LOGINRasa bersalah terus menyelimuti diri Vania karena kejadian kemarin malam, Gerald tampak memakai gips di lengan kanannya. Kata pria itu, pekerjaannya jadi terganggu bahkan sampai tidak masuk selama tiga hari berturut-turut. Alhasil, Vania lebih memilih untuk menurunkan gengsi agae bisa merawat Gerald hingga sembuh. Saat ini dia sedang memasak untuk diberikan pada pria itu meski harus dipaksa terlebih dahulu.
Setelah selesai memasak Vania segera membawakam bubur kacang ijo itu menuju ke rumah Gerald. Sebelumnya dia sudah menyiapkan segala kebutuhan Vino sebelum berangkat ke sekolah satu jam yang lalu. Dengan hati-hati dia berjalan agar tidak tumpah, sampai di depan pintu rumah pria itu. Vania tak mengetuk, langsung masuk begitu saja tanpa permisi terlebih dahulu. Vania masih kesal dengan Gerald, bisa-bisanya kejadian yang membuat pria itu sampai tersiksa seperti ini masih dibercandain. Gila, ya? Hampir tiga hari terakhir dia mengomeli Gerald gara-gara bercanda tentang ereksi. Dia merasa seperti emak-emak yang tak mau anaknya kenapa-napa, kayaknya dirinya mulai dekat dan nyaman berada di samping pria itu. Dia juga masih bimbang dengab perasaan aneh ini. "Makan tuh," ujar Vania menaruh semangkuk bubur kacang hijau di atas meja. Dan, lagi-lagi dia melihat Gerald hanya memakai celana pendek tanpa atasan. "Bisa ngga sih kalau aku datang pakaianmu dipakai?" "Ngga bisa, aku suka wajah kamu saat merona malu." Tiga hari bersama Gerald, Vania jadi tahu jika pria itu sangat dangdut sekali. "Aku pulang dulu," pamit Vania namun dicegah oleh Gerald. "Ada apa lagi? Kamu takut kalau aku racuni makanan itu, huh?" Gerald menganggukkan kepala. "Dasar ngga tahu diri," gumam Vania kemudian menyendok bubur itu ditiup terlebih dahulu sebelum dimakan di depan wajah Gerald. "Lihat? Puas, kan?" Gerald tersenyum lalu berkata sambil menunjukan lengannya, "Suapin." Memang pada dasarnya pria itu sangat jail, Vania mau tak mau duduk lalu menyuapi Gerald pelan-pelan karena masih panas. Dengan sabar dia melakukan berulang-ulang hingga bubur kacang hijau bikinannya di mangkuk habis. Meski sejak tadi fokusnya terbagi menjadi dua antara makanan dengan perut kotak-kotak milik Gerald yang terpampang jelas di hadapannya. Vania menenangkan diri agar tidak menunjukkan gelagat aneh. "Kenapa? Mau coba pegang, huh?" tawar Gerald tiba-tiba tak ada angin, tak ada hujan. "Daritadi kamu curi-curi pandang. Mumpung aku mengizinkan," lanjutnya sambil mengerlingkan mata. "Aku sudah punya suami!" bentak Vania menolak tawaran yang cukup menggiurkan barusan. "Halah, suami jarang pernah pulang," ejek Gerald lalu berdiri menyambar tangan Vania dia arahkan ke perutnya. "Gimana rasanya, mau coba yang lain, huh?" Wajah Vania merona seketika, dia menghempas kasar tangan Gerald lalu mengambil mangkuk di atas meja. Sebelum berlari ke luar rumah itu tak lupa matanya melotot ke arah pria yang malah cengengesan kayak tidak punya dosa. Dia juga bingung pada dirinya sendiri, kenapa bisa akrab dengan Gerald secepat ini? Dalam kepalanya masih bertanya-tanya dengan pertanyaan yang sama. Apa benar cuman gara-gara kurang sentuhan dari sosok pria? Sungguh bimbang dikala hati Vania masih mengharapkan kehadiran cinta pertama sekaligus suaminya hadir. Dan, dirinya membutuhkan sesuatu yang bisa menghibur hati yang ditinggal pergi. Setidaknya