Home / Urban / Ah! Mantap Mas Ramli / Bab 6 Tawaran kenikmatan

Share

Bab 6 Tawaran kenikmatan

Author: Miss Luxy
last update Last Updated: 2025-10-27 19:41:52

Tak sadar jika dirinya sedang bersandar di dada Ramli, Vina nampak begitu nyaman, seolah dirinya lupa jika sedang bersama seorang pelayan.

Perlahan Ramli mengusap lengan wanita itu, memberikannya kenyamanan karena ia tahu jika Vina sama seperti dirinya. Terpaksa melakukan itu demi sebuah hal yang sangat mereka sayangi.

Sadar jika dirinya berada di pelukan pelayan itu, Vina segera mengangkat wajahnya dan sedikit menjauh dari Ramli.

"Ma-maaf, aku tadi tidak bermaksud...!"

"Tidak apa-apa, Bu. Bagaimana kalau kita minum dulu. Setelah itu kita mulai. Waktu kita cuma sebentar, kata Pak Rangga hanya dua jam tidak lebih!" potong Ramli sambil menuangkan bir ke dalam sebuah gelas.

"Maaf, aku tidak minum bir!" sahut Vina menolak.

"Dicoba sedikit, Bu. Nggak seburuk yang Bu Vina kira. Saya juga kurang terlalu suka jika berlebihan. Paling cuma dua gelas saja untuk menghangatkan tubuh. Tapi, Bu Vina nggak minum juga tidak apa-apa, toh nanti saya yang akan menghangatkan ibu!" kata Ramli tanpa dosa.

Vina memutar bola matanya saat mendengar ucapan pelayan itu.

Wanita itu melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah delapan.

Rangga memberikan waktu sampai jam sembilan malam.

Tentu saja masih ada waktu satu setengah jam untuk adaptasi sebelum melakukan aktivitas utama.

Sejenak Vina melihat wajah Ramli yang kali ini aura gagahnya sangat terlihat.

Ternyata pelayan yang biasa bekerja di rumahnya itu tidak terlalu buruk rupa. Ia melihat pria itu meneguk segelas bir dengan santainya seolah rasa minuman itu biasa-biasa saja seperti air putih.

"Bu Vina mau? Jangan bengong lihatin saya terus, ah saya jadi malu. Kalau mau biar saya ambilkan!" tawar Ramli ketika ia melihat Vina yang sedang menatapnya.

Setelah dipikir-pikir, tidak ada salahnya Vina mencoba sedikit minuman beralkohol itu.

Siapa tahu bisa membuat pikirannya rileks sebelum dieksekusi oleh sang pelayan.

"Boleh, tapi sedikit saja, jangan banyak-banyak!" jawab Vina. Ramli tersenyum senang, lalu pria itu menuangkan bir ke dalam gelas dengan takaran sebanyak seperempat gelas.

Setelah itu, Vina menerimanya dan berusaha untuk meminumnya meskipun ia ragu.

Sejenak ia mencium aroma alkohol yang cukup kuat, kemudian memalingkan wajahnya karena ia tidak terbiasa dengan minuman seperti itu.

"Baunya gini amat, kayak bau kencing kuda!" gerutu Vina.

Ramli tertawa kecil mendengar ucapan sang majikan. "Memang seperti itu, Bu. Dicoba saja pelan-pelan, nanti juga akan terbiasa!"

Vina kembali mendekatkan bibir gelas itu pada bibirnya. Aroma alkoholnya memang sangat menyengat. Vina menahan napas ketika ia hendak meminumnya.

Sedangkan Ramli, pria itu tampak tersenyum melihat bagaimana majikannya belajar minum bir.

Ramli sendiri juga heran, wanita sosialita seperti dia bagaimana bisa tidak suka dengan minuman seperti itu.

Perlahan namun pasti, Vina berusaha untuk meminum bir tersebut. Sambil memejamkan matanya dan menahan napas, wanita itu mulai memasukkan minuman beralkohol itu ke dalam mulutnya.

Baru saja seteguk, Vina merasa mulutnya sangat getir dan pahit. Wanita itu spontan menyemburkannya tepat di depan Ramli. Sehingga membuat baju pria itu basah oleh semburan bir dari mulut Vina.

"Hah, maaf! Aku nggak sengaja, rasanya nggak enak banget, cuih!" Vina sontak melihat baju Ramli yang basah karena ulahnya sambil mengusap mulutnya dengan tisu.

"Tidak apa-apa, Bu. Saya bisa maklum!" Ramli melihat bajunya yang basah separuh. Pria itu terpaksa melepas kemejanya yang basah.

Melihat Ramli yang sudah bertelanjang dada, wanita itu tercengang kala melihat bentuk badan pria itu nyaris sempurna bak dewa Yunani.

"Oh my god! Dia cuma pelayan, tapi badannya bisa sehat bugar seperti itu. Nggak kayak badan Mas Rangga yang perutnya buncit. Ramli badannya kokoh banget, udah pasti tenaganya juga nggak kaleng-kaleng!" gumam Vina yang hampir saja terhipnotis oleh pesona sang pelayan.

