MasukBeberapa hari terakhir, Vania selalu menghindari kontak mata maupun fisik saat bertemu dengan Gerald. Dia bahkan meminta anaknya yang kecanduan main di rumah pria itu untuk tidak berlama-lama di sana. Sungguh kejadian yang membuat dunianya berubah seratus delapan puluh derajat. Bagaimana tidak? Sampai sekarang bahkan isi otaknya masih terngiang-ngiang bagaimana bentuk tubuh Gerald malam itu.
Sebagai wanita yang telah lama tak dijamah Vania rasa gairah di dalam dirinya mulai bangkit. Apalagi dengan kedatangan Gerald yang mana mempunyai fisik hampir sempurna. Pria itu berhasil memporak-porandakan apa yang dia jaga selama ini. Dia kembali menjadi seorang wanita yang mendambakan kehangatan ranjang. Dan, sangat berharap suaminya pulang sekarang juga. Seperti sehari-hari, Vania sedang menjaga anaknya yang bermain dengan tetangga yang seumuran di taman komplek. Oh ya, perumahan ini banyak penghuninya, ada sekitar 20 kepala keluarga yang tinggal di sini. Berbeda dengan komplek yang lain, rumah di tempat ini terbagi menjadi dua tipe yaitu berlantai dua dan tidak. Rumah Vania adalah tipe yang ke-dua. "Katanya di sebelah rumah kamu ada yang nempatin, ya?" tanya salah satu pembantu yang sedang menjaga anak majikannya bermain. "Iya, mbak. Sudah hampir satu bulan tinggal di sana," jawab Vania yang dihampiri saat sedang berteduh di bawah pohon taman. "Katanya masih lajang?" "Ngga tahu saya, mbak. Kami jarang bertemu," ujar Vania memilih menghindar agar tidak ditanyai lebih lanjut lagi. Siang-siang melihat Vino yang asik bermain plosotan dan ayunan membuat hati Vania sedikit lebih baik. Di perumahan ini tak ada yang namanya perkumpulan sosial hal itu lah yang menjadi pertimpangan saat memilihnya. Meski agak lebih mahal, setidaknya dia tidak terlalu mendengar omongan tetangga yang cukup menyakitkan saat didengar langsung. Dua jam Vania menunggu Vino dari pukul sepuluh pagi akhirnya anak itu lelah juga, memiliki anak lelaki memang melelahkan. Tingkahnya selalu di luar kendali, saat Vino berusia sekitar lima tahunan Vania hampir saja gila. Anak yang paling dia sayangi menghilang entah pergi ke mana, tanya satpam pun jawabannya nihil. Akhirnya dengan bantuan pak satpam dia bisa menemukan anak itu setelah hampir lima jam mencari. Ternyata Vino bersembunyi di balik semak-semak belakang rumah, saat Vania bertanya kenapa menghilang? Jawaban anaknya membuat dia sedih sekaligus merasa sangat bersalah. Katanya diejek teman TK-nya tak punya ayah karena selalu dijemput oleh ibunya. Sejak saat itu, dia lebih memperhatikan anaknya dan memilih untuk resign dari pekerjaan. Toh ada yang menafkai dan sudah punya rumah impian juga. "Udah capek mainnya?" tanya Vania sambil menggandeng Vino berjalan menuju ke rumah yang jarak dari taman sekitar 100 meter. "Belum, bun. Mereka semua udahan, aku ikut-ikut deh. Nanti sore main ke rumah om Gerald deh, biar bisa pinjem robot-robotan," jawab Vino tampak sumringah. Vania ingin melarang, tapi mau tak mau dia harus mengizinkan karena memang beberapa hari belakangan Gerald tak di rumah. Vino terus-menerus menanyakan keberadaan pria itu, Vania hanya menjawab gelengan saja karena beneran tidak tahu. Pagi tadi, saar Vino mau berangkat ke sekolah, Gerald baru saja ke luar dari mobil. Wajah pria itu tampak kelelahan dan berubah menjadi semangat saat disapa oleh anaknya. Akhirnya mereka berdua berjanji untuk ketemuan malam ini, mau main bareng. Vania yang melihat anaknya yang sangat akrab dengan Gerald pun hanya bisa tersenyum