sentuhan atau beri dia sesuatu untuk menghilangkan hasrat terpendam yang terus-menerus tumbuh. Jika dia mengkhianati pernikahan takut karma akan datang suatu hari nanti. •°• "Bun, besok kata bu guru besok yang mengambil rapot harus ayah yang datang. Aku ngga punya ayah, terus gimana dong?" ujar Vino sesaat setelah berganti pakaian. Dia duduk di depan televisi sambil nonton kartun dan makan camilan. "Memangnya ngga bisa diambilkan sama bunda aja," balas Vania yang sedang sibuk di dapur membuat pesanan seperti biasanya. "Ngga tahu," sahut Vino sambil menggedikkan bahu. "Katanya program dari pemerintah," sambungnya kembali memakan cemilan berupa choco chips. Vania menghentikan kegiatan lalu mengambil ponsel di atas nakas dapur, dia menelepon guru wali kelas anaknya. "Halo, bu?" "Iya, halo. Bu Vania, ada apa ya tumben langsung telepon?" "Emm, apa pengambilan rapot murid tidak bisa diambilkan oleh saya saja?" tanya Vania berharap tak ada kesulitan. "Sebelumnya saya minta maaf, bu. Kebetulan untuk yang semester ini harus pihak ayah yang mengambilkan rapot. Jika anda keberatan bisa diwakilkan oleh saudara yang penting bukan wanita." "Begitu ya, bu. Ya sudah, maaf karena menganggu waktunya," balas Vania kemudian mematikan sambungan telepon setelah mendapat balasan. 'Tidak apa-apa' dari seberang. Helaan nafas panjang terdengar, dia lupa kalau ini adalah akhir semester satu anaknya. "Bagaimana ini?" gumamnya frustasi. Akhirnya Vania menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda terlebih dahulu sambil memikirkan cara lain. Dia bahkan tidak memiliki kerabat dekat dan teman pria kecuali Gerald. Tiba-tiba ide liar muncul di kepalanya. Bagaimana kalu meminta bantuan pria itu? Secara Vino sangat dekat dengan Gerald sudah pasti mau. Senyum lebar terbit di bibirnya karena menemukan cara efektif tanpa harus mengeluarkan sepeser uang. Malam harinya, Vania membawakan satu kotak bekal berisi makanan yang akan dia berikan pada Gerald. Dia menuju ke rumah pria itu secepat kilat dan tidak mendapati pemiliknya. Terdengar suara percikan air dari kamar mandi bawah, dia mengira jika Gerald sedang membersihkan diri. Dia duduk di dekat meja makan sambil menaruh barang bawaannya di atas meja. Jantungnya berdetak semakin kencang takut jika ditolak. Beberapa menit kemudian sosok yang ditunggu-tunggu tiba, Gerald sudah memakai pakaian berupa kaos hitam oblong dan celana boxer karakter anime. Rambutnya yang masih basah dibiarkan berantakan menambah ketampanan pria itu. "Kenapa kamu lihatnya gitu? Aku tahu kalau aku tampan." "Cih." Vania melengos setelah mendengar kepercayaan diri Gerald yang tinggi meskipun benar. "Mau aku suapin?" tawarnya kemudian. Gerald menaikkan satu alisnya sambil menatap penuh curiga. "Boleh," balasnya duduk di depan Vania lalu membuka mulut. Tak butuh waktu lama makanan telah habis, kini tinggal Vania berbicara tentang permintaannya. "Eum-anu. Aku ingin minta bantuan," ujarnya gugup. "Oalah ternyata ada imbalannya." Gerald menganggukan kepala sambil tersenyum. Dia mengambil minuman yang terletak tak jauh dari meja makan. "Apa?" "Besok di sekolah Vino ada pengambilan rapot. Dan, kata gurunya harus pihak ayah yang datang untuk mengambil. Kamu bis- "Bisa, tapi ada syaratnya," potong Gerald tersenyum miring setelah meminum segelas air mineral hingga tandas