Masuk‘Astaga! Bagaimana ini?!’ pekik Isolde dalam hati. ‘Aku tidak menyangka dia akan memelukku seperti ini!’“Bas?”Bastiven mendelik. Kaget dengan perbuatannya sendiri. Dengan cepat ia melepaskan diri dan naik. “Maaf, aku tidak bermaksud—” Bastiven menggantung kalimatnya. Tidak tahu alasan apa yang harus diucapkan. Namun, Isolde tidak mau melepas kesempatan yang tersedia di depan mata. Tanpa pikir panjang, ia langsung meraih handuk yang masih melilit di pinggang suaminya itu. Sekejap, handuk tersebut terlepas. Tinggallah Bastiven berdiri mematung, tanpa tertutup apapun. Bahkan Isolde yang sudah pernah menghabiskan malam bersama, tetap ternganga melihat tubuh kekar sang suami di bawah terang cahaya lampu ruangan. “Oh? Wow!”“Duchess ….”Tanpa menoleh Bastiven mengulurkan tangan ke arah sang istri. “Tolong, kembalikan handukku!”Isolde tersenyum penuh kemenangan. “Tidak mau! Ayo kita mandi bersama, Bas!”Wajah Bastiven terasa panas mendengar itu. Ia tidak tahu hidup pernikahan akan pun
“Nyonya, air hangatnya sudah siap.”Suara Nirena membangunkan Isolde dari lamunan. Setelah Bastiven dengan dingin meminta untuk tidak datang ke kamarnya, Isolde memutuskan untuk menenangkan diri dengan berendam. Nirena dan dua rekan pelayannya pun segera bersiap untuk melayani Isolde, tetapi sang majikan menghentikan mereka. “Kalian pergi saja! Aku ingin sendirian.”Wajah sayu Isolde membuat Nirena dan yang lain ikut merasakan kepedihan itu. ‘Siapa yang berani membuat nyonya kami sesedih ini?’Ara pun memberanikan diri untuk tetap mendampingi Isolde. “Nyonya, tapi Anda butuh kami untuk menuangkan rempah-rempah—”“Tidak perlu, Ara,” potong Isolde dengan suara pelan. “Tolong, beri aku waktu sendiri!”Ketiganya terkejut mendengar permintaan itu. Tidak pernah dalam sejarah, mereka mendengar seorang bangsawan memohon pada pelayannya. Mereka segera tertunduk. “Mohon ampun, Nyonya. Kami sudah melewati batas, Kami akan berada di luar.”Isolde menghela napas lega. “Terima kasih!”Tiga pelaya
Brak!“Duchess!”Bersamaan dengan berakhirnya percakapan Isolde dan Duke Valmont, Bastiven datang dengan wajah pucat.“My, my! Duke sepertinya berlarian sampai ke sini. Ada apa?” tanya Duke Valmont mengomentari Bastiven yang terengah-engah. “Tidak sabar mau menyambut mertuamu?”Bastiven mengamati Isolde dengan seksama. Ia merasa lega melihat istrinya baik-baik saja. Tidak ada memar di pipi, atau mata merah karena menangis. ‘Syukurlah.’Kemudian perhatian Bastiven beralih pada Duke Valmont. Ia membungkuk dengan telapak tangan kanan di dada kiri. “Selamat datang di duchy Devereux, Duke Valmont.”“Hahaha! Ya, ya!” Duke Valmont tertawa sedikit canggung, antara wajah angkuh tetapi juga ketakutan. “Aku berniat tinggal beberapa hari di kediamanmu, Duke Bastiven. Tidak masalah, ‘kan?” Bastiven terkejut sesaat dan langsung melirik Isolde untuk melihat reaksinya. Isolde tersenyum saja menanggapi permintaan tersebut. Ia pun tidak mungkin melarang.“Tentu saja. Anda bebas berada di sini, Duke Va
“Sol, ada yang ingin Ayah bicarakan denganmu.” Duke Valmont membuka obrolan, sementara pelayan meletakkan cangkir teh dan juga kudapan ringan. Isolde menatap Duke Valmont yang tengah melirik ke arah Alfonsius. ‘Dia mau bicara berdua ya? Ha! Tidak akan kubiarkan!’“Bicara saja, Yah! Aku mendengarkan,” ujar Isolde pura-pura tidak mengerti. Tentu saja, karena tidak ada perintah untuk meninggalkan ruangan, Alfonsius pun tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Kesal dengan kelakuan putri dan para pelayan Devereux, Duke Valmont pun langsung menggebrak meja. “Apa kalian semua tidak paham tata krama?! Kenapa para pelayan ini tidak keluar?! Kau juga, Isolde! Kenapa kau memperlakukan Ayah seperti orang asing?!”Berusaha tenang dan tidak terintimidasi, Isolde menarik napas dalam-dalam tanpa ketahuan. Tadinya ia berniat tidak menyuruh Alfonsius keluar, tetapi karena ucapan ayahnya dirasa keterlaluan, sebagai nyonya rumah ia harus membela orang-orangnya. “Mereka hanya khawatir karena aku ter
“Nyonya, mari masuk! Guru berkuda Anda sudah menunggu.”Isolde menatap sejenak kepergian suaminya, sebelum berbalik mengikuti saran Nirena. Ia hanya bisa berharap Bastiven kembali dengan selamat. Kenyataan bahwa informasinya salah, membuat hati Isolde tidak tenang. Ia jelas mengingat alur cerita novel tersebut. “Kenapa bisa salah ya?” gumam Isolde sementara mereka menuju ruang penerimaan tamu. Namun, baru saja pintu mansion hendak ditutup, seorang penjaga gerbang berteriak. “Tuan Alfons!”Penjaga itu menahan langkah sang kepala pelayan rumah tangga, Alfonsius. Pria tua itulah yang bertugas menjaga mansion ketika Bastiven dan Ernest tidak ada di dalam mansion. Alfonsius mengernyit heran. “Ada apa?”Isolde pun turut berhenti dan mendengarkan apa yang hendak disampaikan penjaga tersebut. “Tuan Alfons, ada yang mencari Duchess. Katanya beliau adalah Duke Valmont,” lapor si penjaga gerbang. “Tapi kami mendapat informasi bahwa Duke Valmont akan tiba minggu depan.”Isolde pun mendekat. “
“Jangan pikirkan soal ayahku,” usul Isolde pada akhirnya. “Apa kau tidak penasaran informasi apa yang akan kujual?”Bastiven terdiam sesaat, menatap langit-langit ranjangnya. Kemudian ia berkomentar, “Mengingat kau punya informasi yang kurang tepat sebelum ini, aku tidak yakin kali ini pun benar.”Ucapan Bastiven mengacu pada kesalahan informasi yang diungkapkan Isolde. Terkait dirinya yang memiliki seorang kakak. Mendengar itu, Isolde panik. Kalau sampai Bastiven tidak mempercayainya, ia sendiri bisa terdampak bahaya. Karena informasi yang akan dijualnya, berhubungan dengan nyawa banyak orang di wilayah utara.“Itu salah paham! Salah paham!” tukas Isolde yang tidak bisa menjelaskan. “Kali ini benar-benar informasi yang tepat. Kau wajib percaya!”Bastiven sedikit terkekeh melihat Isolde yang kelabakan. “Baiklah, aku beri satu kesempatan.”Wajah panik Isolde berubah cerah. “Tapi ada syaratnya!”“Syarat?”Sang Duchess mengangguk. “Jangan tanya aku tahu dari mana. Tapi kau harus percay







