Share

Iklan

Author: RajaFantasi
last update publish date: 2026-01-05 19:35:03

Markas Tersembunyi, Kota Selabatu. 

Byurrr! 

Seseorang menyiram Dien yang tak sadarkan diri dengan seember air dingin, membuatnya terbangun seketika. Pemuda itu batuk-batuk sembari melihat sekelilingnya yang tampak suram dan mencekam, terlihat tempat itu dipenuhi lilin yang hidup dan menyinari seluruh ruangan. Dien yang setengah sadar mendapati bahwa dirinya berada di sebuah ruangan dengan keadaan tangan dan kaki terikat di kursi. 

Dien yang pusing samar-samar melihat seorang pria berada tepat di depannya. Pria dengan luka codet di pipi kanan itu tersenyum penuh arti, sebuah senyuman yang terlihat licik, penuh tipu daya, dan menakutkan. 

“Halo!” Ucap orang tersebut menyapa. 

Dien terlihat masih pusing dan kepalanya rasanya seperti akan meledak saja. Dia mencoba beradaptasi dengan keadaan sekitar, dan mengabaikan orang tersebut sepenuhnya. 

“Halo! Apakah kamu mendengarku?” Tanya pria yang tampak sangar tersebut, sambil melambaikan tangan ringan.

“Siapa kau? Aku ada dimana?” Tanya Dien dengan kepala yang masih pusing. 

“Akhirnya kau sadar juga.” Ucap orang tersebut dengan senyuman. 

“Sebelumnya perkenalkan, namaku Medi Gusting, kamu bisa memanggilku Medi. Aku adalah kapten departemen kepolisian khusus pasukan malam kota Selabatu. Salam kenal anak muda.” Ucap orang tersebut memperkenalkan dirinya sebagai Medi Gusting, kapten departemen kepolisian khusus pasukan malam. 

“Departemen kepolisian khusus pasukan malam?” Tanya Dien kebingungan. 

“Aku dengar kamu ingin menjadi pasukan malam. Apakah itu benar?” Tanya Medi tersenyum santai. 

Mendengar pertanyaan itu Dien pada akhirnya mengingat semuanya, dia mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Dien dengan cepat mengangguk membenarkan sebagai respon, lalu berusaha untuk terlihat tenang di hadapan Medi Gusting. 

“Darimana kamu tahu tentang kami?” Tanya Medi masih dengan senyuman santai. 

Dien bingung sesaat mendengar pertanyaan tersebut. 

“Bukankah mereka sedang merekrut anggota baru? Kenapa orang ini bertanya? Apakah dia sedang mengujiku?” Batin Dien di dalam hati. 

Medi menunggu dengan sabar.

“Aku melihat iklan lowongan pekerjaan yang kalian bagikan di aplikasi pencari kerja.” Balas Dien apa adanya.

Medi terlihat tidak percaya dan sedikit mengernyitkan dahi. Dia melihat Dien lebih dalam, seakan-akan ingin mengungkapkan kebohongan Dien. 

“Iklan lowongan kerja? Coba aku lihat.” Ucap Medi tidak percaya. 

Dien menggoyangkan tangannya yang terikat di kursi kayu. Melihat itu Medi tampaknya mengerti, lalu melambaikan tangannya dengan ringan. Tiba-tiba tali yang mengikat Dien putus begitu saja. Dien segera mengambil ponselnya di atas meja yang berada di pojokan, lalu membuka aplikasi dan memperlihatkan iklan lowongan yang dimaksud. 

Medi melihat iklan tersebut dengan tidak percaya, lalu mengembalikan ponsel kembali kepada Dien. 

Setelah wawancara yang aneh, Dien diarahkan untuk menemui seorang alkemis di ruang alkimia, untuk mendapatkan sebuah ramuan sihir yang bernama ramuan sihir kebangkitan spiritual. Sebuah ramuan sihir yang katanya dapat memberikan kekuatan spiritual kepada orang yang meminumnya. 

Dien sebenarnya tidak percaya, namun mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Dien mau tidak mau harus percaya. 

“Dimana ruangan alkimia itu berada?” Gumam Dien mencari ruangan alkimia yang dimaksud.

Dien berjalan pelan di koridor markas pasukan malam yang tampaknya berada di bawah tanah, sembari tolah-toleh mencari ruang alkimia. Surat rekomendasi anggota baru pasukan malam yang diberikan kapten Medi dia pegang dengan erat, seakan-akan memegang nyawa sendiri.