menggunakan tangan kirinya yang masih normal. "Ap-apa?" balas Vania tampak ketakutan. "Bisakah kita melakukan seperti saat kamu melihatku di atas balkon setelah tangan ini sembuh?" tanya Gerald tampak kesenangan melihat ekspresi kaget bercampur panik dari wajah wanita di depannya. Vania tampak bingung, tapi jika tidak dia lakukan akan lebih sulit. Pikirannya kacau balau, dia sempat mencari cara lain selain yang baru saja diucapkan oleh Gerald. "Ngga jadi, saya bisa menyewa orang lain," tolaknya mengambil kotak makanan kemudian pergi dari rumah pria itu dengan menahan tangis. Dia merasa dilecehkan hanya demi sebuah permintaan kecil.Pagi-pagi buta, Vania mendengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah. Dia segera bangkit untuk melihat siapa yang datang pukul empat dini hari. Sesampainya di depan, dia mendapati Mas Adit yang sangat berbeda dengan tiga bulan yang lalu turun dari mobil. Tubuh pria itu menjadi kurus dan kulitnya berubah agak gelap. Sebenarnya pekerjaan apa yang diberikan oleh Gerald pada Mas Adit hingga mampu membuat pria itu berubah total. Lantas Vania pun segera menghampiri suaminya untuk membantu bawa masuk barang bawaan yang sepertinya tidak banyak. Hanya ada satu koper dan satu kantung plastik bercorak zebra. "Mas sini, biar aku bantu." Vania meraih kantung plastik di tangan sang suami. Dia bisa merasakan aura yang berbeda, entah kenapa perasaannya tidak enak. "Kalau boleh tahu, mas kerja apa?" "Banyak, kalau aku sebutkan satu-persatu bisa sampai nanti sore," balas Adit melirik ke arah wanita di sebelahnya. Sungguh dia dari dulu memang tidak menyukai Vania sama sekali, kalau bukan
Keraguan terus muncul di dalam hati Vania setelah melihat rumah tetangga yang sekarang kosong. Gerald seperti menghilang begitu saja, entah pergi ke mana dia tidak mendapatkan kabar. Bahkan pesan yang dia kirimkan sejak dua bulan yang lalu belum mendapatkan balasan. Untungnya di rumah ada Jessica sehingga dia tidak merasa kesepian. Coba saja jika tidak, apakah dia bisa melewati masa-masa kelam lagi? Dia juga tidak mendapat kabar dari suaminya, entah di mana pria itu berkerja. Uang yang akan dia gunakan untuk menyicil hutang Adit masih utuh karena Gerald tak pernah mau menerima."Mbak, akhir-akhir ini kok kelihatannya kayak ngga semangat gitu?" tanya Jessica yang duduk di sofa sambil menyusui. "Apa karena Mas Adit ngga ngasih kabar? Tenang aja mbak mas bakalan pulang kok minggu depan.""Kok kamu bisa tahu?" balas Vania menatap ke arah Jessica di sebelahnya."Kan minggu depan udah tiga bulan sejak Mas Adit pergi," jawab Jessica tersenyum lebar."Tiga bulan? Apa maksudnya? Mas Adit ngga
"Do you like it?" gumam Gerald posisinya berada di atas Vania sambil memeluk erat tubuh wanita itu."Hmm, ahh. Enak banget," balas Vania juga memeluk tubuh kekar milik Gerald. Sesekali dia mencakar punggung lebar pria itu saat tusukkan di lubang hangat miliknya begitu dalam.Permainan panas antara Vania dan Gerald sangat menggairahkan, mereka seperti ditakdirkan untuk saling melengkapi. Gerald tampak berkeringat karena sudah melakukannya selama dua kali dan belum cukup. Sedangkan Vania terkulai lemas di atas ranjang king size milik pria itu menerima sesuatu yang besar masuk ke dalam tubuhnya.Perasaan yang telah lama hilang mulai datang kembali, Vania mencintai pria ini meski hanya bercinta saja. Tubuhnya seakan meminta untuk dimainkan oleh Gerald tanpa berhenti sedetik pun. Meski terlihat lelah dia tetap melayani tenaga sosok yang mendesah kenikmatan di atasnya. Melihat bagaimana wajah itu tampak keenakan membuat dirinya ikut bergairah."Aku mau keluar lagi!" Gerald mendorong pinggul
