LOGIN"Ehem! Ehem!"Suara batuk yang sengaja dikeraskan terdengar tepat di depan Samuel. Daniel berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada, memasang senyum jahil sambil menatap sahabatnya itu."Terkesima, ya?"Samuel yang semula masih terpaku langsung tersadar. Ia segera mengalihkan pandangan dan memasang wajah datar seolah tidak terjadi apa-apa."Apa maksudmu?" tanya Samuel datar.Daniel terkekeh. "Nggak usah pura-pura. Dari tadi matamu nggak berkedip tahu!""Cck!" Samuel mendecih.Namun, Julia dan Jihan yang berdiri tak jauh dari mereka bisa melihat telinga Samuel yang mulai memerah.Wajah Jihan ikut merona. Ia buru-buru menundukkan kepala, pura-pura memperhatikan hiasan bunga di dekatnya.Daniel dan Julia semakin geli melihat reaksi mereka."Selamat malam, Om, Tante," sapa Daniel kemudian sambil menghampiri kedua orang tua Samuel."
“Wow!” decak kagum terdengar dari salah satu tamu undangan.Malam itu, Hotel Fortune tampak begitu megah. Area ballroom utama disulap menjadi tempat pesta yang mewah dengan dekorasi elegan. Lampu-lampu kristal besar menggantung di langit-langit, memancarkan cahaya keemasan yang menerangi seluruh ruangan. Meja-meja bundar berbalut taplak putih tertata rapi, dihiasi rangkaian bunga segar dan peralatan makan berkilau. Di salah satu sisi ruangan, deretan meja buffet menyajikan beragam hidangan istimewa, mulai dari makanan pembuka, hidangan utama, aneka makanan penutup dan dessert, hingga berbagai minuman.Para tamu undangan mulai berdatangan. Mereka terdiri dari para petinggi perusahaan, klien penting, mitra bisnis, keluarga para eksekutif dan bahkan rival perusahaan. Beberapa pegawai perusahaan Prajogo juga sudah hadir lebih dahulu. Mereka tampak menikmati suasana pesta, bercengkerama dengan rekan kerja lainnya, dan sesekali berjalan menuju meja buffet untuk
"Hei, Samuel! Aku dengar perusahaanmu akan mengadakan pesta di Hotel Fortune, ya?" tanya Daniel ketika mereka sedang belajar kelompok.Samuel yang saat itu sedang mengerjakan tugas, berhenti saat mendengarnya. "Kamu pasti tahu dari ayahmu, kan?"Daniel mengangguk dan menyeringai. "Benar. Ayahku berencana membawaku dan ibuku. Pasti seru, kan? Besok kita bertemu di sana, ya.""Baiklah. Tenang saja, kami sudah menyiapkan berbagai hidangan lezat dalam bentuk buffet. Dijamin kamu pasti puas," jawab Samuel.Mendengar itu, Daniel semakin bersemangat. Matanya menerawang, membayangkan berbagai hidangan mewah yang disukainya. "Wah, aku jadi tidak sabar menunggu besok!"Julia yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya bertanya, "Memangnya kalian sedang membicarakan apa, sih?"Daniel pun menjelaskan tentang pesta perusahaan keluarga Samuel yang akan diadakan di Hotel Fortune. Mendengar penjelasan itu, Julia tam
“Benarkah? Hahaha…”Begitu memasuki rumah, ia mendengar suara percakapan riang dari ruang keluarga. Susan sedang duduk di sofa bersama Bima. Keduanya tampak asyik berbincang sambil menikmati teh dan beberapa potong kue yang disajikan di atas meja.Susan bahkan tertawa ketika Bima mengatakan sesuatu.“Wah, kalau begitu, lain kali aku harus datang lebih awal,” ujar Bima sambil menyeruput kopi di cangkirnya.“Tentu saja. Kamu kan keluarga sendiri. Tidak perlu sungkan kalau ingin berkunjung,” jawab Susan sambil tersenyum senang.Samuel berhenti sejenak di ambang pintu ruang keluarga. Alisnya mengerut dalam dan wajahnya terlihat tidak suka.Bima dan Susan duduk dengan santai. Jika seseorang melihat mereka, semua akan mengira mereka saudara kandung yang akrab dan tidak akan ada yang menduga bahwa belum lama ini mereka bahkan tidak bertegur sapa.Samuel menarik napas pelan sebelum merubah eksp
Keesokan harinya, Samuel kembali mengikuti Prajogo ke kantor perusahaan sepulang sekolah seperti biasa. Pagi itu, suasana kantor tampak sibuk. Beberapa karyawan berlalu-lalang membawa dokumen, sementara para kepala divisi mulai memasuki ruang rapat untuk membahas perkembangan perusahaan. Samuel duduk di sisi kanan ayahnya. Di hadapannya, beberapa orang sedang mempresentasikan laporan mengenai proyek yang berhasil mereka dapatkan dalam beberapa bulan terakhir. Hasilnya juga cukup memuaskan daripada sebelumnya. Perusahaan Adiwijaya bukan hanya berhasil memenangkan beberapa tender besar, tetapi juga semakin memperkuat posisinya di tengah persaingan bisnis dalam negeri. Setelah laporan selesai disampaikan, Direktur Utama mengangkat tangan. “Pak, ada satu usulan yang ingin saya sampaikan.” Prajogo mengalihkan pandangan kepadanya. “Silahkan.” “Bagaimana kalau kita mengadakan pesta perusahaan untuk merayakan ke
Setelah urusannya dengan Diana selesai dan Diana keluar dari kamar rawat Benjamin, Samuel masih duduk terdiam di sofa. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan mulai dari kehidupan pertamanya. Ia menoleh kepada Benjamin yang tampak sibuk menulis di buku catatannya.“Menurutmu, bagaimana pengakuan Diana tadi?” tanya Samuel meminta pendapat.Benjamin mengembuskan napas panjang sebelum menjawab. “Aku rasa kita belum bisa sepenuhnya mempercayai pengakuannya sebelum memastikan semuanya. Terutama tentang pamanmu, Bima.”Samuel mengangguk pelan. Ia juga merasa ada sesuatu yang sedikit janggal. Pengakuan Diana memang memberikan petunjuk baru tentang keterlibatan Bima, tetapi belum cukup kuat untuk memastikan hanya Bima yang berada di balik semua kejadian yang menimpa keluarganya.“Kau berniat menyelidiki Bima?” tanya Samuel.“Ya. Aku ingin tahu apakah dia benar-benar terlibat atau justru ada orang lain yang memanfaatkan n







