ANMELDENMarkas Tersembunyi, Kota Selabatu.
Byurrr! Seseorang menyiram Dien yang tak sadarkan diri dengan seember air dingin, membuatnya terbangun seketika. Pemuda itu batuk-batuk sembari melihat sekelilingnya yang tampak suram dan mencekam, terlihat tempat itu dipenuhi lilin yang hidup dan menyinari seluruh ruangan. Dien yang setengah sadar mendapati bahwa dirinya berada di sebuah ruangan dengan keadaan tangan dan kaki terikat di kursi. Dien yang pusing samar-samar melihat seorang pria berada tepat di depannya. Pria dengan luka codet di pipi kanan itu tersenyum penuh arti, sebuah senyuman yang terlihat licik, penuh tipu daya, dan menakutkan. “Halo!” Ucap orang tersebut menyapa. Dien terlihat masih pusing dan kepalanya rasanya seperti akan meledak saja. Dia mencoba beradaptasi dengan keadaan sekitar, dan mengabaikan orang tersebut sepenuhnya. “Halo! Apakah kamu mendengarku?” Tanya pria yang tampak sangar tersebut, sambil melambaikan tangan ringan. “Siapa kau? Aku ada dimana?” Tanya Dien dengan kepala yang masih pusing. “Akhirnya kau sadar juga.” Ucap orang tersebut dengan senyuman. “Sebelumnya perkenalkan, namaku Medi Gusting, kamu bisa memanggilku Medi. Aku adalah kapten departemen kepolisian khusus pasukan malam kota Selabatu. Salam kenal anak muda.” Ucap orang tersebut memperkenalkan dirinya sebagai Medi Gusting, kapten departemen kepolisian khusus pasukan malam. “Departemen kepolisian khusus pasukan malam?” Tanya Dien kebingungan. “Aku dengar kamu ingin menjadi pasukan malam. Apakah itu benar?” Tanya Medi tersenyum santai. Mendengar pertanyaan itu Dien pada akhirnya mengingat semuanya, dia mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Dien dengan cepat mengangguk membenarkan sebagai respon, lalu berusaha untuk terlihat tenang di hadapan Medi Gusting. “Darimana kamu tahu tentang kami?” Tanya Medi masih dengan senyuman santai. Dien bingung sesaat mendengar pertanyaan tersebut. “Bukankah mereka sedang merekrut anggota baru? Kenapa orang ini bertanya? Apakah dia sedang mengujiku?” Batin Dien di dalam hati. Medi menunggu dengan sabar. “Aku melihat iklan lowongan pekerjaan yang kalian bagikan di aplikasi pencari kerja.” Balas Dien apa adanya. Medi terlihat tidak percaya dan sedikit mengernyitkan dahi. Dia melihat Dien lebih dalam, seakan-akan ingin mengungkapkan kebohongan Dien. “Iklan lowongan kerja? Coba aku lihat.” Ucap Medi tidak percaya. Dien menggoyangkan tangannya yang terikat di kursi kayu. Melihat itu Medi tampaknya mengerti, lalu melambaikan tangannya dengan ringan. Tiba-tiba tali yang mengikat Dien putus begitu saja. Dien segera mengambil ponselnya di atas meja yang berada di pojokan, lalu membuka aplikasi dan memperlihatkan iklan lowongan yang dimaksud. Medi melihat iklan tersebut dengan tidak percaya, lalu mengembalikan ponsel kembali kepada Dien. Setelah wawancara yang aneh, Dien diarahkan untuk menemui seorang alkemis di ruang alkimia, untuk mendapatkan sebuah ramuan sihir yang bernama ramuan sihir kebangkitan spiritual. Sebuah ramuan sihir yang katanya dapat memberikan kekuatan spiritual kepada orang yang meminumnya. Dien sebenarnya tidak percaya, namun mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Dien mau tidak mau harus percaya. “Dimana ruangan alkimia itu berada?” Gumam Dien mencari ruangan alkimia yang dimaksud. Dien berjalan pelan di koridor markas pasukan malam yang tampaknya berada di bawah tanah, sembari tolah-toleh mencari ruang alkimia. Surat rekomendasi anggota baru pasukan malam yang diberikan kapten Medi dia pegang dengan erat, seakan-akan memegang nyawa sendiri. Setelah mencari cukup lama, Dien pada akhirnya berhasil menemukan