Masuk"Eh... Bisa request juga?" jawab Vina sambil berjalan mundur mengimbangi langkah kaki Ramli yang terus mendekat.
"Tentu saja, Bu. Mari kita mulai, biar waktunya cukup sampai jam sembilan!" kata Ramli dengan sangat percaya diri. Vina sendiri makin gugup dan bingung harus memulainya dari mana. "Kita mulai dari mana dulu? Aku masih bingung!" jawab Vina sambil menatap perut Ramli yang kotak-kotak. Sejujurnya, baru kali ini ia melihat tubuh laki-laki yang berotot dan sixpack. "Bukannya Bu Vina sudah sering melakukannya dengan Pak Rangga? Kenapa harus tanya saya dulu?" Ramli memberikan pertanyaan sambil memegangi dan mencium rambut Vina yang panjang dan harum. Spontan, Vina yang merasa tidak nyaman, wanita itu langsung menepis tangan Ramli. "Jangan pegang-pegang!" ucapnya ketus. "Cuma pegang rambut kepala saja masa nggak boleh? Padahal nanti saya malah pegang rambut lainnya yang nggak sepanjang rambut kepala Bu Vina," celetuk pria itu.Vina makin dibuat geregetan dengan ucapan Ramli yang agak-agak menjurus dan sensitif.
"Diam! Jangan bercanda! Aku tidak suka kamu pegang-pegang rambutku!" ucapan Vina ketus dan lagi-lagi membuat Ramli tertawa. "Kalau saya nggak boleh megang Bu Vina, gimana saya mau transfer benih saya ke rahim ibu? Itu cuma dipegang rambutnya, Bu Vina udah mencak-mencak, belum saya pegang yang lainnya, pasti Bu Vina bakal ngamuk!" jawab Ramli dengan santainya.Vina kembali merasa gelisah dan apa yang dikatakan oleh Ramli memang ada benarnya.
Dirinya memang tidak terbiasa disentuh oleh laki-laki lain selain suaminya sendiri.
Kesetiaan selalu ia nomor satukan.
"Emmmm a-aku tidak terbiasa disentuh laki-laki lain. Aku harap kamu bisa mengerti!" jawab Vina.Ramli tersenyum sambil terus mendekati Vina yang terlihat gugup.
Kini, pria itu berada di depan Vina hanya dengan jarak sejengkal saja.
"Ya, sekarang Bu Vina harus belajar disentuh sama saya. Pak Rangga aja ngizinin kita berhubungan intim, jadi ya Bu Vina harus bisa menerima saya malam ini... Apa saya yang harus memulainya? Tapi, saya tidak akan menyentuh Anda duluan sebelum Bu Vina memberikan izin!" tawar Ramli sembari tersenyum manis, ia masih bersikap sopan dengan meminta izin terlebih dahulu. Dag dig dug jantung Vina makin berguncang.Ramli memang tidak terlalu tampan, tapi entah kenapa senyum pria itu terlihat sangat manis. Padahal warna giginya tidak putih-putih amat.
Vina masih gugup plus bingung.Sungguh, ini di luar komitmennya tentang kesetiaan. Wanita itu memegang keras faham kesetiaan dan ketaatan kepada suami. Tapi jika suaminya sendiri yang meminta, dia bisa apa!
Di saat kebingungan melanda Vina. Tiba-tiba ponselnya mengirim notifikasi pesan dari sang suami. "Emmm bentar, aku lihat ponsel dulu!" Vina pamit dan segera mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya.Wanita itu kini membelakangi Ramli yang masih sabar menunggu sang majikan untuk siap.
Vina tersenyum saat ia mendapatkan pesan dari sang suami, ia berharap suaminya memberi kabar baik.Lalu, Vina membuka pesan tersebut.
Senyum manis yang awalnya terukir di bibir mungilnya. Kini berganti menjadi senyum kecut yang memaksa Vina harus ikhlas dan pasrah.
Rangga mengirimkan beberapa foto anak-anak Ramli yang ada di desa.Terlihat dua anak laki-laki dan satu anak perempuan yang ada di tengah. Kemudian, anak perempuan yang wajahnya mirip dengan Ramli namun versi cantik, adalah anak kedua dari tiga bersaudara itu.