Setelah mencari cukup lama, Dien pada akhirnya berhasil menemukan ruang alkimia yang dimaksud. Dia segera mengetuk pintu ruangan dan masuk setelah mendapat jawaban dari penghuni ruang alkimia.

Saat masuk ke dalam ruangan alkimia, Dien melihat berbagai botol ramuan yang berserakan di meja dan lantai, baik botol kosong maupun botol yang berisi berbagai cairan aneh dan tampak berbahaya. 

Melihat ruangan alkimia, Dien langsung mengingat laboratorium penelitian di universitas. 

“Kau siapa?” Tanya seorang perempuan yang berada di dalam ruangan. 

Dien terkejut sesaat dan melihat wanita itu dari atas hingga ke bawah kaki. Perempuan muda berkacamata itu sangat cantik, berdada proporsional, tidak terlalu besar dan terlalu kecil, serta sangat menggoda. 

“Aku Every Kingston, asisten kepala divisi alkimia departemen polisi khusus pasukan malam kota Selabatu.” Ucap wanita berdada sempurna itu memperkenalkan dirinya. 

“Kau siapa dan apa yang kau lakukan disini?” Tanyanya terkesan meremehkan, bahkan merendahkan. 

Melihat tatapan menghina dan meremehkan itu, Dien Moretz sudah terbiasa dan sudah kebal dengan itu. Pria muda itu menyerahkan surat rekomendasi kepadanya. 

Every menerima surat rekomendasi tersebut dengan kasar dan membacanya. 

“Ouh… anggota baru ya.” Gumam Every datar saja. 

“Aku heran dengan isi pikiran kapten. Orang sepertimu direkrut menjadi pasukan malam? Aku tidak percaya sama sekali.” Ucap Every pelan, namun Dien masih bisa mendengarnya meskipun samar-samar.

“Hah! Apa?” Tanya Dien mengenai maksud gumaman Every tersebut. 

Every mengembalikan surat, lalu kembali sibuk dengan penelitiannya, meninggalkan Dien seorang diri. Dien tidak bisa membantu dan menunggu dengan sabar, sembari melihat-lihat isi ruangan alkimia tersebut. 

Cukup lama Dien menunggu dengan bodoh di dalam ruangan, sementara Every terlihat sibuk sendiri dan terkesan tidak peduli sama sekali dengan keberadaannya. Wanita itu tampaknya sedang meracik ramuan, itu dapat dilihat dengan berbagai botol yang berserakan di dalam ruangan, dan Every sesekali melempar botol ramuan dengan sembarangan. 

“Halo… nona dimana aku bisa mendapatkan ramuan kebangkitan spiritual?” Tanya Dien menghindari lemparan botol ramuan, dan menahan kekesalannya.

Tidak ada jawaban dari Every Kingston. Wanita muda yang seumuran dengan Dien itu tampak tidak peduli, bahkan terkesan mengabaikannya sepenuhnya. Dia bahkan dengan acuh dan tanpa rasa bersalah melempar botol ke arah Dien tanpa menoleh sedikitpun. 

“Halo? Wanita berdada besar, apakah kamu mendengarku? Apakah otakmu mengecil demi memperbesar dadamu?” Tanya Dien sangat kesal sambil melambaikan tangan ke wajah Every yang sibuk sendiri. 

Every langsung menatapnya tajam dan mengintimidasi. Wanita itu seakan-akan ingin memakan orang hidup-hidup. 

“Apa kau bilang, brengsek? Katakan lagi?” Tanyanya dengan marah. 

Dien hanya bisa tersenyum canggung dan tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya dia tidak bermaksud mengatakan hal itu, namun Every benar-benar membuatnya kesal dengan sifatnya. Dien mundur satu langkah ketika Every mendekat dan mendesaknya untuk berbicara.

Pintu terbuka lebar! 

Benturan keras! 

Pintu ruangan alkimia tiba-tiba terbuka lebar seperti ditendang dengan kuat. Seorang pria tua setengah botak masuk ke dalam dengan tergesa-gesa sembari membawa beberapa tanaman herbal. 

“Every! Aku mendapatkan bahan-bahan untuk membuat ramuan kesembuhan serangan jantung… eh!!!” Ucap pria tua yang bernama Marcus Gordon itu dengan semangat, lalu kaget melihat Dien yang terpojok di sudut ruangan alkimia dan Every menatapnya begitu dekat.

