Ya harus bisa. Kamu sendiri yang ngomong tadi kalau kamu minta dua bulan buat aku bisa! Padahal sebenarnya aku nggak mau seperti itu!" Kalimat terakhir yang Aland katakan, seketika membuat Vina melototkan matanya. "Apa katamu?" sahut wanita itu. Aland mendadak terkejut dan ia ingat-ingat apa yang baru saja ia katakan. "Ohhh iya, maksudku aku mau puasa dua bulan kok. Kan semua itu demi kamu dan anak kita!" jawab Aland sambil mengulum senyumnya. Vina memutar bola matanya dan ia tahu jika suaminya sedang putra setuju. **** Sementara itu di tempat lain jauh dari luar negeri. Seorang pria tampan sedang menatap foto seorang wanita. Pria berwajah tegas dan bertubuh proposional itu sepertinya sedang merencanakan sesuatu. "Aku akan datang. Vina, tunggu kedatanganku!" gumamnya sambil tersenyum miring. Iya, foto yang ia pandangi itu adalah foto Vina saat masih muda