Rangga memberikan penjelasan bahwa keturunan Ramli tidak buruk. Bahkan cenderung sangat berkualitas.Anak pertama Ramli adalah cowok yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas tiga, sedangkan anak keduanya, baru akan naik ke kelas satu, sementara anak terakhir, masih berusia satu setengah tahun.
"Jangan ragu lagi, Sayang. Kau lihat anak pertama Ramli! Fisiknya kuat mirip bapaknya, tinggi badannya juga oke, umur segitu tinggi badan kayak anak udah SMP. Bayangan nanti anak kita juga tinggi seperti anaknya Ramli. Pasti dia bakal jadi pria yang gagah. Benih Ramli nggak kaleng-kaleng, sayang. Ayo buruan!" Vina membaca chat dari suaminya sambil memijit pelipisnya. Wanita itu lalu menutup ponselnya dan meletakkan kembali di dalam tasnya yang ada di atas ranjang. Sambil menghela nafas berat, dia pikir mungkin ini waktunya melakukan itu dengan Ramli.Entahlah, apakah tubuhnya akan menolak pria itu atau menerimanya.
Ramli masih setia berdiri di belakang Vina.Vina pun tidak punya pilihan lain. Ia pun meminta Ramli untuk memulainya terlebih dahulu.
"Baiklah, kamu saja yang mulai. Aku sedang malas!" titah Vina memberikan izin kepada Ramli agar pria itu menyentuhnya. "Baiklah, Bu Vina. Saya akan mematuhi perintah Anda! Mohon jangan ditahan, Bu Vina rileks saja. Jangan khawatir, saya tidak mungkin menyakiti Anda!" jawab Ramli. Pria itu berjalan mendekati Vina yang berada tiga langkah di depannya.Vina sendiri nampak meremas tangannya karena hari ini ia akan memberikan tubuhnya untuk pria lain.
Hanya butuh satu detik,Ramli sudah berdiri tepat di depan Vina. Ramli berbisik di belakang tengkuk wanita itu. Suaranya yang pelan membuat Vina tiba-tiba merinding. "Bu Vina siap?" Vina mengangguk sambil memejamkan matanya.Entahlah, apa mungkin ia akan terus memejamkan mata seperti perintah suaminya saat Ramli sedang melakukan tugasnya.
Senyum terukir dari bibir pria itu.Ramli tidak menampik jika istri majikannya memang sangat cantik, seksi dan masih muda. Mungkin lima tahun lebih muda darinya.
Pria itu mengawalinya dengan menyentuh pundak Vina. Napas Vina semakin sesak, tangan besar itu telah menyentuh kulit pundaknya.
Tangan Ramli terasa kasar, sebagai pelayan tentu saja ia diwajibkan untuk bisa melakukan pekerjaan rumah.
Namun, meskipun begitu, ada sensasi geli-geli aneh kala tangan itu mengusap lengan Vina sampai akhirnya turun ke bawah, menggenggam tangan Vina erat. Demi apa pun, genggaman tangan Ramli, rasanya sangat berbeda tidak seperti bagaimana Rangga yang melakukannya.Ramli tahu jika Vina sangat gugup, pria itu pun berusaha untuk membuat Vina senyaman mungkin.
Dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Ramli akan memberikan pelayanan terbaik untuk sang majikan.Ujung bibirnya yang berwarna sedikit menghitam, mulai mengecup pundak Vina dari ujung sampai ke pangkal leher.
Panas dingin tiba-tiba mendera tubuh Vina.Bulu-bulu halus yang tumbuh di wajah Ramli menambah sensasi geli bercampur aliran aneh yang tiba-tiba menuju ujung syaraf.
Kecupan itu tidak berhenti di sana, Ramli meningkatkan kecupannya, naik ke leher atas dengan gerakan yang super lembut dan begitu mengalun. Vina yang semula cuma diam sambil memejamkan matanya, akhirnya wanita itu mengeluarkan suara desahannya yang manja. "Ahhhh!" Sementara salah satu tangan Ramli, berpindah tempat ke arah yang lebih berbahaya.Tangan kokoh itu merambat dan menyibak rambut Vina sedangkan tangan satunya melingkar pada pinggang Vina yang ramping. Mendekatkannya pada tubuh Ramli yang sudah siap untuk melayani dan menghamili sang majikan.