"Kenapa kamu kasih kerjaan buat suamiku?" tanya Vania begitu menginjakkan kaki di rumah pria yang sedang makan salad sambil bekerja itu.Gerald menatap sejenak ke arah Vania lalu beralih ke layar laptop lagi. "Bagus, kan? Aku bisa berduaan sama kamu terus," godanya."Gerald," suara Vania datar. "Kita sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan sesaat itu, bukan?""Aku mau mulai lagi, mumpung suamimu pergi jauh," balas Gerald tanpa menoleh sedikit pun."Di mana tempat kerja suamiku?""Adalah pokoknya," jawab Gerald kemudian berdiri mendekati Vania untuk sekedar melihat dari jarak dekat. "Kenapa kamu malam-malam datang ke sini sendirian, hmm?""Gerald!" Vania mendorong dada bidang pria itu agar menjauh. "Jangan aneh aneh, ya!"Gerald hanya tertawa kemudian berjalan menuju ke dapur untuk mencuci piring yang barusan dipakai. Dia menyadari jika Vania mengekor di belakangnya. "Biar dia bisa membayar hutangnya," ujarnya setelah menaruh piring ke rak."Kan bisa pakai uangku dulu, biar nanti aku y
Vania menunggu kedatangan suaminya yang tiga hari belum pulang semenjak kedatangan para penagih hutang. Dia sangat kesal melihat cara pria itu menyelesaikan masalah dengan kabur. Entah ke mana perginya karena dia tidak mengenal lebih tentangnya. Bahkan sepuluh tahun menikah, hubungan mereka hanya sebatas tahu nama dan keluarga saja.Teman? Vania belum pernah dikenalkan dengan orang terdekat dengan Adit kecuali beberapa keluarga pria itu. "Kamu beneran ngga tahu teman Mas Adit sama sekali?" tanya Vania ke pada Jessica yang sedang menyusui sang anak sembari duduk di sofa sebelahnya."Ngga tahu, mbak. Mas Adit punya hutang aja aku juga ngga tahu," jawab Jessica wajahnya tampak begitu kesal."Sama, mbak juga. Selama ini yang mbak tahu Mas Adit cuman bekerja di kapal pesiar dan selalu memberi uang bulanan lebih dari cukup," ujar Vania menatap anak Jessica yang cukup menggemaskan?"Kok bisa gitu, mbak kan istrinya?" sahut Jessica tampak tidak terima. "Apa Mas Adit ngga pernah memperlakukan
Debaran aneh selalu datang ketika Vania berbicara atau bertemu dengan Gerald. Pria itu adalah orang pertama yang bisa membuatnya sampai seperti ini. Dulu waktu bersama Adit, dia tidak terlalu menaruh hati karena dipertemukan bukan dari sebuah takdir. Melainkan kenalan lewat ayah dan ibunya, lambat laun menjadi cinta karena terbiasa.Berbeda dengan Gerald, pria yang jauh lebih muda darinya memandang dia seperti seorang wanita pujaan hati. Entah mengapa, setelah kejadian di masa lalu, dia bisa merasakan bagaimana pria lain yang mendekatinya karena nafsu semata atau cinta dari lubuk hati. Saat bersama Gerald, Vania diperlakukan layaknya wanita yang memiliki nilai tinggi bukan sekedar pemuas saja."Mau tanya, apa?" Gerald duduk di sofa. Seperti biasa, Vino berada di pangkuan sembari main ponsel."Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh waktu itu?" tanya Vania ikut duduk setelah memberikan segelas air putih. Karena pria itu tidak mau jus atau sirup."Oh, memangnya kamu ngga ingat?" Gerald mer