pedih. Coba saja jika ayah kandungnya yang berada di posisi itu, Vania pasti sangat bahagia. Namun, kenyataannya berbanding terbalik dengan realita karena anaknya tumbuh tanpa kasih satang seorang ayah. •°• Rumah Vania memiliki tiga kamar, miliknya sendiri, anaknya, dan satu lagi dia jadikan gudang yang selalu dia bersihkan setiap minggu. Meski sebutannya gudang di dalamnya berisi barang-barang yang masih terawat hingga sekarang. Seperti beberapa buku dan novel yang pernah dibaca Vania di masa muda dulu dan berbagai barang pemberian suaminya saat masa-masa pacaran. Niat Vania masuk ke dalam kamar tersebut adalah mengambil novel untuk dibaca ulang. Namun, dia merasakan getaran aneh, rindu yang telah lama dia pendam kembali datang. Melihat boneka, baju couple, dan barang pemberian Adit yang lain membuat hatinya kembali mengingat masa itu. Di mana dia dan suaminya berdua melawan dunia yang sebelumnya tampak suram menjadi lebih berwarna. "Kenapa aku dulu mau-mau saja diberi bucket bunga palsu kayak gini, ya?" gumam Vania tertawa sambil memegang barang yang dimaskud. "Namanya juga cinta," lanjutnya lalu meletakan di tempat semula. Novel yang Vania cari sudah ketemu, dia segera ke luar dari ruang tersebut lalu dikunci dan berjalan menuju ke ruang tamu. Sebelum membaca dia mengambil cemilan di dalam kulkas terlebih dahulu lalu berjalan menuju ke ruang tamu. Dia duduk di atas sofa sambil membuka novel berjudul 'Obsession' yang dirinya sendiri lupa alur ceritanya. Dia menghabiskan waktu malam ini sembari menunggu Vino diantar pulang Gerald. Semakin terlarut di dalam cerita yang ternyata memiliki rating dua puluh satu ke atas, tubuh Vina kembali bergejolak. Dia membayangkan karakter pria yang berada di dalam novel tersebut adalah Gerald. Entah bagaimana bisa sampai sejauh itu, tanpa sadar tangannya masuk ke sela-sela selangkangan. Memainkan kemaluan yang dilapisi celana dalam, tangannya menjadi basah seketika. Dirasa kurang cukup, dia mengambil benda tumpul yang tersedia di atas meja. "Akhh, enak banget!" lenguhan Vania terdengar saat benda tumpul berupa asbak bali yang berbentuk hampir seperti kelamin pria itu digesek-gesek ke area kemaluannya. "Tunggu dulu?" gumamnya menghentikan kegiatan barusan. "Jangan bilang waktu Gerald datang bertamu ke rumah ini, dia melihat benda ini," ujar Vania sambil melihat asbak di tangannya. "Aduh! Goblok banget sih aku!" Melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam lantas membuat Vania segera ke luar menuju rumah Gerald. Biasanya Vino akan diantar sekitar pukul delapan malam, salahnya karena terhanyut dengan cerita novel. Sampai-sampai dia kelupaan tentang Vino yang belum terlihat batang hidungnya. Di depan rumah yang bernuansa cukup mencekam jika dilihat dari luar itu Vania mengetuk pintu tiga kali. "Masuk, mbak." Gerald berdiri di belakang pintu setelah membukakan Vania dengan senyuman. Dia memakai setelan kaos berwarna hitam yang menempel di tubuh berototnya. Tak lupa sweetpants berwarna abu-abu. "Makasih," balas Vania masuk ke dalam langsung mencari keberadaan Vino dan ingin segera di bawa pulang. "Anak saya di mana?" tanyanya tak menemukan Vino di tempat biasanya. "Lagi tidur di kamar saya, mbak. Mau ke sana?" tawar Gerald berjalan terlebih dahulu menunjukkan kamar yang dimaksud olehnya. Vania mengikuti dari belakang sambil curi-curi pandang, dia bisa melihat jelas pria ini sedang menggodanya. Celana itu memperjelas niat Gerald, ereksi pria itu tercetak di sana. "Biar saya saja yang