Dua orang itu tampak seperti akan berciuman. 

“Benarkah, paman?” Tanya Every tampak bersemangat, lalu mengambil tanaman herbal spiritual dari tangan Marcus. 

“Bocah kau pasti anggota baru pasukan malam, apakah aku benar?” Tanya Marcus kepada Dien setelah diam sejenak. 

Dien mengangguk, lalu melihat Every yang sangat semangat seperti anak kecil yang mendapatkan permen. 

“Sebaiknya kau jauh-jauh dari wanita itu. Dia sangat beracun. Untungnya aku datang tepat waktu, jika tidak kamu mungkin terbunuh saat berciuman dengan wanita beracun itu.” Bisik Marcus sepelan mungkin, membuat Dien kaget dan tidak menyangka. 

“Baiknya langsung saja ya. Kamu ingin ramuan kebangkitan spiritual dengan kekuatan apa? Elemen api, elemen air, elemen cahaya, atau elemen petir? Selama kami memiliki bahan-bahannya, kami akan langsung membuatkannya untukmu.” Tanya Marcus dengan ceria dan membuat suasana tegang menjadi santai. 

“Aku ingin ramuan sihir yang bisa melihat masa depan.” Balas Dien langsung saja, karena memang sejak awal dia menginginkan kekuatan tersebut. 

Every yang senang mendapatkan beberapa tanaman herbal yang dicari-carinya, langsung menoleh kaget melihat Dien. Sementara professor Marcus kaget dengan ekspresi tidak percaya dengan permintaan pria muda tersebut. 

“Ramuan sihir melihat masa depan?” Gumam Marcus terbata-bata dan tidak percaya dengan pendengarannya. 

“Iya, aku ingin ramuan kebangkitan spiritual melihat masa depan.” Balas Dien memastikan permintaannya. 

“Nak, permintaanmu tidak bisa kami penuhi. Kami tidak memiliki bahan untuk membuat ramuan kebangkitan spiritual atribut melihat masa depan. Pilih yang lain saja.” Pinta Marcus sedikit kesal. 

Professor Marcus yang murah senyum itu, kini tidak lagi tersenyum. Dien tidak tahu apa yang terjadi, dia tidak bisa membantu dan bertanya dengan bingung. “Kenapa? Memangnya apa bahannya?”

“Sebenarnya kami memiliki semua bahan untuk membuat ramuan itu, hanya saja bahan yang paling penting, yaitu jantung monster dengan atribut bawaan melihat masa depan tidak kami miliki. Jika kamu memilikinya, aku akan langsung membuatkannya untukmu saat ini juga.” Balas Every dengan dahi mengkerut marah, tampak jelas wanita itu sangat kesal dengan permintaan Dien. 

“Apakah tidak ada cara lain?” Tanya Dien mengabaikan suasana hati dua orang alkimiawan tersebut. 

Professor Marcus membuka mulutnya, berniat menjawab pertanyaan Dien. 

“Tentu saja ada. Kamu hanya perlu minum ramuan kebangkitan spiritual dengan atribut acak, lalu mempelajari sihir ramalan yang bisa melihat masa depan, masa lalu, dan bahkan mengungkap rahasia dunia. Kamu akan berhasil jika cukup pintar mempelajari sihir ramalan.” Balas Every nyerocos saja dan membuat telinga sakit. 

“Memangnya bisa seperti itu?” Tanya Dien. 

“Tentu saja bisa. Ramuan kebangkitan spiritual dibuat untuk memberikan kekuatan spiritual dan menguasai sihir tertentu secara instan tanpa latihan. Artinya, jika ingin menguasai sihir lain, kamu harus melatihnya. Kamu hanya perlu menggunakan otakmu untuk mempelajari sihir ramalan, jangan terlalu mengandalkan ramuan sihir, bocah!” Balas Every sedikit mengejek. 

“Ya santailah. Lagipula kita seumuran, jangan menyebutku bocah! Selain itu sebaiknya kamu bersifat lembut kepadaku, karena bisa saja kamu menjadi istriku di masa depan.” Jawab Dien dengan senyuman menggoda. 

“Kau…” Pekik Every menunjuk batang hidung Dien dengan kesal dan mulai nyerocos lagi.