"Nggak, nggak! Aduhhh, ngapain juga mikirin tuh pelayan. Pelayan ya tetap akan menjadi pelayan, nggak ada yang bisa nandingi Mas Rangga! Astaga, bagaimana bisa aku hamil anak pria ini, terus nanti gimana hasil cetak muka anakku, bisa sial kalau muka dan kulitnya kayak dia!" Vina merutuki dirinya sendiri yang hampir tergoda dengan kegagahan Ramli.

Setelah Ramli melepaskan pakaiannya, pria itu sekalian melepaskan celananya, mengingat waktunya cuma sebentar.

Sontak, apa yang dilakukan pria itu membuat Vina terperanjat.

"Ramli, kenapa celananya dilepas juga?" sahut wanita itu sambil memalingkan wajahnya.

Bagaimana tidak, kini Ramli hanya mengenakan celana dalam model sederhana.

Bak binaraga yang sedang berdiri menampilkan otot-ototnya yang kekar. Vina menelan ludahnya susah-susah saat tubuh atletis itu berdiri nyata di hadapannya. Perut kotak-kotak bak roti sobek serta otot-otot di tubuhnya yang sangat seksi. Menunjukkan pesona Ramli yang gagah dan sangat menggairahkan.

Dengan santainya, Ramli menjawab pertanyaan Vina. "Waktu kita tidak banyak, Bu. Kita belum pemanasan, masa ujug-ujug langsung dimasukin, nanti Bu Vina menjerit kesakitan, saya tidak mau itu terjadi. Sebisa mungkin saya akan membuat Bu Vina merasa nyaman dan juga keenakan!"

Jawaban Ramli yang serius dan konyol lagi-lagi membuat Vina membulatkan matanya.

"Heh, keenakan ya...!" Vina mulai gugup setelah Ramli berbicara demikian. Ramli kembali tersenyum, lalu pria itu berjalan mendekati istri majikannya.

"Bukan cuma keenakan, Bu Vina bisa minta request kenikmatan yang seperti apa, mau berteriak nikmat, kejang-kejang enak, atau berkali-kali klimaks? Semuanya saya bisa!" Tawaran Ramli sangat-sangat menggiurkan dan makin membuat jantung Vina berdetak semakin kencang.

BERSAMBUNG

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yatno
lanjut kak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ah! Mantap Mas Ramli   Bab 191 tamparan Vina

    Tamparan di pipi Intan sangat keras dan spontan wanita itu memegangi pipinya sendiri. Seketika di tempat itu menyita perhatian orang-orang yang lewat untuk berbelanja. Suara tamparan itu cukup keras hingga menggema di sudut ruangan. "Kurang ajar kamu, Vin. Kamu udah berani tampar muka aku!" sungut Intan. Dengan santai, Vina langsung membalasnya dengan wajah tegang dan kesal. "Sekali lagi aku ngomong sama kalian, ya! Jangan pernah usik hidupku teruss. Aku sudah nyaman dengan hidup seperti ini, dan Ramli! Kamu tidak berhak menghinanya. Aku dan Ramli hanya sebatas majikan dan pelayan. So, sekarang pergilah sebelum kesabaranku habis!" "Halah! Nggak usah nutup-nutupi borok mu itu. Kita semua udah tahu. Dari kamu kelihatan hamil dan dari bagaimana sikapmu terhadap jongos itu, sepertinya kamu sedang jatuh cinta dan ada hubungan deh! Tapi kenapa harus dengan cowok yang kayak itu sih! Nggak punya channel brondong yang asyik ya? Kok malah mungut sampah jalanan yang nggak guna kayak dia!

  • Ah! Mantap Mas Ramli   Bab 190 item dan dekil

    Di saat Vina dan Ramli meninggalkan toko itu, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan suara dari arah belakang. Suara wanita yang sedang memanggil nama Vina. "Hmmm begitu ya, kalau udah jalan berdua sampai lupa sama teman sendiri!" Seketika Vina menoleh ke belakang dan ia melihat tiga temannya. Intan, Mona dan Linda. Ramli pun ikut menoleh dan pria itu tampak menghela napas karena ia bertemu lagi dengan perempuan bernama Intan. Wanita yang paling getol menyebarkan berita perselingkuhan Vina dan pelayannya. Sedangkan baru saja ia tak sengaja bertemu dengan mantan tunangannya, benar-benar hari yang sial untuknya. "Kalian!" Suara Vina keluar ari bibir mungil wanita itu. Vina menanggapinya datar, sejatinya wanita itu sengaja menjaga jarak dengan teman-temannya karena ia tidak ingin tersulut emosi karena apa yang diberitakan oleh teman-temannya itu sudah sangat meresahkan. Ketiga wanita itu nampak tersenyum sinis, si Intan yang semakin antusias mengorek kebenaran dari gosip perselingk

