LOGINKeempat anak buahnya langsung terdiam meskipun dalam hati mereka sangat kesal dengan ucapan Erick. "Pergi kalian, aku tidak mau melihat wajah kalian lagi!" titah pria itu sambil membelakangi keempat pria itu. "Tapi bos, masa nggak ditambah bayaran kami? Katanya gagal atau berhasil, Anda akan menambah bayaran kami. Bos tahu sendiri kami babak belur dan butuh pengobatan. Uang segitu mana cukup untuk berobat belum lagi dikasih ke istri!" protes salah satu di antara mereka sambil menunjukkan beberapa lembar uang seratus ribuan sebanyak Lima. Erick langsung menoleh ke arah mereka dengan tatapan mata yang tajam. "Hei! Kerjaan kalian saja gagal! Enak saja kalian minta tambah. Cukup tidak cukup ya itu bayaran kalian. Aku tidak peduli dengan muka kalian yang bonyok. Salah sendiri tidak bisa berpikir!" umpat pria itu tanpa mau tahu keadaan keempat pria suruhannya. Rupanya, ucapan Erick semakin membuat keempat pria itu kesal. Mungkin kali ini mereka bisa diam, tapi suatu hari nanti Eri
Tanpa menutup ponselnya, Aland meletakkan ponsel itu begitu saja di atas dashboard. Pria itu segera membantu istrinya untuk menangkap bayi mereka yang akan segera keluar. Vina terus berusaha untuk mengejan sekuat tenaga dan pada akhirnya kepala bayinya mulai keluar semakin banyak. "Aaarrrggghh!" Teriakan Vina semakin kuat, dengan satu tangannya berpegangan pada sisi pintu dan tangan lainnya menahan kaki. Vina terus mendorong bayinya untuk segera keluar. Sementara itu Aland mengurangi kecepatan mobilnya, ia tidak bisa menepi karena mobilnya berada di tengah-tengah padatnya aktivitas jalan raya. Dan setelah beberapa saat, bayi sehat dan memerah itu keluar dari jalan lahir sang ibu. Spontan Vina menahannya dengan kedua tangannya agar sang jabang bayi tidak terjatuh ke bawah. Dengan mata telanjang, Aland menyaksikan istrinya melahirkan di dalam mobil. Pria itu sangat shok sekaligus bahagia. Suara tangis bayi mereka langsung pecah saat itu juga. Vina segera mendekap si jabang b
"Ya Tuhan perutku! Perutku sakit!" rintih Vina. Sedangkan Aland masih sibuk menangani orang-orang itu. Vina berusaha untuk menahannya. Ia berusaha untuk membuka handle pintu, tapi rasanya sudah tidak berdaya. "Mas, tolong aku!" teriak wanita itu sambil melambaikan tangannya. Rasa mulas itu semakin kencang. Dan Vina merasa ada cairan yang keluar dari jalan lahirnya. "Ya Tuhan. Air ketubannya sudah pecah. Aku harus bagaimana! Mas, tolong aku!" "Sabar ya, Nak. Tunggu ayahmu sebentar saja. Jangan keluar dulu!" ucapnya seolah ia sedang mengajak bayinya bicara. Tapi seperti si jabang bayi tidak mau mendengar, ia ingin terus keluar, mungkin ia ingin segera melihat indahnya dunia dan wajah kedua orang tuanya. Vina berusaha untuk berteriak sekeras-kerasnya. Tapi, ia berada di dalam mobil yang terkunci secara otomatis. Hanya Aland yang bisa membukanya. Sementara itu setelah Aland tahu jika orang-orang itu adalah suruhan Erick. Segera ia menyudahinya. Ia pukul kepala pria itu hingga ta
Ada beberapa orang yang yang turun dari mobil. Mereka pria yang memakai topeng. Ada empat orang dan mereka langsung menghampiri mobil Aland. Wajah Vina langsung pucat karena ia merasa orang-orang itu akan berbuat jahat. "Mas, aku takut!" ucapnya sambil memegangi lengan suaminya. Aland langsung menenangkan sang istri. "Jangan khawatir, semua pasti baik-baik saja," katanya. "Tapi, Mas. Kamu sendirian dan mereka berempat!" sahut Vina. Sementara itu keempat orang itu memaksa Aland untuk keluar. Beruntung, Aland tidak sebodoh itu. Mobilnya sudah dilindungi dengan anti peluru sehingga dirinya bisa melindungi sang istri meskipun tanpa pengawalan. Bisa saja ia menabrak mobil di depannya dengan mudah. Cuma, ia ingat jika istrinya sedang hamil. Ia tidak ingin membuat istrinya khawatir. Di luar, orang-orang itu benar-benar melakukan hal yang brutal. Mereka memaksa Aland keluar dengan berusaha untuk merusak kaca mobil. Tapi, tidak semudah itu mereka bisa menghancurkan mobilnya. "Woi
Di sisi lain, sebagai asisten pribadi yang sangat setia pada sang atasan. Romi yang sudah memiliki kecemasan terhadap kehadiran Erick. Diam-diam pria itu menyelidik setiap file dan berita tentang Erick Hermawan. Romi terus berusaha untuk mendapatkan fakta siapa sebenarnya pria itu. Karena ia yakin sekali bahwa Erick sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan majikannya. Hingga akhirnya Romi dibuat terkejut saat tahu jika Erick Hermawan adalah anak pungut alias anak angkat dari Nyonya Rose dan mendiang suaminya. Romi mendapatkan artikel itu dari file yang sudah tersembunyi bertahun-tahun dan publik sudah tidak mengekspos nya. Dalam artikel itu menyebutkan bahwa Nyonya Rose menamai anak angkatnya dengan membubuhkan nama Hermawan di belakangnya. Dengan begitu orang akan menganggap jika Erick adalah anak kandungnya. Sedangkan nama asli Erick Hermawan adalah Erick Sebastian. "Jadi, Erick Hermawan adalah anak angkat? Dia bukan anak kandung Nyonya Rose? Ya Tuhan." Tapi, ada art
Acara makan malam di hari itu adalah sebuah hari yang paling mendidih bagi Erick. Pria itu ingin sekali menyingkirkan Aland dari sisi Vina untuk selamanya agar dirinya bisa memiliki wanita itu. Nyonya Rose melihat wajah putranya yang penuh kecemburuan. Sebenarnya ia sangat menentang keras rencananya untuk mengusik hidup Vina. Karena ia tahu ia pasti akan mendapatkan mara bahaya karena Aland tidak akan pernah membiarkan orang lain menggoda istrinya. Vina sendiri ingin menunjukkan kepada Erick bahwa Aland adalah pria yang sangat dicintainya. Sepertinya temannya itu harus tahu bahwa Erick tidak akan pernah bisa mengungguli Aland. Bagaimana juga dan sekaya apapun dia. "Sial! Rasanya aku ingin sekali mengulang waktu dan aku bawa Vina pergi jauh. Atau jika perlu, aku tidak akan membiarkan wanita itu keluar. Hanya aku yang bisa melihatnya. Ini memang terdengar kejam, tapi aku sangat tidak rela dia dilihat oleh laki-laki lain. Apalagi sekarang dia sedang hamil!" batin Erick sambil mence