ruang alkimia yang dimaksud. Dia segera mengetuk pintu ruangan dan masuk setelah mendapat jawaban dari penghuni ruang alkimia. Saat masuk ke dalam ruangan alkimia, Dien melihat berbagai botol ramuan yang berserakan di meja dan lantai, baik botol kosong maupun botol yang berisi berbagai cairan aneh dan tampak berbahaya. Melihat ruangan alkimia, Dien langsung mengingat laboratorium penelitian di universitas. “Kau siapa?” Tanya seorang perempuan yang berada di dalam ruangan. Dien terkejut sesaat dan melihat wanita itu dari atas hingga ke bawah kaki. Perempuan muda berkacamata itu sangat cantik, berdada proporsional, tidak terlalu besar dan terlalu kecil, serta sangat menggoda. “Aku Every Kingston, asisten kepala divisi alkimia departemen polisi khusus pasukan malam kota Selabatu.” Ucap wanita berdada sempurna itu memperkenalkan dirinya. “Kau siapa dan apa yang kau lakukan disini?” Tanyanya terkesan meremehkan, bahkan merendahkan. Melihat tatapan menghina dan meremehkan itu, Dien Moretz sudah terbiasa dan sudah kebal dengan itu. Pria muda itu menyerahkan surat rekomendasi kepadanya. Every menerima surat rekomendasi tersebut dengan kasar dan membacanya. “Ouh… anggota baru ya.” Gumam Every datar saja. “Aku heran dengan isi pikiran kapten. Orang sepertimu direkrut menjadi pasukan malam? Aku tidak percaya sama sekali.” Ucap Every pelan, namun Dien masih bisa mendengarnya meskipun samar-samar. “Hah! Apa?” Tanya Dien mengenai maksud gumaman Every tersebut. Every mengembalikan surat, lalu kembali sibuk dengan penelitiannya, meninggalkan Dien seorang diri. Dien tidak bisa membantu dan menunggu dengan sabar, sembari melihat-lihat isi ruangan alkimia tersebut. Cukup lama Dien menunggu dengan bodoh di dalam ruangan, sementara Every terlihat sibuk sendiri dan terkesan tidak peduli sama sekali dengan keberadaannya. Wanita itu tampaknya sedang meracik ramuan, itu dapat dilihat dengan berbagai botol yang berserakan di dalam ruangan, dan Every sesekali melempar botol ramuan dengan sembarangan. “Halo… nona dimana aku bisa mendapatkan ramuan kebangkitan spiritual?” Tanya Dien menghindari lemparan botol ramuan, dan menahan kekesalannya. Tidak ada jawaban dari Every Kingston. Wanita muda yang seumuran dengan Dien itu tampak tidak peduli, bahkan terkesan mengabaikannya sepenuhnya. Dia bahkan dengan acuh dan tanpa rasa bersalah melempar botol ke arah Dien tanpa menoleh sedikitpun. “Halo? Wanita berdada besar, apakah kamu mendengarku? Apakah otakmu mengecil demi memperbesar dadamu?” Tanya Dien sangat kesal sambil melambaikan tangan ke wajah Every yang sibuk sendiri. Every langsung menatapnya tajam dan mengintimidasi. Wanita itu seakan-akan ingin memakan orang hidup-hidup. “Apa kau bilang, brengsek? Katakan lagi?” Tanyanya dengan marah. Dien hanya bisa tersenyum canggung dan tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya dia tidak bermaksud mengatakan hal itu, namun Every benar-benar membuatnya kesal dengan sifatnya. Dien mundur satu langkah ketika Every mendekat dan mendesaknya untuk berbicara. Pintu terbuka lebar! Benturan keras! Pintu ruangan alkimia tiba-tiba terbuka lebar seperti ditendang dengan kuat. Seorang pria tua setengah botak masuk ke dalam dengan tergesa-gesa sembari membawa beberapa tanaman herbal. “Every! Aku mendapatkan bahan-bahan untuk membuat ramuan kesembuhan serangan jantung… eh!!!” Ucap pria tua yang bernama Marcus Gordon itu dengan semangat, lalu kaget melihat Dien yang terpojok di sudut ruangan alkimia dan Every menatapnya begitu dekat. Dua orang itu tampak seperti akan berciuman. “Benarkah, paman?” Tanya Every tampak bersemangat, lalu mengambil tanaman herbal