MasukDien pulang dan bertemu dengan Helena yang hampir pulih dari cederanya. Dien tersenyum dan memasuki kamar Helena yang serba pink dan sangat tertata rapi. Helena yang belum benar-benar pulih segera berdiri dari tidurnya menyambut kakaknya tersebut. “Kakak silahkan duduk!” Helena tersenyum menyambut sembari mengarahkan agar Dien duduk di kursi meja belajarnya.Dien mengangguk dan duduk dengan senyuman yang tidak hilang dari wajahnya yang tanpa cacat, bahkan dapat dikatakan wajah Dien terlalu sempurna. “Jadi apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa orang-orang itu memukul kalian?” Dien bertanya santai, namun serius disaat yang bersamaan. Ekspresi Dien terlihat penasaran, bingung, marah, dan tidak tahu harus bagaimana merespon pengeroyokan dan penganiayaan yang dialami Helena dan Leonard. Dien tidak mengerti apa masalah yang telah dilakukan oleh Helena dan Leonard hingga disiksa sedemikian rupa oleh kelompok tuan muda Hazib. Yang benar-benar membuat Dien khawatir adalah terlibatnya seorang
Divisi satuan intelijen dan penegak hukum. Karena melakukan sebuah kesalahan yang menewaskan banyak orang, Dien Moretz diadili oleh divisi satuan intelijen dan penegak hukum yang memang bertugas mengumpulkan informasi dan menegakkan hukum baik kepada praktisi bukan anggota maupun praktisi anggota pasukan malam. “Setelah menimbang dan berdiskusi, kami telah memutuskan untuk menjatuhkan hukuman 20 kali cambukan kepadamu. Apakah kamu menerimanya, Dien Moretz?” Kepala divisi satuan intelijen dan penegak hukum menatap Dien dengan tajam. “Aku menerimanya, kepala divisi.” Dien sedikit menundukkan kepala hormat dan menerima hukumannya. “Baiklah. Laksanakan hukumannya!” Kepala divisi menatap tajam dan memberikan perintah kepada bawahannya. Dua orang berbadan besar dan berotot segera memegang kedua bahu Dien dan menyeretnya keluar ruangan pengadilan internal untuk menjalankan hukuman 20 cambukan di halaman kantor kepolisian yang kini telah berfungsi normal setelah menerima kerusakan parah
Dien melihat sekitarnya dan tidak menemukan apapun selain tempat yang hancur dan bongkahan tanah bangunan yang berserakan di sekitar bola tanah raksasa yang hancur terbelah. Dapat ditebak para penghuni gang sempit tersebut hancur dihantam tanah raksasa yang menyerupai meteor tersebut. Dien melihat sekelilingnya dengan ekspresi tidak percaya dan juga kebingungan. “Tuan, sepertinya pengawal bayangan kura-kura mengamuk dan menghancurkan tempat ini. Kura-kura itu pasti mengamuk tanpa terkendali karena tuan pergi meninggalkan pertarungan begitu saja. Kepergian tuan membuatnya dapat bergerak bebas menghancurkan apapun.” Ucap Gyan menyadari penyebab kehancuran tempat tersebut. “Ini… tidak mungkin!” Ucap Dien tidak percaya mendengar ucapan Gyan. Dien tanpa sengaja melihat mayat yang tertimpa reruntuhan dengan badan bagian bawah hancur dan tangan lemas seperti meminta pertolongan. Mayat itu menggendong bayi yang terbunuh akibat tertusuk serpihan tanah tajam seperti tombak. Mata mayat perem
Kapten Waden, Eira, dan Kateline berhadapan dengan iblis tingkat 6 yang mencoba memangsa manusia. Mereka bertiga tampak kesulitan melawan iblis tersebut. Saat dalam pertarungan mereka bertiga dikejutkan dengan bola tanah raksasa yang semakin besar di lokasi pertarungan Dien. Bola tanah itu semakin besar dan besar hingga menutupi sinar bulan. Melihat lawannya kehilangan fokus sesaat George yang dalam mode iblis serigala langsung menyerang dengan cakarnya yang dilapisi energi jahat. Eira dengan cepat melayangkan mobil angkot untuk menahan dan melindungi Kateline. SLASH! George memotong angkot yang digunakan Eira untuk melindungi Kateline yang menjadi incarannya. Kateline dengan cepat menjauh menjaga jarak. George melirik Eira dingin penuh permusuhan, lalu melepaskan cakar energi iblis kepada Eira.“Sihir tembok tanah!” Gumam Eira melindungi dirinya sendiri. “Apa yang kalian berdua lakukan! Fokuslah bertarung melawan iblis ini!” Pekik Eira menyadarkan kapten Waden dan Kateline yang k
Pak tua Davin tersenyum mengejek menangkis panah darah Dien dengan tangan berselimut energi spiritual. Panah darah Dien terpecah menjadi beberapa panah yang lebih kecil dan berusaha masuk ke dalam tubuh pak tua, namun tidak berhasil karena kulit berselimut aura pak tua Davin terlalu kuat. “Panah darah yang sangat lemah. Bahkan anjing pun tidak akan mati terkena panah darah selemah itu.” Ucap pak tua Davin mengejek, lalu mengangkat jarinya sedikit keatas. “Kamu ingin tahu perbedaan kita? Kamu ingin tahu perbedaan teknik bawaan darah dan teknik sihir darah? Akan aku tunjukkan perbedaannya kepadamu, bocah!” Ucap Davin penuh kesombongan, lalu mengangkat jari telunjuknya. Dien tiba-tiba merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya, seakan-akan sel darahnya terganggu. “Uwek!” Dien muntah darah, lalu memejamkan mata melihat apa yang terjadi di dalam tubuhnya. Dien melihat darahnya berubah menjadi duri tajam yang menusuk organ dalamnya sendiri.“Apa yang terjadi?” Tanya Dien melihat sekujur t
Jalan Perbatasan, Tengah Hutan.Di perbatasan kota Selabatu dan kota Heywan terlihat beberapa orang memukul dua orang di tengah jalan, lalu menyeret mereka masuk ke dalam hutan untuk kembali dipukul. Dua orang malang itu adalah Leonard dan Helena yang diculik sekelompok orang atas perintah Hazib Situzoran, seorang tuan muda kaya raya yang beberapa waktu lalu ditabrak oleh Helena dan Leonard. Mereka dipukul, ditendang, dijambak, hingga disundut bara api rokok dalam pencahayaan yang berasal dari lampu mobil-mobil sekelompok penculik tersebut. “Tolong… berhenti! Sakit sekali!” Mohon Leonard melindungi kepalanya dengan dua tangannya. “Ampun… tolong ampuni aku!” Pinta Leonard memohon ampun, namun beberapa orang itu terus menendangnya hingga terhempas membentur pohon besar. “Tolong… Tolong aku!” Mohon Helena yang babak belur dihajar. “Tolong aku! Kamu juga seorang wanita!” Mohon Helena sembari merangkak menuju kaki seorang wanita yang menyaksikan dalam diam. Wanita itu membuang muka d