Bersambung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Misi pertama pemburu monster

    TING!!! Dien yang ditinggal sendiri tiba-tiba mendengar suara notifikasi handphonenya. Dia segera merogoh saku celananya dan mengambil ponsel, lalu membaca notifikasi tersebut. Notifikasi itu ternyata sebuah pesan pencabutan izin driver dari aplikasi ojek online, karena Dien belum memenuhi target setoran selama 6 bulan lamanya. "Aish! Karena terlalu sibuk dengan pasukan malam aku lupa bahwa aku merupakan driver ojek online." Ucap Dien memicit keningnya yang tiba-tiba pusing membaca pesan tersebut. Dien menscrol layar handphone untuk menemukan notifikasi sebelumnya hingga akhirnya menemukan notifikasi peringatan dari aplikasi. "Selamat siang Mitra Godriv. Sudah 4 bulan anda tidak aktif dan mengambil orderan. Akun anda ditangguhkan. Silahkan membuat laporan di kantor, jika tidak maka kami akan menganggap anda mundur dari aplikasi Godriv."Membaca notifikasi peringatan yang sudah berlalu 2 bulan itu, Dien hanya bisa menggeleng kepala tanpa daya dan segera pulang ke rumah. Di rumah, D

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Cincin Lima Elemen Kesatuan

    Setelah ledakan berakhir, kapten Waden menarik sihir ratusan tombak tanah raksasa miliknya, membuat matahari yang tertutup tombak tanah raksasa kembali menyinari area pertarungan, dan terlihatlah area tersebut sudah menjadi kawah besar yang sangat dalam. Dien terlihat terluka bakar parah akibat ledakan banaspati yang terjadi di dalam penghalang tombak tanah raksasa yang mengurung ledakan. Dien dengan susah payah mencoba menggunakan sihir memutar waktu untuk menyembuhkan diri, namun gagal karena tidak memiliki tenaga lagi. Kateline dan Eira selamat karena berada di luar penghalang kapten Waden. Kateline dengan cepat mendekati Dien yang sekarat dan menyembuhkannya dengan sihir penyembuhan. "Minum." Ucap Kateline memberikan ramuan penyembuh tingkat tinggi. Eira melihat pusat ledakan dimana Luke berada. Pusat ledakan terlihat mengeluarkan asap hitam pekat akibat sisa-sisa ledakan api. "Kau memilih menyembuhkannya daripada Luke yang merupakan rekan lamamu?" Tanya Eira melihat Kateline

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Berlebihan

    Luke bertahan dengan perisai kura-kura, sebuah senjata sihir tipe pertahanan yang dia miliki. Luke dengan cepat mengambil gulungan segel yang tergeletak di lantai, karena terlalu terburu-buru mengeluarkan perisai kura-kura, lalu memasukkannya ke dalam kantong celana depan.BANG! Dien sudah di depan wajah Luke dan melancarkan tinju petir lurus, namun Luke berhasil menahannya dengan perisai kura-kura. Luke dengan cepat melompat mundur, mengambil pedangnya yang juga tergeletak di tanah dan memasukkan ke sarungnya di pinggang, lalu kembali memegang perisai kura-kura menahan tinju petir Dien yang sangat kuat.DOR! Luke langsung melepaskan tembakan jarak dekat dengan pistolnya, namun Dien mengabaikan tembakan pistolnya dan melepaskan beberapa tinju ke perisai kura-kura. Dimana energi petir melewati perisai dan langsung menghantum tubuh Luke. Luke tersentak mundur merasakan sambaran petir yang cukup kuat dari aliran tinju petir Dien. "Petirnya menembus perisai kura-kura?" Batin Luke men

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Kapten Waden

    Makam kepolisian, kota Selabatu. Dien melangkah keluar dari mobilnya yang berwarna hitam pekat. Pria itu melihat pemakaman khusus kepolisian yang terlihat mencekam, sunyi, dan berbau bunga kamboja yang sangat menyengat. Dien melihat ke berbagai arah dan menemukan empat orang yang sedang khusyuk berdoa di makam paling ujung pemakaman. Dien melangkah mendekati mereka dengan langkah pelan, berirama, dan tidak tergesa-gesa. Kedatangan Dien tidak mengganggu ritual doa empat orang tersebut. Mereka fokus berdoa dan benar-benar mengabaikan keberadaan Dien yang berada tepat dibelakang. Seorang pria yang paling depan, diperkirakan berusia 40 tahun, dan memiliki luka gores menyilang dari kanan bibir atas hingga kiri dagu terlihat menyentuh dada kanan, kiri, dan menangkupkan kedua tangannya. "Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kalian." Ucap pria tersebut dengan lembut dan mengakhiri ritual do'anya. Setelah sesi doa berakhir, empat orang itu segera menoleh ke belakang dan melihat Dien Moretz