spiritual dari tangan Marcus. “Bocah kau pasti anggota baru pasukan malam, apakah aku benar?” Tanya Marcus kepada Dien setelah diam sejenak. Dien mengangguk, lalu melihat Every yang sangat semangat seperti anak kecil yang mendapatkan permen. “Sebaiknya kau jauh-jauh dari wanita itu. Dia sangat beracun. Untungnya aku datang tepat waktu, jika tidak kamu mungkin terbunuh saat berciuman dengan wanita beracun itu.” Bisik Marcus sepelan mungkin, membuat Dien kaget dan tidak menyangka. “Baiknya langsung saja ya. Kamu ingin ramuan kebangkitan spiritual dengan kekuatan apa? Elemen api, elemen air, elemen cahaya, atau elemen petir? Selama kami memiliki bahan-bahannya, kami akan langsung membuatkannya untukmu.” Tanya Marcus dengan ceria dan membuat suasana tegang menjadi santai. “Aku ingin ramuan sihir yang bisa melihat masa depan.” Balas Dien langsung saja, karena memang sejak awal dia menginginkan kekuatan tersebut. Every yang senang mendapatkan beberapa tanaman herbal yang dicari-carinya, langsung menoleh kaget melihat Dien. Sementara professor Marcus kaget dengan ekspresi tidak percaya dengan permintaan pria muda tersebut. “Ramuan sihir melihat masa depan?” Gumam Marcus terbata-bata dan tidak percaya dengan pendengarannya. “Iya, aku ingin ramuan kebangkitan spiritual melihat masa depan.” Balas Dien memastikan permintaannya. “Nak, permintaanmu tidak bisa kami penuhi. Kami tidak memiliki bahan untuk membuat ramuan kebangkitan spiritual atribut melihat masa depan. Pilih yang lain saja.” Pinta Marcus sedikit kesal. Professor Marcus yang murah senyum itu, kini tidak lagi tersenyum. Dien tidak tahu apa yang terjadi, dia tidak bisa membantu dan bertanya dengan bingung. “Kenapa? Memangnya apa bahannya?” “Sebenarnya kami memiliki semua bahan untuk membuat ramuan itu, hanya saja bahan yang paling penting, yaitu jantung monster dengan atribut bawaan melihat masa depan tidak kami miliki. Jika kamu memilikinya, aku akan langsung membuatkannya untukmu saat ini juga.” Balas Every dengan dahi mengkerut marah, tampak jelas wanita itu sangat kesal dengan permintaan Dien. “Apakah tidak ada cara lain?” Tanya Dien mengabaikan suasana hati dua orang alkimiawan tersebut. Professor Marcus membuka mulutnya, berniat menjawab pertanyaan Dien. “Tentu saja ada. Kamu hanya perlu minum ramuan kebangkitan spiritual dengan atribut acak, lalu mempelajari sihir ramalan yang bisa melihat masa depan, masa lalu, dan bahkan mengungkap rahasia dunia. Kamu akan berhasil jika cukup pintar mempelajari sihir ramalan.” Balas Every nyerocos saja dan membuat telinga sakit. “Memangnya bisa seperti itu?” Tanya Dien. “Tentu saja bisa. Ramuan kebangkitan spiritual dibuat untuk memberikan kekuatan spiritual dan menguasai sihir tertentu secara instan tanpa latihan. Artinya, jika ingin menguasai sihir lain, kamu harus melatihnya. Kamu hanya perlu menggunakan otakmu untuk mempelajari sihir ramalan, jangan terlalu mengandalkan ramuan sihir, bocah!” Balas Every sedikit mengejek. “Ya santailah. Lagipula kita seumuran, jangan menyebutku bocah! Selain itu sebaiknya kamu bersifat lembut kepadaku, karena bisa saja kamu menjadi istriku di masa depan.” Jawab Dien dengan senyuman menggoda. “Kau…” Pekik Every menunjuk batang hidung Dien dengan kesal dan mulai nyerocos lagi. Bersambung.Taman bunga. Reni datang menemui ayahnya yang bersantai di taman bunga sembari menikmati secangkir kopi pagi. Reni memeluk ayahnya dari belakang dengan senyuman ceria dan terlihat seperti gadis kecil yang sangat merindukan ayahnya. Gorg Dereck tersenyum dan mengelus lembut rambut kepala Reni. “Apa yang kamu inginkan putriku?” Gorg tahu betul Reni datang menemuinya