menggendong," ujarnya melengos lalu asal merebut Vino yang sedang berada digendongan pria itu. "Ehh, bentar." Tubuh Gerald oleng lalu tercondong ke arah Vania. Dengan kekuatan yang tersisa dia menarik pinggul wanita itu memakai tangan yang satunya. BRUK! Mereka bertiga jatuh bersamaan, Vania yang memejamkan mata perlahan membuka dan sungguh terkejut saat anaknya berada di atas tubuh Gerald. Lebih lagi, dia melihat pria yang barusan menolongnya tergelekat di atas lantai tak sadarkan diri. Karena tidak membawa ponsel, dia panik dan mencari di celana milik pria itu. Siapa tahu sedang mengantungi benda pipih tersebut, bukan? "Mbak, jangan digituin nanti punya saya tambah keras," ujar Gerald ternyata masih sadar. "Kenapa mbak kayak menghindar dari saya akhir-akhir ini? Apa karena kejadian malam itu, huh?" Vania kehabisan kata-kata. Dia segera merebut Vino yang masih terlelap di atas badan Gerald lalu membawanya ke luar dari rumah itu tanpa mengatakan apapun.Pagi-pagi buta, Vania mendengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah. Dia segera bangkit untuk melihat siapa yang datang pukul empat dini hari. Sesampainya di depan, dia mendapati Mas Adit yang sangat berbeda dengan tiga bulan yang lalu turun dari mobil. Tubuh pria itu menjadi kurus dan kulitnya berubah agak gelap. Sebenarnya pekerjaan apa yang diberikan oleh Gerald pada Mas Adit hingga mampu membuat pria itu berubah total. Lantas Vania pun segera menghampiri suaminya untuk membantu bawa masuk barang bawaan yang sepertinya tidak banyak. Hanya ada satu koper dan satu kantung plastik bercorak zebra. "Mas sini, biar aku bantu." Vania meraih kantung plastik di tangan sang suami. Dia bisa merasakan aura yang berbeda, entah kenapa perasaannya tidak enak. "Kalau boleh tahu, mas kerja apa?" "Banyak, kalau aku sebutkan satu-persatu bisa sampai nanti sore," balas Adit melirik ke arah wanita di sebelahnya. Sungguh dia dari dulu memang tidak menyukai Vania sama sekali, kalau bukan
Keraguan terus muncul di dalam hati Vania setelah melihat rumah tetangga yang sekarang kosong. Gerald seperti menghilang begitu saja, entah pergi ke mana dia tidak mendapatkan kabar. Bahkan pesan yang dia kirimkan sejak dua bulan yang lalu belum mendapatkan balasan. Untungnya di rumah ada Jessica sehingga dia tidak merasa kesepian. Coba saja jika tidak, apakah dia bisa melewati masa-masa kelam lagi? Dia juga tidak mendapat kabar dari suaminya, entah di mana pria itu berkerja. Uang yang akan dia gunakan untuk menyicil hutang Adit masih utuh karena Gerald tak pernah mau menerima."Mbak, akhir-akhir ini kok kelihatannya kayak ngga semangat gitu?" tanya Jessica yang duduk di sofa sambil menyusui. "Apa karena Mas Adit ngga ngasih kabar? Tenang aja mbak mas bakalan pulang kok minggu depan.""Kok kamu bisa tahu?" balas Vania menatap ke arah Jessica di sebelahnya."Kan minggu depan udah tiga bulan sejak Mas Adit pergi," jawab Jessica tersenyum lebar."Tiga bulan? Apa maksudnya? Mas Adit ngga
"Do you like it?" gumam Gerald posisinya berada di atas Vania sambil memeluk erat tubuh wanita itu."Hmm, ahh. Enak banget," balas Vania juga memeluk tubuh kekar milik Gerald. Sesekali dia mencakar punggung lebar pria itu saat tusukkan di lubang hangat miliknya begitu dalam.Permainan panas antara Vania dan Gerald sangat menggairahkan, mereka seperti ditakdirkan untuk saling melengkapi. Gerald tampak berkeringat karena sudah melakukannya selama dua kali dan belum cukup. Sedangkan Vania terkulai lemas di atas ranjang king size milik pria itu menerima sesuatu yang besar masuk ke dalam tubuhnya.Perasaan yang telah lama hilang mulai datang kembali, Vania mencintai pria ini meski hanya bercinta saja. Tubuhnya seakan meminta untuk dimainkan oleh Gerald tanpa berhenti sedetik pun. Meski terlihat lelah dia tetap melayani tenaga sosok yang mendesah kenikmatan di atasnya. Melihat bagaimana wajah itu tampak keenakan membuat dirinya ikut bergairah."Aku mau keluar lagi!" Gerald mendorong pinggul