  • Ah! Mantap Mas Ramli   Bab 189 jelek, item dan berdaki

    "Tidak perlu repot-repot beliin aku ini, Vin. Jangan dengarkan omongan Bagas!" bisik Ramli saat kedua anaknya sedang tidak melihat mereka. "Ya nggak apa-apa lah. Udah kamu pilih yang mana, ambil saja!" kata Vina seraya melihat beberapa produk celana dalam yang dipajang di etalase. Sejenak Ramli tertarik saat melihat sebuah lingerie berwana hitam yang sangat cantik. Pria itu tersenyum dan berkata pada Vina. "Coba lihat itu, kayaknya kalau kamu yang pakai pasti sangat cantik, warnanya elegan dan sangat mewah, sudah pasti sangat cocok di kulit kamu!" Sontak Vina melihat ke arah benda yang dimaksud oleh Ramli. Wanita itu cukup tercengang saat melihat lingerie yang dimaksud oleh sang pelayan. "Hmmmm bagus sih! Cuma sepertinya terlalu terbuka di aku. Apalagi perut aku mulai gede, jadi kurang cocok aja sekarang. Kelihatan buncit!" jawab Vina sambil menghela napas. Tanpa diduga, Ramli langsung meminta Vina untuk membelinya. "Tapi aku penasaran kamu pakai itu, ambil satu!" Vina m

  • Ah! Mantap Mas Ramli   Bab 188 gede banget

    Sementara itu Bagas menghampiri mereka yang nampak cengar-cengir. Entah kenapa kedua orang itu sedang berhenti di depan toko penjual pakaian dalam. "Ayah, ayo kita pulang! Katanya mau pulang? Kok malah pada ngumpul di depan toko sempak!" tanyanya dengan muka lesu namun kata-katanya langsung membuat Ramli menutup mulut sang anak. "Ehh, jangan ngomong gitu, Bagas! Nggak enak didengar Bu Vina!" bisik Ramli. "Kan Bagas bener, Yah! Itu memang toko sempak, kan? Tuh, pada dipajang di patung?" sahut bocah itu seraya menunjuk ke arah patung manekin cowok yang bersebelahan dengan patung manekin yang memakai lingerie tersebut. "Heh, anak kecil nggak boleh lihat gituan!" Ramli segera menutup mata sang anak dengan telapak tangannya. "Ya nggak apa-apa lah, Yah. Itu kan baju juga namanya, Bagas juga udah pakai sempak kok. Eh, iya, atau mungkin ayah yang mau beli, soalnya ayah kan jarang pakai sempak!" Sungguh, kata-kata bocah laki-laki itu seketika membuat Ramli sangat malu. "Ehh jang

  • Ah! Mantap Mas Ramli   Bab 187 pijatan Vina

    Setelah selesai makan, Monica pamit kepada Vina untuk pulang. "Aku harus pulang, sebenarnya aku masih pingin jalan bareng sama kamu, tapi aku ada janji sama seseorang, makasih banget untuk traktirannya!" ucap Monica sebelum wanita itu pergi. "Sayang banget kamu pulang. Padahal aku masih mau ngajak kamu nonton, habis ini aku mau nonton sama mereka!" kata Vina seraya menoleh ke arah Bagas dan Ayu yang sedang bersama Ramli. "Kamu ajak mereka nonton? Astaga Vina, jadi majikan jangan terlalu baik, Beb! Hati-hati nanti kamu bisa dimanfaatin sama mereka!" bisik Monica. "Ya enggak lah, aku percaya kok sama mereka. Ramli dan anak-anaknya itu baik banget, jadi nggak mungkinlah mereka kayak gitu!" Vina dengan santai menanggapinya. "Aduh Vina! Nggak tahu deh sama pikiran kamu, aku cuma mau bilang aja, tetap hati-hati sama orang lain yang bukan keluarga kita, jangan sampai kamu nyesel!" Monica mengingatkan lagi. Vina cuma tersenyum tipis dan tetap pada pendiriannya. "Ya udah, aku perg

  • Ah! Mantap Mas Ramli   Bab 186 menjadi Ramli untuk selamanya

    Mendengar namanya disebut, Ramli langsung panik dan berharap Monica tidak bicara macam-macam lagi. Monica menganggukkan kepalanya dan mengiyakan jawaban Vina. Vina menghela napas, ternyata pria bernama Aland itu bukan cuma musuh ayahnya tapi juga penghancur kehidupan sahabatnya. "Jadi, mantan tunanganmu adalah pria itu? Pantas saja brengsek!" Dari raut wajah Vina, jelas menunjukkan bahwa wanita itu sangat marah dengan perbuatan Aland meskipun ia belum pernah berjumpa sekali pun. "Ya, kau tahu nggak sih, aku tuh sayang banget sama dia. Bahkan aku rela melakukan apa pun buat dia, sampai-sampai aku mau tidur dengannya saat dia minta. Karena saking cintanya, aku jadi bodoh!" ungkap Monica yang seketika membuat Vina tercekat. Monica sampai basah melakukan hubungan intim sebelum menikah. "Apa? Jadi kamu dan dia...!" Monica menganggukkan kepalanya. Di sisi lain, Ramli tampak memijit pelipisnya karena akhirnya Vina tahu hubungan Aland Orlando dengan Monica. Meskipun sekarang ia sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status