Vina makin meremang, awalnya ia yakin tidak akan bisa tertarik dengan sentuhan pria desa itu.Tapi nyatanya, Vina mulai merasakan getaran-getaran aneh yang menginginkannya untuk disentuh lebih dalam.
Ciuman Ramli masih menelusuri leher Vina yang jenjang, apalagi saat ini punggung mulus itu terpampang jelas di depan mata.Satu tangan Ramli bergerak, membuka resleting gaun yang dikenakan oleh sang majikan.
Gaun yang langsung dipakai tanpa dalaman, memudahkan Ramli untuk menyentuh kulit cantik Vina yang begitu menggoda.
Suara resleting yang terbuka menunjukkan bahwa gaun yang dikenakan Vina telah terpisah dari kulit tubuhnya.Wanita itu membelalakkan matanya saat ia merasa bahwa gaunnya akan terlepas dari tubuh.
Matanya kembali terpejam saat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh punggungnya.Iya, Ramli memberikan kecupan mesra di punggung Vina, pelan bergerak dari atas lalu turun, hingga akhirnya ciuman itu berakhir di pinggang belakang Vina seiring jatuhnya gaun malam yang Vina kenakan.
BERSAMBUNGBu Lastri terdiam, tapi wajahnya masih menunjukkan kesinisannya. Sambil menyilangkan kedua tangannya, Bu Lastri mencibir ucapan Bagas. "Heh! Harusnya kamu itu kasihan sama ayah kalian, si Ramli. Bisa-bisanya kalian ini malah datang ke sini dan meluk Tuan Aland. Apalagi kalian panggil apa tadi? Ayah! Iyuhhh, PD banget kalian manggil ayah sama horang kayah!" ujar Bu Lastri yang diiringi tawa beberapa wanita di sampingnya. "Bagas! Memangnya kalian itu siapanya Tuan Aland sampai-sampai sok dekat gitu. Kamu ini sebenarnya mikirin Ramli apa enggak sih! Kok jadi Tuan itu yang kalian panggil ayah, aneh!" sambung seorang wanita. "Bu Lastri, Tuan Aland memang ayah kami!" jawab Bagas apa adanya. Para wanita itu kembali tertawa terbahak-bahak. "Ho ya ampun, mana si Ramli ini. Anak-anaknya pada mabok kecubung gini dibiarin pergi!" ejek Bu Lastri. Tentu saja Bu Mar sebagai nenek dari Bagas, wanita itu tidak terima jika cucunya dihina seperti itu oleh tetangganya. "Cukup Bu Lastri! Ti
Agus langsung tersenyum menyeringai. Seolah pria itu sudah berhasil membuktikan bagaimana Vina. "Nah! Bapak-bapak dan ibu-ibu bisa lihat dan dengar sendiri apa yang Vina katakan. Dia! Perempuan itu sudah mengakuinya!" ucap Agus dengan lantang. Semua warga masih bisik-bisik. Apalagi Bu Lastri and the geng. Mereka tersenyum sinis seakan menganggap Vina adalah perempuan murahan. "Hmmm, kan, kan! Udah kebukti sekarang. Dugaan saya bener kan ibu-ibu. Vina itu perempuan murahan. Nggak masuk akal sih kalau dia bisa sedekat itu sama Tuan Aland. Pasti mereka ada apa-apanya!" umpat Bu Lastri. "Iya ih, jijik banget. Bisa-bisanya apemnya dibagi sama dua pria sekaligus. Emang perempuan kegatelan aja itu!" balas salah seorang diantaranya. Lalu, Agus berjalan mendekati Vina sambil menatap nanar perempuan yang masih dicintainya itu. Sebenarnya Agus sangat kecewa karena dirinya sudah lama menaruh hati tapi tidak pernah Vina mengerti. Dan sekarang Vina justru telah melayani dua orang sekaligus.