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Mobil

    Kepala divisi Yuda menghampiri Dien yang ngos-ngosan. Yuda dengan penuh minat memeriksa keadaan Dien, dan memastikan bahwa pria itu baik-baik saja. Yuda tertarik dengan buku bersampul hitam yang memancarkan aura kegelapan yang dipegang oleh Dien. Sekali lihat, Yuda tahu itu adalah salah satu senjata tersegel dan termasuk dalam senjata tersegel kategori peninggalan orang suci. "Dien kau... dari semua senjata tersegel yang ada, kamu malah mendapatkan senjata tersegel peninggalan orang suci?" Ucap Yuda setelah benar-benar memastikan senjata tersegel yang Dien dapatkan. Dien yang kelelahan, menarik nafas dalam dan menenangkan dirinya sendiri."Senjata tersegel peninggalan orang suci?" Tanya Dien mengernyitkan dahi. "Kau tidak tahu?" Tanya Yuda menatap lurus.Dien hanya menggeleng kepala, karena memang dia tidak sempat membaca informasi tentang senjata tersegel. "Hmz..." Yuda berpikir sesaat, dan sesekali melirik Dien yang tampak penasaran. "Senjata tersegel terbagi dalam tiga kategor

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Pengakuan

    Entah berapa lama waktu berlalu dalam keheningan domain 100 bayangan. Dien yang tertidur pulas di gazebo yang berada di tengah-tengah hutan gundul akhirnya membuka matanya, dia segera melihat segala arah. Dien berpikir dan mengingat-ingat, lalu menyadari bahwa dia sedang berada di penyimpanan senjata tersegel lebih dari waktu yang ditentukan. Tapi tempatnya sekarang tidak mencerminkan gudang penyimpanan senjata tersegel saat pertama kali dia masuk. Dien yang mengingat-ingat akhirnya mengingat kekalahannya melawan pengawal bayangan serigala mata biru. Dien mengingat tubuhnya terpotong menjadi empat bagian akibat cakar energi sang bayangan. Dian mengingat bahwa dia telah terbunuh akibat serangan yang sangat mematikan sang bayangan serigala. Dien juga mengingat kejadian penyembuhan ajaib saat dia sekarat dan diambang kematian. "Apakah aku terbunuh dalam ujian pengakuan senjata tersegel itu? Apakah kesembuhan itu hanya halusinasi sebelum mati? Apakah ini surga?" Gumam Dien melihat tub

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Buku 100 Bayangan

    Ribuan jiwa dan ratusan senjata tersegel menyerang Dien sesaat setelah pria itu melangkah masuk ke dalam ruangan penyimpanan senjata tersegel. Ribuan jiwa dan ratusan senjata tersegel itu tidak mampu menyentuh tubuh Dien, karena dihalangi oleh formasi segel jiwa. "Kamu memiliki waktu 30 menit untu

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Pelajaran Berharga

    Rumah mewah. Seorang wanita tua yang tertidur lelap tiba-tiba membuka matanya karena merasakan energi jahat yang sangat pekat. Wanita tua itu bangun, lalu menoleh ke arah barat dan bergumam dengan tenang namun menghanyutkan. "Aura iblis yang mengerikan!" Ucap wanita tua, lalu beranjak dari ranja

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Teknik Sihir Banaspati

    Setelah menyelesaikan beberapa urusan di markas pasukan malam, Dien tidak pulang ke rumah. Dia lebih memilih mencari hotel dan beristirahat di hotel untuk beberapa hari kedepan. Dien akan pulang kerumah, setelah berhasil menjadi pemburu monster dan mendapatkan hak akses membeli kendaraan. "Bagaim

  • Kegelapan dibalik Kedamaian   Dunia Monster

    Dien pulang larut malam. Dia bertemu ibu yang menunggunya di ambang pintu, wanita tua itu tersenyum hangat melihat kedatangan Dien. Wajah keriputnya yang pucat pasi menjadi cerah ketika melihat Dien pulang. Melihat ibunya, Dien tersenyum, lalu menyerahkan buah-buahan yang dibelinya kepada ibu yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status