"Kenapa kamu kasih kerjaan buat suamiku?" tanya Vania begitu menginjakkan kaki di rumah pria yang sedang makan salad sambil bekerja itu.Gerald menatap sejenak ke arah Vania lalu beralih ke layar laptop lagi. "Bagus, kan? Aku bisa berduaan sama kamu terus," godanya."Gerald," suara Vania datar. "Kita sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan sesaat itu, bukan?""Aku mau mulai lagi, mumpung suamimu pergi jauh," balas Gerald tanpa menoleh sedikit pun."Di mana tempat kerja suamiku?""Adalah pokoknya," jawab Gerald kemudian berdiri mendekati Vania untuk sekedar melihat dari jarak dekat. "Kenapa kamu malam-malam datang ke sini sendirian, hmm?""Gerald!" Vania mendorong dada bidang pria itu agar menjauh. "Jangan aneh aneh, ya!"Gerald hanya tertawa kemudian berjalan menuju ke dapur untuk mencuci piring yang barusan dipakai. Dia menyadari jika Vania mengekor di belakangnya. "Biar dia bisa membayar hutangnya," ujarnya setelah menaruh piring ke rak."Kan bisa pakai uangku dulu, biar nanti aku y
Vania menunggu kedatangan suaminya yang tiga hari belum pulang semenjak kedatangan para penagih hutang. Dia sangat kesal melihat cara pria itu menyelesaikan masalah dengan kabur. Entah ke mana perginya karena dia tidak mengenal lebih tentangnya. Bahkan sepuluh tahun menikah, hubungan mereka hanya sebatas tahu nama dan keluarga saja.Teman? Vania belum pernah dikenalkan dengan orang terdekat dengan Adit kecuali beberapa keluarga pria itu. "Kamu beneran ngga tahu teman Mas Adit sama sekali?" tanya Vania ke pada Jessica yang sedang menyusui sang anak sembari duduk di sofa sebelahnya."Ngga tahu, mbak. Mas Adit punya hutang aja aku juga ngga tahu," jawab Jessica wajahnya tampak begitu kesal."Sama, mbak juga. Selama ini yang mbak tahu Mas Adit cuman bekerja di kapal pesiar dan selalu memberi uang bulanan lebih dari cukup," ujar Vania menatap anak Jessica yang cukup menggemaskan?"Kok bisa gitu, mbak kan istrinya?" sahut Jessica tampak tidak terima. "Apa Mas Adit ngga pernah memperlakukan
Debaran aneh selalu datang ketika Vania berbicara atau bertemu dengan Gerald. Pria itu adalah orang pertama yang bisa membuatnya sampai seperti ini. Dulu waktu bersama Adit, dia tidak terlalu menaruh hati karena dipertemukan bukan dari sebuah takdir. Melainkan kenalan lewat ayah dan ibunya, lambat laun menjadi cinta karena terbiasa.Berbeda dengan Gerald, pria yang jauh lebih muda darinya memandang dia seperti seorang wanita pujaan hati. Entah mengapa, setelah kejadian di masa lalu, dia bisa merasakan bagaimana pria lain yang mendekatinya karena nafsu semata atau cinta dari lubuk hati. Saat bersama Gerald, Vania diperlakukan layaknya wanita yang memiliki nilai tinggi bukan sekedar pemuas saja."Mau tanya, apa?" Gerald duduk di sofa. Seperti biasa, Vino berada di pangkuan sembari main ponsel."Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh waktu itu?" tanya Vania ikut duduk setelah memberikan segelas air putih. Karena pria itu tidak mau jus atau sirup."Oh, memangnya kamu ngga ingat?" Gerald mer







