Share

BAB 9 - Rencana Licik

last update publish date: 2026-05-23 16:58:13

Keesokan paginya, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan pintu besar kediaman Montesinos.

Livia melangkah keluar dengan anggun, mengenakan pakaian memancarkan kesan berkelas.

Sebelum melangkah lebih jauh, ia menoleh ke arah dua pengawal berbadan tegap kiriman Alessandro yang berdiri siaga di dekat mobil.

“Tunggu aku di sini,” perintah Livia.

Kedua pengawal itu menunduk patuh tanpa sepatah kata pun.

Livia berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah yang pernah menjadi saksi bisu ken
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 41 - Tekad Livia

    Beberapa hari sejak insiden mencekam di Labirin Mawar Hitam, Livia tidak bisa lagi tinggal diam. Rasa penasarannya telah berubah menjadi sebuah misi. Tekadnya sudah bulat untuk membersihkan nama ibu mertuanya dan mengungkap seluruh kekejaman Nenek.Ia kembali ke kamar di lantai tiga, saat kakinya terhenti di depan sebuah pintu, Livia meraih kenop dan mencoba memutarnya.Cklek. Cklek.“Sial, ternyata dikunci.”Livia mengembuskan napas panjang dengan rahang mengetat karena kesal. "Pasti kuncinya dibawa oleh Tuan Edward," gumamnya. Baru saja ia berbalik arah dan berniat mengatur rencana baru, telinganya menangkap suara dari dalam kamar tersebut. Jantung Livia berdegup kencang. Pintu itu tiba-tiba terbuka dari dalam.Tanpa membuang waktu, Livia segera mencari tempat persembunyian. Ia mendorong pintu kamar terdekat yang untungnya tidak terkunci, lalu menyelinap masuk ke dalam dan menyisakan sedikit ruang untuk mengintip.Dari celah pintu, Livia melihat seorang pelayan wanita paruh baya

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 41 - Sebuah Fakta

    Alessandro membawa Livia ke dalam kamar mereka dan langsung merebahkan tubuh istrinya.Tak lama, dokter pribadi keluarga De Luca datang secepat mungkin.Di atas kasur, tubuh Livia tampak bergetar hebat. Matanya melebar karena ketakutan dari kejadian di dalam labirin. Alessandro terus menggenggam tangannya dengan erat, sesekali mengecup keningnya untuk menenangkan."Tenang, Sayang. Kau aman di sini. Aku bersamamu," bisik Alessandro. Setelah dokter tiba dan memeriksa luka di kepala serta memastikan Livia tidak terkena racun mawar, dokter memberikan obat penenang. Perlahan, napas Livia mulai teratur dan ia tampak jauh lebih tenang.Alessandro mengusap pipi Livia dengan lembut. "Sekarang katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana?"Livia menatap Alessandro dengan ragu, bibirnya tergagap untuk menceritakan sosok pria misterius dan tulisan di pilar batu itu, terlebih lagi sebuah fakta yang mengejutkan."A-Ale, sebenarnya di sana ada..."Brak!Pintu kamar digebrak kasar. Ne

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 40 - Sebuah Perbedaan

    Tak berselang lama, sebuah langkah kaki beritme mulai terdengar dari arah lain yang gelap. Tap... tap... tap…Livia tersentak. Ia segera berbalik, lalu menajamkan matanya untuk menembus remang cahaya yang tersisa demi melihat siapa yang datang. Dari balik bayang-bayang sulur mawar, muncullah seorang pria berbadan tegap. Di tangannya, sebuah pistol terarah ke posisi Livia berdiri.Livia mundur selangkah hingga punggungnya merapat pada pilar batu. Namun, ketika siluet wajah pria itu mulai tertangkap oleh matanya, jantung Livia berdegup kencang secara tidak beraturan. "Ale...?" gumam Livia ragu. Apakah Alessandro benar-benar menyelamatkannya seperti janjinya tadi? Ataukah... ini hanya bagian dari halusinasi akibat aroma zat kimia mawar beracun?Pria itu tidak menurunkan senjatanya sama sekali. Langkahnya semakin dekat, menyisakan jarak tak sampai dua meter di antara mereka. Wajahnya yang tertutup sebagian bayangan membuat raut ekspresinya sulit dibaca, memancarkan aura bak eksekutor

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 39 - KEBOHONGAN?