Apa yang Agus katakan langsung disanggah oleh Ani sendiri. Wanita itu yang semula hanya diam dan menangis. Sekarang, dirinya harus berdiri tegar di kakinya sendiri. Sungguh, ini sangat keterlaluan. Apa yang dikatakan Agus adalah sebuah tuduhan yang sangat fatal. "Itu tidak benar!" Dengan lantang, Ani bicara di tengah-tengah warga. Agus dan Pras langsung menatap tajam ke arah wanita itu. "Hei, kau! Lebih baik kamu diam wanita jalang!" tunjuk Pras dengan matanya yang memerah. "Tidak! Aku tidak akan diam. Sudah cukup perbuatan kalian yang selama ini tertutup oleh kebohongan kalian yang manis!" sahut Ani yang kini mulai berani menantang ucapan Pras. Lalu, wanita itu melihat ke arah seluruh warga. Sambil berkaca-kaca, wanita itu akan mengucapkan sebuah kenyataan yang selama ini ia pendam sendirian. "Bapak-bapak dan ibu-ibu semuanya. Dan untuk Pak lurah yang terhormat, tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Anda. Hari ini saya ingin mengucapkan sebuah rahasia besar yang s
Pak Waluyo membulatkan matanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada kedua anak laki-lakinya. Apa hubungan mereka dengan Ani? Janda muda di kampung itu. "Pras dan Agus?" kata Pak lurah mengulangi ucapan Vina. "Betul, Pak. Sepertinya saya harus mengutarakan kebenaran ini pada semua warga agar Ani bisa mendapat keadilan," kata Vina lagi. Wanita itu merangkul Ani sambil melihat ke arah Agus dan Pras yang sedang cemas. Sepertinya Agus tidak terima dengan tuduhan Vina. Pasti dia mendapatkan pengaruh dari Ani. Pria itu pun berusaha untuk membela diri. "Maksud kamu apa, Vin? Kamu nuduh aku seperti itu! Apa hubungannya dengan wanita itu? Aku tidak mengerti!" kata Agus pura-pura tidak tahu. "Seharusnya kamu tanyakan pada dirimu sendiri, Gus. Apa yang sudah kamu lakukan pada wanita malang ini. Kamu, dan adikmu itu!" jawab Vina yang juga menunjuk ke arah Pras. Pras yang memiliki watak lebih keras dari kakaknya, pemuda itu langsung menghampiri Vina dan berusaha untuk menutup mulut wanita
Ani semakin merasa dipeluk oleh mereka. Keberadaan Vina dan Nyonya Ratna yang mendukungnya semakin membuatnya bersemangat untuk hidup dan melahirkan bayinya. "Terima kasih banyak, Nyonya. Saya tidak tahu harus bagaimana berterima kasih pada kalian yang sudah baik sekali membantu wanita sepertiku. Aku memang berdosa, tapi bayi ini tidak berdosa. Aku akan melahirkan dan membesarkannya menjadi manusia yang baik tidak seperti ibunya. Aku janji pada kalian!" jawab Ani sambil mengusap perutnya yang masih rata. Nyonya Ratna dan Vina tersenyum dan selalu memberikan semangat pada Ani. Akhirnya, setelah Vina selesai berbicara dengan Ani. Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke balai desa di mana Aland sedang menghadapi dua pemuda anak lurah yang sedang mencecarnya. Suasana di balai desa sangat ramai karena Agus dan Pras berhasil menyita perhatian warga kampung. Mereka berusaha untuk memprovokasi warga agar membenci Aland. "Ohhh ya, ngomong-ngomong di mana jongosmu itu, Tuan? Dari
Bu Mar dan Nyonya Ratna ikut menghampiri Ani. Mereka turut merasakan apa yang dirasakan Ani. "Kita tidak pernah membencimu, An. Setiap manusia pasti punya kesalahan dan syukurlah sekarang kamu sudah sadar. Vina tidak seperti yang kamu kira. Mungkin orang-orang di kampung ini mengira bahwa mereka adalah pasangan kumpul kebo. Sekarang kamu sudah tahu yang sebenarnya dan kita semua sudah memaafkanmu, kita selalu ada untukmu, Ani!" ucap Bu Mar menenangkan wanita itu. "Bu Mar benar, kami semua sudah melupakan apa yang pernah kamu lakukan pada Vina. Sekarang yang terpenting adalah kamu dan bayi yang ada di dalam kandunganmu ini. Bayi ini tidak berdosa, aku harap kamu jangan membuangnya, rawatlah anak ini, kami selalu siap untuk membantumu!" imbuh Nyonya Ratna. Ani merasa tidak sendirian lagi. Hidupnya yang semula putus asa sekarang ia mendapatkan semangat luar biasa dari para wanita hebat itu. "Terima kasih banyak, sekali lagi terima kasih banyak atas dukungan kalian. Entah apa yang ter