pasti menginginkan sesuatu. “Ayah lupa? Aku menginginkan kepala Leonard, Helena, dan bajingan yang membantu mereka?” Reni mengutarakan tujuan kedatangannya dengan wajah cemberut. “Apakah ayah berhasil mengambil kepala mereka? Dimana kepala mereka?” Tanya Reni dengan mata berbinar melihat sekeliling taman yang hanya ada bunga. Reni kecewa karena tidak menemukan kepala tiga orang yang dia benci. Gorg tersenyum dan mengelus lembut tangan putrinya tersebut. “Bersabarlah sayang! Saat ini anak buah ayah sedang menyerang mereka. Jika kepala mereka berhasil diambil, ayah akan langsung mengirimkannya ke kamarmu.” Gorg hanya b
Dien tiba-tiba merasakan perutnya sangat sakit dan terasa dingin. Dien melihat perutnya dan menemukan sebuah tangan wanita yang berdarah-darah menembus perutnya. Tangan itu adalah tangan Karin si pembunuh yang dikirim Gorg Dereck. Karin tersenyum tipis dan mencabut tangannya dengan sangat kasar hingga Dien tersentak menahan sakit. Dien jatuh berlutut memegang perutnya yang bolong, bahkan mengeluarkan ususnya. Karin tersenyum kecil dan jongkok hingga wajahnya sejajar dengan wajah Dien.“Apakah gurumu tidak pernah mengajarimu untuk waspada dengan teknik bawaan orang lain?” Karin menatap mata Dien dan bertanya dengan penasaran. Dien melotot menahan sakit, lalu muntah darah memegang perutnya yang terus mengeluarkan darah.“Kau… bagaimana bisa kau masih hidup?” Tanya Dien menatap tajam dan secara diam-diam mengambil kesempatan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. “Bukankah aku telah membunuhmu sebelumnya?” Tanya Dien tidak percaya Karin terlihat baik-baik saja bahkan terlihat seperti ti
Jauh di rumah tersembunyi terlihat Demma berkumpul dengan anggota Organisasi Jalan Suci. Demma terlihat memperhatikan kelabang merah yang merayap di tangannya. Kelabang merah itu masuk ke dalam pakaian dan keluar dari atas kepala Demma. Demma tersenyum tipis melihat tingkah peliharaannya tersebut, lalu melihat ke pintu khusus dimana pemimpin organisasi akan datang. Klize pemimpin organisasi akhirnya datang dengan senyuman kecil menyapa 9 anggota organisasinya termasuk Demma. Dua pengawal Klize dengan sigap dan sikap waspada melindungi sang tuan. “Maaf aku terlambat!” Ucap Klize tersenyum meminta maaf kepada 9 anggota organisasinya. Klize menciptakan meja lengkap dengan kursi menggunakan sihir tanah, lalu duduk dan mempersilahkan semua rekannya untuk duduk sebelum membahas beberapa hal penting mengenai kelanjutan organisasi. Semua orang mengangguk mengerti dan duduk di kursi tanah buatan Klize. “Mari kita mulai rapatnya!” Klize sebagai pemimpin memulai rapat darurat organisasi.“K
Seorang pria paruh baya dengan luka tebasan lebar menyilang di wajah dengan telaten menyirami tanaman bunga yang dia pelihara di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu dengan telaten menyirami bunga satu-persatu sambil bersiul ria menikmati kegiatan rutin paginya tersebut. Di samping pria paruh baya terlihat pak tua Mo berlutut satu kaki dan menundukkan kepala hormat. “Jadi kau gagal memusnahkan keluarga James?” Gorg Dereck meletakkan teko gembor ke samping dan bertanya kepada pak tua Mo dengan nada lembut menghanyutkan. Pak tua Mo menundukkan kepala hormat. “Ampuni hamba tuan besar. Hamba gagal melaksanakan tugas dan memusnahkan keluarga James.” Pak tua Mo memohon ampun. Gorg tersenyum tipis dan mengisi air teko dengan sihir air, lalu menyirami bunga yang belum disiram. “Tidak apa-apa. Wajar saja kau gagal, bagaimanapun keluarga James bukan keluarga biasa. Mereka memiliki akar yang sangat kuat di kota ini.” Gorg berkata dengan senyuman ramah. “Terimakasih atas ampunannya tuan!