    Pada malam yang telah ditentukan, ketegangan menyelimuti ruang rahasia milik keluarga De Luca. Ruangan labirin yang terletak jauh di bawah tanah mansion utama ternyata sangat luas, menyerupai sebuah aula kuno berbatu yang gelap. Di hadapan mereka, ada sebuah gerbang besi besar yang menjadi pintu masuk menuju Labirin Mawar Hitam. Aroma mawar yang pekat seperti zat kimia beracun mulai tercium, menusuk indra penciuman mereka. Alessandro menggenggam pergelangan tangan Livia dengan sangat erat, dan enggan melepaskannya. Ia sangat cemas, sesuatu yang sangat jarang terlihat dari sang ketua klan mafia."Sayang, belum terlambat untuk mundur," bisik Alessandro. "Per*etan dengan adat atau denda dari Nenek. Aku bisa menghancurkan aturan ini sekarang juga jika kau mau. Jangan masuk ke sana."Livia menoleh pada suaminya dengan senyum yang menenangkan. Ia mengusap rahang tegas Alessandro dengan tangan kirinya yang bebas."Ale, dengarkan aku," ucap Livia. "Jika aku mundur sekarang, Camila akan se

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 38 - Tantangan Tradisi

    Malam harinya, suasana di ruang keluarga utama kediaman De Luca terasa khidmat. Nenek telah mengumpulkan semua orang tanpa terkecuali. Edward berdampingan dengan kedua wanita simpanannya, Elena dan Sofia, yang tampak bersikap manis. Di sisi lain, Alessandro sangat protektif di dekat Livia, menggenggam erat jemari istrinya. Sementara itu, Camila juga ikut hadir dengan senyum penuh kemenangan karena Nenek sendiri yang memintanya datang.Sebelum Nenek memulai pembicaraan, Camila sengaja menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Livia. Ia menatap istri Alessandro dengan pandangan meremehkan yang amat ketara."Wah, aku tidak menyangka Nenek akan memintaku hadir di acara sepenting ini," sindir Camila. "Meskipun kau sudah sah menjadi istri Alessandro, keberadaanku di keluarga ini masih jauh lebih dianggap dan diperhitungkan daripada dirimu, Livia."Livia tidak menunjukkan raut terkejut ataupun terpancing emosinya. Ia justru memperbaiki posisi duduknya dengan anggun, lalu melirik Camila d

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 37 - Alessandro Cemburu

    Beberapa hari setelahnya, atmosfer di sebuah gudang terbengkalai di pinggiran kota begitu mencekam. Ruang besar itu berbau darah dan anyir yang menyengat hidung. Di tengah ruangan, dua pria penuh luka sedang berlutut dengan tubuh gemetar hebat di atas lantai. Di sekeliling mereka, para anak buah Alessandro berdiri tegak bagai robot bernyawa, memegang senjata laras panjang dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.Alessandro De Luca berdiri layaknya seorang predator di hadapan kedua pria tersebut. Tatapan matanya mengunci pergerakan dua orang yang beberapa hari lalu masih ia sebut sebagai anggota. Mereka pengkhianat yang menjual rute pengiriman logistik De Luca, dan Alessandro selalu memiliki cara sendiri untuk memberi hukuman bagi mereka yang melanggar sumpah setia."T-Tuan De Luca... ampuni kami... kami dijebak..." rintih salah satu pengkhianat dengan suara parau, air mata bercampur darah mengalir di pipinya yang lebam.“Di jebak? Tapi kalian menikmati uang yang didapat kan?” Ia men

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 11 - Kamulah Rumahku

    Mobil hitam mewah yang di membawa Livia akhirnya berhenti dengan di halaman luas mansion De Luca. Begitu pintu mobil dibukakan, Livia berusaha melangkah turun. Namun, rasa perih yang teramat sangat di pundaknya akibat hantaman dari anak buah Lucas tadi kembali menjalar, membuat keseimbangannya se

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 7 - Sandiwara yang Memilukan

    Camila melebarkan matanya, terkejut mendengar tantangan berani dari Livia. Namun kesombongannya dengan cepat mengambil alih. Ia menghentakkan sepatu hak tingginya ke lantai dengan kasar.“Kau pikir aku takut dengan gertakanmu?!” tantang Camila dengan suara melengking. “Aku yang akan menang! Alessan

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 6 - Bermulut Besar

    Tak berselang lama setelah Livia duduk di meja makan panjang mewah, beberapa pelayan datang membawa nampan-nampan. “Akhirnya,” gumam Livia. Di hadapan Livia kini tersaji steik daging yang empuk, sup krim jamur yang kental, serta pencuci mulut berupa salad buah segar dengan saus yang menggoda sele

  • Kehidupan Kedua: Ku Pilih Sang Penguasa   BAB 5 - Aku Tidak Akan Kabur

    Alessandro membalikkan tubuhnya dengan cepat. Sudut bibirnya terangkat, menyunggingkan tawa remeh yang sarat akan ketidakpercayaan.“Menikah?” bisik Alessandro, suaranya terdengar begitu sinis. “Permainanmu semakin berani, Livia. Kemarin kau mengancam akan mati jika aku menyentuhmu, dan sekarang ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status