Rumah Dien, Perumahan Nusa. Dien mencari latar belakang keluarga Hazib dan Reni di laptopnya, namun yang dia temukan hanyalah beberapa informasi umum yang tidak terlalu penting. Dien terus mencari dan tidak menemukan apapun, selain latar belakang keluarga Hazib dan Reni yang cukup terpandang. Dimana keluarga mereka sedikit lebih kuat dari keluarga James, keluarganya Leonard James yang merupakan pacar Helena. “Aku tidak percaya mereka hanya keluarga kaya biasa. Mereka pasti menyembunyikan sesuatu. Mereka mungkin memiliki praktisi spiritual yang lebih kuat dari Pak tua itu.” Dien menyandarkan dirinya di kursi mengusap wajah lelahnya. Dien menghela nafas menyerah dan memilih pergi ke ruang tamu untuk menonton pertandingan bola. Tiba-tiba lampu padam dan membuat rumah sederhana itu gelap seketika. Dien kaget sesaat dan hanya menganggap mati lampu biasa, namun tiba-tiba Dien merasa ada seseorang yang mengawasinya dari balik kegelapan. Dien dengan cepat melihat pojok kiri atas, lalu me
Balkon, rumah mewah keluarga James. Leonard menenangkan diri di balkon rumahnya dengan ditemani cahaya bulan yang bersinar terang. Leonard mengambil secangkir kopi di meja kecil dan menyesapnya sembari melihat nomor telepon Helena di handphonenya. Setelah melihat beberapa detik, Leonard tersenyum tipis dan menutup aplikasi pengirim pesan tanpa melakukan apapun. Leonard kembali membuka aplikasi dan kembali melihat nomor Helena. Leonard melihat foto profil Helena, sebuah foto yang menampilkan Helena dan dirinya yang tersenyum bahagia. Leonard berniat mengirim pesan kepada Helena melalui aplikasi pengirim pesan, namun Leonard segera mengurungkan niatnya untuk menghargai permintaan Dien agar tidak menelpon adiknya (Helena).“Sedang apa dia sekarang? Apakah dia sudah sembuh?” Leonard bergumam menatap cahaya bulan yang bersinar terang. “Aku sangat merindukannya.” Leonard bersandar di kursi, lalu memejamkan mata membayangkan wajah cantik Helena yang dia rindukan. Leonard menghela nafas r
Ledakan api raksasa yang menghancurkan gua dan menciptakan kawah besar itu berakhir tanpa meninggalkan jejak apapun. Di tengah kawah besar yang tercipta akibat ledakan terlihat kura-kura bayangan yang terluka cukup parah, tubuhnya seperti kertas yang dibakar. Kura-kura bayangan itu perlahan-lahan m
Saat mereka melangkah masuk, gua tiba-tiba bergetar hebat dan mulai bergerak memisahkan diri seperti kepingan puzzle. Dien dengan cepat mengulurkan tangan untuk meraih tangan Eira yang meminta bantuan. Disisi lain Dien sendiri perlahan-lahan dijauhkan dari rekan-rekannya tersebut. "Tolong aku!" Pe
Dien melangkah sedikit jauh ke dalam hutan yang sebagian kecil wilayahnya ditumbuhi pohon sawit yang baru berusia 1 tahun. Dien terus melangkah masuk ke dalam hutan hingga menemukan beberapa jejak kaki yang berukuran besar. Dien mengikuti jejak kaki raksasa tersebut hingga menemukan sebuah gua yang
Dien pulang larut malam. Dia bertemu ibu yang menunggunya di ambang pintu, wanita tua itu tersenyum hangat melihat kedatangan Dien. Wajah keriputnya yang pucat pasi menjadi cerah ketika melihat Dien pulang. Melihat ibunya, Dien tersenyum, lalu menyerahkan buah-buahan yang dibelinya kepada ibu yang







